ISSN: 2302-920X

Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud

Vol 17.3 Desember 2016: 162 - 170

Kamus Bali-Indonesia Bidang Istilah Seni Lukis Tradisional Bali

Ni Komang Ayu Padmasari1*, I Nyoman Darsana2, I Gde Nala Antara3

123Program Studi Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

1[[email protected]] 2[[email protected]] 3

3[[email protected]]

Corresponding Author

Abstrak

The terminology of Balinese traditional painting in the research of Balinese-Indonesian dictionary aims to find out the form and amount of terminology in Balinese traditional painting. Theory applied are Structural linguistic developed by Ferdinand de Saussure, Lexicology and Lexicography theories.

Method of collecting data applied in this research is a structural interview with the tapping technique followed by recording technique and note taking technique. In method of analyzing data, balance method is applied which a part of it is traditional method followed by basic technique, namely: selecting the determining element by subsequent technique, correlating and appealing technique and correlating and appealing main element technique. Method shared is also applied with basic technique, namely: infix technique. Method of presenting analysis data is formal and informal method by following inductive and deductive analysis technique.

The result of this research is some terminologies in form of basic word contain of basic word one syllable, basic word two syllables, basic word three syllables and basic word four syllables. Derivative word contains word affixed such as prefixes, infix, suffixes, confix, and clofixes (affix joined), repeated words and compound words. The terms are phrases which are: endocentric with main one phrase consisting of: a noun phrase and numeral phrase. Terminology in form clouse is subordinative clouse. This research collects 373 terminologies.

Keywords: dictionary, terminology, tradisional art painting.

  • 1.    Latar Belakang

Seni lukis merupakan salah satu kekayaan kultural Bali yang berkembang dari zaman pemerintahan Dalem Waturenggong hingga sampai saat ini. Puncak perkembangan seni lukis Bali terjadi ketika masa kolonialisme Belanda di Bali, diprakarsai oleh dua tokoh seniman bernama Walter Spies dan Rudolf Bonnet. Dari kedatangan kedua tokoh tersebut, seni lukis Bali yang mulanya hanya memiliki seni lukis wayang klasik (Kamasan) kini telah berkembang dengan bermacam aliran atau gaya seperti: seni lukis tradisional gaya Ubud, gaya Batuan, gaya Keliki, gaya Singaraja

dan gaya Tanah Lot, serta gaya Young Artis yang merupakan seni lukis tradisional Bali yang dipengaruhi oleh kekaryaan Arie Smith (Dermawan, 2007: 19-32).

Selain wujud visual seni lukis tradisional Bali yang beragam, terdapat pula istilah-istilah bahasa yang beragam didalamnya, khususnya bahasa Bali. Gagasan dalam upaya menginventerisasikan istilah-istilah seni lukis tradisional Bali muncul karena melihatnya perkembangan zaman yang mempengaruhi pola pikir generasi muda Bali yang kurang tertarik untuk memperlajari atau menekuni seni lukis tradisional Bali. Dengan begitu bisa diprediksi, apabila peristiwa tersebut berkelanjutan, penelak seni lukis Bali akan tumpul dan ketrampilan tradisional Bali pelan-pelan punah, lalu Bali pelan-pelan akan kehilangan para senimannya serta kehilangan kosakata bahasa Bali dalam istilah seni lukis tradisional Bali.

Pentingnya melestarikan dan mempertahankan kosakata bahasa Bali agar diketahui oleh generasi mendatang dan masyarakat luas serta belum adanya penelitian lebih jauh mengenai istilah seni lukis tradisional Bali meliputi: seni lukis prasi, seni lukis klasik gaya Kamasan, seni lukis tradisional gaya Ubud, dan seni lukis tradisional gaya Batuan. Keempat seni lukis tradisional Bali tersebut diteliti karena eksistensinya masih terjaga sampai saat ini, serta istilah-istilah yang ada pada seni lukis tradisional Bali telah tercangkup didalamnya. Difokuskannya penelitian ini pada penelitian perkamusan khusus istilah seni lukis tradisional Bali, mengingat istilah-istilah dalam seni lukis tradisional Bali hanya dikenal oleh pihak-pihak yang bergelut atau berkecimpung dalam bidang seni lukis tradisional Bali.

