ISSN: 2302-920X

Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud

Vol 17.3 Desember 2016: 146 - 154

Drama Jalan Mutiara Karya Sitor Situmorang: Perspektif Eksistensialisme Jean Paul Sartre

Ilham Khudzaifi1*, I Made Jiwa Atmaja2, I Made Suarsa3

123Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

1[[email protected]] 2[[email protected]] 3[[email protected]]

*

Corresponding Author

Abstrak

The object of this study is Jalan Mutiara drama by Sitor Situmorang which are consists of three stories, namely Jalan Mutiara, Pertahanan Terakhir and Pulo Batu. This research focuses on two problems, they are drama structure that consisting of premise, character and plot, moreover the actualization of existentialism thought of the Satrenism in those dramas.

The analysis of Jalan Mutiara drama showed the premise of the story, the premise of this drama is disappointed to the character of Elizabeth, the story of Pertahanan Terakhir is a rebellion, and the story of Pulo Batu is about betrayal, love and the throne. In addition the plot used in those stories are forward and backward plot. The characters of those stories clearly defined in terms of sociological and psychological, unfortunately lack in terms of physiological. The existentialism of Jean Paul Sartre cult proved to be actualized through the characters that exist in the three stories of Jalan Mutiara drama by Sitor Situmorang.

Keywords: Jalan Mutiara, Existentialism, Jean Paul Sartre

  • 1.    Latar Belakang

Oemarjati (1971:48) mengatakan bahwa drama yang ditulis selepas revolusi, menampilkan manusia Indonesia yang lebih nyata dan bukan lagi masalah lokal ataupun orang-orang berjiwa arya saja, seperti Jalan Mutiara karya Sitor Situmorang (1954), Jembatan Gondolayu karya Nasjah Djamin (1957), Malam Jahanam karya Motinggo Boesje (1959), Bunga Rumah Makan karya Utuy Tatang Sontani (1962), Domba-Domba Revolusi karya B. Soelarto (1964), Abu karya B. Soelarto (1985), dan lain-lain.

Diversifikasi tersebut, membuat drama selepas revolusi menjadi menarik untuk diteliti, karena menunjukkan keterbukaan pemikiran dramawan Indonesia terhadap perkembangan kesusastraan dunia. Di antara drama-drama selepas revolusi yang disebutkan, dipilihlah Jalan Mutiara (1954) karya Sitor Situmorang sebagai objek kajian dalam penelitian ini.

Drama Jalan Mutiara (1954) dipilih berdasarkan fakta bahwa Sitor Situmorang pada 1951--1952 pernah menetap di Paris, yang kebetulan saat itu pemikiran eksistensialisme sedang gencar-gencarnya dianut oleh orang-orang Eropa, terutama Perancis. Tampaknya Sitor Situmorang terpengaruh oleh mode intelektual eksistensialisme tersebut, dan menuangkannya dalam drama Jalan Mutiara (1954). Dugaan ini diperkuat dengan disinggungnya drama Jalan Mutiara yang dikatakan Jiwa Atmaja, dkk (1990) pada penelitiannya berjudul “Nasionalisme Drama Indonesia Masa Sesudah Perang”, sebagai drama yang secara kontemplatif membicarakan ihwal manusia ‘berada’ (eksistensialis).

Eksistensialisme merupakan sebuah pandangan filsafat yang mencoba merumuskan bahwa manusia harus memandang hidupnya sebagai proyek untuk mencapai keberadaan (eksis) yang optima (Mangunhardjana, 2006:63). Landasan berpikir eksistensialisme pertama kali, dipopulerkan Soren Kierkegaard, yang berkebangsaan Denmark. Kierkegaard berpendapat, manusia dalam menjalani kehidupan bukanlah sekadar ada dalam pikiran, melainkan harus dihayati (Hassan, 1971:22). Pandangan Kierkegaard berkembang dan diikuti oleh beberapa pemikir filsafat eksistensialisme lain, di antaranya Nietzsche (dengan konsepnya Tuhan telah mati), Berdyaev (mendasarkan filsafatnya pada antroposentrisme), dan Jean Paul Sartre (eksistensi mendahului esensi).

