Jurnal Agribisnis dan Agrowisata

ISSN: 2685-3809

Vol. 10, No. 1, Juli 2021

Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung

I PUTU MAYUN MAHENDRA, I GDE PITANA, I MADE SARJANA

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman Denpasar 80232

Email: [email protected] [email protected]

Abstract

Strategy for Developing Agriculture-Based Tourism in Pelaga Village, Petang District, Badung Regency

This study aims to identify internal factors in terms of strengths and weaknesses as well as external factors, namely opportunities and threats using SWOT analysis method to determine strategies in developing agriculture-based tourism in Pelaga Village, Petang Sub-District, Badung Regency. Determination of key informants was done by purposive sampling technique. The data collection method was conducted using FGD (Focus Group Discussion) method. The results of research show that strategies that can be carried out for the development of agriculture-based tourism in Pelaga Village, Petang Sub-District, Badung Regency are the Strengths-Opportunities strategies, namely developing agriculture-based tourism and maintaining various tourist attractions and promotion strategies. The Strengths-Threats Strategies can be done in two ways, namely the strategies of designing rules related to tourism areas and providing extension to the people of Pelaga Village. Weaknesses-Opportunities strategies that can be done is the arrangement of tourism locations. Weaknesses-Threats strategies that can be given are to provide tourism skills and knowledge training to the Pelaga Village community.

Keywords: tourism, agriculture, Pelaga Village

  • 1.    Pendahuluan

    • 1.1 . Latar Belakang

Pariwisata sebagai bisnis global yang sangat menjanjikan dan menjadi sektor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dunia yang dihasilkan dari pergerakan wisatawannya (Rizkianto dan Topowijono, 2018). Pariwisata telah memberi berbagai dampak positif terhadap perolehan devisa dan penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat (Dharmawan dkk, 2014). Sektor pariwisata merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara dan mampu memberikan sumbangan yang cukup siginifikan bagi pembangunan di Indonesia (Susyanti dan Latianingsih, 2014). Motivasi wisatawan melakukan perjalanan wisata yaitu untuk keluar dari rutinitas sehari - hari. Aktivitas wisata dan rekreasi telah menjadi kebutuhan manusia yang harus dipenuhi (Attar dkk, 2013). Berbagai organisasi internasional seperti World Bank, Perserikatan Bangsa Bangsa, dan World Tourism Organization (WTO), telah mengakui bahwa pariwisata merupakan bagian

yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia (Nurmansyah, 2014). Industri pariwisata sedang berkembang di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh permintaan produk wisata di Indonesia setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan yang signifikan (Hermawan, 2016). Pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism menjadi isu perencanaan pembangunan nasional di Indonesia saat ini karena pariwisata berkelanjutan mampu meminimalisir dampak negatif pariwisata yang ditimbulkan terhadap lingkungan (Arida, 2010).

Pariwisata Bali dikenal sebagai destinasi pariwisata budaya, dimana elemen budaya Bali menjadi atraksi utama (Dharmawan, 2014). Arus kedatangan wisatawan ke Bali setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung diikuti dengan perubahan trend pariwisata yang berkembang di Bali. Saat ini produk wisata konvensional mulai banyak ditinggalkan dan wisatawan beralih kepada produk wisata yang lebih menghargai lingkungan, alam, budaya dan atraksi secara spesial.

Faktor pendukung pengembangan pariwisata salah satunya adalah sistem pertanian yang menjadi potensi daya tarik wisata. Sistem pertanian yang masih tradisional dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Pengembangan pariwisata berbasis pertanian adalah pemanfaatan kegiatan maupun perkebunan pertanian sebagai atraksi dalam kegiatan pariwisata. Salah satu desa dengan potensi pertanian sebagai unggulannya adala Desa Pelaga Kecamatan Petang, Kabupaten Badung (Profil Desa Pelaga, 2018). Desa Pelaga memiliki panorama alam dengan bentang wilayah menghijau yang masih asri dan alami serta wilayah pegunungan dengan udaranya yang segar bebas dari polusi asap kendaraan. Namun, potensi yang dimiliki Desa Pelaga belum dimanfaatkan dengan baik.

  • 1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • 1.    Apa sajakah faktor - faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan dalam pengelolaan potensi pertanian sebagai daya tarik pariwisata di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung ?

