Perawatan Tradisional Ata Pesi pada Era Kesehatan Modern di Tueng
on
DOI: https://doi.org/10.24843/SP.2023.v7.i02.p04
p-ISSN: 2528-4517 e-ISSN: 2962-6749
Perawatan Tradisional Ata Pesi pada Era Kesehatan Modern di Tueng
Hilda Jaya*, I Gusti Putu Sudiarna, A.A. Ayu Murniasih
Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana [[email protected]] [[email protected]] [[email protected]] Denpasar, Bali, Indonesia
*Corresponding Author
Abstract
Research related to traditional or pesi care in the Tueng Village community was studied by applying the theory of the Foster & Anderson medical system and the theory of the Hierarchy of resort Romanucci-Ross. The concept used as a reference in this research is the ata pessi and modern health. The method used is a qualitative research method, by collecting data including the determination of informants, observations, interviews, literature studies, and data analysis. The results showed that the people of Tueng Village still carried out pregnancy and childbirth care by ata pesi. This is influenced by the community's view of ata pesi which is inseparable from the socio-cultural life of the local community. There is also the process and mechanism of traditional ata pesi care in assisting the delivery process, namely, first or pesi doing cikeng, second entap wall, third poro putes, fourth cear sumpe ceremony. Factors that influence people still maintain traditional or pessary care, among others, distance, economic affordability, cultural similarities, hereditary factors.
Keywords: Traditional, Ata Pesi, Pregnancy, Childbirth
Abstrak
Penelitian terkait perawatan tradisional ata pesi pada masyarakat Desa Tueng dikaji dengan mengaplikasikan teori sistem medis Foster & Anderson dan teori Hierarchy of resort Romanucci-Ross. Konsep yang dipakai sebagai acuan dalam penelitian ini, yaitu ata pesi dan kesehatan modern. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan mengumpulkan data meliputi penentuan informan, observasi, wawancara, studi pustaka, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Desa Tueng masih melakukan perawatan kehamilan dan persalinan oleh ata pesi. Hal ini dipengaruhi oleh pandangan masyarakat terhadap ata pesi tidak terlepas dari kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Ada pun proses dan mekanisme perawatan tradisional ata pesi dalam membantu proses persalinan yaitu, pertama ata pesi melakukan cikeng, kedua entap dinding, ketiga poro putes, keempat upacara cear sumpe. Faktor yang mempengaruhi masyarakat masih mempertahankan perawatan tradisional ata pesi antara lain, jarak, keterjangkauan ekonomi, kesamaan budaya, faktor turun-temurun.
Kata kunci: Tradisional, Ata Pesi, Kehamilan, Persalinan
Sunari Penjor : Journal of Anthropology
Prodi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Unud
PENDAHULUAN
Pada dasarnya ada dua bentuk pelayanan kesehatan masyarakat yaitu dengan pelayanan kesehatan tradisional (dukun) dan pelayanan kesehatan modern. Perawatan kesehatan secara tradisional diturunkan dari generasi ke generasi dan hanya didasarkan pada pengamatan, daripada pengamatan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Pola perawatan kesehatan secara tradisional telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, dan dihargai oleh masyarakat sebagai pengobatan alternatif atau mengobati penyakit (Mratihatani, 2008).
Desa Tueng merupakan salah satu desa di Kabupaten Manggarai Barat yang masih melakukan perawatan kehamilan dan persalinan oleh ata pesi. Meski pun ada tenaga medis di desa tersebut, keberadaan ata pesi untuk perawatan ibu hamil dan melahirkan tidak bisa dihilangkan. Ata pesi selalu dibutuhkan dan dipercaya oleh masyarakat setempat. Karena sejak ata pesi membantu proses persalinan tidak pernah ada satu pun kejadian yang fatal yakni kematian ibu dan anak. Ata pesi merupakan istilah lokal dari dukun bayi. Ata = orang, pesi= bisa. Ata pesi adalah orang yang berkemampuan menyembuhkan dan membantu dalam proses perawatan kehamilan dan persalinan karena dianggap memiliki kemampuan luar biasa dibanding manusia lain.
Pada kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Tueng masih diwarnai dengan budaya tradisional, merupakan warisan budaya masa lampau. Pengaruh dari budaya tradisional tersebut memberikan ciri khas kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Tueng, meskipun saat ini sebagian besar masyarakat Desa Tueng telah berubah ke arah yang modern seiring dengan berbagai pengaruh budaya asing. Namun,
pengaruh itu tidak mudah mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk berubah ke arah yang lebih modern. Itulah karakteristik masyarakat Desa Tueng. Hal ini tercermin dari ciri-ciri yang dimiliki oleh mayoritas masyarakat Desa Tueng, yaitu mereka tetap memegang teguh dan mendukung nilai-nilai adat yang ada.
