Tingkat Demokrasi Kepemimpinan dalam Pengelolaan Subak Lodtunduh di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar
on
Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
E-ISSN: 2685-3809
Vol. 9, No. 2, Juli 2020
Tingkat Demokrasi Kepemimpinan dalam Pengelolaan Subak Lodtunduh di Kecamatan Ubud Kabupaten Gianyar
IQBAL FAIRUZ HSB, I WAYAN WINDIA, RATNA KOMALA DEWI
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Udayana
Jalan P.B. Sudirman Denpasar, 80232, Bali
Email: [email protected]
Abstract
The Level of Democratic Leadership in the Management of Subak Lodtunduh in District of Ubud, Gianyar Regency
Democracy in subak management leadership is very important to achieve the main objectives of subak, democratic values will lead to the participation of members of the subak itself. Through democracy, subak members will participate in the sustainability of subak, and the goals of the subak organization itself will be sustainable. Democratic leadership is active, dynamic and directed leadership that allows each member to actively participate. The purpose of this study is to determine the level of democracy that has been carried out in the management leadership of Subak Lodtunduh, in District of Ubud, Gianyar Regency. This study combined qualitative and quantitative research. The variable of this study is to measure democratic values of leadership in the management of SubakLodtunduh. The variables, indicators, parameters and measurements of this study are to measure the level of democratic leadership in the management of Subak Lodtunduh 1) Accept criticism and suggestions from members 2) Prioritizing deliberation for consensus 3) Not acting arbitrarily on members
4) Activities carried out in a transparent and sustainable manner 5) Subak members are willing to participate. The results showed that the level of democratic leadership in managing Subak Lodtunduh is categorized very good, with an average score of 94.12%. It can be concluded that the variable level of democratic leadership in subak through the indicator of democracy run by the leader (Pekaseh) has a very good category. This means that the level of democratic leadership run by Pekaseh in the management of Subak Lodtunduh has been very good so that the sustainability of Subak Lodtunduh can be maintained and if there is a change of personnel in the subak management, democratic leadership needs to be maintained.
Keywords: democracy, leadership, subak
Subak adalah jaringan irigasi dalam bercocok tanam di Bali yang sekaligus memiliki nilai-nilai budaya. Subak tidak sekedar organisasi, melainkan disebut sebagai suatu lembaga yang memiliki nilai budaya dan juga harmoni. Nilai yang dimiliki subak di Bali adalah apa yang disebut sebagai Tri Hita Karana (THK). Menurut Windia, et al (2015) Tri Hita Karana adalah sebuah filsafat yang mengajarkan konsep harmoni, yakni harmoni antara manusia dengan Tuhan-nya (parhyangan), harmoni antara manusia dengan sesamanya (pawongan), dan harmoni antara manusia dengan lingkungannya (palemahan) yang pada dasarnya organisasi subak memiliki tujuan dan beberapa tugas utama. Terdapat lima tugas utama subak, yaitu sebagai berikut. (1) pencarian dan distribusi air irigasi. Air yang didapatkan oleh subak tersebut pada akhirnya harus didistribusikan kepada segenap anggota; (2) pengerahan sumberdaya baik berupa manusia, uang, dan tenaga kerja dalam pengelolaan subak; (3) pemeliharaan fasilitas, pemeliharaan secara berkala atas berbagai fasilitas air irigasi yang dimiliki sehingga dapat berjalan dan berfungsi dengan baik dengan mengerahkan sumberdaya anggotanya, antara lain tenaga kerja dan uang; (4) penanganan konflik, konflik yang sering terjadi pada subak bersumber pada masalah pembagian air irigasi; dan (5) kegiatan upacara keagamaan. Hal yang menarik pada subak selain keindahan alamnya, kegiatan upacara keagamaan juga ada didalamnya (Sutawan, 2008).