Dari beberapa nama tersebut, yang menarik minat peneliti adalah eksistensialisme yang dirumuskan Jean Paul Sartre. Ketertarikan ini, berdasarkan asumsi bahwa Jean Paul Sartre dianggap paling berhasil mempromosikan pemikiran eksistensialisme, setelah pada 29 Oktober 1945 mengguncang dunia intelektual melalui ceramahnya Existentialism as a Humanism (Eksistensialisme sebagai Humanisme) di Paris. Ceramah tersebut, merupakan peristiwa besar dan menjadikan banyak orang menyebut dirinya sebagai eksistensialis, walaupun sedikit mengerti tentang isinya (Rodgers dan Thompson, 2015:43).

  • 2.    Pokok Permasalahan

Masalah yang dipecahkan pada penelitian ini, yaitu (1) struktur drama Jalan Mutiara karya Sitor Situmorang yang terdiri atas premise, karakter dan plot; (2)

Aktualisasi pemikiran eksistensialisme Jean Paul Sartre dalam drama Jalan Mutiara karya Sitor Situmorang.

  • 3.     Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk membantu pembaca dalam memahami dan mengapresiasi karya sastra, terutama genre drama secara lebih mendalam. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur drama Jalan Mutiara karya Sitor Siumorang, yang terdiri atas premise, karakter, dan plot. Selain itu, untuk mengetahui aktualisasi filsafat eksistensialisme yang terkandung pada drama Jalan Mutiara karya Sitor Situmorang.

  • 4.     Metode Penelitian

Metode penelitian dibagi menjadi tiga tahapan berbeda. Pertama, tahapan pengumpulan data, menggunakan metode kepustakaan dengan teknik baca catat. Kedua, tahapan analisis data menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik simak catat. Ketiga, tahapan penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal.

  • 5.    Hasil dan Pembahasan

    a.    Struktur Drama Jalan Mutiara

Sebelum memulai analisis dengan pendekatan lain terhadap sebuah karya sastra, kiranya perlu diperhatikan pendapat Teeuw (2015, 119) bahwa analisis struktur

merupakan satu langkah, satu sarana atau alat dalam proses pemberian makna dan dalam usaha ilmiah untuk memahami proses itu dengan sesempurna mungkin. Langkah itu tidak boleh pula dimutlakkan tetapi tidak boleh pula ditiadakan atau dilampaui.

  • (1)    Jalan Mutiara

Premise cerita Jalan Mutiara adalah kekecewaan karakter Elizabeth, yang pulang dari Eropa dan menemukan kebenaran mengenai keluarganya yang berantakan, setelah ibunya menjalin hubungan gelap dengan Wenas, teman ayah Elizabeth.

Karakter utama cerita Jalan Mutiara adalah Elizabeth yang secara fisologis adalah gadis cantik berusia 23 tahun. Secara sosiologis, Elizabeth adalah putri pemilik rumah yang disewa oleh karakter-karakter yang ada pada cerita Jalan Mutiara, ia

berprofesi sebagai sekretaris perusahaan impor. Secara psikologis, Elizabeth adalah orang yang bersifat sinis.

Pada cerita Jalan Mutiara, plot yang digunakan Sitor Situmorang adalah campuran. Terdapat adegan flashback pada bagian peleraian, setelah pada bagian pemaparan, penggawatan, dan klimaks memiliki plot maju. Bagian flashback pada cerita tersebut, diisi dengan adegan pertengkaran dr. Frans Karundeng (ayah Elizabeth) dengan istrinya (ibu Elizabeth).

  • (2)    Pertahanan Terakhir

Premise cerita Pertahanan Terakhir adalah gerakan pemberontakan. Pemberontakan ini dilakukan oleh segolongan angkatan bersenjata yang hendak merobohkan kediktatoran. Pemberontakan tersebut, diakhiri dengan sebuah kegagalan setelah mayoritas angkatan bersenjata (terutama angkatan laut yang memiliki kekuatan besar) berpihak pada penguasa diktator.

