ISSN: 2597-8012 JURNAL MEDIKA UDAYANA, VOL. 11 NO.05,MAI, 2022

DOAJ


DIRECTORY OF OPEN ACCESS JOURNALS



Diterima: 2022-01-04 Revisi: 2022-03-07 Accepted: 2022-05-12

PREVALENSI TERJADINYA BURNOUT SYNDROME DAN HUBUNGAN DENGAN FAKTOR PENYEBABNYA PADA DOSEN WANITA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

Dewa Ayu Intan Fridayanti, Susy Purnawati2, Luh Made Indah Sri Handari Adiputra2, Ketut Tirtayasa2

1Program Studi Sarjana Kedokteran dan Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Denpasar, Bali

2Departemen/Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Denpasar, Bali Email: [email protected]

ABSTRAK

Pekerja wanita memiliki tingkat kelelahan yang tinggi yang bisa mengakibatkan terjadinya burnout syndrome, khususnya pekerja wanita yang menjadi dosen pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi terjadinya burnout syndrome pada dosen wanita dan hubungan dengan faktor faktor penyebabnya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan potong lintang menggunakan 94 sampel penelitian. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan Chisquare. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia dengan burnout syndrome (p=0,140); tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status pernikahan dengan burnout syndrome (p=0,780); tidak terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan burnout syndrome (p=0,238); tidak terapat hubungan yang signifikan antara individual factors dengan burnout syndrome (p=0,347); tidak terdapat hubungan yang signifikan antara organizational factors dengan burnout syndrome (p=0,331); tidak terdaoat hubungan yang signifikan antara work environment dengan burnout syndrome (p=0,202). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tidak ada hubungan antara usia, status pernikahan, masa kerja, individual factors, organizational factors dan work environment dengan terjadinya burnout syndrome.

Kata kunci: pekerja wanita, burnout syndrome, tingkat kelelahan

ABSTRACT

Female workers have a high level of fatigue which can lead to burnout syndrome, especially female workers who are lecturers at Faculty of Medicine Udayana University. This study aims to determine the prevalence of burnout syndrome in female lecturers and the relationship with the causative factors. This study is an analytical observational study with a cross-sectional approach using 94 research samples. The relationship between variables was analyzed using Chi-square. The results of this study indicate that there is no significant relationship between age and burnout syndrome (p=0.140); there is no significant relationship between marital status and burnout syndrome (p=0.780); there is no significant relationship between tenure and burnout syndrome (p=0.238); there is no significant relationship between individual factors and burnout syndrome (p=0.347); there is no significant relationship between organizational factors and burnout syndrome (p=0.331); there was no significant relationship between work environment and burnout syndrome (p=0.202). The conclusion of the study is that there is no relationship between age, marital status, tenure, individual factor, organizational factor and work environment with the occurrence of burnout syndrome

Keywords: female workers, burnout syndrome, fatigue level

PENDAHULUAN

Burnout merupakan suatu keadaan stress psikologis yang mencerminkan reaksi pada individu yang dapat merupakan akibat dari stress bekerja pada bidang kemanusiaan baik itu kelelahan fisik, mental, dan emosional dalam jangka waktu yang lama1,2. Pekerja yang mengalami burnout mengakibatkan gampang mengeluh, menyalahkan orang lain bila ada masalah, lekas marah, dan menjadi sinis tentang karir mereka3.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap dokter di Amerika Serikat perempuan terbukti 1,6 kali mengalami burnout dibandingkan dengan laki-laki dikarenakan pendapatan wanita yang lebih rendah dan fakta bahawa perempuan merupakan minoritas di dunia kedokteran4. Sedangkan di Indonesia penelitian yang dilakukan kepada perawat di RSAB Harapan Kita didapatkan burnout dengan kategori tinggi adalah perempuan hal ini dikarenakan mayoritas dari perawat didominasi oleh perempuan dibandingkan laki-laki5.

Burnout disebabkan oleh berbagai macam faktor baik itu faktor individu, lingkungan, dan budaya. Perempuan juga biasannya memiliki peran ganda dimana berperan sebagai pekerja dan ibu rumah tangga hal ini yang berpotensi mengalami burnout. Faktor lainnya merupakan beban kerja, pengaturan, reward, komunitas, keadilan, dan nilai6,7. Keterlibatan terhadap pekerjaan, tingkat fleksibilitas waktu kerja, dan dukungan sosial juga mempengaruhi terjadinnya burnout8.

