ELIPSIS DALAM KUMPULAN CERPEN KAMI NO KODOMOTACHI WA MINA ODORU

KARYA HARUKI MURAKAMI

oleh:

Putu Dian Saraswati Wangsa

0801705007

Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Sastra, Universitas Udayana

Abstract

This research was analyzing about word clauses absorption on story and their influences to the essence of the story. The data sources were mostly taken from some short story by Haruki Murakami entitled “Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru”. The results of the undergone research showed that the absorption of the texts could be separated into two absorption, the meaning and essence, and the absorption in conversation. The absorption in conversation known as noun absorption which was the nouns or subjects that followed by ‘wa’ or ‘ga’, in fact, were the focus of the sentence. Ellipsis in some conversation also indicated by absorpting the understandable words or phrase that had been talked before the texts context or depend from the situations of the speaker and his conversation partner. The last ellipsis, main sentence ellipsis occurred when some phrases or words were decided to be the main part of a conversation.

Keywords : ellipsis, subject, conversation.

  • 1.    Latar Belakang

Elipsis pada dasarnya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya elipsis yang terjadi pada wacana yang sering kita baca. Bagi para pembelajar bahasa asing, membaca merupakan salah satu hal wajib untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang bahasa yang dipelajari. Wacana yang sering dijumpai dalam buku pembelajaran, tentunya harus dikemas dalam bahasa yang singkat, padat, namun jelas dan menarik. Oleh karena itu tidak mudah bagi seorang penulis untuk membuat sebuah wacana yang singkat, padat, namun jelas dan menarik. Pengetahuan penulis berkaitan dengan elipsis wacana hendaknya dikuasai dengan baik, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam melesapkan bagian-bagian yang seharusnya dilesapkan. Jika terjadi kesalahan pada bagian-bagian yang seharusnya dilesapkan maka akan terjadi pergeseran makna atau merusak makna yang akan disampaikan pada wacana yang akan ditulis. Dalam bahasa Jepang, tidak semua bagian-bagian pembentuk klausa atau

kalimat bisa mengalami pelesapan. Oleh karena itu, dirasakan penting bagi pembaca yang khususnya merupakan pembelajar bahasa Jepang untuk mempelajari lebih lanjut mengenai elipsis dalam bahasa Jepang. Dengan demikian pembaca yang notabene merupakan pembelajar bahasa Jepang, ketika akan menulis wacana berbahasa Jepang tidak akan mengalami kesulitan dalam membuat kalimat yang efektif dan benar. Selain itu, ketika membaca wacana berbahasa Jepang pun, mereka tidak mengalami kesulitan dalam memahami isi wacana karena sudah memahami bagian-bagian yang dilesapkan dalam wacana tersebut. Berdasarkan hal tersebut dirasakan perlu untuk meneliti lebih lanjut elipsis yang terjadi dalam wacana naratif berupa kumpulan cerpen karya Haruki Murakami yang berjudul “Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jay Rubin dengan judul “After The Quake”. Analisis elipsis dalam kumpulan cerpen Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru ini dipilih sebagai kajian penelitian untuk memperkenalkan jenis-jenis elipsis yang dapat terjadi dalam sebuah wacana misalnya cerpen.

  • 2.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, pokok permasalahan yang dapat diambil adalah kategori elipsis apa sajakah yang terdapat dalam kumpulan cerpen Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru?

  • 3.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menambah khasanah penelitian linguistik Jepang dan untuk menambah sumber kepustakaan mengenai elipsis dalam analisis wacana naratif berbahasa Jepang. Sedangkan tujuan khususnya adalah mendeskripsikan kategori elipsis yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru” karya Haruki Murakami.

