Jurnal Agribisnis dan Agrowisata

ISSN: 2685-3809

Vol. 10, No. 1, Juli 2021

Partisipasi Masyarakat dalam Program Urban Farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta

ENI PERMATASARI, NYOMAN PARINING, I GUSTI AYU AGUNG LIES ANGGRENI

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jalan P.B. Sudirman-Denpasar, 80232, Bali

Email: [email protected] [email protected]

Abstract

Community Participation in the Urban Farming Program Gang Hijau at RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta

The trend of population growth in urban areas is very rapid, it is estimated that by 2025 there will be around 68% of Indonesia's population living in cities. Population growth due to urbanization creates new problems, namely the amount of food availability decreases and air pollution increases. The urban farming program Gang Hijau is an agricultural program designed by the DKI Jakarta Provincial Government which is suitable to be applied in urban areas because it does not require large tracts of land for its application. Community participation is needed to achieve the objectives of the urban agriculture program. This research was conducted with the aim of expressing community participation in the implementation and enjoying the results of the Green Gang urban farming program. This research was conducted in the area of RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur by taking a sample of 44 people using the probability sampling method, which is simple random sampling. Data analysis method used is qualitative descriptive analysis. The results showed that the overall community participation in the urban farming program of the Gang Hijau in the RW 03 area is in the high category assessed based on the combined score between participation at the stage of implementation. Physical participation and nonphysical participation and participation at the stage of enjoying the outcome with three aspects of social aspects, economic aspects and environmental aspects.

Keywords: urban farming, participation, community, gang hijau

  • 1.    Pendahuluan

    • 1.1    Latar Belakang

Tren pertumbuhan penduduk di perkotaan amat pesat. Kota-kota di Indonesia tumbuh rata-rata 4,1 persen per tahun. Bank Dunia memprediksi pada 2025 ada sekitar 68 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan (ILO, 2015). Urbanisasi sudah terjadi di Indonesia dari tahun 1970 sampai 2010, penduduk perkotaan di Indonesia mengalami peningkatan dari 21 juta menjadi 123 juta orang. Ada kemungkinan besar bahwa pada tahun 2050, penduduknya akan mencapai 180,2 juta (Kirmanto, Ernawi et al. 2012). Ada beberapa kota yang mengalami tingkat

urbanisasi yang sangat tinggi di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, Jogjakarta, Palembang dan Ujung Pandang.

Urbanisasi menyebabkan jumlah permintaan pangan meningkat sedangkan lahan pertanian menyempit akibat terjadinya alih fungsi lahan dari sektor pertanian menjadi kawasan perumahan, industry dan jasa sehingga terjadi ketidakseimbangan ketersediaan pangan. Hal ini tercermin pada rasio land-rent lahan pertanian adalah 1 : 500 untuk kawasan industri dan 1 : 622 untuk kawasan perumahan (Nasoetion dan Winoto, dalam Sampeliling et. al. 2012). Polusi udara terjadi dikarenakan asap pabrik dan kendaraan bermotor ditambah lagi dengan semakin berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Faktanya, RTH berkurang setiap tahun. Pada tahun 1965, Jakarta masih memiliki RTH sampai 35 persen tetapi pada tahun 2011, jumlah tersebut mengalami penurunan ke 9,3 persen (World Vision, dalam Edwards 2016).

Urban farming atau bisa disebut pertanian perkotaan bisa menjadi solusi RTH untuk meningkatkan akses pangan serta dapat mengatasi polusi udara. Urban farming adalah pertanian kota yang dilakukan di lingkungan kota sebagai salah satu bentuk RTH produktif yang bernilai ekonomi dan ekologi (Nugraheni, dalam Muarif 2017). Program urban farming Gang Hijau merupakan program yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dalam program ini pemerintah memberikan bantuan sarana seperti bibit, pupuk dan pot-pot atau rak-rak tanaman. Metode penanaman yang dilakukan dalam program Gang Hijau ini dilakukan dengan beberapa cara. Bibit tanaman bisa ditanam dengan sistem hidroponik, polybag, pot, ataupun rak disesuaikan dengan teknologi dan inovasi yang ada.