Burnout yang berkelanjutan akan berdampak negatif bagi produktivitas dan juga kesehatan pekerja, dimana pekerja sering mengalami masalah gangguan mental, tekanan, kelesuan, ketidakpuasaan kerja, turnover yang mempengaruhi prestasi kerja. Dimana hal ini dapat mempengaruhi dan menurunnya tahap produktivitas kehidupan pekerja, keletihan emosi yang mengakibatkan rendahnnya kualitas pencapain kerja dan menurunnya prestasi individu, dan mengalami kualitas kehidupan bekerja yang menurun9.

Berdasarkan aspek-aspek dan tahapan dalam terjadinnya burnout banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah burnout seperti refreshing, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti bermain, membaca buku, maupun hal-hal yang bisa membuat diri terhibur. Selain itu faktor utama untuk mencegah burnout itu sendiri dengan melakukan pekerjaan dengan nyaman dan memastikan pekerjaan benar-benar pekerjaan yang terbaik untuk kita. Maka penelitian ini penting untuk mengetahui gambaran prevalensi burnout pada dosen perempuan khususnnya di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan mengingatkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan burnout agar bisa melakukan pencegahan terjadinnya burnout.

BAHAN DAN METODE

Rancangan penelitian menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan penelitian observasional dalam mengumpulkan data informasi tanpa adannya intervensi atau perlakukan pada populasi. Penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ Rumah Sakit Umum

Pusat Sanglah Denpasar dengan nomor protokol 864/UN14/2/2/VII/14/LT/2021. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik consecutive sampling sebanyak 94 dosen perempuan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan sudah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan.

Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang diisi langsung dengan menggunakan link google form. Data yang yang diperoleh kemudian dikumpulkan selanjutnya dianalisa dengan menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) dan akan disajikan dengan tabel dan narasi singkat.

HASIL

Karakteristik responden berdasarkan usia, Pendidikan terakhir, status pernikahan, agama, suku bangsa, masa kerja dan burnout syndrome dengan mayoritas berusia >40 tahun (73,4%), berlatarbelakang Pendidikan S2 (68,1%), sudah menikah (94,7%), beragama hindu (93,6%), suku bangsa bali (97,9%), dengan masa kerja <15 tahun (52,1%), dan tidak memiliki tanda-tanda burnout syndrome (59,8%). Seperti yang ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden

Karakteristik

Jumlah

Responden (n)

Persentase (%)

Usia

<40 tahun

25

26,6

>40 tahun

69

73,4

Pendidikan Terakhir

S1

2

2,1

S2

64

68,1

S3

28

29,8

Status Perkawinan

Menikah

89

94,7

Belum Menikah

3

3,2

Cerai Hidup

2

2,1

Cerai Mati

0

0,00

Agama

Hindu

88

93,6

Islam

4

4,3

Katolik

1

1,1

Buddha

1

1,1

Suku Bangsa

Bali

92

97,9

Non Bali

2

2,1

Masa Kerja

<15 tahun

49

52,1

>15 Tahun

45

47,9

Burnout Syndrome

No sign

56

59,8

Little sign

36

38,3

Severe risk

2

2,1

Very Severe

0

0,0

Pada hasil penelitian ini setiap faktor yang mempengaruhi dibagi menjadi 2 kelas yaitu pada individual factors dengan batasan <25 dan >25 dengan hasil 3,2% responden yang memenuhi kriteria, sedangkan organizational factors

dengan batasan <35 dan >35 dengan hasil 9,6% yang memenuhi kriteria dan untuk work environment dengan batasan <10 dan >10 dengan hasil 44,7% yang memenuhi kriteria (Tabel 2).

Tabel 2. Distribusi Karakteristik Individual factors, Organizational factors, Work environment

Karakteristik

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Individual factors

Ya

3

3,2

Tidak

91

96,8

Organizational factors

Ya

9

9,6

Tidak

85

90,4

Work Environment

Ya

42

44,7

Tidak

52

55,3

Analisis Bivariat Terhadap Usia, Status Pernikahan, Masa Kerja dengan Burnout Syndrome

Pada penelitian ini dengan dilakukan analisis chi-square dari usia, status pernikahan, masa kerja, individual factors, organizational factors, dan work environment dengan burnout syndrome ditemukan bahwa usia ≥ 40 tahun 44,9 % mengalami burnout syndrome dengan hasil uji Chi-square p value 0,140 (p>0,05) menandakan tidak terdapat hubungan antara usia dengan burnout syndrome. Pada status pernikahan sebanyak 40,2% dosen perempuan yang sudah menikah mengalami burnout syndrome hasil uji Chi-square antara status pernikahan dengan burnout syndrome hasil p value 0,780 (p>0,05) yang menandakan tidak terdapat hubungan. Pada masa kerja ditemukan 21 dosen perempuan (46,7%) yang sudah bekerja <15 tahun mengalami burnout syndrome dengan hasil p value 0,238 (p>0,05) sehingga tidak ada hubungan antara masa kerja dengan burnout syndrome (Tabel 3).

