Persepsi Petani terhadap Penetapan Subak Anggabaya Sebagai Subak Lestari di Kota Denpasar
on
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
E-ISSN: 2685-3809
Vol. 9, No. 2, Juli 2020
Persepsi Petani terhadap Penetapan Subak Anggabaya Sebagai Subak Lestari di Kota Denpasar
I GUSTI AYU WINDI PRAMESTI, I KETUT SUAMBA
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jalan P.B. Sudirman-Denpasar, 80232, Bali
Email: [email protected] [email protected]
Abstract
Farmer’s Perceptions of the Establishment of Subak Anggabaya as Subak Lestari in Denpasar City
Subak Lestari is an area developed in the city of Denpasar as a leading sector of the Denpasar Agriculture Office. One of the subaks developed is Subak Anggabaya, which makes efforts and action plans in preserving subaks. The establishment of sustainable subak in the city of Denpasar is made possible due to supervision and guidance provided, because it can support the increase in rice productivity for farmers. The purpose of this study was to determine the perceptions and expectations of farmers after the establishment of Subak Anggabaya as a sustainable subak in the city of Denpasar. The sampling was 41 respondents using simple random sampling method. Data analysis used descriptive qualitative by using a Likert Scale.The results showed that the perceptions of Subak Anggabaya farmers regarding the establishment of sustainable subak belonged to high category (80,31%). This was supported by the results achieved, shown by three aspects, namely the technical aspects which were also of high category (78,78%), the socio-cultural aspects belonged to high category as well (83,25%), and so were the economic aspects (78,90%). The conclusion of this study is that the perception of Subak Anggabaya farmers as sustainable subak in Denpasar City was very good. Suggestions that can be made for the government as the leading sector of the Department of Agriculture in the City of Denpasar is that it should socialize the sustainable subak programs intensively, and should guarantee the risk of crop failure for farmers.
Keywords: perception, farmers, subak
Pertanian merupakan bagian yang integral dari pembangunan ekonomi karena pertanian merupakan sektor primer yang menyangkut hidup orang banyak.Penduduk dunia menggantungkan bahan makanannya dari sektor pertanian.Pertanian merupakan satu-satunya sektor sebagai penghasil bahan makanan, baik bagi manusia maupun
hewan dan ternak.Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar.Jumlah penduduk ini terus bertambah setiap tahunnya. Meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, akan dapat menimbulkan dampak negatif dan positif. Permintaan akan lahan tersebut yang terus bertambah, sedangkan lahan yang tersedia jumlahnya terbatas, hal inilah yang mendorong terjadinya konversi lahan pertanian ke non pertanian. Oleh karena itu, semakin sempit lahan pertanian akibat konversi akan mempengaruhi segi ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Fenomena penurunan jumlah areal sawah di Bali kecenderungan pelestarian lahan di Bali semakin cepat dan semakin meluas. Salah satunya Subak Anggabaya yang terletak di Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, memiliki lahan seluas 28 hektar dengan 69 orang petani dominan diusahakan adalah tanaman padi. Melihat hal ini dapat mengancam hilangnya eksistensi subak, pemerintah Kota Denpasar dengan leading sektor Dinas Pertanian Kota Denpasar mendukung pengembangan subak lestari (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemerintah Kota Denpasar, 2016). Jumlah penggunaan lahan di Kota Denpasar tahun 2013 sampai tahun 2017 untuk luas lahan sawah mengalami jumlah penurunan lahan sawah. Pada tahun 2013 ke tahun 2014 jumlah luas lahan sawah yaitu luas lahan sawah 2.506 ha mengalami sedikit kenaikan 3 ha walaupun tergolong kecil menjadi 2.509 ha, namun dibanding pada tahun 2014 sampai dengan 2017 terus terjadi penurunan jumlah luas lahan sawah, 2.497 ha, 2.444 ha hingga menjadi 2.409 ha luas lahan sawah(Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2018).