Kepemimpinan (leadership) adalah salah satu faktor organisasi, atau sebagai salah satu fungsi manajemen yang sentral dan strategis. Organisasi adalah suatu kelompok orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama dibawah pemimpin (Soekarso dan Putong, 2015). Demokrasi dalam kepemimpinan pengelolaan subak merupakan hal yang sangat penting untuk pencapaian tujuan utama dari subak, nilai demokrasi akan menimbulkan partisipasi dari anggota subak itu sendiri. Nantinya akan meningkatkan rasa memiliki dari anggota subak, karena demokrasi merupakan dari rakyat, oleh raykat, dan untuk rakyat. Melalui demokrasi maka anggota subak akan berpartisipasi sehingga keberlanjutan, dan tujuan organisasi dari subak itu sendiri akan terjamin.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas terdapat banyak faktor yang dapat menentukan keberhasilan pemimpin dalam memimpin suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Salah satunya adalah demokratisasi kepemimpinan, Hal tersebut menarik untuk diteliti karena dapat mengetahui tingkat kepemimpinan demokratis yang diterapkan pekaseh dalam pengelolaan subak untuk menjalankan lima fungsi subak tersebut.
Subak Lodtunduh merupakan salah satu subak yang mendapat aliran air irigasi dari Bendung Kedewatan. Subak Lodtunduh merupakan subak yang terletak di kawasan pariwisata yang belum mengalami alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. Oleh karena itu hal ini sangat menarik untuk dilakukan penelitian, tentang bagaimana kepemimpinan yang demokratis diterapkan dalam pengelolaan subak Lodtunduh hingga masih dapat bertahan sebagai subak yang menjaga budaya Bali yang
belum mengalami alih fungsi lahan dalam sektor pertanian menjadi non pertanian khususnya pariwisata.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang didapatkan adalah tentang seberapa jauh tingkat demokrasi dijalankan dalam kepemimpinan pengelolaan Subak Lodtunduh, di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat demokrasi yang telah dijalankan dalam kepemimpinan pengelolaan Subak Lodtunduh, di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar.
Penelitian ini dilaksanakan di Subak Lodtunduh, di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar dari bulan Mei sampai dengan bulan Desember 2018. Pemilihan lokasi dilakukan dengan metode purposive, dengan pertimbangan Subak Lodtunduh yang berada di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Merupakan salah satu subak yang mendapat aliran air irigasi dari Bendung Kedewatan. Wilayah subak merupakan salah satu kawasan pariwisata dan belum mengalami alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian.
Jenis data penelitian pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang tidak berupa angka, untuk membacanya harus dijabarkan secara rinci dan jelas agar bisa menarik simpulan. Data ini juga digunakan dalam penelitian deskriptif. Data kuantitatif dinyatakan dalam bentuk angka, baik yang berasal dari data kualitatif maupun sejak semula sudah bersifat kuantitatif (Nawawi, 2005).Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung didapat dari lapangan. Berupa hasil wawancara dengan beberapa sampel penelitian yang didapatkan langsung dari lokasi penelitian untuk mengetahui tingkat kepemimpinan yang dijalankan dalam pengelolaan subak lodtunduh. Data sekunder yakni data yang didapatkan dari sumber lain seperti penunjang tinjauan pustaka berdasarkan referensi dari buku-buku, literatur atau pedoman tingkat kepemimpinan dalam pengelolaan subak, media massa online, dan sumber lainnya. Berupa buku-buku kepemimpinan, subak, dan literature yang berhubungan dengan penelitian.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalahobservasi, wawancara,dan dokumentasi.
Populasi merupakan kelompok besar yang merupakan sasaran generalisasi penelitian, sedangkan sampel merupakan kelompok kecil yang akan diamati dalam penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah 40 orang petani di Subak Lodtunduh, sedangkan untuk sampel penelitian yang digunakan sebagai responden adalah 30 orang (Windia, 2006). Sampel dipilih secara acak sederhana dengan cara mengundi. Sampel penelitian sebanyak 30 orang sudah dianggap cukup datanya terdistribusi normal, dan kalau diperlukan dapat di analisis secara statistik.