Tabel 3. Hasil Uji Signifikansi Chi-Square dan Tabulasi Silang Usia, Status Pernikahan, Masa Kerja dengan Burnout Syndrome

Burnout Syndrome

Prevalence Ratio (PR)

IK 95%

Variabel

Ya (%)

Tidak (%)

p value

(Interval Kepercayaan)

Usia

31

38

≥40 tahun

<40 tahun

(44,9) 7

(55,1) 18

0,140

2,098

0,777-5,666

(28,0)

(72,0)

Status Pernikahan

Menikah

37

55

(40,2) 1

(59,8) 1

0,780

0,673

0,041-11,096

Belum Menikah

(50,0)

(50,0)

Masa Kerja

≥15 Tahun

17

(34,7)

32

(65,3)

0,238

0,607

0,265-1,392

21

24

<15 Tahun

(46,7)

(53,3)

Uji Signifikansi Chi-Square dan Tabulasi Silang Individual Factors, Organizational Factors, dan Work Environment dengan Burnout Syndrome

Pada penelitian ini dosen wanita yang mengalami burnout syndrome mayoritas yang tidak dipengaruhi individual factors sebanyak 36 dosen perempuan (39,6%) sedangkan dosen wanita yang dipengaruhi oleh individual factors hanya 2 orang (66,7%) yang mengalami burnout syndrome, hasil uji Chi-square didapatkan dengan p value 0,347 (p>0,05) sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara individual factors dengan burnout syndrome. Pada yang mempengaruhi organizational factors hanyak sebanyak 5 orang yang mengalami burnout syndrome sedangkan yang tidak dipengaruhi organizational factors 33

dosen perempuan (38,3%) yang mengalami burnout syndrome, hasil uji Chi-square didapatkan p value 0,331 (p>0,05) sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara organizational factors dengan burnout syndrome. Pada faktor terakhir yang mempengaruhi yaitu work environment ditemukan bahwa 20 dosen perempuan (40,9%) mengalami burnout syndrome sedangkan dosen perempuan yang tidak dipengaruhi work environment didapatkan 18 orang (34,9%) yang mengalami burnout syndrome, hasil uji Chi-Square didapatkan p value 0,202 (p>0,05) sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara work environment dengan terjadinnya burnout syndrome (Tabel 4).

Tabel 4. Hasil Uji Signifikansi Chi-Square dan Tabulasi Silang Individual Factors, Organizational Factors, dan Work Environment dengan Burnout Syndrome

Burnou

t Syndrome

p value

Prevalence Ratio (PR)

IK 95% (Interval Kepercayaan)

Variabel

Ya (%)

Tidak (%)

Individual Factors

2

1

Ya               (66,7)

Tidak            (39,6)

Organizational Factors 5

(33,3) 55

(60,4)

4

0,347

0,327

0,029 – 3,743

Ya               (55,6)

33

Tidak            (38,3)

Work Environment

20

Ya

(44,4) 52 (61,2)

22

0,331

0,508

0,127 – 2,029

Ya               (47,6)

Tidak              (3148,6)

(52,4)

34

(65,4)

0,202

0,582

0,253 – 1,339

Analisis Multivariat Tekad dan Kepatuhan, Etos Kerja Tinggi, Pimpinan Selalu Mendukung, Pimpinan Cakap dalam Bimbing dan Pimpinan Memberikan Bantuan dengan Burnout Syndrome

Pada penelitian ini menggunakan uji Logistic Regression yang bertujuan untuk memeriksa pola dalam multidimensi dengan mempertimbangkan lebih banyak variabel sehingga dapat memeriksa fenomena yang lebih kompleks dan menemukan pola data yang mewakili dengan lebih akurat. Berdasarkan variabel tekad dan kepatuhan (p=0,972) tidak

memiliki pengaruh yang signifikan dengan terjadinnya burnout syndrome. Hasil dari nilai B didapatkan negative yang dimana memiliki arti setiap terjadi peningkatan tekad dan kepatuhan akan terjadi penurunan burnout syndrome akan tetapi hal ini tidak signifikan dikarenakan nilai p nya lebih besar dari 0,05 yaitu 0,972. Hal ini juga berlaku pada etos kerja yang tinggi (p=0,081), pimpinan selalu mendukung (p=0,571), pimpinan cakap dalam membimbing (p=0,479), dan pimpinan memberikan bantuan (p=0,135) (Tabel 5).

