Profil Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng
on
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2685-3809 Vol. 10, No. 2, Desember 2021
Profil Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng
KETUT MIA JIWANTARI, NI WAYAN PUTU ARTINI*, I DEWA GEDE RAKA SARJANA
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana Jalan PB Sudirman Denpasar 80232, Bali
Email: [email protected] * [email protected]
Abstract
Profile of Clove Traders in Busungbiu Sub-District, Buleleng Regency
Cloves are one of the potential plantation commodities to be cultivated in Buleleng because they have high economic value. Clove trading is a promising source of livelihood because market demand is quite high. This study aims to determine the profile of clove traders in Busungbiu District, Buleleng Regency and to determine the size of the profits from the clove trading business. Primary data were obtained through interviews with 50 clove traders and secondary data were obtained from books, previous research, and other sources on the internet. This research uses descriptive analysis. The results of the study provide an overview of the profiles of clove traders in Busungbiu District who are classified as new traders, with an average trading experience of 8.5 years. From July to September 2019, the average capital required to trade cloves is IDR 260,400,000.00. Most of the clove traders use their own capital with a sales volume of 18,302 kg of cloves. Within these months, clove traders get a profit of at least IDR 4,551,333.00 and a maximum of IDR 63,292,668.00 with an average profit of IDR 16,790,660.00 or IDR 5,968,866.00 per month. The average profit of bonded traders is greater because the cost of raw materials issued is smaller. But bonded traders must be proficient in interpreting prices in the bond system.
Keywords: profile, traders, cloves, profit
Kabupaten Buleleng merupakan daerah dengan luas perkebunan terbesar di Bali. Pada tahun 2017 luas lahan perkebunan di Kabupaten Buleleng yaitu sebesar 26% dari jumlah luas lahan perkebunan di Bali atau sebesar 31.323 Ha (BPS Provinsi Bali dalam Bali dalam Angka 2017). Sektor pertanian meliputi sub sektor tanaman pangan, sub sektor perkebunan, sub sektor perikanan, sub sektor peternakan, dan sub sektor kehutanan. Perkebunan merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian di Bali. Menurut Berihun dan Bihon (2014) perkembangan ekonomi khususnya sektor perkebunan adalah salah satu kegiatan
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata ISSN: 2685-3809 Vol. 10, No. 2, Desember 2021 untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu, sehinga diusahakan jika semakin besar kegiatan ekonomi khususnya sektor perkebunan maka semakin luas lapangan kerja produktif bagi masyarakat.
Komoditi sub sektor perkebunan di Kabupaten Buleleng sampai saat ini masih mengandalkan pada tanaman kelapa dalam, kopi robusta dan cengkeh (BPS Provinsi Buleleng). Cengkeh menjadi salah satu komoditi perkebunan yang potensial dibudidayakan di Buleleng (Dinas Perkebunan Buleleng, 2018). Cengkeh merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Kecamatan Busungbiu merupakan sentra cengkeh di Kabupaten Buleleng. Hasil panen cengkeh di Kabupaten Buleleng dari tahun ke tahun tidak sama. Fluktuasi hasil cengkeh terjadi karena adanya pengaruh iklim. Iklim erat kaitannya dengan curah hujan serta faktor yang mempengaruhi iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, lama penyinaran matahari, kecepatan dan arah angin. Perubahan iklim juga berdampak pada tumbuh kembang dan produksi tanaman cengkeh. Hal ini sangat merugikan baik bagi petani maupun pedagang cengkeh karena keuntungan yang diperoleh menjadi tidak stabil. Selain itu terkadang menyebabkan adanya kelebihan suplai cengkeh yang menyebabkan fluktuasi harga yang sangat tajam.