Perilaku perawatan kesehatan kehamilan dan persalinan oleh ata pesi pada masyarakat Desa Tueng mempunyai keuntungan terkait faktor biaya, persalinan di rumah dengan bantuan ata pesi didukung oleh keluarga tempat mereka merasa memiliki kendali terhadap tubuhnya, ata pesi juga bisa memberikan ramuan-ramuan yang mampu memperlancar proses persalinan dan diurut yang sangat dipercaya masyarakat.
Adapun jenis pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh ata pesi kepada ibu yang melahirkan bukan hanya membantu saat persalinan, tetapi mengurusi ibu dan bayi dalam hal memandikan, memotong tali pusar, pijat serta ritual keselamatan selama masa nifas. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat pedesaan khususnya Desa Tueng masih meyakini pandangan tradisional terhadap masalah kesehatan begitu pula dengan sistem perawatan serta cara pencegahannya masih melakukan perawatan bersifat budaya tradisional.
Adapun tujuan dalam tulisan ini yaitu: (1) Untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi terkait proses dan mekanisme perawatan kehamilan dan persalinan ata pesi yang diyakini oleh masyarakat. (2) Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan perawatan tradisional ata pesi masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Tueng.
METODE
Penelitian ini dilakukan di Desa Tueng Kecamatan Kuwus Barat
Kabupaten Manggarai Barat, dengan alasan masih banyak masyarakat Desa Tueng yang melakukan sistem perawatan kehamilan dan persalinan secara tradisional oleh ata pesi. Konsep yang digunakan meliputi ata pesi sebagai sistem kesehatan tradisional masyarakat Manggarai khususnya di Desa Tueng, dan kesehatan modern yakni sistem kesehatan yang kini lumrah dipraktikan dalam pengobatan maupun persalinan di rumah sakit, puskesmas, dan sebagainya. Teori yang dipakai yaitu teori sistem medis dari Foster & Anderson dan Hierarchy Of Resort Of Curative Practices dari Romanucci-Ross yang dianggap relevan terhadap masalah yang dikaji. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dari sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan datanya meliputi penentuan informan, observasi, wawancara, dan kepustakaan. Informan yang dipilih ibu yang mempunyai anak bayi (nol-dua tahun), dukun bayi (ata pesi) dan petugas kesehatan (bidan). Proses penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive. Menurut Sugiyono (2016) teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif dibagi empat langkah yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses dan Mekanisme Perawatan Kehamilan, Persalinan Ata Pesi yang Diyakini Masyarakat Desa Tueng
Proses kehamilan dan persalinan tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan dan ritual budaya di seluruh dunia. Banyak budaya memiliki interpretasi yang berbeda tentang masalah kesehatan ini, yang disebabkan oleh latar belakang budaya (Koentjaraningrat, 1994).
Dalam budaya masyarakat setempat, mereka peduli dengan masa kehamilan
dan persalinan. Banyak fokus perhatian ditempatkan pada periode ini karena dianggap sebagai aspek penting dari kehidupan sosial. Sebagian besar fokus ini disebabkan oleh sensitivitas seputar kehamilan dan persalinan. Masyarakat mempercayai bahwa kehamilan serta kelahiran merupakan kondisi yang sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh dari alam gaib untuk itulah dianggap perlu pula menjaga serta melindungi ibu dan bayinya yang berada dalam kandungan. Di masa kritis ini, ibu hamil maupun yang akan melahirkan harus dilindungi dan dijaga oleh adat, moral dan agama. Hal ini untuk mencegah terjadinya gangguan pada janin atau kesehatan ibu. Masyarakat telah menerapkan berbagai strategi untuk tujuan ini, termasuk ritual khusus untuk ibu hamil dan membatasi perilaku tertentu (Malinowski, 1927).
