ANTARA ELING DAN RAGU: ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA NOVEL DEWI KAWI
on
ANTARA ELING DAN RAGU: ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA
NOVEL DEWI KAWI
I Gede Iwan Astadi
Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana
Abstract
Analysis of the psychology literature of Dewi Kawi want to describe the structural aspects and psychological aspects of character. Theory used in this study are structural theory and the theory of personality psychology. Methods and techniques used in this study were divided into three stages. Methods and techniques used in this study were divided into three stages. Methods and techniques of providing data, methods and techniques of data analysis, data presentation methods and techniques. At the stage of providing data using method of listening that assisted with recording techniques and translation techniques. Stage of data analysis using qualitative and descriptive analytic techniques. Stage presentation of data using informal methods of deductive and inductive techniques. Results achieved in this study the structure of Dewi Kawi that includes theme, plot, character and characterization and setting,. Moreover, the psychological aspects of characters Dewi Kawi that includes the id, ego, and superego. Psychology conflict between the characters in Dewi Kawi that include Psychology conflict Eling vs ragu, Psychology conflict Eling vs Kawi and Psychology conflict Podo vs Eling.
Key words: short story, structure, psychology
Objek penelitian ini adalah novel Dewi Kawi (2008) karya Arswendo Atmowiloto. Novel
Dewi Kawi ini menceritakan perjuangan hidup Eling yang keras hingga mengalami kesuksesan serta kisah pertemuan Eling dengan Kawi hingga membuahkan kenangan manis di hati Eling. Setelah tiga puluh tahun Eling tidak pernah bertemu dengan Kawi, Eling sangat rindu pada Kawi. Eling pun menyuruh Podo untuk mencari Kawi, tetapi setelah sekian lama Podo mencari, Podo tidak berhasil menemukan Kawi. Eling sudah putus asa, dia sering terlihat murung dan sering menyendiri. Podo tidak pernah berhenti mencari, dia tidak mau mengecewakan kakanya. Sebelum Podo meninggal dia menemukan orang yang mempunyai ciri-ciri sama, seperti Kawi
yang diyakini sebagai Kawi. Eling mengalami konflik batin yang hebat. Setelah dia menemukan Kawi, dia bingung mau menemui Kawi atau tidak. Eling ragu apakah semua kejadian manis yang dialaminya dengan Kawi benar-benar terjadi atau hanya peristiwa biasa yang dibentuk kembali oleh pikiranya dengan menambahkan peristiwa – peristiwa pemanis, sehingga penghadiran peristiwa itu kembali di pikirannya menjadi peristiwa yang manis dan tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya Eling tidak jadi menemui Kawi. Dia sadar bahwa semua kenangan manisnya dengan Kawi hanya rekonstruksi peristiwa dalam pikirannya saja.
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah penggambaran struktur novel Dewi Kawi ? (2) Bagaimanakah gambaran psikologis tokoh - tokoh utama yang tergambar dalam novel Dewi Kawi ? (3) Bagaimanakah konflik psikologis tokoh-tokoh utama dalam novel Dewi Kawi?
Secara umum, penelitian ini bertujuan menginformasikan lebih jauh hasil-hasil karya sastra Bali modern yang memberikan kontribusi bagi pengembangan sastra Bali modern. Secara khusus, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan aspek struktur novel Dewi Kawi serta untuk mengetahui aspek psikologis tokoh dan konflik-konflik batin antartokoh dalam novel Dewi Kawi.
Metode yang digunakan pada tahapan penyediaan data adalah metode simak, yakni pengamatan langsung kepada objek yang akan diteliti dibantu dengan teknik pencatatan dan teknik terjemahan. Pada tahapan analisis data digunakan metode kualitatif yaitu mengukur objek penelitian berdasarkan mutu yang merupakan abstraksi nilai data yang ditunjang oleh data
kuantitatif (Ratna, 2009:47). Teknik yang digunakan dalam tahap analisis yakni teknik deskriptif analitik. Teknik ini digunakan untuk mendeskripsikan fakta-fakta yang disusul dengan analisis. Metode yang digunakan dalam tahap penyajian data adalah metode informal, yakni penyajian hasil analisis dengan bahasa secara rinci dan sejelas-jelasnya dibantu dengan teknik deduktif induktif.
-
5. Hasil dan Pembahasan
-
5.1 Struktur novel Dewi Kawi
-
Struktur novel Dewi Kawi terdiri dari tema, alur, penokohan, dan latar. Tema tidak lain adalah ide pokok, ide sentral atau ide yang dominan dalam karya sastra (Sukada, 1987:70). Tema novel Dewi Kawi adalah keraguan. Tema ini tampak pada peran tokoh dalam menggerakkan alur ceritanya.
Alur merupakan unsur dasar penggerak sebuah cerita. Alur akan menimbulkan tegangan dalam cerita sehingga menarik perhatian pembaca untuk bergerak menuntaskan membaca. Menurut Tarigan (1984:128), kebanyakan alur menggunakan pola tradisional dengan unsur-unsur seperti exposition (pengenalan para tokoh), complication (peristiwa bersangkutan mulai bergerak), rising action (keadaan mulai memuncak), turning point (klimaks), dan ending (penyelesaian). Dalam novel Dewi Kawi, alur yang digunakan adalah alur ganda (alur maju dan flashback). Pada awal cerita, tokoh utama menceritakan peristiwa-peristiwa dahulu yang pernah dialaminya, kemudian alur bergerak maju.