  • 2.    Pokok Permasalahan

  • 1)    Bentuk-bentuk istilah apa sajakah yang terdapat dalam seni lukis tradisional Bali?

  • 2)    Berapakah jumlah istilah yang ada dalam seni lukis tradisional Bali?

  • 3.     Tujuan Penelitian

    3.1   Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini, yaitu untuk ikut membina dan mengembangkan kebudayaan nasional melalui kebudayaan daerah, serta dapat memberikan sumbangan

nyata dalam pelestarian bahasa Bali dengan menginventarisasikan istilah bahasa Bali khususnya pada seni lukis tradisisonal Bali.

  • 3.2   Tujuan Khusus

  • 1)    Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk istilah seni lukis tradisional Bali.

  • 2)    Untuk mendeskripsikan jumlah istilah seni lukis tradisional Bali.

  • 4.     Metode Penelitian

    4.1   Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu metode wawancara terstruktur dan metode simak. Metode simak dibantu dengan teknik dasar, yaitu teknik sadap. Kedua metode tersebut dibantu dengan teknik rekam dan teknik catat. Selain metode wawancara dan simak, digunakan juga metode kepustakaan dengan dibantu teknik catat. Setelah data diperoleh, data kemudian dilanjutkan pada tiga tahap berikutnya, yaitu : (1) pengartuan, (2) pengabjadan, dan (3) pemberian definisi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi tiga tahapan tersebut dapat digantikan dengan teknik yang menggunakan teknologi computer, yaitu dengan menggunakan Microsoft Office Word dan untuk mengurutkan istilah sesuai abjad atau alfabet digunakan icon Sort.

  • 4.2    Metode dan Teknik Analisis Data

Metode dan teknik yang digunakan adalah metode padan yang merupakan cara menganalisis data untuk menjawab masalah yang diteliti dengan alat penentu berasal dari luar bahasa (Sudaryanto, 2015: 15). Metode padan sekaligus sub-jenis metode translasional memiliki teknik dasar yang disebut teknik pilah unsur penentu (PUP) dibantu dengan teknik lanjutan yaitu: teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan teknik hubung banding menyamakan hal pokok (HBSP).

Selain menggunakan metode padan, penelitian ini juga menggunakan metode agih. Sudaryanto (2015: 18) mengungkapkan bahwa metode agih merupakan metode yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Metode agih diikuti dengan teknik dasar yaitu teknik bagi unsur langsung (BUL) dengan teknik lanjutan dasar, yaitu teknik sisip.

  • 4.3    Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

Tahap penyajian hasil analisis data digunakan metode formal dan metode informa dengan teknik, yaitu teknik pola pikir induktif dan deduktif.

  • 5.    Hasil dan Pembahasan

    5.1   Istilah Berbentuk Kata Dasar

Kata dasar adalah satuan terkecil yang menjadi asal usuk atau permulaan sesuatu kata kompleks (Tarigan, 1985: 19). Terdapat sembilan puluh (90) istilah dalam seni lukis tradisional Bali berbentuk kata dasar, dapat diklasifikasikan menjadi : (a) Tujuh puluh delapan (78) istilah berkelas kata nomina, yaitu: ampok-ampok, ancur, angkus, anting-anting, api, apon, asti, badong, bajra, bapang, batu, bawa, bebetis, betitis, blagbag, bojog, bulan, bulet, cakra, celana, céléng, cempurit, cula, dupa, empas, ental, gada, gambir, garuda, geluga, gelung, genta, gondala, guét, ilut, jalér, jempurit, kakul, kancut, kau, kendon, kincu, kunyit, liligundi, lontar, macan, mangsi, memadi, mosala, murda, naga, oncér, ornamén, padma, pangutik, pangrupak, penelak, péré, petitis, pinggan, plokot, prasi, sabuk, sepet, simping, singa, stéwel, subeng, surya, tajuk, tempéra, temutis, tindik, umbul-umbul, urna, util, yéh, yip; (b) Sepuluh (10) istilah berkelas kata adjektiva, yaitu : gading, ias, kumeludang, kisat, lanjar, lepah, putih, rentet, tangi, wilis; dan (c) Dua (2) istilah berkelas kata verba, yaitu : jemuh, kekewub.