Masyarakat Desa Tueng melakukan perawatan kehamilan mulai usia kandungan satu bulan. Tentunya setelah dipastikan bahwa ibu tersebut benar-benar hamil. Biasanya ata pesi juga yang memastikan apakah ibu tersebut hamil atau tidak. Ata pesi tetap menganjurkan ibu hamil dan keluarganya untuk memeriksakan kehamilan sejak bulan pertama tumbuh kembangnya ke fasilitas kesehatan. Hal ini karena ata pesi percaya bahwa ada baiknya untuk mendapatkan konfirmasi dari professional medis agar pemeriksaan kesehatan juga dilakukan oleh tenaga kesehatan (medis) bila ata pesi telah menyatakan bahwa seorang ibu memang hamil
Masyarakat Desa Tueng tetap mengamalkan dan mempercayai ritual keselamatan untuk ibu hamil. Sebagaimana halnya dalam konteks kebudayaan Manggarai, terdapat sebuah ritual adat khusus untuk melindungi perempuan (ibu) yang sedang mengandung yaitu jambat. Upacara jambat ini terjadi ketika usia kandungan
ibu hamil genap tujuh bulan (hamil besar) dan berlaku hanya pada saat anak pertama (sulung).
Melalui tradisi ini, ibu hamil secara adekuat dikukuhkan secara budaya yang bertujuan untuk menjaga keselamatan dan kenyaman bayi yang masih ada dalam kandungan, sarana penghapusan noda batin yang mungkin pernah tercela dari ibu hamil dan suaminya, yang terjadi pada waktu silam. Entah menyangkut kekeliruan atau kekecewaan dan kemarahan antara mereka berdua juga antara mereka dan orang lain. Untuk itu, melalui ritual jambat ini semua perlakuan buruk (kesalahan) itu dihapus secara sakral tentunya melalui perantaraan leluhur, sehingga proses usia kandungan hingga melahirkan senantiasa berjalan dengan aman dan selamat.
Tradisi ritual kehamilan lebih ditekankan sebagai sikap spiritual dasar yang berbau emosi religi, bukan logika. Dengan demikian, dalam tradisi ritual terdapat ritus penyelamatan berupa sejajen sebagai bentuk persembahan atau kurban kepada kekuatan gaib yang sulit diterima akal. Itu adalah keyakinan dan kepercayaan pada kekuatan gaib (Endraswara, 2003).
Selain mempercayai ritual jambat yang mempunyai kekuatan supranatural bagi masyarakat Desa Tueng, kehamilan juga tidak terlepas dari adanya kepercayaan terhadap mitos masyarakat. Menurut Devi (2015), mitos berisi anjuran atau larangan dengan tujuan melindungi manusia dalam keseimbangan dengan lingkungan alamnya. Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan di dunia ini berguna untuk menciptakan keseimbangan.
Masyarakat Desa Tueng sebagian masih mempercayai dan mengamalkan mitos-mitos tertentu terkait kehamilan dan masa nifas, seperti mitos pantang makanan. Bagi masyarakat Desa Tueng ada makanan tertentu yang dilarang saat
hamil dan setelah melahirkan. Mereka percaya pada tradisi leluhur dan mempraktikkan pantangan makanan. Menurut kepercayaan setempat, sejumlah bahan makanan yang termasuk dalam pantangan diantaranya dilarang makan daging kambing karena dapat menyebabkan pendarahan saat persalinan, dilarang makan ikan asin yang menurut mereka dapat meningkatkan tekanan darah, juga pantangan makan cumi-cumi yang menyebabkan plasenta atau tembuni lengket. Terdapat pula pantangan mengonsumsi buah-buahan tertentu yang dapat mengakibatkan keguguran atau pun kesulitan saat persalinan. Buah seperti jeruk nipis dapat menyebabkan kesulitan dalam persalinan, nanas muda dan durian dianggap dapat menyebabkan keguguran. Ibu hamil juga dilarang untuk mengkonsumsi jenis buah-buahan yang berdempet, umumnya ditemukan pada pisang dengan alasan akan melahirkan anak kembar siam.
Selain pantangan dalam bentuk makanan maupun buah-buahan tertentu, ada juga beberapa larangan dalam bentuk perilaku. Berikut adalah beberapa nasihat mengenai pantangan yang menyangkut sikap atau perilaku seorang wanita hamil yang biasanya cendrung dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat bahwa perilaku ibu selama kehamilan akan berpengaruh terhadap keselamatan dan kesempurnaan bayi yang sedang dikandung. “wanita hamil dilarang berjalan malam sendirian, dilarang menimba air pada waktu malam/agak gelap”.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, pada saat itulah banyak berkeliaran roh-roh halus/jahat yang suka mengganggu wanita hamil dan juga bayi atau anak kecil. Karena itulah maka perilaku atau sikap yang dapat mengundang perhatian mereka adalah sesuatu yang dilarang. Selain itu
merupakan larangan pula bagi ibu-ibu hamil untuk mendatangi sumber-sumber mata air atau sungai di tengah hari. Hal ini dimaksud karena di sumber air tersebut biasanya didiami oleh roh halus (jin). Perlakuan semacam ini bukan hal yang mengherankan karena kepercayaan masyarakat terhadap penyakit terjalin cukup erat dengan magi dan religi sehingga sangat sulit memisahkan keduanya. Di samping pantangan tersebut, ata pesi pun menganjurkan pasien untuk melakukan sesuatu dalam rangka pengamanan diri terhadap gangguan mahluk gaib yang jahat dengan menganjurkan harus memegang parang, peniti, pisau dan sisir. Semua ini bertujuan melindungi ibu hamil dan bayi dalam kandungannya dari gangguan roh jahat atau kekuatan alam yang berada di sekitarnya yang mengancam keselamatan ibu dan bayinya.