Unggulnya komoditi cengkeh di Kecamatan Busungbiu harus diimbangi dengan sistem pemasaran yang baik, mengingat sistem pemasaran memegang peranan penting dalam meningkatkan produksi yang dapat memotivasi para petani untuk melaksanakan perbaikan cara- cara produksi yang sesuai dengan permintaan di pasar. Pedagang cengkeh adalah salah satu pekerjaan yang terlibat dalam sistem pemasaran cengkeh. Bidang usaha perdagangan tergolong sebagai kegiatan di luar pertanian (off farm) yang telah menjadi penyumbang penyedia lapangan kerja dan pendapatan dominan di pedesaan. Menurut Kibrandoko (2011), pedagang merupakan seseorang ataupun sekelompok orang yang menyediakan barang atau jasa bagi konsumen. Pekerjaaan berdagang tergolong pada bidang jasa dengan kartakteristik yang berbeda dengan bidang usaha lain, misalnya bidang usaha produksi dengan kegiatan menanam tanaman atau memelihara ternak.
Karakteristik setiap pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu berbeda-beda dalam melakukan sistem pemasaran cengkeh, sehingga sangat penting untuk diketahui mengingat pedagang cengkeh berperan penting dalam sistem pemasaran cengkeh. Hal inilah yang menunjukkan bahwa penelitian ini penting untuk dilakukan. Oleh sebab itu, pada penelitian ini peneliti ingin meneliti “Profil Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng” dengan objek yang diteliti ialah pedagang cengkeh yang berada di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.
-
1. Bagaimana profil pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng?
-
2. Berapakah besarnya keuntungan pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui :
-
1. Profil pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
-
2. Besarnya pendapatan pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Lokasi ini dipilih karena Kecamatan Busungbiu merupakan sentra cengkeh di Kabupaten Buleleng. Penelitian ini dilakukan pada awal bulan Maret sampai dengan akhir Juni 2020.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitif dan kualitatif. Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah lamanya pengalaman berdagang, jumlah modal dan volume penjualan pedagang periode Bulan Juli sampai dengan Bulan September Tahun 2019. Data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah identitas pedagang (tingkat pendidikan pedagang dan jenis kelamin), sumber modal yang digunakan pedagang, gambaran umum, dan sejarah daerah penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini antara lain pengalaman berdagang, jumlah modal, volume penjualan, identitas dan sumber modal yang digunakan pedagang. Data sekunder dalam penelitian ini antara lain gambaran umum dan sejarah daerah penelitian.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain survey, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan.
Menurut Sugiyono (2013), populasi suatu wilayah generalisasi yang dimana terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, kemudian ditarik sutau kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu sebanyak 50 orang dimana dari 50 orang pedagang tersebut sejumlah 12
pedagang melakukan pembelian cengkeh dengan cara majek atau membeli cengkeh yang masih berada di pohon. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan metode sensus. Sensus adalah kegiatan mengumpulkan data dan informasi dengan cara mengamati seluruh elemen dari populasi atau metode penarikan sampel bila semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel.
Menurut Sekaran (2002) dalam Wardhono (2005), variabel adalah segala sesuatu yang dapat mengambil nilai yang berbeda atau bervariasi, nilai dapat berbeda pada berbagai waktu yang berbeda untuk obyek atau orang yang sama, atau nilai dapat berbeda pada waktu yang sama untuk obyek atau orang yang berbeda.Variabel dalam penelitian ini yaitu profil pedagang dan keuntungan pedagang. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini berupa program Excel 2010. Analisis deskriptif bertujuan untuk menggambarkan dan menafsirkan data yang berkenaan dengan situasi yang terjadi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar variabel untuk mendapatkan kebenaran.
-
3. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1.