  • 4.    Metode Penelitian

Sumber data penelitian ini dibagi menjadi data primer dan data sekunder. Sumber data primer adalah buku asli berbahasa Jepang yaitu kumpulan cerpen karya Haruki Murakami yang diberi judul Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru. Sumber data sekunder adalah buku terjemahan berbahasa Inggris yang berjudul All God’s Children Can Dance diterjemahkan oleh Jay Rubin pada tahun 2002. Pada novel ini terdapat 6 buah cerpen yang berbeda. Untuk pengumpulan data menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif cenderung untuk meneliti masalah-masalah yang tidak menyangkut jumlah. Selanjutnya penelitian ini menggunakan metode simak yaitu menyimak penggunaan bahasa secara tertulis (Mahsun, 2005:90). Metode yang digunakan pada tahapan penganalisisan adalah metode agih yaitu metode yang alat penentunya adalah bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri atau merupakan bagian dari klausa, kalimat atau wacana bahasa itu sendiri. Pada metode agih yang digunakan sebagai teknik lanjutan adalah teknik ganti. Teknik ganti dilaksanakan dengan menggantikan unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu yang lain di luar satuan lingual yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:15). Kemudian dengan metode ini pun digunakan dalam menguraikan data-data yang dianalisis sehingga akan lebih mudah dipahami. Tahapan penyajian hasil analisis merupakan tahap penelitian yang berupa laporan. Metode yang digunakan dalam tahapan ini adalah metode formal dan informal (Sudaryanto,1993:145-157). Metode penyajian formal adalah penyajian hasil penelitian dengan tanda dan lambang-lambang. Dalam penyajian penelitian ini misalnya, menggunakan tanda (0) untuk menyatakan konstituen yang dilesapkan. Sedangkan metode informal adalah penyajian penelitian dengan menggunakan kata-kata.

  • 5.    Hasil dan Pembahasan

Data yang terdapat dalam kumpulan cerpen Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru ini dibagi menjadi tiga bagian kategori. elipsis subjek, elispsis kata atau klausa yang sudah disebutkan dilesapkan apabila dapat dimengerti oleh kedua belah pihak, elipsis inti kalimat. Berikut adalah analisis dari masing-masing data yang telah terkumpul.

  • a.    Elipsis Subjek

Hibiya dan Hinata menyatakan elipsis subjek dapat terjadi apabila frasa kata benda yang dijadikan fokus dalam kalimat menjadi topik dalam kalimat berikutnya, maka topik tersebut biasanya tidak ditampilkan. Berikut data yang menunjukkan elipsis subjek.

1 慶介 keisuke Keisuke


は 部屋 wa heya Nom Kamar


の隅 で no sumi de Gen Pojok Dat


耳に

mimi ni

Telinga Joshi


ヘッドフォ

あてて、

Ø[慶介は

半ば

heddofon

wo

atete

ø[keisuke wa]

nakaba

Headphone

-Ak

terpasang

Ø keisuke-nom

setengah

閉じ、

Ø[慶介は

左右

me

wo

toji,

Ø [keisuke

sayuu

ni

wa]

Mata

-Aku

Menutup,

Ø keisuke-nom

Kiri kanan

Lok

振り

ながら

Ø[慶介は

kubi

wo

furi

nagara

ø[keisuke wa]

Leher

-Ak

Bergoya

Sambil

Ø keisuke-nom

ng

電気

ギター

弾いていた。

denki

gitaa

wo

hiiteita

Listri k

Gitar

-Ak

Sedang memetik-Lampau

‘Keisuke duduk di pojok kamar menggunakan headphone di telinga, mata setengah menutup, kepalanya bergoyang kiri kanan sambil memainkan gitar listrik.’

(Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru, 2000:47)

Kutipan pada data nomor (1) menunjukkan pelesapan yang terjadi pada kata Keisuke wa yang merupakan subjek di awal kalimat. Pada awal kalimat dijelaskan bahwa ‘Keisuke duduk di pojok kamar menggunakan headphone di telinga’ Keisuke san wa heya no sumi de mimi ni heddofon wo atete, dilanjutkan dengan kalimat yang mengalami elipsis yaitu Ø[keisuke wa] nakaba me wo furi toji ‘mata setengah menutup’. Kutipan ini menunjukkan bahwa elipsis yang terjadi pada

kalimat selanjutnya masih menjelaskan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Keisuke, sehingga subjek Keisuke dapat dilesapkan.

  • b.    Elipsis Kata atau Klausa yang Sudah Disebutkan

Pembahasan elipsis selanjutnya mengenai elipsis yang terjadi pada percakapan yang biasa terdapat dalam wacana. Sesuai teori yang dinyatakan oleh Hibiya dan Hinata (1988) bahwa pada sebuah percakapan hal yang sudah disebutkan apabila bisa dimengerti dengan mudah dari konteks kalimat atau dari konteks situasi dan lain-lain oleh si pembicara dan lawan bicara (pendengar), maka hal tersebut dielipsis.