Sebagai satuan fonologis, kata terdiri dari satu atau beberapa suku, dan suku itu teridiri dari satu atau beberapa fonem (Ramlan, 1985: 29). Berdasarkan banyaknya suku kata yang membangun kata dasar dalam istilah bidang seni lukis tradisional Bali ditemukan kata dasar yang terdiri atas : (a) Kata dasar bersuku satu sebanyak dua (2) istilah; (b) Kata dasar bersuku dua sebanyak enam puluh lima (65) istilah; (c) Kata dasar yang bersuku tiga sebanyak delapan belas (18) istilah; dan (d) Kata dasar bersuku empat sebanyak lima (5) istilah.

  • 5.2   Istilah Berbentuk Kata Turunan

    5.2.1  Istilah Berbentuk Kata Berafiks

Istilah yang berbentuk kata berafiks ialah istilah yang berasal dari kata dasar yang mengalami proses morfologis berupa pembubuhan afiks. Proses pembubuhan afiks

ialah pembubuhan suatu satuan, baik satuan itu berupa tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata (Ramlan, 1985: 49).

  • 1)    Istilah Berprefiks, terdapat dua puluh satu (21) istilah dengan kelas kata verba, yaitu: mrasi, neling, ngabur, ngampad, ngaud, ngerus, nglabak, nglait, ngortén, ngréka, nguap, ngucak, nguét, nyawi, nyelah, nyemuh, nyénter, nyepek, nyigar, nyuluh, dan maletik.

  • 2)    Istilah Berinfiks, terdapat tiga (3) istilah dengan kelas kata nomina, yaitu: ceracap, leloncér dan selimpet.

  • 3)    Istilah Bersufiks, terdapat dua belas (12) istilah, yaitu: sembilan (9) istilah berkelas kata nomina, yaitu : candian, gelungan, kepitan, layuran, penulian, pepesan, tepesan, titisan, tunjungan, dan tiga (3) istilah berkelas kata verba, yaitu : manyunan, dayuhin dan molokin.

  • 4)    Istilah Berkonfiks, terdapat dua (2) istilah, yaitu: satu (1) istilah dengan kelas kata nomina : papatraan dan satu (1) dengan kelas kata verba : madapain.

  • 5)    Istilah Berklofiks atau Berimbuhan Gabung, terdapat sembilan (9) istilah, yaitu: enam (6) istilah dengan kelas kata verba, yaitu : mulunin, mutihin, ngebokin, ngawarnain, nyelemin, nyocain, dan tiga (3) istilah dengan kelas kata nomina, yaitu: pamentélan, panelikan, pangampadan.

  • 5.2.2    Istilah Berbentuk Kata Ulang

Reduplikasi ialah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak (Ramlan, 1985 : 57). Terdapat enam belas (16) istilah yang berbentuk kata ulang dengan kelas kata nomina dalam seni lukis tradisional Bali, istilah tersebut dapat diklasifikasikan menjadi: (a) Reduplikasi Utuh : aun-aun dan ron-ron; (b) Reduplikasi Utuh dikombinasikan dengan afiks yaitu sufiks {–an} : emas-emasan, gunung-gunungan, manik-manikan, mas-masan, dan

udeng-udengan; (c) Reduplikasi Partial : sesimping, jejebug, dan pepetet; (d) Reduplikasi Partial dikombinasikan dengan afiks yaitu sufiks {–an} : bebuletan, geganggongan, geguakan, rerajahan, pepudakan, dan kakarangan.

  • 5.2.3    Istilah Berbentuk Kata Majemuk

Kata majemuk merupakan golongan dua unsur yang masing-masing memiliki makna, tetapi hasil gabungannya memiliki makna tersendiri (Djajasudarma, 1993: 47). Terdapat sembilan puluh satu (91) istilah yang berbentuk kata majemuk, dapat diklasifikasikan menjadi:

  • 1)    Berdasarkan jumlah kata, terdiri dari : (a) Kata Majemuk terdiri dari dua kata sebanyak delapan puluh (80) istilah, meliputi : ampas nangka, angkeb bulet, batun poh, batun timun, bungan tuung, candi kurung, ental goak, ental kedis, ental taluh, gelang cakra, gelang kana, gelung agung, gelung çri, gelung cula, gelung darma, gelung duka, gelung kaula, gelung kakelingan, gelung kakendon, gelung kendon, gelung ketu, gelung manuh, gelung pandita, gelung pepudakan, gelung plekir, gelung sesobratan, gelung sobrak, gelung suka, gelung tajuk, gelung wiku, geruda mungkur, gunungan perenggé, janggar siap, jit tumisi, kancing sabuk, karang asti, karang bentala, karang bentulu, karang boma, karang daun, karang dedari, karang guak, karang mata, karang murdha, karang pakis, karang saé, karang simbar, karang tapel, karang waduk, kelat bahu, kembang uré, kembang waru, kidang manjangan, kunyit warangan, kuping guling, kurung gelung, kuta mesir, lambih dara, mangle wijaya, naga pasah, naga wangsul, patra banci, patra cina, patra mesir, patra punggel, patra samblung, patra sari, patra ulanda, patra wewanggaan, sekar kendon, sekar taji, sekar uré, silut karna, sirat bahu, tapuk manggis, tasak gedang, tedung agung, tekes dada, tri sula, watu alang; dan (b) Kata Majemuk terdiri dari tiga kata sebanyak sebelas (11) istilah, meliputi : gelung buana lukar, gelung candi kurung, gelung candi kusuma, gelung candi rebah, gelung pakis rebah, gelung sepit urang, gelung supit urang, gelung tanjung pati, karang kembang maduri, tanduk sepit urang, tetindik pada manis.

  • 2)    Berdasarkan bentuk kata, terdiri dari : (a) Kata Majemuk Berafiks sebanyak sebelas (11) istilah dan (b) Kata Majemuk Tanpa Afiks, terdiri dari delapan puluh (80) istilah.

  • 3)    Berdasarkan kelas kata yang membentuknya, terdiri dari : Enam puluh lima (65) istilah berkontruksi nomina + nomina; Tiga (3) istilah berkontruksi nomina + verba; Tiga (3) istilah berkontruksi verba + nomina; Satu (1) istilah berkontruksi verba + adjektiva; Lima (5) istilah berkontruksi nomina + adjektiva; Dua (2) istilah

berkontruksi adjektiva + nomina; Satu (1) istilah berkontruksi numeralia + nomina; Lima (5) istilah berkontruksi nomina + nomina +nomina; Tiga (3) istilah berkontruksi nomina + nomina + verba; Satu (1) istilah berkontruksi nomina + verba + adjektiva; Satu (1) istilah berkontruksi nomina + nomina + adjektiva; dan Satu (1) istilah berkontruksi nomina + adjektiva + adjektiva.

  • 5.2.4    Istilah Berbentuk Frasa

Menurut Ramlan (2001: 139) frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan. Istilah-istilah dalam seni lukis tradisional Bali yang berbentuk frasa terdapat seratus dua puluh tujuh (127) istilah yang keseluruhan istilah merupakan frasa endosentrik berinduk satu atau frasa modifikasi : (a) Frasa Nominal terdiri dari seratus dua puluh enam (126) istilah : adeng menuri, alis aéng, alis halus, alis keras, aun-aun maperanak, bangkiang rengkiang, basang buncit, basang mokoh, bias membah, buah blatung, bun tanpa wit, bok gambah, cunguh danawa, cunguh kekerasan, cunguh luh, cunguh memanisan, cunguh naga, cunguh pésék, cunguh wanara, gelang bersusun, gelang cokor, gelang tunggal, gempukan rambut, gunung-gunungan karang, kain tenunan nusa, kerang bulih, kuas bulu kambing, kuas bulu kuda, kuas tiing, kumis aéng, kumis kekerasan, kumis memanisan, kumis tua, lambé galak, lambé kekerasan, lambé luh, lambé memanisan, lambé naga, lambé parekan, lambé raksasa, lambé wanara, lipatan kancut, mangsi banyu, mata bulat, mata luh, mata muani, mata sipit, mua detya, mua galak manis, mua galak wayah, mua manis nguda, mua manis wayah, mua putri manis, mua wenara, panekes dada, panekes rambut, penelak pemeréan, penelak pemuluan, penelak penelingan, penelak pengampadan, penelak pengerékaam, penelak penyawian, rerajahan angga sakti, rerajahan atma raksa, rerajahan bhatara achintya, rerajahan bhatara gana, rerajahan bhatara pujamusti, rerajahan bhatara yama, rerajahan bhima sasa rudhira, rerajahan bhuta limping, rerajahan brahma astra, rerajahan brahma kwaca, rerajahan danawa, rerajahan empu bharadah, rerajahan hanoman buntut, rerajahan kala sungsang, rerajahan naga phasa, rerajahan pemiak kala, rerajahan penulak sarva mrana, rerajahan sang hyang aji krékét, rerajahan sang hyang aji tunggal, rerajahan sang hyang angga sakti, rerajahan sang hyang arga, rerajahan sang hyang bhuta, rerajahan sang hyang brahma astra, rerajahan sang hyang candu sakti, rerajahan sang hyang derastya tastra, rerajahan sang hyang éng karana, rerajahan