Pengalaman Berdagang Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu | |
No |
Pengalaman Berdagang Responden Persentase Kategori (Tahun) (Orang) (%) |
1 2 3 |
3-9 35 70 Baru 10-16 11 22 Sedang 17-23 4 8 Lama Jumlah 50 100 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Menurut Tuhumury (2014) pengalaman pedagang akan mempengaruhi pola berdagang seseorang. Semakin lama pengalaman maka semakin banyak pengetahuan tentang cara berdagang yang baik dan semakin matang dalam pengambilan keputusan mengenai usaha dagangnya. Berdasarkan data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa pengalaman berdagang dengan jumlah 50 orang pedagang yang terlibat sebagai responden pada penelitian ini dengan jumlah responden terbanyak yaitu berkisar 3 - 9 tahun dengan jumlah responden 35 orang atau sebesar 70% dari total keseluruhan responden. Pengalaman berdagang selama 10 - 16 tahun terdapat 11 orang responden dan pengalaman berdagang 17 - 23 tahun berjumlah 4 orang responden. Rata-rata pengalaman berdagang responden yaitu 8,5 tahun.
Tabel 2.
Modal Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Modal (Rp) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
100.000.000 – 316.000.000 |
31 |
62 |
Kecil |
317.000.000 – 533.000.000 |
5 |
12 |
Sedang | |
534.000.000 – 750.000.000 |
2 |
2 |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
100.000.000 – 316.000.000 |
8 |
16 |
Kecil |
317.000.000 – 533.000.000 |
2 |
4 |
Sedang | |
534.000.000 – 750.000.000 |
2 |
4 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
50 |
100 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Berdasarkan data pada Tabel 2 dari 50 orang responden terdapat dua jenis pedagang yaitu pedagang tidak majek dengan jumlah 38 orang dan pedagang majek 12 orang. Pedagang tidak majek dan pedagang majek lebih dominan pada modal dengan kategori kecil yaitu sebanyak 31 orang dan delapan orang pedagang dengan jumlah modal pedagang yaitu sebesar Rp 100.000.000.00 - Rp 316.000.000.00. Sebanyak enam orang pedagang tidak majek dan orang pedagang majek masuk dalam kategori modal sedang dengan jumlah modal sebesar Rp 317.000.000.00 - Rp 533.000.000.00. Sedangkan untuk kategori modal besar dengan jumlah modal Rp 534.000.000.00 - Rp 750.000.000.00 sebanyak dua orang pedagang tidak majek dan satu orang pedagang majek.
Tabel 3.
Sumber Modal Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Kategori |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Tidak Majek |
Modal Sendiri |
38 |
76 |
Modal Campuran |
- |
- | |
Modal Pinjaman |
- |
- | |
Total |
38 |
76 | |
Majek |
Modal Sendiri |
5 |
10 |
Modal Campuran |
7 |
14 | |
Modal Pinjaman |
- |
- | |
Total |
12 |
24 | |
Jumlah |
50 |
100 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Berdasarkan data pada Tabel 3 sebanyak 38 responden pedagang tidak majek atau 76% dari total keseluruhan responden masuk dalam kategori modal milik sendiri yang berarti sumber modal responden sepenuhnya modal milik sendiri. Sedangkan untuk responden pedagang majek dengan modal milik sendiri berjumlah lima orang atau 10% dari total keseluruhan responden. Sebanyak delapan responden menggunakan modal campuran yaitu modal milik sendiri dan modal pinjaman dengan pembagian tujuh responden tidak majek dan satu responden majek. Dari 50 orang responden baik pedagang tidak majek dan pedagang yang majek tidak ada yang menggunakan modal sepenuhnya dari pinjaman.
Tabel 4.