2 シマオ : ケイコさん  は  帰ちゃったの。

shimao  : keiko san      wa   kaerichatta no.

Shimao  :  Saudari Keiko Nom Pulang.

Ø[ケイコさんは] ø [keiko san wa] Ø [saudari keiko nom]


迎え    に

mukae      ni

Menjemput Dat


来ますって。 kimasutte. Datang.


Ø[ケイコさんは

用事

ある

ので

Ø [keiko san wa]

youji

ga

aru

node

Ø [saudari Keiko nom]

Urusan

Top

Ada

Karena

お先に失礼します。

明日

osakini shitsurei

ashit

no

asa

ni

shimasu.

a

Permisi lebih dulu.

Besok

Gen

Pag i

dat

ねえ、

すこし

ここ

nee,

watash

wa

sukosh

koko

i

i

Ya,

Saya

Nom

sedikit

Disini

残って

ビール

飲んでいて

いい

かしら?

nokotte

biiru

w

nonde ite

ii

kashira?

o

Tertinggal

Bir

Ak

Pergi minum

Baik

Mungkin?

‘Shimao : Keiko pulang ke rumah. Dia menyuruhku menyampaikan

maafnya dan mengatakan padamu bahwa dia akan kembali besok pagi. Apa kamu tidak keberatan kalau aku tetap di sini dan kita minum bersama?’

小村 komura Komur

a

: いい よ。

: ii      yo

: Baik SHUU

‘Komura

: Baiklah’

(Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru, 2000:34)

Percakapan selanjutnya yang juga dilakukan oleh Shimao dan Komura pada data nomor (2) dengan kutipan “Keiko san wa kaerichatta no. Ø [keiko san wa] youji ga aru node osakini shitsurei shimasu. Ashita no asa ni Ø [keiko san wa] mukae ni kimasu tte.” Pada kutipan ini, Shimao menyebutkan Keiko san wa hanya sekali pada kalimat pertama. Selanjutnya pada kalimat kedua dan ketiga, kata tersebut mengalami elipsis. Dari konteks situasi yang dapat dilihat pada kutipan nomor (2) Shimao menjelaskan permintaan maaf dari Keiko untuk Komura, sehingga tanpa pengulangan berkali-kali, lawan bicara dapat mengerti dengan mudah.

小村 komur

a


Ø [北海道

Ø [hokkaido u

Ø [Nm.Tmpt


‘Komura : Tidak pernah’


3 ケイコ

小村さん

は これ

まで

北海道 に

keiko

komura san

wa kore

made

hokkaido u

ni

Komura-saudara

行った

itta

Pergi-Lampau

Nom Disin Sampa ii

ことはあります?」 koto wa arimasu

pernah

Nm. Tmpt

dat

‘Keiko

: Apakah Saudara Komura hingga Hokkaidou?’

saat ini sudah pernah pergi ke

に 行った ことは]ないよ

ni itta             koto wa] nai

yo

Dat Pergi-Lampau Tidak pernah

(Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru, 2000:19)

Data nomor (3) mengalami elipsis yang ditunjukkan pada klausa Ø[Hokkaidou itta koto wa] naiyo. Pada kalimat yang diucapkan oleh Keiko yaitu Komura san wa kore made Hokkaidou ni itta koto wa arimasu? ‘Apakah saudara Komura hingga saat ini pernah pergi ke Hokkaidou?’. Klausa Hokkaidou itta koto wa yang merupakan klausa nomina mengalami pelesapan karena sudah disebutkan sebelumnya.

Hal yang membedakan elipsis kata yang sudah disebutkan dengan elipsis subjek adalah elipsis kata atau klausa yang sudah disebutkan terjadi pada percakapan yang memiliki konteks situasi yang dimengerti oleh pembicara dan lawan bicara. Sedangkan elipsis subjek terjadi pada kalimat-kalimat narasi yang berupa paparan yang menerangkan suatu hal.