  • 2.    Apa sajakah faktor - faktor eksternal berupa peluang dan ancaman dalam pengelolaan potensi pertanian sebagai daya tarik pariwisata di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung ?

  • 3.    Bagaimanakah strategi pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung ?

  • 1.3    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

  • 1.    Untuk mengidentifikasi faktor - faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan dalam pengelolaan potensi pertanian sebagai daya tarik pariwisata di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung.

  • 2.    Untuk mengidentifikasi faktor - faktor eksternal berupa peluang dan ancaman dalam pengelolaan potensi pertanian sebagai daya tarik pariwisata di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung.

  • 3.    Untuk merumuskan strategi pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung.

  • 2.    Metode Penelitian

    • 2.1    Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung dengan memfokuskan pada tiga banjar dinas yaitu Banjar Dinas Kiadan, Banjar Dinas Pelaga dan Banjar Dinas Bukian. Pemilihan Desa Pelaga menjadi lokasi penelitian ini secara sengaja (purposive) dengan beberapa pertimbangan, yaitu 1) Desa Pelaga memiliki potensi pariwisata pertanian yang mendukung yang dilihat dari luasnya lahan pertanian dan perkebunan, mata pencaharian utama masyarakat sebagai petani, potensi keindahan alam yang disuguhkan, dan Desa Pelaga telah memiliki beberapa objek wisata alam yang banyak diketahui oleh wisatawan, 2) pemanfaatan potensi yang kurang optimal, dan 3) dukungan pemerintah.

Penelitian ini dilakukan selama rentang waktu mulai dari bulan April hingga September tahun 2019.

  • 2.2    Data, Sampel Penelitian dan Analisis Data

Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif yang berasal dari sumber primer dan sumber sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, focus group disscusion (FGD), dan metode kepustakaan.

Penentuan informan kunci dilakukan dengan teknik purposive (sengaja) artinya dengan memilih narasumber yang benar-benar mengetahui kondisi internal dan eksternal Desa Pelaga, sehingga mereka akan dapat memberikan masukan secara tepat tentang data yang dibutuhkan. Penentuan informan kunci tersebut berdasarkan pertimbangan 1) mereka yang menguasai atau memahami lokasi penelitian yaitu Desa Pelaga, dan 2) mereka yang berkecimpung atau terlibat dalam kegiatan pertanian di kawasan Desa Pelaga. Dalam penelitian ini diambil perwakilan petani dari tiga banjar dinas di Desa Pelaga dan aparatur Desa Pelaga yang berjumlah 10 orang.

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah matrik SWOT. Matrik SWOT adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengembangkan strategi yang dievaluasi berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal. Analisis internal dilakukan untuk mengetahui faktor - faktor kekuatan dan kelemahan yang dimiliki kawasan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga. Faktor tersebut dievaluasi dengan menggunakan matriks IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) (Dharmawan, 2013). Analisis eksternal dilakukan untuk mengetahui dan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang ada. Analisis faktor eksternal dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Matriks EFAS (External Strategic Factors Analysis Sumamry) (Dharmawan, 2013). Setelah menganalisis Matriks IFAS dan Matriks EFAS dilakukan analisis Matriks I-E untuk mengetahui penentuan strategi yang baik dilakukan berdasarkan divisi yang berbeda - beda (David, 2010).

  • 3.    Hasil dan Pembahasan

    • 3.1    Analisis Faktor Lingkungan Internal

Faktor lingkungan internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.

Identifikasi Faktor Lingkungan Internal Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung dalam Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian.

1. Kekuatan

2.Kelemahan

a.

Infrastruktur dan akses jalan yang memadai

a.

Belum banyak masyarakat yang terjun ke dunia pariwisata

b.

Pemandangan hamparan perkebunan yang indah dan alami dengan udara yang sejuk

b.

Keterampilan masyarakat dalam menunjang kegiatan pariwisata yang belum memadai

c.

Belum adanya perencanaan

c.

Bersih dari sampah plastik

pengembangan pariwisata berbasis pertanian di tingkat desa

d.

Mayoritas masyarakat bekerja dibidang

d.