Demikian pula sang suami harus mentaati larangan yang dikenakan kepadanya. Yang tidak boleh dikerjakan oleh suami ketika istri sedang hamil yaitu tidak boleh membunuh binatang, tidak boleh menanam kayu pagar supaya jangan sampai hidung bayi nanti tersumbat yang mengakibatkan sengau (wunek). Suami juga tidak boleh memotong jagung supaya jangan mengganggu bayi dalam kandungan ibu (Janggur, 2010).
Adapun proses dan mekanisme persalinan dalam pelayanan kesehatan ata pesi:
-
a. Ata pesi melakukan cikeng kepada ibu melahirkan
Cikeng ialah sebuah proses yang dilakukan oleh ata pesi dalam membantu ibu melahirkan, seperti mengurut, meraba perut kandungan, vagina perempuan saat persalinan berlangsung. Yang berperan melakukan cikeng adalah orang yang sangat berpengalaman di bidang tersebut. Biasanya ata pesi atau pun wanita yang sudah berpengalaman, tetapi apabila
dalam keadaan darurat cikeng juga bisa dibantu oleh ata pesi laki-laki yang berpengalaman, itupun atas persetujuan pihak keluarga terutama atas persetujuan suami ibu yang hendak melahirkan (Nggoro, 2013).
Tempat pelaksanaan cikeng pada masyarakat Desa Tueng biasanya dilakukan di dalam loang (kamar tidur suami istri). Ata pesi dalam melakukan cikeng menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk melakukan cikeng. Perlengkapan yang disediakan untuk melakukan cikeng yaitu ramuan tradisional yang terbuat dari pucuk daun, akar dan kulit kayu waru (haju teno) yang dibuat dengan cara dihaluskan dan direndam dengan air dalam wadah. Ramuan tradisional tersebut kemudian
digosok dan dipijat di sekeliling perut ibu yang hendak melahirkan dengan cara dipijat dari perut atas ke perut bagian bawah sebanyak lima kali dan dari punggung ke arah perut sebanyak lima kali sambil dibacakan mantra yang dilakukan oleh ata pesi saat menjelang persalinan.
Selain digosok dan dipijatkan di perut ramuan tradisional tersebut diminum oleh wanita yang hendak bersalin.
Gambar 1. Ramuan Tradisional Ibu Hamil Sumber: ibudanbalita.com, 2022
-
b. Entap rinding (memukul dinding kamar persalinan)
Entap rinding artinya memukul sekat atau bilik rumah tempat proses berlangsungnya persalinan. Pada saat mendengar tangisan bayi yang baru lahir, suami atau salah satu anggota keluarga memukul dinding kamar atau rumah
tempat persalinan sebanyak tiga kali dengan kayu berukuran 50-70 cm yang sudah disiapkan sebelumnya sambil bertanya dalam bahasa Manggarai yang khas, ata peang ko ata one? (orang luar atau orang dalam), atau sebaliknya ata one ko ata peang? (orang dalam atau orang luar). Ibu-ibu dan ata pesi yang membantu proses persalinan menjawab pertanyaan tersebut sebanyak tiga kali sambil melihat jenis kelamin bayi yang baru lahir. Apabila bayi yang dilahirkan anak laki- laki maka ata pesi dan ibu-ibu yang membantu proses persalinan itu menjawab ata one (orang dalam). Apabila bayi yang lahir merupakan anak perempuan, maka jawabannya ata peang (orang luar). Bagi masyarakat Desa Tueng prosesi entap rinding merupakan pengukuhan atau deklarasi pertama tentang status jenis kelamin anak dalam keluarga. Hal ini berkaitan dengan sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat Desa Tueng yaitu sistem patrilineal (mengikuti garis keturunan ayah) dimana laki-laki di Desa Tueng sebagai penerus keturunan (wa’u).