Variabel dalam penelitian ini untuk mengukur nilai demokrasi kepemimpinan dalam pengelolaan Subak Lodtunduh. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Teknik ini merupakan teknik analisis yang bertujuan untuk memberikan gambaran (deskriptif) tentang suatu fenomena sosial.
Berdasarkan hasil penelitian tingkat demokrasi kepemimpinan dalam pengelolaan Subak Lodtunduh termasuk dalam kategori sangat baik dengan pencapaian skor rata rata 94,12%. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1
Hasil Rekapitulasi Data Tingkat Kepemimpinan Demokratis dalam Pengelolaan Subak Lodtunduh
Indikator |
TingkatDemokrasi |
Parameter Menerima Kritik dan Saran |
Parameter Parameter Parameter Parameter Mengutamakan Pembagian Pelaksanaan Partisipasi Musyawarah Tugas Kegiatan Anggota Mufakat |
Persentase 18,53% (%) Persentase 94,12% total (%) Kategori Sangat tingkatdemok Baik rasi |
18,66% 18,53% 18,4% 20% |
Sumber: Data Primer, 2019
Parameter pertama pekaseh menerima kritik dan saran dari setiap anggota, 25 sampel (83,33%) menyatakan jawaban yaitu pekaseh selalu menerima kritik dan saran dari setiap anggota sedangkan lima sampel (16,66%) ada yang menyatakan beberapa kali saran ataupun kritiknya pernah tidak diterima oleh pekaseh. Nengah Kariadi dan Pekak Eka menyatakan sebagai berikut: “Bahwa pernah satu kali kritik dan sarannya
tidak diterima oleh pekaseh mereka menyatakan bahwa terkadang pendapat dari mereka yang memang salah dan tidak sesuai sehingga wajar saja jika pekaseh menolak kritik dan saran dari mereka. Man Kapek menyatakan bahwa dua kali kritik dan sarannya tidak diterima oleh pekaseh karena kritik dan saran yang disampaikan oleh Man Kapek dinyatakannya bahwa tidak terlalu penting sehingga pekaseh tidak menerima kritik dan sarannya. Nengah Coblok menyatakan bahwa tiga kali pekaseh pernah menolak kritik dan sarannya. Ketut Sama selaku petani menyatakan bahwa kritik dan sarannya tidak pernah diterima oleh pekaseh Ketut Sama sempat memberikan kritik dan saran kepada pekaseh untuk pendistribusian air yang lebih merata, tetapi kritik dan sarannya ditolak oleh pekaseh, sedangkan pekaseh menolak kritik dan sarannya dikarenakan oleh faktor topografi lahan dari bapak Ketut Sama selaku petani yang menyampaikan kritik dan saran merupakan topografi lahan yang lebih rendah daripada topografi lahan petani lain yang lebih tinggi sehingga mendapatkan distribusi air yang lebih optimal, menurut pekaseh jika kritik dan saran dari petani diterima oleh pekaseh maka akan terjadi permasalahan baru yaitu akan terjadinya banjir di lahan petani lain dikarenakan kondisi topografi lahan dari bapak Ketut Sama petani yang kritik ataupun sarannya di tolak oleh pekaseh merupakan lahan yang lebih rendah”.
Berdasarkan hasil penelitian pada parameter pekaseh menerima kritik dan saran dari setiap anggota, pekaseh di Subak Lodtunduh sudah menjalankan demokrasi yang sangat baik ditinjau dari hasil jawaban mayoritas sampel. Mereka menyatakan bahwa pekaseh selalu menerima kritik dan saran dari setiap anggota sehingga setiap kritik ataupun saran untuk pembangunan yang lebih baik di Subak Lodtunduh disampaikan oleh petani selalu diterima kritik dan sarannya oleh pekaseh.