Urban farming di kawasan RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat ini merupakan percontohan bagi kawasan lain dan sering dikunjungi oleh perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri untuk studi banding sehingga dapat dikatakan cukup berhasil. Di wilayah tersebut, urban farming tidak ada dalam setiap rumah tangga yang terdapat pada gang tersebut melainkan warga memanfaatkan lahan kosong seperti di pinggir saluran penghubung (PHB) Rawa Kerbau sepanjang 500 meter. Namun, sayangnya terdapat permasalahan yaitu belum optimalnya partisipasi masyarakat secara menyeluruh pada program urban farming Gang Hijau di RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat.

  • 1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  • 1.    Bagaiamana karakteristik responden dalam pelaksanaan program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat?

  • 2.    Bagaimana partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat?

  • 3.    Bagaimana partisipasi masyarakat dalam menikmati hasil program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat?

  • 1.3    Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemasalahan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut:

  • 1.    Untuk mengetahui karakteristik responden dalam pelaksanaan program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat

  • 2.    Untuk mengetahui partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat.

  • 3.    Untuk mengetahui partisipasi masyarakat dalam menikmati hasil program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat.

  • 2.    Metode Penelitian

    • 2.1    Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kawasan RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat. Waktu penelitian dimulai pada Juni 2019. Pemilihan lokasi penelitian ditetapkan secara sengaja sengaja (purposive) dengan pertimbangan:

  • 1)    Kawasan tersebut merupakan kawasan percontohan urban farming di Jakarta.

  • 2)    Pelaksanaan program telah dimulai sejak tahun 2014 dan masih tetap berjalan sampai saat ini, sehingga layak untuk diteliti.

  • 2.2    Jenis dan Sumber Data

Sugiyono (2014) mengatakan ada 2 jenis data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data kualitatif pada gambaran umum lokasi penelitian dan partisipasi masyarakatnya. Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah data penghitungan skor kuesioner dan presentase partisipasi masyarakat.

Data primer ialah data yang mengacu pada informasi yang diperoleh dari tangan pertama oleh peneliti berkaitan dengan variabel, dalam penelitian ini data primer diperoleh melalui wawancara dan jawaban pada kuesioner dari responden. Data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi yang dikumpulkan dari sumber yang telah ada (Sekaran, 2011). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari olah data profil Kelurahan Cempaka Putih Timur untuk mengetahui gambaran umum lokasi serta jumlah kepala keluarga yang menetap di lokasi penelitian.

  • 2.3    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  • 1.    Wawancara terstruktur, yaitu proses wawancara yang dilakukan peneliti dengan mempersiapkan instrument penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang didalamnya alternative jawaban telah dipersiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini, setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan peneliti mencatat dari setiap jawabannya.

  • 2.    Wawancara mendalam (in-depth interview), dapat dilakukan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden dengan menggunakan pedoman wawancara (Sutopo, 2006). Wawancara mendalam yang dilakukan mengenai sejarah dan partisipasi masyarakat dalam program urban farming Gang Hijau di RW 03 Kelurahan Cempaka Putih Timur dengan PPL, Tokoh Masyarakat dan masyarakat penerima program.

  • 3.    Dokumentasi dilakukan dengan memanfaatkan dokumen-dokumen tertulis, gambar, foto atau benda-benda lainnya yang berkaitan dengan aspek-aspek yang diteliti (Widodo, 2017). Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari arsip kegiatan program urban farming Gang Hijau di RT 10/03 Kelurahan Cempaka Putih Timur.

  • 2.4    Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah 76 Kepala Keluarga (KK) yang bertempat tinggal di Kawasan RW 03, tepatnya di RT 10 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta yang terlibat dalam program urban farming Gang Hijau.. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling dengan cara diundi secara berulang sampai mendapatkan jumlah sesuai dengan yang telah ditentukan. Simple Random Sampling, yaitu cara pemilihan responden dimana anggota dari populasi dipilih satu persatu secara random (semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk dipilih) dimana jika sudah dipilih maka tidak dapat dipilih lagi (Sugiyono, 2014). Penentuan jumlah sampel menggunakan Rumus Slovin dengan tingkat presisi 10%. Penelitian ini menggunakan sampel sejumlah 44 orang.