-
c. Poro putes (memotong tali pusat)
Pemotongan ari-ari dilakukan oleh ata pesi yang membantu proses persalinan. Peralatan yang dipakai untuk memotong ari-ari bukan dari pisau, gunting, ataupun silet melainkan menggunakan peralatan tradisional yang terbuat dari bahan dasar jenis bambu (helung, atau belang) yang telah diruncing dan diraut tajam menyerupai bentuk pisau. Masyarakat setempat menyebutnya dalam bahasa lokal dengan istilah lampek. Ukuran lampek tersebut lima cm atau sama dengan ukuran pisau dapur pada umumnya. Teknik pemotongan ari-ari tidak dilakukan sembarangan melainkan dilakukan sebanyak lima kali dan pada hitungan kelima ari-ari harus putus.
Menurut Setyawati (2014), penolong persalinan tradisional (dukun bayi) juga
melakukan perawatan prenatal dan postnatal untuk ibu dan bayinya. Perawatan merupakan rangkaian fase terapeutik dalam praktik keperawatan yang diberikan langsung kepada klien atau pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan, sesuai konteks budaya.
Setelah bayi memasuki bulan kedua dilakukan pemijatan oleh ata pesi. Menurut Susanti, dkk (2017), pijat bayi adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah masalah tidur pada bayi. Memijat bayi memang tidak asing bagi masyarakat Desa Tueng. Hal ini merupakan salah satu pengobatan bagi masyarakat Desa Tueng ketika bayi merasa lelah atau mengalami keseleo dibagian tubuhnya sehingga bayi akan terus-menerus menangis. Kelelahan yang dimaksud adalah karena bayi bergerak sehingga terkadang merasa lelah atau kram di beberapa bagian tubuhnya.
Selain bayi, ibu juga memperoleh atensi serta perawatan tersendiri dari ata pesi yang menolong persalinannya, yang terbuat dari bahan tradisional. Seperti ramuan temulawak yang dapat mengurangi rasa nyeri dan perut kembung setelah melahirkan, pucuk pandan untuk memulihkan fungsi normal tubuh dari hal-hal yang dianggap kotor, jamu daun sirih untuk membuat tubuh kembali langsing/ memurnikan tubuh setelah melahirkan, juga pemulihan tubuh sebagai bagian dari kecantikan. Selain pengobatan herbal, perawatan ibu nifas mencakup pijat yang dilakukan ata pesi dengan maksud membantu pengencangan bagian perut dan membantu pemulihan tubuh.
Dalam proses perawatan kehamilan dan persalinan, sedikit banyak terdapat kelainan-kelainan yang dialami oleh ibu dan bayinya yang tidak dapat dipecahkan oleh ata pesi. Ata pesi mengatakan bahwa gangguan yang berkaitan dengan ibu hamil biasanya mag, tekanan darah tinggi, tidak hanya diselesaikan dengan
ramuan atau pijatan, melainkan perlunya penanganan medis, seperti halnya dalam mendapatkan vitamin, suntikan ataupun makan tambahan ibu hamil. Karena itu sangat dibutuhkan kemampuan dari ata pesi tersebut untuk memahami kapan seharusnya pasien dirujuk. Dengan melihat kondisi ibu hamil, maka tindakan yang dilakukan oleh ata pesi tersebut menyarankan untuk merujuk pasien tersebut. Jika ata pesi gagal dalam menolong pasien maka langkah pertama yang diambil adalah memberitahukan keluarga pasien untuk memanggil dokter atau bidan atau tenaga medis terdekat. Akan tetapi sering terjadi hambatan-hambatan yang dijumpai pada saat proses rujukan dilakukan. Diantaranya, jarak tempuh antar rumah penduduk dengan puskesmas yang lumayan jauh serta kondisi jalan yang kurang baik apalagi bila proses rujukan tersebut terjadi pada musim hujan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebertahanan Ata Pesi di Desa Tueng
Kebertahanan perawatan tradisional ata pesi erat kaitannya dengan keputusan menggunakan jasa tersebut. Faktor pribadi akan menentukan keputusan apa yang diambil, termasuk dalam menggunakan layanan kesehatan. Pilihan terhadap tenaga penolong persalinan adalah bagian dari upaya mencari pertolongan dalam proses persalinan. Masyarakat (ibu hamil) yang hendak bersalin, mempunyai alasan tersendiri dalam menentukan tenaga pertolongan persalinan. Sama halnya ibu hamil yang ditolong oleh ata pesi. Masyarakat Desa Tueng mempunyai alasan tersendiri dalam mempertahankan perawatan tradisional ata pesi, antara lain a. Keterjangkauan geografis
Jarak merupakan hambatan yang meningkatkan kecendrungan untuk menunda upaya individu atau masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan.