Ketidak teraturan penataan kawasan

pertanian dan memiliki lahan pertanian yang

objek pariwisata oleh lembaga

luas

pengelola pariwisata desa

e. Keterpaduan antara penerapan teknologi pertanian dengan budaya pertanian lokal

  • f.    Telah dikenal masyarakat dengan potensi pertanian dengan komoditas unggulannya yaitu asparagus dan didukung oleh komoditas lainnya

  • g.    Berkembangnya akomodasi pariwisata

  • h.    Sikap ramah masyarakat kepada wisatawan

Sumber: Analisis Hasil Penelitian, Tahun 2019.

  • 3.2    Analisis Faktor Lingkungan Eksternal

Faktor lingkungan eksternal adalah faktor yang berada diluar Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung dapat diuraikan pada Tabel 2.

Tabel 2

Identifikasi Faktor Lingkungan Eksternal Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung dalam Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian.

  • 3.    Peluang                                 4. Ancaman

  • a.    Peningkatan jumlah wisatawan ke Bali        a. Banyaknya daya tarik wisata

pesaing sejenis di Desa Pelaga

  • b.    Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan

    • b.    Banyaknya transformasi tenaga kerja ke bidang pariwisata

    • c.    Pencemaran lingkungan dari adanya kegiatan pariwisata yang dilakukan tanpa perencanaan

    • d.    Pengembangan kegiatan pariwisata yang mengancam lahan pertanian

    • e.    Terjadinya eksploitasi alam dan budaya akibat pengembangan pariwisata

    • 4.    Ancaman

    • f.    Masuknya penduduk luar yang mencari pekerjaan di desa pelaga


  • c.    Adanya kerjasamapihak pemerintah dan pihak investor untuk menunjang pengembangan pariwisata

  • d.    Festival pertanian yang rutin diadakan sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam mempromosikan desa pelaga

  • e.    Mulai dibangun fasilitas pendukung pariwisata oleh pemerintah

  • 3.    Peluang

  • f. Telah memiliki website sendiri sebagai wujud dukungan pemerintah kabupaten badung dalam melakukan promosi

Sumber : Analisis Hasil Penelitian, Tahun 2019

3.3 Hasil Evaluasi Faktor Strategi Lingkungan Internal

Hasil penghitungan matriks IFAS dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3

Penghitungan Matriks IFAS untuk Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung

Faktor Internal

No

Kekuatan

Bobot

Rating

Skor

1

Infrastruktur dan akses jalan yang memadai

0,098

3,9

0,382

2

Pemandangan hamparan perkebunan yang indah dan alami dengan

0,09

3,6

0,324

udara yang sejuk

3

Bersih dari sampah plastik

0,058

2,0

0,116

4

Mayoritas masyarakat bekerja dibidang pertanian dan memiliki

0,057

3,2

0,182

lahan pertanian yang luas

5

Keterpaduan antara penerapan teknologi pertanian dengan budaya

0,039

28

0,109

pertanian lokal

Telah dikenal masyarakatdengan potensi pertanian dengan

6

komoditas unggulannya yaitu asparagus dan didukung oleh

0,051

3,2

0,163

komoditas lainnya

7

Berkembangnya akomodasi pariwisata

0,052

2,3

0,12

8

Sikap ramah masyarakat kepada wisatawan

0,055

3,0

0,165

No

Kelemahan

Bobot

Rating

Skor

9

Belum banyak masyarakat yang terjun ke dunia pariwisata

0,192

2,9

0,557

10

Keterampilan masyarakat dalam menunjang kegiatan pariwisata

0,191

29

0,554

yang belum memadai

11

Belum adanya perencanaan pengembangan pariwisata berbasis

0 068

24

0,163

pertanian di tingkat desa

12

Ketidak teraturan penataan kawasan objek pariwisata oleh lembaga

0,049

24

0,118

pengelola pariwisata desa

Total Kekuatan dan Kelemahan

1,000

34,6

2,953

Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019

Berdasarkan Tabel 3 tersebut terlihat bahwa terdapat variasi nilai faktor – faktor internal yang mempengaruhi pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga. Dalam tabel tersebut diketahui faktor kekuatan yang paling penting adalah infrastruktur dan akses jalan yang memadai disusul dengan pemandangan hamparan perkebunan yang indah dan alami dengan udara yang sejuk dengan nilai skor masing – masing sebesar 0,382 dan 0,324. Masing - masing faktor tersebut memiliki bobot sebesar 0,098 dengan rating 3,9 dan 0,090 dengan rating 3,6 yang mengindikasikan kedua faktor tersebut memiliki pengaruh yang kuat. Hal ini disebabkan karena apabila dalam sebuah kawasan wisata tidak memiliki fasilitas dan akses yang memadai maka akan mempersulit wisatawan untuk berkunjung dan wisatawan akan mencari alternatif wisata lainnya. Ketika akses ke kawasan wisata memadai dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata maka akan menjadi kekuatan tersendiri bagi suatu objek wisata, termasuk juga Desa Pelaga. Selain itu, sebagai pariwisata berbasis pertanian yang mengandalkan sumber daya alam sebagai daya tarik utama maka sangat penting bagi Desa Pelaga untuk memiliki pemandangan hamparan perkebunan yang indah.

Berdasarkan Tabel 3 tersebut terlihat pula faktor kelemahan utama dari pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga adalah belum banyak masyarakat yang terjun ke dunia pariwisata dan keterampilan masyarakat dalam menunjang kegiatan pariwisata yang belum memadai dengan total bobot 0,557 dan

0,554 untuk masing – masing faktor kelemahan. Masing - masing faktor tersebut memiliki bobot sebesar 0,192 dengan rating 2,90 dan 0,191 dengan rating 2,90 yang mengindikasikan kedua faktor tersebut memiliki pengaruh yang cukup kuat.

Masyarakat Desa Pelaga mayoritas berprofesi sebagai petani sehingga mereka masih sedikit acuh terhadap perkembangan pariwisata. Selain itu masyarakat Desa Pelaga yang mayoritas adalah petani dengan pendidikan rata – rata tamatan SMA/ sederajat sangat asing dengan kegiatan pariwisata dan hanya fokus pada kegiatan pertanian. Hal ini tercermin dari rendahnya pengetahuan masyarakat terkait dengan bahasa pariwisata yaitu bahasa inggris.

Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa total skor strategi internal sebesar 2.95 termasuk dalam kategori kuat, yang ditandai dengan total skor yang berada diatas 2,5 (David, 2010). Oleh karena itu, Desa Pelaga telah mampu memaksimalkan kekuatan untuk meminimalisir kelemahan yang dimiliki.

  • 3.4 Hasil Evaluasi Faktor Strategi Lingkungan Eksternal

Berikut adalah hasil penghitungan matriks EFAS yang dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4

Penghitungan Matriks EFAS untuk Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung

Faktor Eksternal

No

Peluang

Bobot

Rating

Skor

1

Peningkatan jumlah wisatawan ke Bali

0,126

3,900

0,491

2

Peraturan Daerah Kabupaten Badung yang mendukung

0,107

3,600

0,385

3

adanya pariwisata

Adanya kerjasama pihak pemerintah dan pihak investor untuk menunjang pengembangan pariwisata

0,083

3,000

0,249

4

Festival pertanian yang rutin diadakan sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam mempromosikan Desa

0,063

3,600

0,227

5

Pelaga

Mulai dibangun fasilitas pendukung pariwisata oleh

0,070

3,400

0,238

pemerintah

6

Kebijakan pemerintah mendukung promosi pariwisata

0,051

3,200

0,163

di Desa Pelaga

No

Ancaman

Bobot

Rating

Skor

7

Banyaknya daya tarik wisata pesaing sejenis di Desa Pelaga

0,051

2,900

0,148

8

Banyaknya transformasi tenaga kerja ke bidang pariwisata

0,118

2,500

0,295

9

Pencemaran lingkungan dari adanya kegiatan pariwisata yang dilakukan tanpa perencanaan

0,088

1,900

0,167

10

Pengembangan kegiatan pariwisata yang mengancam lahan pertanian

0,103

2,100

0,216

11

Terjadinya eksploitasi alam dan budaya akibat pengembangan pariwisata

0,092

2,200

0,202

12

Masuknya penduduk luar yang mencari pekerjaan di Desa Pelaga

0,048

2,900

0,139

Total Peluang & Ancaman

1,000

35,200

2,920

Sumber: Pengolahan Data Primer, Tahun 2019

Dalam tabel tersebut diketahui faktor peluang yang paling penting adalah peningkatan jumlah wisatawan ke Bali disusul dengan Peraturan Daerah Kabupaten Badung yang mendukung adanya pariwisata dengan nilai skor masing – masing sebesar 0,491 dan 0,385. Masing-masing faktor tersebut memiliki bobot sebesar 0,126 dengan rating 3,9 dan 0,107 dengan rating 3,6 yang mengindikasikan kedua faktor tersebut memiliki pengaruh yang kuat.