  • 2.5    Variabel dan Pengukuran Variabel

Variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017). Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah partisipasi pada tahap pelaksanaan yang dibagi menjadi dua yaitu partisipasi fisik serta partisipasi non fisik dan partisipasi pada tahap menikmati hasil yang dibagi menjadi tiga yaitu aspek sosial, aspek ekonomi serta aspek lingkungan. Kategori tingkat partisipasi masyarakat dalam program urban farming Gang Hijau di RW 03 dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel.1

Kategori Partisipasi Masyarakat dalam Program Urban Farming Gang Hijau

No.

Persentase (%)

Kategori

1.

20-36

Sangat rendah

2.

37-52

Rendah

3.

53-68

Cukup tinggi

4.

69-84

Tinggi

5.

85-100

Sangat tinggi

  • 3.    Hasil dan Pembahasan

    • 3.1    Karakteristik Responden

Karakteristik responden didapatkan dari hasil temuan data primer di lapangan. Dalam penelitian ini, jumlah responden yang diteliti adalah sebanyak 44 responden. Adapun karakteristik responden akan dijelaskan berdasarkan umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan lamanya tinggal.

Tabel 2

Karakteristik Responden dalam Program Urban Farming Gang Hijau di RW 03

Karakteristik Responden

Umur

14% berumur 18-40 tahun dengan kategori

dewasa awal

77% berumur 40-60 tahun dengan kategori

dewasa madya

9% berumur >60 tahun dengan kategori usia lanjut

Jenis Kelamin

39% laki-laki

61% perempuan

Tingkat Pendidikan

18% sampai dengan SMA/sederajat

16% sampai dengan Diploma

66% sampai dengan S1/S2/S3

Pekerjaan

18% berprofesi Pegawai Negeri

34% berprofesi Karyawan Swasta

20% berprofesi Ibu Rumah Tangga

11% berprofesi Pensiunan

11% berprofesi Wiraswasta

5% berprofesi Lainnya

Pendapatan

11 % memiliki pendapatan < 3.500.000

34% memiliki pendapatan >  3.500.000  –

5.500.000

41% memiliki pendapatan >  5.500.000  –

7.500.000

14% memiliki pendapatan >  7.500.000  –

9.500.000

Lama Tinggal

39% telah tinggal < 20 tahun

50% telah tinggal 20 – 40 tahun

11% telah tinggal > 40 tahun

Berdasarkan Tabel 2, karakteristik responden dalam penelitian ini dilihat dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, jumlah pendapatan dan lama tinggal responden. Berdasarkan usia, mayoritas responden yang terlibat berumur antara 40 sampai dengan 60 tahun dan masuk ke dalam kategori dewasa madya. Berdasarkan jenis kelamin jumlah responden pada program urban farming Gang Hijau didominasi oleh perempuan yaitu sebanyak 27 orang responden atau sebesar 61 persen. Berdasarkan dari tingkat pendidikan responden, jumlahnya didominasi oleh Sarjana sebanyak 29 orang atau sebesar 66 persen. Berdasarkan jenis pekerjaan pada 44 responden di RT 10/03 Kelurahan Cempaka Putih Timur didominasi oleh karyawan sebanyak 15 orang atau sebesar 34 persen. Berdasarkan tingkat pendapatan sebanyak 18 responden atau sebesar 41 persen memiliki penghasilan sebesar > 5.500.000 – 7.500.000. Berdasarkan dari lamanya tinggal didapat hasil bahwa sebagian besar dari responden yang tinggal dan menetap di RT 010/03 berada pada kategori sedang dengan rentang waktu antara 20 sampai dengan 40 tahun masa tinggal yaitu sebanyak 22 orang atau sebesar 50%.