Tabel 5. Hasil Uji Logistic Regression Tekad dan Kepatuhan, Etos Kerja Tinggi, Pimpinan Selalu Mendukung, Pimpinan Cakap dalam Bimbing dan Pimpinan Memberikan Bantuan dengan Burnout Syndrome

Variabel

Pseudo R-Square

Koefisien

Regresi (B)

OR (Exp. B)

p value

Tekad dan Kepatuhan

-0,021

0,979

0,972

Etos Kerja Tinggi

-1,153

0,316

0,081

Pimpinan Selalu Mendukung

0,240

-0,293

0,746

0,571

Pimpinan Cakap dalam Membimbing

-0,433

0,649

0,479

Pimpinan Memberikan Bantuan

-0,898

0,408

0,135


PEMBAHASAN

Pada penelitian ini dosen perempuan tidak mengalami tanda-tanda dari burnout syndrome dimana burnout syndrome itu sendiri merupakan kapasitas umum dan konstruk multidimensi yang terdiri dari kelelahan emosional, sinisme atau depersonalisasi, dan penurunan prestasi diri yang terjadi akibat emosional yang berlebihan di tempat kerja9.

Pada hasil analisis hubungan antara usia dengan burnout syndrome yang disajikan di tabel 3 yang dimana menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan burnout syndrome hal ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Atma Husada Samarina didapatkan bahwa usia tidak berhubungan dengan terjadinya burnout syndrome (p value = 0,426), bahwa seiring dengan pertambahan usia pada umumnnya individu menjadi lebih stabil, lebih matang, dan lebih teguh sehingga memiliki pandangan yang lebih realistis10.

Hubungan antara status pernikahan dengan burnout syndrome yang sudah disajikan di tabel 3 menunjukan hasil yang tidak signifikan, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Wayanti, et al., di Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surabaya yang dimana mendapatkan hasil p value 0,350 (p>0,05) yang mengatakan bahwa terdapat hasil

penelitian lain yang menunjukan bahwa guru yang berstatus belum menikah cenderung lebih tinggi mengalami burnout dibandingkan dengan sudah menikah. Hal ini dikaitkan dengan dukungan sosial yang diperoleh bahwa dosen yang sudah menikah mendapat dukungan dari pasangannya untuk membantu mengurangi dan mengatasi burnout yang dialami11.

Pada hasil analisis antara masa kerja dengan burnout syndrome yang sudah disajikan di tabel 3 dimana menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan di antara masa kerja dengan burnout syndrome. Hal ini memiliki kesesuaian dengan penilitian yang dilakukan kepada perawat di Ruang Rawat Inap RSJ Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2015 dimana seseorang yang bekerja pada satupekerjaan dengan waktu yang lama akan memiliki pandangan yang realistis terhadap situasi yang dihadapi12.

Hasil analisis antara individual factors dengan burnout syndrome yang sudah disajikan di tabel 4 didapatkan bahwa tidak adannya hubungan signifikan antara individual factors dengan burnout syndrome. Hal ini sepertinya dengan berfikir dan berperilaku yang kreatif akan memusatkan perhatian pada kepribadiannya, atau pekerjannya sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada tanggung jawab dan juga meningkatkan capaian prestasi diri13,14.

Pada hasil analisis organizational factors dengan burnout syndrome yang sudah disajikan di tabel 4 menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Labiib di Rumah Sakit Jiwa dr. Amino Gondohutomo Semarang bahwa organizational factors dan organizational atmosphere merupakan salah satu sumber penyebab burnout yang termasuk dalam faktor lingkungan organisasi kerja15.