Jumlah kunjungan wisatawan ke Bali setiap tahunnya mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami peningkatan. Kecenderungan wisatawan saat ini lebih memilih untuk melakukan perjalanan wisata berbasis alam dibandingkan dengan wisata konvensional. Hal ini akan menjadi peluang utama bagi Desa Pelaga untuk mengembangkan sebuah pariwisata alternatif yaitu pariwisata berbasis pertanian. Selain itu adanya Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan menunjukkan dukungan pemerintah dalam menunjang dan menjamin kegiatan pariwisata di Kabupaten Badung termasuk Desa Pelaga.

Berdasarkan Tabel 4 tersebut terlihat pula faktor ancaman utama dari pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga yaitu banyaknya transformasi tenaga kerja ke bidang pariwisata dan pengembangan kegiatan pariwisata yang mengancam lahan pertanian dengan total skor 0,295 dan 0,216 untuk masing – masing faktor ancaman dengan bobot sebesar 0,118 dengan rating 2,50 dan 0,103 dengan rating 2,10 yang mengindikasikan kedua faktor tersebut memiliki pengaruh yang cukup kuat.

Pariwisata dikhawatirkan dapat menyebabkan perubahan pola pikir masyarakat Desa Pelaga untuk beralih pada pariwisata. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya sumber daya alam dan aktivitas pertanian yang menjadi daya tarik utama pariwisata berbasis pertanian yang dikembangkan. Para petani dikhawatirkan akan lebih tertarik pada kegiatan pariwisata dan akan meninggalkan kegiatan pertanian. Jika hal tersebut terjadi, kekhawatiran lainnya yang akan timbul akibat adanya aktivitas pariwisata adalah terganggunya aktivitas pertanian di Desa Pelaga.

  • 3.4 Analisis Matriks Internal-Eksternal (I-E)

Analisis matriks internal – eksternal (I – E) bertujuan untuk mengetahui arah strategi yang akan dikembangkan. Adapun hasil perhitungan matriks I-E terhadap pariwisatan berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung dapat dilihat pada Gambar 1.

Total Skor Bobot IFAS

Kuat        Rata-Rata   Lemah

4,0            3,0            2,0

1,0

Tinggi

3,0

Total Skor

Bobot    Sedang

EFAS           2,0

Rendah

1,0

I

(2,95)

II

III

IV(2,92)

V

VI

VII

VIII

IX

Gambar 1

Penghitungan Matriks Internal-Eksternal (I-E) Terhadap Strategi Pengembangkan Pariwisatan Berbasis Pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung

Berdasarkan Gambar 1 pemetaan terhadap masing - masing total skor menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga saat ini berada pada divisi sedang yaitu tergabung dalam sel V dalam matriks I-E. Strategi yang baik dilakukan dalam divisi sel V adalah melalui strategi menjaga dan mempertahankan; penetrasi pasar dan pengembangan produk adalah dua strategi yang paling banyak digunakan dalam jenis divisi ini (David, 2010).

  • 3.4 Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian di Desa Pelaga

Matriks SWOT memfokuskan pada penentuan alternatif strategi yang layak untuk pengembangan strategi pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga dengan memadukan faktor internal dan faktor eksternal hasil dari matrik IFAS dan matrik EFAS. Matriks analisis SWOT Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung dapat dilihat pada Gambar 2.

Strategi SO

Strategi WO

Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian

Penataan Lokasi Pariwisata

Strategi Promosi

Strategi ST

Strategi WT

Strategi Perencanaan Aturan Terkait

Strategi Pelatihan Keterampilan dan

Strategi Penyuluhan kepada Masyarakat

Pengetahuan Pariwisata kepada

Desa Pelaga

Masyarakat

Gambar 2

Matriks SWOT Strategi Pengembangan Pariwisata Berbasis Pertanian di Desa Pelaga

  • 4.    Kesimpulan dan Saran

    • 4.1    Kesimpulan

Kekuatan infrastruktur dan akses jalan yang memadai merupakan faktor lingkungan internal kekuatan yang paling berpengaruh dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Sedangkan belum banyak masyarakat yang terjun dalam dunia pariwisata menjadi faktor internal kelemahan yang utama dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung.