  • 3.2    Tingkat Partisipasi Masyarakat pada Tahap Pelaksanaan

Tingkat partisipasi masyarakat pada tahap pelaksanaan ini diukur dari partisipasi fisik dan partisipasi non fisik. Berikut distribusi partisipasi masyarakat tahap pelaksanaan berdasarkan partisipasi fisik dan partisipasi non fisik.

  • 3.2.1    Partisipasi fisik

Partisipasi fisik ditinjau berdasarkan keterlibatan seseorang terhadap suatu kegiatan yang menyangkut tindakan secara fisik terkait program urban farming Gang Hijau. Berikut pada Tabel 3 disajikan lebih rinci mengenai jumlah skor dari hasil penelitian indikator partisipasi fisik.

Tabel 3

Distribusi Frekuensi dan Penilaian Skor Partisipasi Masyarakat Tahap Pelaksanaan (Partisipasi Fisik)

No

Bentuk kegiatan

Frekuensi penilaian skor

Jlh skor

Persentase ketercapaian(%)

Ket

1

2

3

4

5

1.

Pembibitan

F

7

13

7

8

9

131

60%

CT

%

16

30

16

18

20

2.

Penanaman/

F

7

13

7

8

9

131

60%

CT

Pindah tanam

%

16

30

16

18

20

3.

Penyulaman

F

7

11

8

7

11

136

62%

CT

%

16

25

18

16

25

4.

Pemupukan/

F

8

13

6

8

9

129

59%

CT

pemberian

nutrisi

%

18

30

14

18

20

5.

Penyiraman/

F

6

15

4

11

8

132

60%

CT

mengecek

ketersediaan

%

14

34

9

25

18

air

6.

Penyiangan/

F

6

13

8

8

9

133

60%

CT

pengendalian

%

14

30

18

18

20

OPT

7.

Panen

F

5

12

7

7

13

143

65%

CT

%

11

27

16

16

30

8.

Menghadiri

F

7

10

10

5

12

137

62%

CT

rapat

%

16

23

23

11

27

9.

Mengikuti

F

15

7

7

8

7

117

53%

CT

penyuluhan

%

34

16

16

18

16

10.

Keinginan

F

1

1

13

18

11

169

77%

T

mengikuti

program

%

2

2

30

41

25

Total

1358

62%

CT

Berdasarkan Tabel 3 yang diolah dari lampiran kuesioner partisipasi fisik memperoleh nilai total 1358 dan persentase sebesar 62% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada partisipasi fisik berada pada kategori cukup tinggi. Pada partisipasi fisik parameter dengan persentase tertinggi yaitu 77% diperoleh pada keinginan mengikuti program sedangkan parameter dengan persentase terendah yaitu 53% diperoleh pada keikutsertaan pada penyuluhan. Keinginan mengikuti program memperoleh persentase tertinggi disebabkan responden mayoritas ikut karena keinginan sendiri atau atas dasar ajakan orang lain.

Keikutsertaan pada penyuluhan memperoleh persentase terendah karena biasanya kegiatan ini dilakukan saat akhir pekan dan beberapa responden memiliki kegiatan lain seperti menjalankan hobi, berkumpul bersama keluarga dan keluar kota untuk urusan pekerjaan.

  • 3.2.2    Partisipasi non fisik

Pada partisipasi non fisik ditinjau berdasarkan keterlibatan seseorang terhadap suatu kegiatan yang tidak menyangkut tindakan secara fisik melainkan berbentuk pembiayaan, pemikiran dan pengelolaan. Berikut pada Tabel 4 disajikan lebih rinci.

Tabel 4

Distribusi Partisipasi dan Penilaian Skor Masyarakat Tahap Pelaksanaan (Partisipasi Non Fisik)

No

Bentuk kegiatan

Frekuensi penilaian skor

Jlh skor

Persentase ketercapaian(%)

Ket

1

2

3

4

5

1.