Masyarakat diharapkan dapat menggunakan tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan. Ibu hamil cenderung menggunakan fasililitas kesehatan jika jarak tempat tinggalnya tidak terlalu jauh. Akses terhadap pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh jarak antara tempat tinggal dan fasilitas kesehatan, serta letak pelayanan yang tidak strategis/sulit dijangkau ibu mengakibatkan berkurangnya akses pelayanan kesehatan modern bagi ibu hamil yang akan melahirkan (Wardani, 2020).
Masyarakat (ibu hamil) di Desa Tueng harus melewati jalan yang kondisinya agak parah (ekstrim) serta jauhnya jarak yang hanya dapat ditempuh oleh kendaraan roda dua (sepeda motor). Masyarakat memilih ata pesi sebagai penolong persalinan hal ini dipengaruhi oleh jarak rumah menuju tempat ata pesi lebih dekat.
-
b. Keterjangkauan ekonomi
Dalam memberikan asuhan keperawatan, dukun bayi tidak pernah meminta imbalan atas pelayanannya. Apa pun yang diberikan masyarakat, jumlahnya diterima dengan senang hati dalam bentuk uang atau barang. Pemberian dalam bentuk uang sangat bervariasi dan tergantung pada kemampuan keluarga yang membutuhkan bantuan (Handayani, 1994).
Masyarakat (ibu hamil) di Desa Tueng memilih perawatan tradisional ata pesi sebagai sumber perawatan kesehatan kehamilan dan persalinan karena biayanya yang dianggap lebih murah bila dibandingkan dengan perawatan di Puskesmas. Sebagian besar suami dari ibu hamil adalah petani, dengan penghasilan bulanan yang tidak menentu. Dengan kondisi dan status ekonomi seperti itu, ibu hamil sering kali lebih memilih perawatan tradisional (ata pesi) dari pada bidan. Ata pesi tidak mematok harga dan jasanya hanya membayar
seikhlasnya saja tetapi hasilnya sangat memuaskan. Tidak seperti perawatan yang dilakukan oleh tenaga medis (bidan) memakai patokan biaya yang dapat memberatkan informan untuk
mendapatkan perawatan kesehatan kehamilan dan persalinan.
-
c. Keberhasilan kesembuhan pasien
Pengalaman melahirkan sebelumnya dapat mempengaruhi pilihan ibu bersalin, karena pengalaman melahirkan dengan perawat tradisional dapat menciptakan respon positif maupun negatif terhadap pelayanan yang dilakukan oleh tenaga medis.
Sistem pelayanan yang bagus dilakukan oleh ata pesi memberikan kenyamanan bagi pasien untuk melakukan perawatan ke sana. Sehingga penyelenggara perawatan (ata pesi)
masih mempertahankan pelayanan yang bagus seperti ini atau bisa ditingkatkan lagi untuk menambah kenyamanan bagi ibu hamil yang melakukan perawatan pada ata pesi di Desa Tueng. d. Kesamaan Budaya
Keputusan masyarakat Desa Tueng dalam memilih ata pesi untuk melakukan perawatan kehamilan dan pertolongan persalinan berkaitan erat dengan kesamaan budaya. Hal ini disebabkan melalui adanya persamaan latar belakang budaya, masyarakat khususnya ibu hamil lebih paham dan mudah dalam melakukan praktik perawatan
kesehatannya selama melakukan perawatan oleh ata pesi dibanding pada tenaga kesehatan modern. Persamaan budaya antara ata pesi dengan
masyarakat (ibu hamil) menyebabkan mereka bisa memahami hal-hal yang harus dikerjakan dan dilakukan. Hal-hal yang dikerjakan ini merupakan sesuatu yang tidak tabu dan dekat dengan kehidupan mereka sebagai masyarakat. Di sisi lain, kurangnya minat masyarakat Desa Tueng untuk melakukan perawatan kehamilan oleh tenaga kesehatan modern
disebabkan oleh latar belakang kebudayaan yang berbeda diantara keduanya.