sang hyang gana, rerajahan sang hyang garuda, rerajahan sang hyang geni bhuta, rerajahan sang hyang gnara, rerajahan sang hyang gunasari, rerajahan sang hyang indra yatha sakti, rerajahan sang hyang kala cakra, rerajahan sang hyang kala rajastra, rerajahan sang hyang kala winewa, rerajahan sang hyang katkut bingung, rerajahan sang hyang mandi raksa, rerajahan sang hyang meneng, rerajahan sang hyang nawa kanda, rerajahan sang hyang nirkénda, rerajahan sang hyang nulah, rerajahan sang hyang paluket, rerajahan sang hyang rama wijaya, rerajahan sang hyang rasma raja, rerajahan sang hyang singular, rerajahan sang hyang slisih geni, rerajahan sang hyang surya, rerajahan sang hyang taya, rerajahan sang hyang tulak tanggul, rerajahan sang hyang walik waja, rerajahan sang hyang yata tuli, rerajahan sang hyang yugi meneng, rerajahan sang hyang yugil ming mang, rerajahan sang hyang yuti mangindit, rerajahan siwa sampurna, rerajahan tumbal leak, rerajahan tumbal tikus , rerajahan walik buaya, rerajahan wayang partha wijaya, rerajahan wisnu murthi, tanggun kancut, tanggun sabuk, tanggun selimpet, tingkih matunu; dan (b) Frasa Numeralia terdiri dari satu (1) istilah : duang luaban

  • 5.2.5    Istilah Berbentuk Klausa

Klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat, dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat (Kridalaksana, 2008: 124). Istilah yang berbentuk klausa dalam seni lukis tradisional Bali terdapat dua (2) istilah, yaitu sebagai berikut : ngedum karang, ngepah karang. Kedua istilah tersebut merupakan klausa terikat yang berupa klausa verbal: klausa transitif – klausa aktif.

  • 6.    Simpulan

Berdasarkan bentuknya istilah-istilah yang terdapat dalam seni lukis tradisional Bali ditemukan istilah yaitu: (a) Istilah berbentuk kata dasar sebanyak sembilan puluh (90) istilah; (b) Istilah berbentuk kata turunan sebanyak seratus lima puluh empat (154) istilah; (c) Istilah berbentuk frasa sebanyak seratus dua puluh tujuh (127) istilah; dan (d) Istilah berbentuk klausa sebanyak dua (2) istilah. Sementara berdasarkan jumlahnya, leksikon seni lukis Tradisional Bali didapatkan sebanyak tiga ratus tujuh puluh tiga (373)

  • 7.    Daftar Pustaka

Bawa, I Wayan, dkk. 1983. Sintaksis Bahasa Bali. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dermawan T., Agus. 2006. Bali Bravo. Jakarta : PT Jayakarta Agung Offset.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Metode Lingustik (Ancangan Metode Penelitian dan Kajian). Bandung : PT ERESCO.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta : PT. Gramedia.

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa (Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya).

Jakarta : PT Raja Gafindo Persada.

Ramlan, M. 1985. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta : CV. KARYONO.

Sudaryanto, Nyoman. 2015. METODE DAN ANEKA TEKNIK ANALISIS BAHASA “Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis”. Yogyakarta : Sanata Dharma University Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Morfologi. Bandung : Penerbit Angkasa.

170