Karakter utama pada cerita Pertahanan Terakhir adalah K, yang secara fisiologis tidak dijelaskan secara terperinci, baik dari narasi pengarang, maupun keterangan dialog antartokoh. Akan tetapi, dilihat dari segi sosiologisnya yang merupakan seorang politikus, dapat diasumsikan bahwa ia harus berpenampilan layaknya seorang politikus, untuk menjaga kewibawaan dan kehormatan dirinya. Secara psikologis, karakter K digambarkan sebagai orang yang memiliki sifat keragu-raguan dalam setiap tindakannya.

Pada cerita Pertahanan Terakhir, plot yang digunakan adalah campuran. Setelah beberapa adegan perencanaan pemberontakan serta perselingkuhan Istri D dan K, terdapat adegan flashback yang menceritakan situasi di Istana, saat Putra Mahkota, yang baru saja diangkat menjadi raja, menolak semua tuntutan yang disampaikan Kolonel S (pemimpin pemberontakan).

  • (3)    Pulo Batu

Cerita Pulo Batu, memiliki premise pengkhianatan, cinta dan takhta. Tuan Negeri yang tidak mungkin berkuasa, karena ia anak Permaisuri Kedua, menjalin hubungan gelap dengan Janda Putra Mahkota. Mereka bersekongkol membuang Pulo

Batu, ahli waris sah keturunan raja, yang pada akhirnya membuat Janda Putra Mahkota menangung segala hukuman atas nama pembalasan dendam.

Karakter utama cerita Pulo Batu adalah Pulo Batu, yang secara fisologis digambarkan berparas rupawan dan berbadan tegap. Secara sosiologis, Pulo Batu adalah anak keturunan raja yang dibuang oleh ibu kandungnya dan dirawat oleh petani miskin, yang membuat Pulo Batu menjadi penggembala hewan ternak untuk membantu perekonomian keluarga angkatnya. Secara psikologis, Pulo Batu adalah orang yang bersifat baik dan rendah hati.

Pada cerita Pulo Batu, plot yang digunakan Sitor Situmorang adalah maju. Dari ketiga babak pada cerita tersebut, tidak ada yang menggunakan adegan flashback, dimulai dari Pulo Batu yang bermimpi sebagai anak raja, rapat adat yang digelar untuk memutuskan hukuman bagi pelanggar dosa adat, hingga pembalasan dendam pada Janda Putra Mahkota, tidak terdapat sekalipun adegan yang berlaku mundur.

  • b.    Eksistensialisme Drama Jalan Mutiara

    (1)    Eksistensialisme Mendahului Esensi

Jean Paul Sartre menjelaskan bahwa manusia yang eksistensialis harus menyadari bahwa mereka (manusia) memulai hidup atau eksistensinya berdasarkan dari yang bukan ‘apa-apa’. Manusia tidak akan menjadi ‘apa-apa’ sampai ia bertindak sendiri dengan penuh kesadaran untuk menjadikan hidupnya ‘apa-apa’ (Sartre, 2002:44). Dalam artian, sebenarnya nasib manusia itu ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan orang lain.

Manusia senantiasa dituntut untuk bersikap subjektif, Sitor Situmorang menggambarkannya dengan perilaku Basuki (cerita Jalan Mutiara) yang sadar dan tegar mengambil semua resiko ketika ia ditinggalkan istrinya. Keputusan tindakan manusia juga dijelaskan Jean Paul Sartre, melalui kisah pengorbanan Abraham dan Issac. Sitor Situmorang pada cerita Pulo Batu, juga menggambarkan hal demikian, melalui karakter Pulo Batu yang menerima perintah dari suara suprantaural ketika ia berdiri di samping danau. Pulo Batu pada akhirnya, digambarkan sama dengan Abraham yang membenarkan sumber suara tersebut dan bertindak sesuai dengan instruksinya.