Menurut Foster & Anderson (2015) adanya kesulitan komunikasi antara perawat dan pasien disebabkan oleh perbedaan premis-premis kebudayaan khususnya pada aspek bahasa. Ada pun latar belakang kebudayaan yang berbeda ini berpengaruh terhadap perbedaan persepsi diantara perawat dan pasien terhadap praktik dan perawatan kesehatan yang dianggap baik. Apabila ditinjau dari segi bahasa, juga menjadi pengaruh minat masyarakat Desa Tueng lebih memilih ata pesi dibanding tenaga kesehatan modern. Bahasa menjadi segi yang penting dalam interaksi antara perawat dan pasien. Ini dikarenakan penyampaian-penyampaian terkait perawatan yang dilakukan dapat tersampaikan dengan baik apabila pasien mampu memahami dan melaksanakan saran dari perawat tersebut.
-
e. Faktor turun-temurun
Menurut Nurhidayanti, dkk. (2018), masyarakat yang mempercayai dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan karena dukun merupakan seseorang yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat dan dianggap memiliki kemampuan serta keterampilan dalam membantu persalinan. Kepercayaan yang ada dalam diri individu tergantung pada pengalaman orang itu sendiri, dan dukun bayi dianggap berpengalaman karena sering membantu ibu yang melahirkan.
Ata pesi di Desa Tueng mewarisi kemampuan dari generasi sebelumnya. Mereka bekerja berdasarkan pengalaman dan keyakinannya sendiri. Sebagai penolong persalinan, ata pesi di Desa Tueng lebih diminati dari pada bidan. Hal ini dirasakan oleh informan berdasarkan pengalaman melahirkan dengan bantuan ata pesi. Antara ata pesi dengan pasiennya mereka saling mengenal
dengan baik. Bahkan banyak masyarakat (ibu hamil) yang membuat pilihan berdasarkan pengalaman keluarga yang telah menggunakan layanan ata pesi secata turun-temurun.
Kepercayaan masyarakat terhadap keterampilan ata pesi berkaitan dengan sistem budaya masyarakat dan diperlakukan sebagai tokoh masyarakat. Sehingga dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat setempat yang memiliki potensi dalam memberi pelayanan kesehatan. Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dan menerima informasi. Pada masyarakat adanya suatu kebiasaan yang lebih mempercayai penolong persalinan pada tenaga ata pesi.
Nilai budaya dan rasa kebersamaan yang kuat tidak mudah mempengaruhi kebiasaan masyarakat mengubah ke pelayanan kesehatan (bidan). Sebuah layanan yang diberikan ata pesi menyesuaikan dengan bufdaya masyarakat setempat, sehingga memudahkan masyarakat untuk memahami dan mengikutinya. Adat dan budaya daerah yang kuat dapat mengubah suatu keputusan, sehingga budaya memiliki pengaruh yang besar terhadap tingkat pemilihan pertolongan saat melahirkan. Masyarakat (ibu hamil) biasanya lebih memilih sesuatu yang lebih tradisional daripada yang modern karena masyarakat merasa nyaman dan tidak memiliki masalah dalam melahirkan dengan bantuan ata pesi.
-
f. Dukungan keluarga dalam proses pengambilan keputusan
Sistem perawatan kesehatan mencakup institusi sosial yang digunakan oleh masyarakat untuk merawat pasien dan memberikan pengetahuan untuk membantu orang lain. Sistem perawatan kesehatan juga mencakup institusi sosial yang melibatkan setidaknya pasien dan penyembuh. Tujuan sebenarnya dari sistem perawatan kesehatan adalah untuk
memobilisasi sumber daya pasien, keluarga dan komunitasnya untuk mengikutsertakan mereka dalam memecahkan masalah (Foster & Anderson, 2015).
Beranjak dari hal tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa dukungan keluarga dari ibu hamil dalam sistem perawatan kesehatan sangat diperlukan, termasuk dalam proses pengambilan keputusan pilihan perawatan kesehatan. Sebagai rasa solidaritas diantara anggota kerabat (tidak lepas tangan) dan adanya tanggung jawab dipihak keluarga. Keluarga mendukung dan memberikan saran kepada ibu hamil untuk melakukan perawatan oleh ata pesi karena mereka yakin dan percaya bahwa perawatan yang diberikan oleh ata pesi sangat bagus.
Fitriani dan Eriyanti (2020) menuturkan bahwa masyarakat dan pasien yang menjalani pengobatan biasanya menerima informasi tentang pengobatan dari tetangga, anggota keluarga, atau orang terdekat. Jika pengobatan mengalami perubahan yang memiliki dampak yang lebih baik atau positif pada pasien, ini biasanya menginformasikan keputusan medis.