Memberi materi

F

0

7

13

17

7

156

71%

T

(uang)

%

0

16

30

39

16

2.

Diskusi terkait

F

8

8

12

6

10

134

61%

CT

penjualan

%

18

18

27

14

23

3.

Terlibat dalam

F

6

14

6

6

12

136

62%

CT

penetapan program jangka pendek/ jangka panjang

%

14

32

14

14

27

4.

Memberi kritik/saran di

F

8

12

6

6

12

134

61%

CT

rapat pembahasan

%

18

27

14

14

27

5.

Aktif diskusi

F

13

2

9

10

10

134

61%

CT

dalam penyuluhan

%

30

5

20

23

23

6.

Ikut serta

F

6

9

6

14

9

143

65%

CT

mengajak masyarakat terlibat

%

14

20

14

32

20

7.

Ikut serta

F

11

11

8

7

7

120

54%

CT

menjadi anggota poktan

%

25

25

18

16

16

8.

Memberikan

F

14

1

9

10

10

133

60%

CT

materi (barang)

%

32

2

20

23

23

Total

1090

62%

CT

Berdasarkan Tabel 4 yang diolah dari lampiran kuesioner partisipasi non fisik memperoleh nilai total 1090 dan persentase sebesar 62% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada partisipasi non fisik yang berbentuk pembiayaan, pemikiran dan pengelolaan berada pada kategori cukup tinggi. Pada partisipasi non fisik parameter dengan persentase tertinggi yaitu 71% diperoleh pada kegiatan memberikan materi berupa uang sedangkan parameter dengan persentase terendah yaitu 54% diperoleh pada keikutsertaan menjadi anggota poktan. Kegiatan memberikan materi berupa uang mendapat persentase tertinggi karena responden merasa cara tersebut sangat mudah dan paling efektif dilakukan apabila tidak dapat

membantu dengan tenaga dan keikutsertaan menjadi anggota poktan mendapat persentase terendah disebabkan responden kurang mengetahui mekanisme dan kewajiban apabila menjadi anggota poktan.

  • 3.3    Tingkat Partisipasi Masyarakat pada Tahap Menikmati Hasil

Pada tahap menikmati hasil, tingkat partisipasi masyarakat ditinjau dari jumlah manfaat dan hasil yang diterima masyarakat dari program urban farming Gang Hijau. Berikut ini merupakan distribusi masyarakat tahap menikmati hasil dibagi menjadi tiga aspek yaitu aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek lingkungan.

  • 3.3.1    Aspek sosial

Manfaat yang diterima masyarakat dalam aspek sosial yaitu meningkatkan persediaan pangan, nutrisi serta kesehatan masyarakat, mengurangi pengangguran, meningkatkan solidaritas komunitas, bermanfaat dalam pengembangan pendidikan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mengurangi kemungkinan konflik social, sebagai alternative sumber bahan pangan serta menambah pengalaman dan ilmu. Berikut pada Tabel 5 disajikan lebih rinci.

Tabel 5

Distribusi Partisipasi dan Penilaian Skor Masyarakat Tahap Menikmati Hasil (Aspek Sosial)

No

Bentuk kegiatan

Frekuensi penilaian skor

Jlh skor

Persentase ketercapaian(%)

Ket

1

2

3

4

5

1.

Meningkatkan

F

0

0

17

23

4

163

74%

T

nutrisi

%

0

0

39

52

9

2.

Meningkatkan

F

0

0

17

20

7

166

75%

T

kesehatan

%

0

0

39

45

16

3.

Meningkatkan

F

0

0

17

17

10

169

77%

T

solidaritas

%

0

0

39

39

22

4.

Bermanfaat dalam

F

0

0

14

22

8

170

77%

T

pengembanga n pendidikan

%

0

0

32

50

18

5.

Meningkatkan

F

0

0

12

24

8

172

78%

T

kualitas hidup

%

0

0

27

55

18

6.

Mengurangi

F

0

0

17

25

2

161

73%

T

konflik sosial

%

0

0

39

57

4

7.