Keputusan bertindak inilah yang mengakibatkan manusia berada dalam ‘kesendirian’ dan berakibat ‘penderitaan’. ‘penderitaan’ ini akan berujung pada

penyesalan karena manusia tidak menyadari bahwa tindakannya dalam memilih suatu keputusan, pastilah yang terbaik baginya. Sitor Situmorang menggambarkan tersebut, melalaui karakter Wenas (cerita Jalan Mutiara) yang sangat menyesal karena tidak meneruskan kisah cintanya dengan ibunya Elizabeth. Penyesalan ini berujung pada tindakan bunuh diri. Sementara, karakter K (Pertahanan Terakhir) yang selama ini bersifat ragu-ragu, akhirnya berhasil memenuhi keinginan eksistensialnya dengan rela mati demi ideologi.

  • (2)    Kebebasan Mutlak

Seperti telah disebutkan, bahwa eksistensi manusia harus diputuskan sendiri. Maka, manusia memerlukan sebuah kebebasan yang mutlak ada pada dirinya, karena tanpa legitimasi kebebasan, eksistensi tersebut, hanyalah omong kosong belaka. Kebebasan dalam situasi ‘konkret’, tidak mempunyai tujuan dan sasaran lain selain dari dalam diri manusia. Tindakan manusia dalam memutuskan segala sesuatu, sebenarnya adalah pencariannya terhadap kebebasannya sendiri (Sartre, 2002: 96).

Kebebasan mutlak digambarkan Sitor Situmorang melalui Elizabeth (cerita Jalan Mutiara) yang diberikan pertanyaan eksistensial oleh Basuki, ketika timbul kebimbangan untuk tetap tinggal atau pergi dari rumah orang tuanya, setelah peristiwa bunuh diri Wenas. Kebebasan mutlak manusia tentu memerlukan sebuah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab secara individu maupun atas nama kemanusiaan. Sitor Situmorang pada cerita Pertahanan Terakhir, menggambarkan bahwa kematian karakter K dan Kolonel S merupakan bentuk tanggung jawab terhadap tindakan yang diambil secara sadar.

Sebagian manusia mungkin akan menggantungklan tanggung jawabnya pada Tuhan, untuk itulah Jean Paul Sartre (2002:57) ‘menyingkirkan’ Tuhan sebagai sandaran tanggung jawab manusia. Menurutnya, ada tidaknya Tuhan, tidak akan berpengaruh dalam hidup manusia. Pengingkaran terhadap Tuhan ini, digambarkan Sitor Situmorang melalui karakter Basuki (cerita Jalan Mutiara) yang sudah tidak percaya lagi dengan adanya Tuhan karena peristiwa keagamaan dan pengalaman hidupnya yang menguatkan keputusan itu.

  • (3)    Orang Lain adalah Neraka

Pemikiran Sartre tentang konsep ‘orang lain adalah neraka’ begitu orisinil dan unik, hal ini terkait dengan posisinya yang menolak interaksi sosial, padahal Sartre (2002:82) sendiri mengatakan, bahwa nilai subjektivitas yang dianggap sebagai ukuran kebenaran bagi kaum eksistensialis, bukanlah subjektivitas individual yang sempit. Dalam menilai diri sendiri, manusia memerlukan bantuan orang lain. Untuk menjawab paradigma tersebut, Jean Paul Sartre (dalam Nugroho, 2013: 75) menjelaskan dua asas yang ada pada diri manusia, yaitu etre pour soi ‘berada bagi dirinya sendiri’ dan etre en soi ‘berada dalam dirinya sendiri’. Konsep yang menjadikan dasar ‘orang lain adalah neraka’ adalah eksistensi orang lain itu etre pour soi bukannya etre en soi.

Peristiwa ‘orang lain adalah neraka’, terjadi akibat pandangan orang lain dapat menyebabkan ‘kebekuan’ diri, bahkan menghilangkan eksistensi manusia. Sitor Situmorang menggambarkan ‘kebekuan’ ini pada cerita Jalan Mutiara, ketika Tiene yang merasa dirinya tidak diawasi, secara lancang membuka isi koper Elizabeth. Pada saat melihat kimono dalam koper tersebut, secara tiba-tiba Elizabeth berdiri membelakanginya. Pandangan Elizabeth yang begitu tajam telah menjadikan eksistensi Tiene ‘beku’ karena ketakutannya atas rasa bersalah dan tindakan kurang baiknya.