Pada hasil analisis antara work envinronment dengan burnout syndrome yang sudah disajikan di tabel 4 menunjukan bahwa tidak adanya hubungan antara work environment dengan burnout syndrome. Hal ini sejalan dengan penelitian Gifariani dkk16 bahwa work environment berpengaruh terhadap terjadinnya kepuasan kerja pada karyawan sehingga semakin tinggi work environment atau lingkungan kerja maka akan meningkatkan kepuasan kerja dari karyawan dan menurunkan tingkat terjadinnya burnout syndrome.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap prevalensi terjadinnya burnout syndrome dan hubungan dengan faktor-faktor penyebab pada dosen wanita. Mayoritas dosen wanita tidak mengalami burnout syndrome (59,8%), dan tidak terdapat hubungan antara faktor-faktor penyebab pada dosen wanita dengan terjadinnya burnout syndrome.

Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih detail mengenai prevelansi terjadinnya burnout syndrome pada dosen wanita Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, diperlukan untuk meningkatkan jumlah sampel untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dan bagi dosen wanita yang mengalmi burnout syndrome sebaiknya melakukan

aktivitas yang dapat mengurangi burnout syndrome utk meminimalisir penurunan kualitas hidup.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1.    King, L. A. Psikologi Umum (Buku 2). Jakarta: Salemba Humanika. 2010.

  • 2.    Rizka, Z. Sikap Terhadap Pengembangan Karir dengan Burnout pada Karyawan. Malang:  Universitas

Muhammadiyah Malang. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. 2013 Vol. 01, No. 02. (hlm 50-56)

  • 3.    Davis, Keith & Jhon W. Newstrom. Perilaku Dalam Organisasi. Jakarta: Erlangga. 2014

  • 4.    Wiederhold, B. Cipresso, P. Pizziolo, D. Wiederhold, M. & Riva, G. Intervention for Physican Burnout: A Systematic Review. [Online]. 2018. doi: 10.1515/med-2018-0039 [Accessed 25 April 2019].

  • 5.    Mariyanti, S., Citrawati, A. Burnout pada Perawat yang Bertugas di Ruang Rawat Inap dan Rawat Jalan RSAB Harapan Kita. Jurnal Psikologi. 2011. Vol 09, No 02. (hlm 72-76)

  • 6.  Spector,  P.  E. Industrial  and Organizational

Psychology USA: John Wiley and Sons Inc. 2008.

  • 7.  Maslach, C.; Schaufeli, W.B. & Leiter, M.P. Job

Burnout. Annual Review of   Psychology.

2012.52(2);397-442.

  • 8.    Allarcon, G.M. A meta analysis of burnout with job demand resources and attitude. Journal of Vocational Behavior. 2011.79.549- 562.

  • 9.    Schaufeli, W.B., Bakker, A.B. Job demands, job resources, and their Relitipnship with Burnout and Engagement:  A Multi-sample study. Journal of

Organizational Behavior. 2004; 25(3):293-315.

  • 10.    Ramdan, I. Fadly O. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Burnout Syndrome pada Perawat Kesehatan Jiwa. Universitas Mulawarman. 2016.04(02);68-70

  • 11.    Wayanti , S., Suryaningsih., Esyuananik. Kelelahan Kerja (Burnout syndrome) pada Dosen Berdasarkan Karakteristik Demografi, Harapan, Penghargaan dan Kontrol. Bangkalan: Poltekkes Kemenkes Surabaya. 2016.07(01);56-60

  • 12.    Eliyana. “Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Burnout Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSJ Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2015”. Jakarta: UniversitasIndonesia. 2015.

  • 13.    Bektas, Cetin., Peresadko, Galyna. Frame of Workplace Guidance How to Overcome Burnout Syndrome: a mode suggestion. Social and Behavioral Sciences. 2013. 84 (2013) 879 – 884.

  • 14.    Iqra. Hubungan Beban Kerja dan Motivasi Kerja dengan Burnout Syndrome pada Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUP Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara. Universitas Hasanudin: Repository. 2014.

  • 15.    Labiib, Akhmad. Analisis Hubungan Dukungan Sosial dari Rekan Kerja dan Atasan dengan Tingan Burnout pada Perawat Rumah Sakit Jiwa. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2014.44(2):112-118

  • 16.    Gifarani, N.S & Arsuni. Pengaruh Faktor Burnout Syndrome: Individual Effort, Organizational Effort Factors dan Work Environment Factors terhadap Job

Satisfaction pada Perawat di RSUD Ratu Zalecha Martapura (Masa Pandemi COVID-19). Banjarmasin: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pancasetia. 2019. Vol 17, No 1. (hlm 45-48)

https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum

doi:10.24843.MU.2021.V11.i05.P18

114