Parameter kedua yakni pekaseh selalu mengutamakan musyawarah mufakat dari 30 sampel yang ditanyakan 25 sampel (83,33%) menyatakan jawaban yaitu pekaseh selalu mengadakan musyawarah mufakat sedangkan lima sampel (16,66%) ada yang menyatakan bahwa pernah beberapa kali tidak diadakannya musyawarah mufakat tersebut. Nengah Kariadi dan Ketut Rao menyatakan sebagai berikut: “Bahwa pernah satu kali tidak diadakannya musyawarah, Nengah Coblok, dan Man Kapek menyatakan bahwa pernah dua kali tidak diadakannya musyawarah, Ketut Sama menyatakan bahwa tidak pernah diadakannya musyawarah mufakat di Subak Lodtunduh. Sedangkan mayoritas sampel lain selaku petani menyatakan bahwa pekaseh setiap bulannya mengadakan musyawarah mufakat untuk membicarakan Koperasi Tani Subak Lodtunduh dan membicarakan permasalahan yang terjadi agar setiap permasalahan selalu diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat sedangkan kondisi nyata di lapangan dan penjelasan dari pekaseh bahwa musyawarah selalu diadakan setiap bulan”.
Berdasarkan hasil penelitian pada parameter pekaseh selalu mengutamakan musyawarah mufakat, pekaseh di Subak Lodtunduh sudah menjalankan demokrasi yang sangat baik ditinjau dari jawaban mayoritas sampel menyatakan bahwa pekaseh selalu mengadakan musyawarah mufakat setiap bulannya sehingga setiap ada permasalahan pada Subak Lodtunduh yang dialami petani dapat diselesaikan secara musyawarah.
Parameter tiga mengenai pembagian tugas oleh pekaseh dari 30 sampel yang ditanyakan 24 sampel (80%) menyatakan pembagian tugas dengan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas sudah dilakukan dengan baik oleh pekaseh sedangkan enam sampel (20%) ada yang menyatakan pelimpahan tugas hanya dilakukan dengan tanggung jawab dengan alasan terkadang tidak adanya tanggung jawab yang jelas dilakukan oleh pekaseh. Pekak Eka dan Ketut Rao menyatakan sebagai berikut: “Selaku petani menyatakan bahwa pembagian tugas yang dilaksanakan oleh pekaseh hanya dengan pelimpahan wewenang seperti hanya dengan menyuruh saja tanpa adanya tanggung jawab yang jelas, dan Wayan Rupa, Ketut Sama, dan Nengah Coblok selaku petani menyatakan pembagian tugas hanya dilaksanakan dengan tanggung jawab tanpa kejelasan pembagian tugas yang dilaksanakan oleh pekaseh, Man Kapek menyatakan pembagian tugas yang dilakukan oleh pekaseh tidak terlalu jelas dan belum dengan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas sehingga beberapa petani hanya menjalankan tugasnya sebagai petani tanpa adanya arahan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas dari pekaseh, namun mayoritas petani menyatakan alasan bahwa pekaseh sudah memberikan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas kepada anggota subak melalui musyawarah mufakat yang diadakan oleh pekaseh setiap bulannya”.
Berdasarkan hasil penelitian pada parameter tidak berbuat sewenang – wenang pada anggota dilihat dari pembagian tugas yang dilaksanakan oleh pekaseh, pekaseh sudah menjalankan demokrasi yang sangat baik ditinjau dari hasil mayoritas pada sampel menyatakan bahwa pembagian tugas yang dilaksanakan oleh pekaseh sudah dengan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, sehingga setiap anggota dapat mengetahui dan mengerjakan tugas yang dilimpahkan oleh pekaseh secara bertanggung jawab dan jelas.