Derita akibat pandangan orang lain juga dirasakan karakter Perempuan (cerita Pulo Batu) yang merasa begitu ‘tersiksa’ dengan tatapan orang-orang yang mendengarkan kisah pembuangan anak raja dari Tukang Dongeng, ketika ia menjenguk tetangganya yang sedang melahirkan. Penderitaan itu dirasakannya, karena secara tiba-tiba ia teringat bahwa Pulo Batu memanglah anak pungutan dari danau, bukan anak kandungnya sendiri.

Pada cerita Pertahanan Terakhir, Sitor Situmorang menggambarkan kehadiran orang lain menjadi penyebab nervous dan bahkan ketakutan bagi diri manusia. Melalui karakter K yang sedang berduaan dengan selingkuhannya, yaitu Istri D, secara tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Sesegera mungkin Istri D menyembunyikan K dengan memasukkannya ke kamar lain untuk menghindari kecurigaan. Ketakutan tersebut dapat dipahami, karena K adalah lawan politik D. Selain itu, mereka berdua adalah tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh di negara itu.

Bukan hanya akibat rasa bersalah dan tindakan kurang baik yang membuat manusia merasa eksistensi orang lain itu mengganggu eksistensi dirinya. Sitor

Situmorang pada cerita Pulo Batu, menggambarkan bahwa tindakan tertentu yang secara disengaja oleh orang lain, dapat membuat eksistensi diri menjadi hilang, bahkan dapat berujung ‘penindasan’. Hal ini dialami karakter Gadis 1 yang mendapatkan cibiran dan penghinaan, setelah ia bersenandung lagu cinta dalam bahasa Batak. Penindasan ini diakibatkan percakapan Gadis 2 dan 3 yang menyindir dirinya, karena dekat dan berhubungan dengan Pulo Batu yang dianggap gila karena mengaku sebagai anak raja.

  • 6.    Simpulan

Jelas sudah bahwa eksistensialisme memang berpengaruh pada drama Jalan Mutiara. Sitor Situmorang melalui drama Jalan Mutiara menujukkan eksistensi manusia harus dipahami sebagai sebuah tindakan subjektif. Tindakan manusia yang tidak sadar akan eksistensinya mengakibatkan ‘kekecewaan’ yang digambarkan Sitor Situmorang melalui cerita Jalan Mutiara. Ketidaksadaran tentang eksistensi ini, dapat menjadikan manusia ‘berkhianat’ terhadap nurani yang dijadikan tema oleh Sitor Situmorang pada cerita Pulo Batu. Untuk mencapai eksistensinya, manusia harus ‘memberontak’ terhadap kekangan hidup yang membuatnya tunduk dan mengabaikan idealisme, seperti pada cerita Pertahanan Terakhir. Setelah ‘pemberontakan’ atas kekangan yang membuat eksistensi terbelenggu, maka akan ditemukan sebuah ‘jalan’ yang membuat hidup manusia ‘konkret’. Hal tersebut, diisyaratkan Sitor Situmorang melalui judul utama pada drama Jalan Mutiara.

  • 7.    Daftar Pustaka

Atmaja, Jiwa, dkk. 1990. “Nasionalisme Drama Indonesia Masa Sesudah Perang”. Universitas Udayana.

Hassan, Fuad. 1971. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Jakarta : Pustaka Jaya

Mangunhardjana, A. 2006. Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z. Yogyakarta : Kanisius

Nugroho, Wahyu Budi. 2013. Orang Lain adalah Neraka. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Oemarjati, Boen S. 1971. Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia. Jakarta : PT Gunung

Agung.

Rodgers, Nigel dan Mel Thompson. 2015. Cara Mudah Memahami Eksistensialisme. Di Indonesiakan dari Existentialism Made Easy oleh Benyamin Molan. Jakarta : PT Indeks.

Sartre, Jean Paul. 2002. Eksistensialisme dan Humanisme. Di Indonesiakan dari Existentialism and Humanism oleh Yudhi Murtanto. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Situmorang, Sitor. 1954. Jalan Mutiara. Jakarta : Pustaka Rakyat.

Teeuw, A. 2015. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Cetakan ke-5. Bandung : Pustaka Jaya.

154