Suksesnya suatu program diawali dengan adanya pemahaman dan ketertarikan dari pelaku program.Petani merupakan pelaku pada program pengembangan subak lestari, oleh karena itu memahami persepsi petani terhadap program tersebut perlu diketahui. Persepsi sebagai satu kesatuan proses yang terjadi pada diri individu yang selanjutnya digunakan untuk menerima dan menginterprestasikan informasi dari lingkungannya (Hanafi, 2003). Penerapan subak lestari di Kota Denpasar diperlukan peran, pembinaan dan pengawalan sangat penting dilakukan, karena dapat menunjang peningkatan produktivitas padi, dimana pekerja pengembangan masyarakat (penyuluh) dan pendampingan akan mengarahkan petani untuk menerapkan dalam program secara tepat. Atas uraian tersebut, kiranya menarik untuk diteliti mengenai persepsi petani di Subak Anggabaya dalam menerapkan adanya Subak Lestari di Kota Denpasar.
-
1. Bagaimana persepsi petani terhadap penetapan Subak Anggabaya sebagai Subak Lestari di Kota Denpasar?
-
2. Bagaimana harapan petani di Subak Anggabaya setelah penetapan sebagai Subak Lestari di Kota Denpasar?
-
1. Untuk mengetahui persepsi petani terhadap penetapan Subak Anggabaya sebagai subak lestari di Kota Denpasar.
-
2. Untuk mengetahui harapan petani di Subak Anggabaya setelah penetapan sebagai subak lestari di Kota Denpasar.
Penelitian ini dilaksanakan di Subak Anggabaya yang berlokasi di Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Bali.Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari sampai bulan Maret 2019.Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja (purposive), didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut.
-
1. Subak Anggabaya, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur merupakan salah satu Subak Lestari dari Subak Umadesa, Subak Anggabaya, dan Subak Umalayu. Subak Anggabaya memiliki luas lahan lebih besar yaitu 28 ha dibandingkan dengan Subak Umadesa 11 ha dan Subak Umalayu 27 ha.
-
2. Di Subak Anggabaya mengalami persaingan pemanfaatan lahan terutama sektor pertanian, sehingga mengakibatkan terjadinya penyusutan lahan produktif.
Berdasarkan sumbernya, data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari responden yang diwawancarai melalui kuisioner. Data sekunder meliputi data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya yang dapat memberikan informasi terkait dengan penelitian ini, yaitu profil dan struktur kepengurusan subak yang bersumber dari pekaseh Subak Anggabaya, profil Kelurahan Penatih yang besumber dari Lurah dan BPS, serta data pendukung lain.
Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dan dianalisis pada penelitian ini meliputi data kuantitatif dan data kualitatif.Data kuantitatif yaitu data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, yang berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka (Sugiyono, 2010).Data kualitatif yaitu jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau berbentuk angka. Data kuantitatif dalam penelitian ini menyangkut penjelasan-penjelasan responden tentang jumlah anggota petani Subak Anggabaya, data umur, jenis kelamin petani, pendidikan, luas wilayah Subak Anggabaya, dan data lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
-
1. Wawancara terstruktur adalah salah satu komunikasi yang dilakukan secara langsung untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab dengan responden menggunakan kousioner.
-
2. Wawancara mendalam (indepth interview) merupakan proses menggali informasi secara mendalam, terbuka, dan bebas dengan masalah dan fokus penelitian diarahkan pada pusat penelitian.
-
3. Dokumentasi merupakan merupakan catatan peristiwa yang telah berlalu (Sugiyono, 2011).
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh anggota petani Subak Anggabaya sebanyak 69 orang.Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang relative sama dan dianggap bisa mewakili populasi (Hakim, 2004). Peneliti mempersempit populasi dengan cara menghitung ukuran sampel menggunakan teknik slovin sehingga jumlah petani yang dijadikan sampel adalah sebanyak 41 orang. Pengambilan sampel petani Subak Anggabaya dalam penelitian ini dilakukan secara metode simple random sampling berupa acak sederhana
Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner sehingga setiap item harus diuji validitas dan reliabilitasnya (Wati, 2017). Uji validitas digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu instrumen untuk mengukur dengan benar apa yang akan dikur.Reliabilitas menunjukan tingkat terandalan tertentu (Arikunto, 2010).Instrumen penelitian ini distandarkan dengan kriteria teknik pengujian validitas dan realibilitas dengan menggunakan softwareSPSS.