  • c.    Elipsis Inti Kalimat

Hibiya dan Hinata (1988:67-69) menyatakan bahwa inti dari sebuah kalimat dihilangkan ketika dapat dimengerti dengan mudah situasinya atau ketika pembicara ingin lawan bicara mengerti atau si pembicara mengharapkan sesuatu dari lawan bicara, maka dapat dilakukan elipsis pada inti kalimat tersebut. Berikut adalah contoh kalimat yang mengalami elipsis inti kalimat.

4 三宅  : その 話      やめよう や。

miyake  : sono  hanashi      yameyou ya

Miyake  :  Itu   Pembicaraa   Hentikan

n

ウィス キー wisukii Wiski


飲まへんか?


nomahenka?

Minumkah?


‘Miyake : Hentikan pembicaraan itu. Mau wiski?’

順子 : Ø[ウィスキー] いただきましょう

junko   :  Ø [wisukii]      itadakimashou

.        :  Ø [wiski]        Silahkan dinikmati

Junko

‘Junko : ayo minum!’

三宅 miyake


順ちゃん  は  Ø[飲みますか

jun chan    wa   Ø

[nomimasuka]?

Miyake

‘Miyake

: Saudara Jun

: Jun?’

Nom Ø [minum]?

順子 :

少し だけ

Ø[飲みますね。

junko :

sukosh dake i

Ø [nomimasu] ne

Junk : o

‘Junko :

Sedikit Saja

Sedikit saja’

Ø [minum] SHUU

(Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru, 2000:56)

Selanjutnya pada percakapan Junko dan Miyake pada kutipan data nomor (4) menyatakan bahwa inti dari pembicaraan tersebut adalah ajakan Miyake untuk minum wiski yang ditunjukkan oleh kalimat “Sono hanashi yameyou ya. wisukii nomahenka?”. Kemudian Junko berseru “Ø [wisukii] Itadakimashou”. Kata-kata selanjutnya yang mengalami elipsis ada pada ujaran Miyake “Jun chan Ø[nomimasuka]?” Kata-kata dielipsis atau tidak ditampilkan dalam percakapan tersebut sudah dapat dipahami melalui keadaan yang tercipta. Miyake yang hanya berseru Jun chan Ø[nomimasuka]? bermaksud menawarkan minuman kepada Junko, meskipun Miyake tidak mengatakan pertanyaannya secara lengkap. Jawaban Junko yaitu “sukoshi dake Ø [nomimasu]ne”, Junko ingin lawan bicaranya mengerti bahwa ia tidak terlalu ingin minum berlebihan.

  • 6.    Simpulan

Berdasarkan hasil data analisis, elipsis pada subjek biasanya ditandai dengan adanya partikel wa atau ga sebagai pemarkah subjek. Selain itu elipsis subjek biasanya terjadi pada kalimat-kalimat naratif dalam wacana. Elipsis dalam sebuah percakapan terjadi apabila kata atau klausa yang dibicarakan telah disebutkan sebelumnya atau hal yang dibicarakan tersebut dapat dimengerti dengan mudah oleh lawan bicara, maka dapat dilakukan elipsis. Elipsis ini ditandai oleh hal yang dibicarakan sudah disebutkan pada percakapan sebelumnya dan melalui konteks situasi yang tercipta, hal tersebut mudah dipahami. Hal yang membedakan antara elipsis subjek dan elipsis kata atau klausa yaitu elipsis subjek terjadi pada kalimat-kalimat narasi sedangkan elipsis kata atau klausa yang telah

disebutkan terjadi pada percakapan, yakni memiliki situasi dan kondisi yang dimengerti oleh pihak pembicara dan lawan bicara.

Elipsis terakhir yaitu elipsis inti kalimat yaitu elipsis tersebut tidak menampilkan hal yang menjadi inti pembicaraan dalam sebuah percakapan karena tanpa harus mengulang-ulang inti pembicaraan tersebut, pembicara mengharapkan lawannya mengerti dari maksud ujarannya

Daftar Pustaka

Hibiya dan Hinata.1988. Danwa no Kouzou. Jepang: Ara Take.

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa.Jakarta: PT. Raja Grafindo Pustaka

Murakami, Haruki. 2000. Kami no Kodomotachi wa Mina Odoru. Tokyo: Shinchosha.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.Yogyakarta: Duta

Wacana University Press.