Volume Penjualan Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Volume Penjualan (Kg) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
7.000 – 20.000 |
25 |
50 |
Kecil |
21.000 – 34.000 |
11 |
22 |
Sedang | |
35.000 – 50.000 |
2 |
4 |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
7.000 – 20.000 |
9 |
18 |
Kecil |
21.000 – 34.000 |
2 |
4 |
Sedang | |
35.000 – 50.000 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
50 |
100 | ||
Rata-rata |
18.302 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa volume penjualan terbanyak pedagang yaitu berkisar 7.000 – 20.000 kg dengan jumlah responden sebanyak 34 orang atau 25 orang responden tidak majek dan sembilan responden majek masuk dalam kategori volume penjualan kecil. Responden dengan volume penjualan sebesar 21.000 – 34.000 kg sebanyak 11 orang responden tidak majek dan dua orang responden majek masuk dalam kategori volume penjualan sedang. Dan untuk kategori volume penjualan besar terdapat dua responden tidak majek dan satu orang responden majek dengan volume penjualan yaitu berkisar 35.000 sampai dengan 50.000 kg. Rata-rata volume penjualan responden pada tiga bulan penjualan yaitu sebesar 18.302 kg. Dari 50 orang responden, sebanyak 28 responden dengan kategori modal kecil memiliki volume penjualan yang kecil itu berarti perputaran modal yang dilakukan pedagang tidak besar, 10 responden dengan modal kecil masuk dalam kategori volume penjualan sedang berarti perputaran modal pedagang cukup besar. Volume produksi cengkeh pada Tahun 2019 lebih sedikit dibandingan dengan tahun sebelumnya. Sehingga berpengaruh terhadap volume penjualan pedagang cengkeh. Jenis cengkeh yang dijual oleh pedagang adalah cengkeh kering dan cengkeh basah.
Keuntungan pedagang cengkeh adalah selisih antara total penerimaan yang diperoleh pedagang dengan semua biaya total. Keuntungan pedagang cengkeh dapat dihitung dengan cara mencari selisih antara penerimaan pedagang dan total pengeluaran pedagang, termasuk biaya-biaya yang tidak diperhitungkan seperti penyusutan alat-alat yang digunakan oleh pedagang dalam mendukung usahanya.
Pada penelitian ini biaya pedagang terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap pedagang cengkeh adalah penyusutan alat-alat yang digunakan dalam usaha (terpal, sekop, ayak dan timbangan) dan bunga bank. Biaya tidak tetap (variable cost) pedagang cengkeh adalah biaya tenaga kerja, biaya transportasi, biaya pengemasan, biaya upacara, biaya air, biaya listrik dan biaya pembelian bahan baku.
Tabel 5.
Total Penerimaan Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Penerimaan (Rp) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
180.000.000 – 1.119.000.000 |
28 |
56 |
Kecil |
1.120.000.000 – 2.059.000.000 |
9 |
18 |
Sedang | |
2.060.000.000 – 3.000.000.000 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
180.000.000 – 1.119.000.000 |
9 |
18 |
Kecil |
1.120.000.000 – 2.059.000.000 |
2 |
4 |
Sedang | |
2.060.000.000 – 3.000.000.000 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
43.224.700.000 |
50 |
100 | |
Rata-rata |
864.494.000 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Penerimaan berasal dari hasil penjualan produk baik berupa barang dan jasa usaha Soekartawi (2003). Berdasarkan data pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa penerimaan pedagang terbanyak pada kategori kecil dengan jumlah penerimaan Rp 180.000.000.00 - Rp 1.119.000.000.00 yaitu sebanyak 37 responden atau sebanyak 28 responden pedagang tidak majek dan sembilan responden pedagang majek. Sebanyak 11 responden yaitu sembilan responden pedagang tidak majek dan dua responden pedagang majek dengan jumlah penerimaan masuk dalam kategori sedang yaitu dengan jumlah Rp 1.120.000.000.00 - Rp 2.059.000.000.00. Masing-masing satu responden pedagang tidak majek dan pedagang majek dengan jumlah penerimaan berkisar Rp 2.060.000.000.00 - Rp 3.000.000.000.00 masuk ke dalam kategori penerimaan besar. Rata-rata penerimaan responden yaitu Rp 864.494.000.00. Volume penjualan cengkeh mempengaruhi penerimaan pedagang. Penerimaan merupakan hasil penjualan yang diterima pedagang sebelum dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan.
Tabel 6.