Variabel dalam penelitian ini adalah persepsi petani Subak Anggabaya terhadap penetapan sebagai subak lestari di Kota Denpasar yang ditinjau dari tiga aspek, yaitu aspek teknis, aspek sosial budaya, dan aspek ekonomi. Masing-masing variabel diukur menggunakan dengan metode skoring. Pemberian skor dilakukan dengan menggunakan Skala Likert.Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakanmetode deskriptif kualitatif yang digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
Data ini menunjukkan bahwa petani memiliki pola pikir positif terhadap subak lestari.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani Subak Anggabaya terhadap penetapan sebagai subak lestari termasuk dalam kategori tinggi (80,31%). Artinya subak lestari yang dijalankan di Subak Anggabaya sudah berjalan baik sehingga diharapkan keberlanjutan subak lestari dapat dipertahankan.Hal ini diperkuat oleh hasil yang dicapai, ditunjukan oleh tiga aspek yaitu aspek teknis, aspek sosial budaya, dan aspek ekonomi.Pencapaian skor persepsi petani Subak Anggabaya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Tingkat Persepsi Petani Terhadap Penetapan Subak Anggabaya Sebagai Subak Lestari di Kota Denapasar Tahun 2019
No. |
Aspek |
Pencapaian skor |
Kategori | |
Skor |
% | |||
1. |
Aspek teknis |
969 |
78,78 |
Tinggi |
2. |
Aspek sosial budaya |
1024 |
83,25 |
Tinggi |
3. |
Aspek ekonomi |
809 |
78,90 |
Tinggi |
Persepsi petani |
2.802 |
80,31 |
Tinggi |
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel 1. menunjukkan bahwa pencapaian tingkat persepsi terendah berada pada aspek teknis dengan pencapaian skor 78,78%, atau termasuk kategori tinggi. Tingkat persepsi ini sudah dapat dikatakan ke arah postitif, hal ini disebabkan dengan jaringan (saluran irigasi) sudah menunjang kegiatan subak, pembagian air irigasi sesuai dengan aturan dan kesepakatan, pengadopsian sudah tepat, pemanfaatan dan pemeliharaan subak sudah terlaksana, alat mesin pertanian (alsintan) dan sarana produksi padi (saprodi) tersedia.
Aspek teknis dalam penelitian ini adalah aspek segi kondisi penerapan setelah berkembang sebagai Subak Lestari, meliputi jaringan irigasi sudah menunjang subak, pengadopsian inovasi sudah tepat, pemanfaatan dan pemeliharaan sudah terlaksana, pembagian air irigasi sesuai dengan aturan dan kesepakatan, dan alsintan dan saprodi tersedia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani berdasarkan aspek teknis termasuk kategori baik (78,78%). Data ini menunjukkan bahwa petani memiliki pola pikir yang positif terhadap aspek teknis dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.