Parameter empat mengenai pelaksanaan kegiatan oleh pekaseh dari 30 sampel yang ditanyakan 24 sampel (80%) menyatakan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh pekaseh sudah dilaksanakan secara tertib, bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan sedangkan enam sampel (20%) ada yang menyatakan bahwa kegiatan belum dilaksanakan secara tertib, bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan. Pekak Eka, Wayan Rupa, Ketut Rao menyatakan sebagai berikut: “Bahwa kegiatan yang dilaksanakan di Subak Lodtunduh sudah tertib, Man Kapek menyatakan pelaksanaan kegiatan sudah dilaksanakan secara bertanggung jawab, Nengah Coblok menyatakan kegiatan dilaksanakan secara transparan dan berkelanjutan, Ketut Sama menyatakan bahwa kegiatan tidak dilaksanakan secara tertib, bertanggung jawab, transparan dan berkelanjutan, Ketut Sama menyatakan bahwa itu semua hanya ada di hitam atas putih tetapi tidak terlaksana seperti begitu keadaannya di lapangan. Tetapi mayoritas petani menyatakan bahwa pekaseh sudah melaksanakan kegiatan secara tertib, bertanggung jawab, transparan, dan berkelanjutan”.
Berdasarkan hasil penelitian pada parameter pelaksanaan kegiatan yang dijankan oleh pekaseh di Subak Lodtunduh sudah menjalankan demokrasi yang sangat baik ditinjau dari hasil jawaban mayoritas sampel menyatakan bahwa pelaksanaan kegiatan
yang dilakukan oleh pekaseh sudah dilaksanakan secara tertib, bertanggung jawab, transparan dan berkelanjutan sehingga setiap anggota di Subak Lodtunduh dapat menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai anggota dibawah kepemimpinan pekaseh dengan baik tanpa merasa adanya kecurangan yang dilakukan oleh pekaseh.Pada parameter lima mengenai partisipasi anggota dari 30 sampel yang ditanyakan seluruh sampel 30 (100%) menyatakan bahwa seluruh anggota subak bersedia melakukan partisipasi. “Keseluruhan petani menyatakan bahwa untuk berpartisipasi setiap anggota subak dapat berpartisipasi dalam kegiatan gotong-royong, upacara keagamaan dan kegiatan bersih-bersih subak dan bendungan”. Berdasarkan hasil penelitian pada parameter partisipasi anggota di Subak Lodtunduh pekaseh sudah menjalankan demokrasi yang sangat baik ditinjau dari hasil jawaban dari semua sampel penelitian petani bersedia untuk melakukan partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan – kegiatan yang dilaksanakan oleh pekaseh.
Patut dicatat, ada lima fungsi dan tujuan utama yang berjalan dalam pengelolaan Subak Lodtunduh adalah sebagai berikut.
-
1. Distribusi Air
Distribusi air yang dilakukan oleh pekaseh sudah optimal dengan menyalurkan air terlebih dahulu kepada lahan petani yang memiliki kondisi topografi lahan yang lebih tinggi dan kemudian menyalurkan air ke kondisi topografi lahan yang lebih rendah yang dimiliki oleh petani.
-
2. Penanganan konflik
Adapun permasalahan yang ditemui di lapangan adalah distribusi air ada beberapa sampel penelitian yang menyatakan bahwa kritik ataupun saran yang disampaikan mereka kepada pekaseh tidak diterima karena keinginan sampel untuk pendistribusian air secara lebih tidak terpenuhi, tetapi dengan kondisi topografi lahan yang lebih rendah daripada lahan lain yang lebih tinggi jika dipenuhi atau disetujui keinginan sampel untuk mendapatkan air secara berlebih ke kondisi topografi lahan yang lebih rendah akan mengakibatkan banjir.