Peningkatan jumlah wisatawan ke Bali merupakan faktor lingkungan eksternal peluang yang paling berpengaruh dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung. Sedangkan banyaknya transformasi tenaga kerja ke bidang pariwisata dan pengembangan kegiatan pariwisata yang mengancam lahan pertanian menjadi faktor eksternal ancaman yang utama dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung.

Berdasarkan analisis matriks SWOT diperoleh beberapa alternatif strategi diantaranya: Strategi SO yaitu strategi pengembangan pariwisata berbasis pertanian dan mempertahankan berbagai daya tarik wisata serta strategi promosi. Strategi ST dapat dilakukakan dengan dua cara yaitu strategi perancangan aturan terkait dengan kawasan pariwisata dan pemberian penyuluhan kepada masyarakat Desa Pelaga. Strategi WO yang dapat dilakukan yaitu penataan lokasi pariwisata. Strategi WT yang dapat diberikan adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan dan pengetahuan pariwisata kepada masyarakat Desa Pelaga.

  • 4.2    Saran

Berdasarkan simpulan dan pembahasan, maka saran yang dapat diberikan untuk mengembangkan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung adalah 1) diperlukan adanya keseriusan dari pihak aparatur desa untuk mengembangkan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang dimiliki serta melibatkan masyarakat dalam kegiatan pariwisata yang akan dijalankan; 2) diperlukan dukungan dari para stakeholder untuk pengembangan pariwisata berbasis pertanian di Desa Pelaga Kecamatan Petang Kabupaten Badung; dan 3) setelah kegiatan pariwisata dijalankan diharapkan masyarakat dan aparatur desa dapat tetap menjaga kelestarian alam dan ekosistem pertanian sebagai daya tarik pariwisata agar pelaksanaan pariwisata dapat dilakukan secara berkesinambungan serta tidak merusak lingkungan.

  • 5.    Ucapan Terimakasih

Penelitian ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Maka dari itu pada kesempatan ini disampaikan rasa terimakasih kepada para informan kunci yang telah bersedia untuk memberi informasa terkait dengan penelitian yang telah dilaksanakan.

Daftar Pustaka

Arida, Nyoman Sukma. 2010. Buku Ajar Pariwisata Berkelanjutan. Denpasar: Udayana University Press.

Attar, Muhammad Attar; Luchman Hakim; Bagyo Yanuwiadi. 2013. Analisis Potensi Dan Arahan Strategi Kebijakan Pengembangan Desa Ekowisata Di Kecamatan Bumiaji – Kota Batu. Journal of Indonesian Tourism and Development Studies. 1(2), h: 68-78.

David, Fred. R. 2010. Strategic Management Konsep Buku 1 Edisi 12. Jakarta: Salemba Empat.

Dharmawan, I Made Adi. 2013. Strategi Pengembangan Desa Wisata Di Desa Belimbing Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Dharmawan, I Made Adi; I Made Sarjana; I Dewa Ayu Sri Yudhari. 2014. Strategi Pengembangan Desa Wisata Di Desa Belimbing Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan. E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata. 3(1), h: 1-11.

Hermawan, Hary. 2016. Dampak Pengembangan Desa Wisatanglanggeran Terhadap Sosial Budaya Masyarakat Lokal. Seminar Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komputer. ISBN: 978-602-72850-3-3. h: 61-70.

Nurmansyah, Agung. 2014. Potensi Pariwisata Dalam Perekonomian Indonesia. Jurnal Ekonomi Bisnis & Kewirausahaan, 3 (1), h: 44 – 61.

Profil Desa Pelaga. 2018.

Rizkianto Neno dan Topowijono. 2018. Penerapan Konsep Community Based Tourism Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata Berkelanjutan (Studi Pada Desa Wisata Bangun, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek). Jurnal Administrasi Bisnis, 58 (2), h: 20 - 26.

Susyanti, Dewi Winarni dan Nining Latianingsih. 2014. Potensi Desa Melalui Pariwisata Pedesaan. Epigram, 11 (1), h: 65-70.

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA

363