Memberikan

F

0

0

16

20

8

168

76%

T

pengalaman dan

%

0

0

36

46

18

pengetahuan baru

Total                       1169        76%          T

Berdasarkan Tabel 5 yang diolah dari lampiran kuesioner partisipasi masyarakat tahap menikmati hasil dalam aspek sosial memperoleh nilai total 1169 dan persentase sebesar 76% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada aspek sosial berada pada kategori tinggi. Partisipasi tahap

menikmati hasil pada aspek sosial, parameter dengan persentase tertinggi yaitu 78% diperoleh pada pernyataan bahwa program urban farming Gang Hijau meningkatkan kualitas hidup dikarenakan masyarakat merasa lingkungan rumah yang tadinya terlihat gersang dan kualitas udaranya yang kurang baik karena berada di pusat kota perlahan membaik sejak adanya urban farming. Selain menghasilkan produk yang sehat dan bebas pestisida, urban farming membantu dalam meningkatkan jumlah RTH di Jakarta sedangkan parameter dengan persentase terendah yaitu 73% diperoleh pada pernyataan bahwa program urban farming Gang Hijau mengurangi konflik sosial karena dengan adanya program urban farming ini konflik sosial dapat berkurang karena adanya kegiatan yang mengharuskan mereka untuk bekerja secara bersama-sama, meskipun ada beberapa warga yang jarang ikut berkegiatan dengan alasan tertentu.

  • 3.3.2    Aspek ekonomi

Manfaat yang diterima masyarakat dalam aspek ekonomi yaitu membuka lapangan usaha, meningkatkan penghasilan masyarakat, memberantas kemiskinan di daerah perkotaan, meningkatkan jumlah wiraswasta serta dapat menghemat pengeluaran untuk alokasi kebutuhan lain. Berikut pada Tabel 6 disajikan lebih rinci.

Tabel. 6

Distribusi Partisipasi dan Penilaian Skor Masyarakat Tahap Menikmati Hasil (Aspek

Ekonomi)

No

Bentuk kegiatan

Frekuensi penilaian skor

Jlh skor

Persentase ketercapaian(%)

Ket

1

2

3

4

5

1.

Meningkatkan persediaan

F

0

0

12

24

8

172

78%

T

pangan

%

0

0

27

55

18

2.

Meningkatkan

F

25

16

0

3

0

69

31%

SR

penghasilan

%

57

36

0

7

0

3.

Mengurangi

F

0

13

18

13

0

132

60%

CT

pengangguran

%

0

30

40

30

0

4.

Alternatif

F

0

0

13

18

13

176

80%

T

sumber pangan

%

0

0

30

40

30

5.

Menghemat pengeluaran

F

2

10

8

18

6

148

60%

CT

untuk alokasi lain

%

5

23

18

41

14

Total

697

62%

CT

Berdasarkan Tabel 6 yang diolah dari lampiran kuesioner partisipasi masyarakat tahap menikmati hasil dalam aspek ekonomi memperoleh nilai total 675 dan persentase sebesar 62% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada aspek ekonomi berada pada kategori rendah. Partisipasi tahap menikmati hasil pada aspek ekonomi parameter dengan persentase tertinggi yaitu 80% diperoleh pada pernyataan bahwa program urban farming Gang Hijau sebagai alternatif sumber pangan dikarenakan produksinya yang dapat dilakukan secara mandiri dan tidak membutuhkan lahan yang luas untuk mengaplikasikannya sedangkan parameter dengan persentase terendah yaitu 31% diperoleh pada pernyataan bahwa program urban farming Gang Hijau dapat meningkatkan penghasilan dikarenakan masyarakat merasa program urban farming Gang Hijau ini

diimplementasikan hanya sebagai pengerat tali silaturahmi antar tetangga sekaligus sebagai usaha dalam meningkatkan estetika lingkungan tempat tinggal mereka, bukan berorientasi kepada ekonomi.