Persepsi Petani Tentang Subak Lestari Berdasarkan Masing-Masing Indikator pada Aspek Teknis, Tahun 2019
No |
Indikator |
Pencapaian skor (%) |
Kategori |
Aspek teknis | |||
1 |
Jaringan irigasi sudah menunjang subak |
81,95 |
Tinggi |
2 |
Pembagian air irigasi sesuai dengan aturan dan kesepakatan |
78,78 |
Tinggi |
3 |
Pengadopsian inovasi sudah tepat |
76,60 |
Tinggi |
4 |
Pemanfaatan dan pemeliharaan subak sudah terlaksana |
78,54 |
Tinggi |
5 |
Alsintan dan Saprodi tersedia |
78,05 |
Tinggi |
Persepsi petani berdasarkan aspek teknis 78,78 Tinggi
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel 2 ini menunjukkan bahwa, persepsi petani berdasarkan indikator terendah pengadopsian inovasi sudah tepat pada aspek teknis termasuk kategori tinggi (76,60%). Anggabaya, berdasarkan keterangan responden sudah berjalan baik dalam
pengadopsian inovasi, adanya alat mesin pertanian dapat membantu mereka dalam kegiatan bertani dari penanaman hingga pasca panen. Bantuan teknologi dengan adanya subak lestari, seperti traktor, combine yang digunakan untuk memotong atau merontokkan padi, dores padi, pompa air yang diberikan kepada petani. Petani dalam mengaplikasikan alat pertanian, sebelumnya diberikan sosialisasi di lingkungan subak oleh PPL Denpasar Timur.
Aspek sosial budaya dalam penelitian ini meliputi pemerintah memberikan sosialisasi subak lestari, pemerintah menjelaskan keuntungan subak sebagi subak lestari, pekaseh memberi pengarahan tentang subak sebagai subak lestari, awig-awig dan pararem untuk melestarikan subak, gotong-royong/ kerjasama antar petani, dan penanganan konflik.Secara rinci akan disajikan pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3.
Persepsi Petani Tentang Subak Lestari Berdasarkan Masing-Masing Indikator
pada Aspek Sosial Budaya, Tahun 2019 | |||
No |
Indikator |
Pencapaian skor (%) |
Kategori |
Aspek sosial budaya | |||
1. |
Pemerintah memberikan sosialisasi subak lestari pada Subak Anggabaya |
82,93 |
Tinggi |
2. |
Pemerintah menjelaskan keuntungan sebagai subak lestari |
80,00 |
Tinggi |
3. |
Pekaseh memberi pengarahan tentang subak sebagai subak lestari |
81,46 |
Tinggi |
4. |
Awig-awig dan pararem untuk melestarikan subak |
85,37 |
Sangat Tinggi |
5. |
Gotong-royong/ kerjasama antar petani |
84,88 |
Sangat Tinggi |
6. |
Penanganan konflik |
84,88 |
Sangat Tinggi |
Persepsi petani berdasarkan aspek sosial budaya 83,25 Tinggi
Sumber: data primer diolah , 2019
Tabel 3 menunjukkan bahwa pencapaian skor indikator tertinggi yang berada pada pernyataan awig-awig dan pararem untuk melestarikan subak yang yaitu 85,37%. Hal ini menunjukkan bahwa responden menilai dengan adanya awig-awig dan pararem untuk keberlanjutan subak lestari menjadi pengikat dan pengatur dalam kehidupan Subak Anggabaya yang lebih teratur untuk tidak mengalihfungsikan lahan sawah, dan menjaga lingkungan Subak Anggabaya tetap menjadi kawasan ruang terbuka hijau yang di kembangkan sebagai kawasan subak lestari oleh Pemerintah Kota Denpasar. Sementara pencapaian skor indikator terendah pada variabel sosial budaya yaitu pada pernyataan pemerintah menjelaskan keuntungan sebagai subak lestari yaitu pencapaian skor 80,00% namun masih termasuk termasuk kategori tinggi.
Aspek ekonomi dalam penelitian ini adalah aspek adanya manfaat yang diperoleh petani dari segi ekonomi meliputi harga penjualan gabah, saprodi dan alsintan diperoleh dengan harga terjangkau, produktivitas usahatani, dan peningkatan pendapatan
petani.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani berdasarkan aspek teknis termasuk kategori baik (78,90%). Secara rinci akan disajikan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4.