Biaya Tetap Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Biaya Tetap (Rp) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
58.333 – 11.457.998 |
37 |
74 |
Kecil |
11.457.999 – 22.857.664 |
1 |
2 |
Sedang | |
22.857.665 – 34.257.332 |
- |
- |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
58.333 – 11.457.998 |
8 |
18 |
Kecil |
11.457.999 – 22.857.664 |
- |
- |
Sedang | |
22.857.665 – 34.257.332 |
4 |
8 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
174.481.610 |
50 |
100 | |
Rata-rata |
3.489.632,2 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Dapat dilihat pada Tabel 6 bahwa biaya tetap pedagang cengkeh terbanyak pada kategori kecil dengan jumlah biaya tetap yaitu Rp 58.333.00 - Rp 11.457.998.00 dengan jumlah 37 responden pedagang tidak majek dan delapan responden pedagang majek atau sebesar 84% dari jumlah keseluruhan responden. Pada kategori sedang dengan jumlah biaya tetap Rp 11.457.999.00 - Rp 22.857.664.00 yaitu sebanyak satu orang responden pedagang tidak majek. Kategori besar dengan jumlah biaya tetap Rp 22.857.665.00 - Rp 34.257.332 sebanyak empat orang responden pedagang majek. Rata-rata biaya tetap pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu yaitu sebesar Rp 3.489.632,2.00. Perbedaan biaya tetap pedagang disebabkan karena perbedaan jenis biaya tetap yang dikeluarkan pedagang tidak sama.
Tabel 7.
Biaya Variabel Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Biaya Variabel (Rp) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
165.308.000 – 1.031.851.000 |
27 |
54 |
Kecil |
1.031.852.000 – 1.898.395.000 |
10 |
20 |
Sedang | |
1.898.396.000 – 2.764.940.000 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
165.308.000 – 1.031.851.000 |
9 |
18 |
Kecil |
1.031.852.000 – 1.898.395.000 |
2 |
4 |
Sedang | |
1.898.396.000 – 2.764.940.000 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
41.971.755.700 |
50 |
100 | |
Rata-rata |
839.435.114 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa biaya variabel yang dikeluarkan pedagang yaitu sebesar Rp 165.308.000.00 - Rp 2.764.940.000.00. Biaya variabel
dengan responden terbanyak pada kategori kecil yaitu Rp 165.308.000.00 - Rp 1.031.851.000.00 berjumlah 27 orang responden pedagang tidak majek dan sembilan responden pedagang majek atau sebesar 72% dari total seluruh pedagang cengkeh. Pada kategori sedang terdapat 11 orang responden, yaitu 10 orang responden pedagang tidak majek dan dua orang responden pedagang majek. Dan pada kategori besar berjumlah dua orang responden, masing-masing satu orang responden pedagang tidak majek dan satu orang responden pedagang majek. Rata-rata biaya variabel pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu sebesar Rp 839.435.114.00. Pedagang majek lebih banyak mengeluarkan biaya variabel jika dibandingan dengan pedagang tidak majek karena mengeluarkan biaya tenaga kerja yang lebih banyak seperti biaya petik, biaya ngepik dan biaya jemur. Biaya tenaga kerja yang diperhitungkan dalam penelitian ini merupakan tenaga kerja dari luar dan dalam keluarga dengan sitem upah yang sama yaitu sesuai dengan volume penjualan cengkeh. Biaya petik merupakan upah yang diberikan pedagang dari jumlah cengkeh yang mampu dipetik oleh tenaga kerja yang digunakan pedagang.
Tabel 8.