-
3. Pemeliharaan fasilitas
Adapun permasalahan yang dialami oleh petani sebagai sampel penelitian terhadap pemeliharaan fasilitas adalah adanya hama kepiting yang merusak tanggul sawah yang mengakibatkan kebocoran dan hal ini sudah mendapatkan penanganan dari pekaseh yang sudah menjadwalkan dan mengaplikasikan pengendalian hama dengan cara menggunakan lebih dari satu bahan kimia agar tidak terjadi imunitas pada hama dengan menjadwalkan dua minggu satu kali pelaksanaan
-
4. Pengerahan sumber daya manusia
Adapun pengerahan sumberdaya manusia yang dilakukan oleh pekaseh adalah dengan mengadakan musyawarah mufakat yang dilakukan satu bulan sekali untuk membicarakan jika adanya kerusakan pada bendungan dan jika terjadi kerusakan pada bendungan maka seluruh anggota subak berpartisipasi untuk bergotong royong memperbaiki kerusakan.
-
5. Upacara Keagamaan
Upacara keagamaan yang diadakan di Subak Lodtunduh merupakan upacara yang dilakukan oleh seluruh anggota petani mulai dari penaruhan benih pertama kali disawah, upacara yang dilakukan pada saat padi mulai ditanam upacara yang dilakukan saat umur padi sudah berumur 35 hari hingga upacara yang dilakukan pada saat padi sudah panen. Adapun tingkatan upacara dilakukan bisa pada tingkatan subak dan anggota subak.
Kepemimpinan dalam pengelolaan Subak Lodtunduh dengan tingkat demokrasi yang sangat baik. Pekaseh mampu menanamkan pengaruh kepada krama subak. Pekaseh dapat menggerakan seluruh krama subak dalam setiap kegiatan subak, baik dalam kegiatan kerja bakti maupun dalam musyawarah. Krama subak bersedia melakukan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Berdasarkan uraian-uraian pembahasan kepemimpinan dalam pengelolaan Subak Lodtunduh dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat demokrasi kepemimpinan di subak melalui indikator demokrasi yang dijalankan oleh pekaseh memiliki perolehan nilai skor rata-rata sebesar 94,12% dengan kategori sangat baik. Artinya tingkat kepemimpinan demokratis yang dijalankan pekaseh dalam pengelolaan Subak Lodtunduh sudah berjalan sangat baik sehingga keberlanjutan Subak Lodtunduh dapat dipertahankan. Krama subak mempunyai rasa memiliki terhadap subak itu sendiri dikarenakan demokrasi yang berjalan didalam pengelolaan subak tersebut sudah baik.
Adapun saran yang dapat diberikan adalah bahwa demokrasi yang berjalan dalam pengelolaan Subak Lodtunduh, di Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar harus terus dijalankan. Jika ada pergantian personalia pengurus subak, maka kepemimpinan yang demokratis perlu terus dipertahankan.
-
5. Ucapan Terimakasih
Penelitian ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Pekaseh dan Wakil Pekaseh Subak Lodtunduh atas izin yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian ini, dan seluruh sampel penelitian.
Daftar Pustaka
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.Rineka Cipta. Jakarta
Lexy J. Meleong. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Offset Press. Bandung
Nawawi, Hadari. 2003. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nawawi, Hadari. 2005. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soekarso dan Iskandar Putong. 2015. Kepemimpinan:Kajian Teoritis dan Praktis. BukuInternet.
https://play.google.com/books/reader?id=g6hxBgAAQBAJ&printsec=frontcover &pg=GBS.PP1#v=onepage&q=strategi%20kepemimpinan&f=false (diunduh pada 3 Mei 2018).
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Penerbit Alfabeta.Bandung
Sutawan, Nyoman. 2008. Organiasi dan Manajemen Subak. Pustaka Bali Post: Denpasar.
Sutikno, Sobri. 2014. Pemimpin dan Kepemimpinan. Lombok. Holistica
Windia Wayan. 2006. Transformasi Sistem Irigasi Subak yang Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana. Pustaka Bali Post. Denpasar.
Windia Wayan, Wayan Sudarta dan Wayan Sri Astiti. 2015. Sistem Subak di Bali (kajian sosiologis). Udayana University Press. Denpasar.
http://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA
200
Discussion and feedback