Persepsi Petani Terhadap Penetapan Subak Anggabaya Sebagai Subak Lestari di Kota Denapasar berdasarkan Masing-Masing Indikator Tahun 2019
No |
Indikator |
Pencapaian skor (%) |
Kategori |
Aspek 1. |
ekonomi Kebijakan harga penjualan gabah |
78,54 |
Tinggi |
2. |
Saprodi dan Alsintan dengan harga |
76,10 |
Tinggi |
3. |
terjangkau Peningkatan pendapatan petani |
79,02 |
Tinggi |
4. |
Produktivitas usahatani |
81,95 |
Tinggi |
Persepsi petani berdasarkan aspek ekonomi 78,90 Tinggi
Sumber: data primer diolah, 2019
Data pada Tabel 4, menunjukkan pencapaian skor indikator terendah pada variabel sosial budaya yaitu pada pernyataan kebijakan harga penjualan gabah yaitu 78,54% termasuk dalam kategori tinggi. Anggota subak anggabaya mengatakan bahwa kebijakan subak lestari yang dilakukan pemerintah dalam penetapan harga penjualan sangat membantu petani dalam memperoleh keuntungan ditengah fluktuasi harga pasar.Pemerintah memfasilitasi kerjasama antara pihak subak dengan penyosohan beras, agar harga gabah petani di kawasan subak lestari lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar.Harga pasar dapat ditentukan dengan harga rata-rata pada nilai pembelian pada semua penyosohan beras yang ada di Kota Denpasar.
Indikator pada pernyataan saprodi (sarana dan produksi padi) dan alsintan (alat mesin pertanian) dengan harga terjangkau pencapaian skor yaitu 76,10% termasuk dalam kategori tinggi. Pencapaian skor pada indikator lainnya berada padapernyataan peningkatan pendapatan petani yaitu sebesar 79,02% termasuk dalam kategori tinggi. Responden memberikan keterangan bahwa setelah penetapan sebagai subak lestari membantu mempengaruhi tingkat pendapatan petani pada subak anggabaya. Bagi peneliti, pemerintah perlu melakukan pelaksanaan secara nyata dan konsisten terkait rencana-rencana program subak lestari di Kota Denpasar sebagai bentuk pengembangan kegiatan subak lestari yang berkelanjutan serta meningkatkan pendapatan rumah tangga petani. Adanya program subak lestari yang telah berjalan seperti penataan jalur trekking (jogging track) adalah upaya menata dan melestarikan subak di Kota Denpasar dan dapat membantu petani dalam membawa hasil panen sehingga petani tidak lagi mengeluarkan tenaga dan biaya sehingga petani merasa dapat meningkatkan pendapatan mereka.
Perkembangan saat ini, sektor pertanian di daerah perkotaan semakin memprihatinkan dengan adanya alih fungsi lahan, perubahan iklim seperti dengan adanya arus globalisasi, sampai perubahan paradigma dari genenasi muda sebagai generasi penerus. Meningkatnya kebutuhan ekonomi, menyebabkan petani berada pada pilihan yang sulit, antara tetap menjaga kelestarian budaya subak yang sudah
diwariskan turun-menurun, atau mengambil langkah untuk meninggalkan dengan harapan dapat hidup lebih baik (Damanta, 2013).
Penetapan Subak Anggabaya sebagai subak lestari memberikan sebuah motivasi anggota petani Subak Anggabaya untuk bertani dengan harapan mampu meningkatkan kualitas hidup maupun kelestarian subak. Lebih dijabarkan mengenai harapan anggota Subak Anggabaya setelah penetapan subak lestari di Kota Denpasar yang dilihat pada aspek teknis, aspek sosial budaya, dan aspek ekonomi.
Adanya subak lestari bagi petani mengharapkan secara langsung adanya komitmen dari pemerintah akan mendorong untuk melestarikan lahan pertanian sehingga subak tetap berkelanjutan untuk pengembangan program sehingga benar-benar memperhatikan aspek teknis, berdasarkan harapan responden yang diperoleh dilapangan. Berikut ini harapan petani Subak Anggabaya berdasarkan aspek teknis.