Total Pengeluaran Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Pengeluaran (Rp) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
166.376.467 – 1.042.355.282 |
27 |
54 |
Kecil |
1.042.355.283 – 1.918.334.098 |
10 |
20 |
Sedang | |
1.918.334.099 – 2.794.312.916 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
166.376.467 – 1.042.355.282 |
9 |
18 |
Kecil |
1.042.355.283 – 1.918.334.098 |
2 |
4 |
Sedang | |
1.918.334.099 – 2.794.312.916 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
41.971.755.700 |
50 |
100 | |
Rata-rata |
839.435.114 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Biaya Total (Total Cost) adalah Keseluruhan dari jumlah biaya yang dikeluarkan Sukirno (2005). Total pengeluaran yang dikeluarkan setiap pedagang berbeda-beda. Dapat dilihat pada Tabel 8 total pengeluaran pedagang terbanyak yaitu pada kategori kecil dengan jumlah 36 responden yaitu 27 responden pedagang tidak majek dan sembilan responden pedagang majek atau sebesar 72% dari jumlah keseluruhan pedagang cengkeh dengan total pengeluaran sebesar Rp 166.376.467.00 - Rp 1.042.355.282.00. Pada kategori sedang terdapat 12 responden yaitu 10 responden pedagang tidak majek dan dua responden pedagang majek. Kategori besar terdapat dua responden dengan masing-masing satu responden pedagang tidak majek dan satu responden pedagang majek. Semakin sedikit biaya yang dikeluarkan oleh pedagang maka keuntungan yang akan diterima pedagang akan semakin besar. Pengeluaran terbesar pedagang adalah pada biaya pembelian bahan baku. Biaya variabel pedagang lebih besar dibandingkan dengan biaya tetap. Karena biaya
variabel merupakan biaya yang mempengaruhi kecil atau besarnya volume penjualan.
Tabel 9.
Keuntungan Pedagang Cengkeh di Kecamatan Busungbiu Bulan Juli – September Tahun 2019
Jenis Pedagang |
Keuntungan (Rp) |
Responden (Orang) |
Persentase (%) |
Kategori |
Tidak Majek |
4.551.333 – 24.131.777 |
37 |
74 |
Kecil |
24.131.778 – 43.712.223 |
1 |
2 |
Sedang | |
43.712.223 – 63.292.668 |
- |
- |
Besar | |
Total |
38 |
76 | ||
Majek |
4.551.333 – 24.131.777 |
3 |
6 |
Kecil |
24.131.778 – 43.712.223 |
8 |
16 |
Sedang | |
43.712.223 – 63.292.668 |
1 |
2 |
Besar | |
Total |
12 |
24 | ||
Jumlah |
839.533.021 |
50 |
100 | |
Rata-rata |
16.790.660 |
Sumber: Analisis Data Primer, 2020
Keuntungan (laba) adalah perbedaan antara penghasilan dan biaya yang dikeluarkan Astuti (2005). Dapat dilihat pada Tabel 9 keuntungan responden terbanyak pada kategori kecil dengan jumlah keuntungan antara Rp 4.551.333.00 -Rp 24.131.777.00 sebanyak 40 responden yaitu 37 responden pedagang tidak majek dan tiga responden pedagang majek atau 96% dari total keseluruhan responden. Pada kategori keuntungan sedang terdapat satu orang responden pedagang tidak majek dan delapan responden pedagang majek. Pada kategori keuntungan besar terdapat satu orang responden pedagang majek. Dapat dilihat pada Tabel bahwa pedagang tidak majek lebih dominan pada keuntungan dengan kategori kecil sedangkan pada pedagang majek lebih dominan pada keuntungan sedang. Rata-rata keuntungan pedagang selama 3 bulan yaitu sebesar Rp 16.790.660.00 atau keuntungan pedagang sebesar Rp 5.596.886.00/bulan. Keuntungan pedagang terbesar yaitu dari hasil majek atau membeli cengkeh yang masih berada di pohon. Keuntungan cengkeh dari hasil majek lebih besar dibandingkan dengan membeli yang sudah dipetik. Tetapi pedagang juga harus pintar memastikan berapa volume cengkeh yang akan dihasilkan dari luas kebun cengkeh yang dipajek. Maka dari itu banyak pedagang yang lebih memilih untuk membeli cengkeh yang sudah bersih (sudah dipetik dan dikepik) dari petani demi menghindari kerugian jika salah menafsirkan harga. Keuntungan pedagang juga dipengaruhi oleh harga jual cengkeh. Hal ini disebabkan karena harga cengkeh yang berfluktuasi mengingat cengkeh merupakan tanaman yang sangat berpengaruh terhadap iklim sedangkan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan dengan pedagang. Karena kecil atau besarnya harga cengkeh tidak mempengaruhi biaya tenaga kerja yang digunakan oleh pedagang.