SIMPULAN
Ata pesi di Desa Tueng masih bertahan hingga sekarang, hal ini karena masih banyak masyarakat (ibu hamil) yang melakukan perawatan kehamilan dan pertolongan persalinan oleh ata pesi). Mereka mengganggap ata pesi sebagai tenaga medis tradisional. Perawatan tersebut merupakan strategi adaptif kultural masyarakat Desa Tueng dalam bidang kesehatan. Nilai budaya dan kebersamaan yang kuat tidak mudah mempengaruhi cara berpikir masyarakat untuk beralih ke sistem medis modern.
Rangkaian proses persalinan oleh ata pesi masih menggunakan cara sederhana, yakni ata pesi melakukan cikeng, kedua entap dinding, ketiga poro putes,
keempat upacara cear sumpe. Hal ini disebabkan oleh pola kehidupan mereka yang bersifat tradisional dan masih memegang teguh dan mendukung nilai-nilai adat yang ada.
Eksistensi ata pesi di Desa Tueng dalam perawatan kesehatan kehamilan dan persalinan masih cukup tinggi. Hal disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor keterjangkauan geografis,
keterjangkauan ekonomi, faktor
keberhasilan kesembuhan pasien. Selain itu pilihan terhadap ata pesi juga disebabkan oleh kesamaan budaya masyarakat, faktor turun-temurun, serta dukungan keluarga dalam proses pengambilan keputusan.
REFERENSI
Devi, S. (2015). “Mitos Jenis Kelamin
Bayi Pada Ibu Hamil Di Masyarakat Minangkabau”. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 1(1).
https://doi.org/10.36424/jpsb.v1i1.1 10
Endraswara, S. (2003). Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa. Narasi.
Fitriani N. & Eriyanti F. (2020). “Relasi Pengetahuan dan Kekuasaan Dukun dalam Pengobatan
Tradisional pada Masyarakat Dusun Lubuk Tenam Kecamatan Jujuhan Ilir Kabupaten Bungo Propinsi Jambi”. Jurnal Riset Tindakan Indonesia, 5(1), pp. 2735.
https://doi.org/10.29210/30034750 00
Foster & Anderson. (2015). Antropologi Kesehatan. Universitas Indonesia (UI-Press).
Handayani, L. (1994). “Peran Dukun Bersalin Tradisional Dalam Perawatan Kehamilan, Pertolongan Persalinan, Perawatan Pasca-persalinan dan Kepercayaan di Kabupaten Tulung Agung” Jurnal Populasi, 5(2), pp. 63-73.
https://doi.org/10.22146/jp.12229
Janggur, P. (2010). Butir-Butir Adat
Manggarai. Yayasan Siri Bongkok.
Koentjaraningrat. (1994). Seri Etnogratfi Indonesia No.2 Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
Malinowski, B. (1927). Sex And Repression In Savage Society. Rourledge & Kegan Paul Ltd.
Nggoro, A.M. (2013). Budaya Manggarai Selayang Pandang. Nusa Indah.
Nurhidayanti. S., Margawati. A., & Irene, M. (2018). “Kepercayaan
Masyarakat terhadap Penolong Persalinan di Wilayah Halmahera Utara”. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 13(1), pp. 46-60.
https://doi.org/10.14710/jpki.13.1.4 6-60
Retno, M. (2008). “Pengobatan Tradisonal Dukun Beranak:
Regulasi dan Kebutuhan
Masyarakat Dikaitkan dengan
Angka Kematian Ibu di Kabupaten Grobongan”. Tesis Universitas
Katolik Soegijapranata Semarang.
Setyawati, R. (2014). “Peranan Dukun Bayi dalam Perspektif Masyarakat Jawa terhadap Proses Persalinan di Dusun Noloprayan Desa Jatirejo Kabupaten Semarang Jawa Tengah”. Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sugiyono. (2016) Metode Penelitian.
Alfabeta.
Susanti, M. R., Sawitry & Prasida, D. W. (2017). “Persepsi Ibu tentang Pijat Bayi yang Dilakukan oleh Dukun Bayi di RW I Kelurahan Susukan Kecamatan Ungaran Timur” Jurnal Smart Kebidanan, 3(1).
https://doi.org/10.34310/sjkb.v3i1.5 3
Wardani, T.A. K. (2020). “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan Pada Puskesmas Kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang Propinsi Banten”. Skripsi
Kebidanan Politeknik Kesehatan Jakarta III.
Discussion and feedback