-
1. Adanya jaminan infrastruktur sistem irigasi dikawasan wilayah subak lestariagar berfungsi dengan optimal.
-
2. Air irigasi yang tercukupi, jaringan irigasi serta fisik diperhatikan dan dirawat.
-
3. Pemanfaatan penataan jalur trekking (jogging track) pada subak untuk peningkatan pendapatan petani. Pengembangan subak lestari dengan memanfaatkan kawasan subak tersebut sebagai kawasan trekking, jika setiap penduduk yang melakukan trekking harus membayar dengan kata lain dana punia (dengan harga tertentu) yang dikelola oleh lembaga subak/ memanfaatkan dengan melakukan aktivitas pertanian bagi petani sebagai satu unit bisnis seperti peken carik seperti yang sudah berjalan di Subak Sembung sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
Penetapan subak anggabaya sebagai subak lestari bagi petani sangat membantu pengembangan kelestarian subak. Adanya aspek sosial budaya yang dilandasi nilai kebudayaan mengenai pelestarian subak serta adanya dukungan dari berbagai pihak dapat menekan niat petani menjual lahan/ alihfungsi lahan. Berikut ini akan dijelaskan mengenai beberapa harapan petani Subak Anggabaya berdasarkan aspek sosial budaya.
-
1. Adanya tambahan pengetahuan mengenai pengembangan program Subak Lestari.
Petani Subak Anggabaya berharap kepada pemerintah untuk memberikan sosialisasi dan memberikan informasi yang mendalam mengenai program yang dilakukan secara menyeluruh kepada seluruh anggota Subak Anggabaya.
-
2. Meningkatnya kesadaran masyarakat luas untuk menjaga kelesatarian subak menghindari adanya alihfungsi lahan dengan adanya aturan/ awig-awig alih fungsi lahan.
-
3. Semakin meningkatnya perhatian pemerintah. Adanya peran pemerintah sangat diperlukan dalam pengembangan Subak Anggabaya yang lebih baik, terlebih subak ini berada ditengah Kota Denpasar. Adapun hal-hal yang menjadi harapan petani sebagai wujud perhatian pemerintah lebih nyata sebagai berikut (1) adanya bantuan dan yang akan meningkatkan produktivitas lahan, (2) adanya jaminan tertentu terhadap ketersediaan air irigasi, (3) adanya interaksi sosial dengan pemerintah unutk mendengarkan aspirasi dan pendapat petani dan melakukan penyuluhan dari dan untuk petani (farmer to farmer extention), (5) mengembangkan program beasisa hingga level Strata Satu (S1) bagi putra-putri anggota subak yang miskin yang berprestasi, yang berasal dari wilayah subak lestari.
Berkembangnya adanya sebagai subak Lestari di Kota Denpasar sangat berharap adanya perubahan berbagai aspek kehidupan untuk dapat membantu petani Subak Anggabaya.Tujuan hasil pertanian di kawasan Subak Lestari ini akan ditampung sehingga petani tidak merasa kesulitan menjual hasil panennya dimana Dinas Pertanian akan menangani masalah pertanian dari hulu sampai ke hilir sehingga akan ada MoU antara petani dan penyosohan beras (Suparta, 2016). Berikut ini akan dijelaskan mengenai beberapa harapan petani Subak Anggabaya berdasarkan aspek ekonomi yaitu adanya jaminan subsidi pembayaran Pajak PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) bagi petani dan bantuan lainnya.
Anggota subak anggabaya juga berharap untuk mendapatkan subsidi sarana produksi bantuan lainnya untuk mempermudah kegiatan bertani mereka, sebagai berikut (1) subsidi atau kemudahan mendapat pupuk dan saprodi yang sesuai dengan waktu berusahatani, (2) adanya jaminan harga output. Jika harga output yang rendah pada saat panen membuat kebanyakan petani khawatir akan harga output dibanding tingginya input dan membuat petani merugi, sehingga petani sangat berharap adanya penetapan subak lestari adanya dukungan dari pemerintah terhadap adanya jaminan harga output, dan (3) adanya pembayaran premi asuransi pertanian bagi petani/ jaminan adanya resiko gagal panen.