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan bahwa profil pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu berdasarkan kompisisi pengalaman berdagang termasuk ke dalam kategori baru dengan rata-rata pengalaman berdagang yaitu selama 8,5 tahun. Pada Bulan Juli sampai September 2019 rata-rata modal yang digunakan selama berjualan sebesar Rp 260.400.000.00. Sumber modal yang digunakan pedagang terbanyak merupakan sumber modal milik sendiri dengan volume penjualan cengkeh sebesar 18.302 kg. Keuntungan pedagang cengkeh di Kecamatan Busungbiu Busungbiu, Kabupaten Buleleng pada Bulan Juli sampai September 2019 terendah sebesar Rp 4.551.333.00 dan terbesar Rp 63.292.668.00 dengan rata-rata keuntungan pedagang selama 3 bulan yaitu Rp 16.790.660.00 atau sebesar Rp 5.596.886.00/bulan. Keuntungan pedagang majek lebih besar dibandingkan dengan pedagang tidak majek. Hal ini terjadi karena biaya pokok bahan baku yang dikeluarkan pedagang majek lebih kecil dibandingan dengan pedagang tidak majek tetapi pedagang juga harus pintar dalam menafsirkan harga dalam sistem pajek.
Berdasarkan hasil penelitian dan keterbatasan dalam penelitian ini, maka beberapa saran yang dapat penulis sampaikan yaitu pekerjaan sebagai pedagang cengkeh memiliki peluang usaha yang cukup besar di Kecamatan Busungbiu, mengingat Kecamatan Busungbiu merupakan sentra cengkeh di Kabupaten Buleleng. Adanya dukungan pemerintah sangat membantu usaha yang digeluti oleh pedagang, salah satunya adalah menyediakan lembaga keuangan yang dapat membantu mengatasi masalah permodalan para pedagang. Pembuatan buku keuangan sangat bagus untuk mendukung usaha para pedagang agar segala laporan keuangan dalam usaha tercatat sehingga pedagang bisa lebih jelas mengetahui pengeluaran dan pemasukan yang diterima.
-
5. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terimakasih penulis tujukan kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya.
Daftar Pustaka
Astuti, Dewi. 2005. Manajemen Keuangan Perusahaan Cetakan Pertama. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Berihun, Kassa Hailu dan Bihon Kassa Abrha. 2014. Adoption and Impact of Agricultural
Technologies on Farm Income: Evidence From Southern Tigray, Northern Ethiopia. International Journal of Food and Agricultural Economics. 2(3): h: 91-106.
BPS. 2017. Buleleng Dalam Angka 2017. BPS Buleleng.
Dinas Perkebunan Kabupaten Buleleng. 2018. Tanaman Cengkeh (Syzigium aromaticum). Buleleng: Disbun Buleleng.
Kirbrandoko. 2011. Pengantar Mikro Ekonomi. Jakarta: PT. Gelora Aksara P.
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Cobb-Douglas. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Sugiyono, P. D. (2013). Metode penelitian manajemen. Bandung: Alfabeta
Sukirno, Sadono. 2005. Mikro Ekonomi, Teori Pengantar. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Tuhumury, Maisie T.F. 2014. Profil Pedagang Sayur Keliling di Desa Poka dan Rumahtiga Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon. Jurnal Budidaya Pertanian. 10(1): 30-34.
Wardhono, W. 2005. Pengukuran Variabel. Bina Ekonomi. 9(1).
https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA
590
Discussion and feedback