Tokoh adalah pelaku-pelaku yang melahirkan peristiwa atau penyebab terjadinya peristiwa (Sudjuman, 1988:23), sedangkan penokohan adalah bagaimana cara pengarang menggambarkan atau mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan (Esten, 1978: 27). Tokoh dalam novel Dewi Kawi terdiri atas tokoh utama yakni Eling dan Kawi, tokoh sekunder yakni Podo, serta tokoh komplementer yakni tokoh komplementer seperti Bu Kidul dan Germo. Dari segi perwatakan, tokoh-tokoh dilukiskan dari segi fisikologis, sosiologis, dan psikologis.
Latar adalah salah satu unsur struktur cerita yang berhubungan dengan tempat, keadaan, dan waktu terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita. Biasanya latar berfungsi mengekspresikan karakter tokoh cerita yang memiliki hubungan yang erat antara manusia dan alam. Kehadiran
latar sebagai unsur cerita merupakan penyamaran cerita itu dan dapat membangun suasana yang diharapkan mengahasilkan kualitas keterangan dari cerita (Sukada, 1983:4). Latar dalam novel Dewi Kawi terdiri atas latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat novel ini adalah di Jakarta sekitar awal tahun 2000-an, sedangkan latar sosial dalam novel ini menunjukkan perilaku dan kehidupan masyarakat modern di kota-kota besar.
Aspek psikologis tokoh novel Dewi Kawi terdiri atas id, ego, dan superego. Id adalah aspek kepribadian yang gelap dalam alam bawah sadar manusia yang berisi insting dan nafsu-nafsu tak kenal nilai dan agaknya merupakan energi buta. Id merupakan wadah dari jiwa manusia yang berisi dorongan primitif. Dorongan primitif adalah dorongan yang ada pada diri manusia yang menghendaki untuk segera dipenuhi atau dilaksanakan keinginan atau kebutuhannya. Apabila dorongan tersebut terpenuhi dengan segera, maka akan menimbulkan rasa senang, puas serta gembira. Id tokoh novel Dewi Kawi terdiri dari tokoh utama dan tokoh sekunder, yakni Eling, Kawi dan Podo.
Menurut pandangan Minderop (2011: 22), ego berada di antara alam bawah sadar dan alam sadar. Ego adalah kepribadian implementif, yaitu berupa kontak dengan dunia luar. Ego timbul karena kebutuhan-kebutuhan organisme yang memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Orang yang lapar harus mencari, menemukan dan memakan makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Ego novel Dewi Kawi terdiri dari tokoh utama dan tokoh sekunder, yakni Eling, Kawi dan Podo.
Superego mengacu pada moralitas dalam kepribadian. Superego sama halnya dengan hati nurani yang mengenali baik dan buruk (conscience). Superego adalah sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai aturan yang bersifat evaluatif (menyangkut baik dan buruk). Superego merupakan penyeimbang dari id. Semua keinginan-keinginan id sebelum menjadi kenyataan, dipertimbangkan oleh superego. Superego tokoh novel Dewi Kawi terdiri atas tokoh utama dan tokoh sekunder yakni Eling, Kawi dan Podo.
Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Wellek & Warren, 1989:285). Konflik batin terjadi apabila ada tujuan yang ingin dicapai sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Konflik batin terjadi akibat perbedaan yang tidak dapat diatasi antara kebutuhan
indilik pvidu dan kemampuan potensial. Konflik dapat diselesaikan melalui keputusan hati. Konflik psikologis yang terjadi dalam cerita ini adalah konflik psikologis Eling vs ragu, konflik psikologis Eling vs Kawi, dan konflik psikologis Podo vs Eling.
Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa struktur novel Dewi Kawi terdiri atas tema cerita ini adalah keraguan, alur ganda, tokoh utama, tokoh sekunder, dan tokoh komplementer. Latar yang digunakan, yakni latar tempat, latar waktu, dan latar sosial.
Aspek psikologis tokoh novel Dewi Kawi meliputi id, ego, dan superego. Dalam analisis psikologi kepribadian tokoh novel Dewi Kawi, setiap tindakan tokoh selalu didasarkan oleh id, ego, dan superego, hanya kadarnya saja yang berbeda. Id akan membawa tindakan tokoh ke arah objektif, ego akan membawa tindakan tokoh ke arah subjektif, dan superego akan membawa tindakan tokoh ke arah kondisi yang ideal (sesuai dengan norma).
Psikologi erat hubungannya dengan konflik batin yang dialami tokoh-tokoh dalam karya satra. Konflik psikologis antartokoh-tokoh dalam novel ini dibagi menjadi tiga yaitu, konflik psikologis Eling vs Ragu, Konflik psikologis Eling vs Kawi, dan konflik psikologis Podo vs Eling. Konflik terjadi akibat adanya dua gejala atau lebih atau keinginan yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga memengaruhi tingkah laku . Konflik batin terjadi apabila ada tujuan yang ingin dicapai sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Esten, Mursal. 1978. Kesusastraan Pengantar Teori Sejarah. Bandung : Angkasa.
Minderop, Albertine. 2011. Psikologi Sastra. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Sudjiman, Panuti, (Ed). 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta : Pustaka Jaya.
Sukada, I Made. 1983. Pendekatan Strukturalisme dalam Sastra Modern. Denpasar : Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Ratna, I Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Wellek, Rene dan Warren. 1995. Teori Kesusastraan (diindonesiakan oleh Melani Budianta). Jakarta : PT Gramedia.
Discussion and feedback