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan dalam penelitian ini adalah persepsi petani Subak Anggabaya terhadap penetapan sebagai subak lestari termasuk dalam kategori tinggi (80,31%). Data ini menunjukkan bahwa petani memiliki pola pikir positif Subak Lestari. Hal ini diperkuat oleh hasil yang dicapai, ditunjukan oleh tiga aspek yaitu aspek teknis termasuk dalam kategori tinggi (78,78%), aspek sosial budaya termasuk dalam kategori tinggi (83,25%), dan pada aspek ekonomi termasuk dalam kategori tinggi (78,90%), dan petani Subak Anggabaya berharap adanya subak lestari membuat kehidupan mereka lebih baik di masa depan, karena adanya upaya menata dan melestarikan subak secara berkelanjutan dalam aspek teknis, aspek sosial budaya, dan aspek ekonomi kehidupan petani.
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
-
1. Pekaseh, kepengurusan, dan anggota Subak Anggabaya disarankan untuk memanfaatkan penataan jalur trekking (jogging track) untuk pengembangan agro-ekowisata dan edutani.
-
2. Bagi penyuluh pertanian sebagai satu-satunya tangan kanan pemerintah dan sebagai agent of change, hendaknya terus berusaha meningkatkan intensitas pembinaan dan penyuluhansehingga petani mampu mengembangkan usahatani guna meningkatkan taraf hidup petani.
-
3. Pemerintah menambahkan sosialisasi program subak lestari berkelanjutan secara intensif, sehingga petani Subak Anggabaya dapat menerima informasi secara utuh. Pembayaran premi asuransi pertanian bagi petani/ jaminan adanya resiko gagal panen yang sangat diharapkan petani.
-
4. Bagi peneliti lain dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi pada penelitian selanjutnya terkait monitoring dan evaluasi terhadap program subak
lestari di Kota Denpasar yang belum diungkap dan dikembangkan dalam penelitian ini.
5 Ucapan Terimakasih
Penelitian ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya bantuan berbagai pihak, maka dari itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasihkepada Pekaseh dan Wakil Pekaseh Subak Anggabaya atas izin yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini dan memberikan arahan selama penelitian. Serta petani mitra yang menjadi responden dalam penelitian.
Daftar Pustaka
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.2018. Luas Lahan Menurut Penggunaan Lahan
menurut Kota/ Kabupaten Denpasar Tahun 2013-201.Internet.[Artikel_Online]. http:/www.bali.bps.go.id/. Diakses tanggal 7 Desember 2019.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemerintah Kota Denpasar. 2016. Rencana Aksi Pembentukan Subak Lestari Made Ayu Intan Di Subak Anggabaya, Subak Umalayu, Subak Umadesa, Subak Intaran Timur, Dan Subak Intaran Barat Di Denpasar. Denpasar: Distan.
Damanta, I Nyoman.2013. Peranan Subak Pulagan-Kumba dalam Penanggulangan Alih Fungsi Lahan Pertanian di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.Jurnal.Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha.
Hanfi, M. M. 2003. Manajemen. Edisi Revisi. Yogyakarta : UPP AMP YKPN Hakim, A. 2004. 2010. Metode Penelitian Administratif. Alfabeta. Bandung. Sugiyono.2011. Statistik Deskriptif untuk Ekonomi dan Bisnis. Jakarta: Ekonosia.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Suparta, I Komang. 2016. Dinas Pertanian Denpasar Rancang Kawasan Subak Lestari.
Internet.[Artikel_online]. https://bali.antaranews.com/. Diakses tanggal 17 Januari 2019.
Wati, Endang D. 2017.Praktik Asuransi Usahatani Padi pada PT. Asuransi Jasa Indonesia dalam Perspektif Masalah (Studi pada Petani Padi di Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo). [Skripsi].Yogyakarta:Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
http://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA
220
Discussion and feedback