  • 3.3.3    Aspek lingkungan

Manfaat yang diterima masyarakat dalam aspek lingkungan yaitu meningkatkan estetika lingkungan, meningkatkan kawasan RTH, memperbaiki kualitas udara, konservasi sumberdaya tanah dan air serta membantu menciptakan kebersihan kota dengan pelaksanaan 3R untuk pengelolaan sampah kota. Berikut pada Tabel 7 disajikan lebih rinci.

Tabel 7

Distribusi Partisipasi dan Penilaian Skor Masyarakat Tahap Menikmati Hasil (Aspek Lingkungan)

No

Bentuk kegiatan

Frekuensi penilaian skor

Jlh skor

Persentase ketercapaian(%)

Ket

1

2

3

4

5

1.

Meningkatkan estetika

F

0

0

5

18

20

192

87%

ST

lingkungan

%

0

0

11

41

45

2.

Meningkatkan

F

0

0

10

19

14

173

79%

T

kawasan RTH

%

0

0

23

43

32

3.

Memperbaiki

F

0

0

7

24

12

182

83%

T

kualitas udara

%

0

0

16

55

27

4.

Melestarikan

F

0

0

9

21

13

180

82%

T

sumberdaya tanah dan air

%

0

0

20

48

30

5.

Meciptakan kebersihan

F

0

0

12

15

16

172

78%

T

dengan 3R

%

0

0

27

34

36

Total

899

82%

T

Berdasarkan Tabel 7, yang diolah dari lampiran kuesioner partisipasi masyarakat tahap menikmati hasil dalam aspek lingkungan memperoleh nilai total 899 dan persentase sebesar 82% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada aspek lingkungan berada pada kategori tinggi. Partisipasi tahap menikmati hasil pada aspek lingkungan, parameter dengan persentase tertinggi yaitu 87% diperoleh pada pernyataan bahwa program urban farming Gang Hijau berperan dalam meningkatkan estetika lingkungan dikarenakan responden merasa sejak program diterapkan lingkungan sekitar rumah yang tadinya gersang, panas dan tidak sedap dipandang berubah menjadi hijau, sejuk dan sedap dipandang sedangkan parameter dengan persentase terendah yaitu 78% diperoleh pada pernyataan bahwa program urban farming Gang Hijau dapat menciptakan kebersihan lingkungan dengan praktik 3R dikarenakan responden merasa bahwa memang sejak diterapkan program urban farming Gang Hijau botol-botol bekas atau kaleng cat bekas bisa dimanfaatkan sebagai pot namun memang jumlah yang dibutuhkan tidak terlalu banyak untuk di daur ulang.

  • 3.4  Partisipasi Masyarakat dalam Program Urban Farming Gang Hijau

Partisipasi responden dalam pelaksanaan program merupakan kegiatan yang sangat penting pengaruhnya terhadap keberhasilan dan peningkatan fungsi

penghijauan pada lingkungan di wilayah perkotaan. Partisipasi merupakan kerjasama dari setiap individu masyarakat yang secara aktif mendukung program urban farming yang ada di Kelurahan Cempaka Putih Timur. Kegiatan dalam pelaksanaan program urban farming Gang Hijau meliputi tahap pelaksanaan dan tahap menikmati hasil. Berdasarkan analisis data dapat diketahui jumlah dan tingkat partisipasi masyarakat terhadap program urban farming Gang Hijau yang menggambarkan besarnya keterlibatan masyarakat dalam berjalannya program, dapat di lihat pada Tabel 8.

Tabel 8

Distribusi Gabungan Skor Partisipasi Keseluruhan dalam Program Urban Farming

Gang Hijau, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat

No

Tahapan partisipasi

Indikator

Skor

Total skor

Persentase

Ketercapaian(%)

Ket

1.

Partisipasi pada

Partisipasi

tahap pelaksanaan

fisik Partisipasi non fisik

J- ‰/ ^J

1090

2448

61,8%

CT

2.

Partisipasi pada

Aspek sosial

1169

tahap menikmati

Aspek

697

hasil

ekonomi

2765

73,9%

T

Aspek lingkungan

899

Partisipasi

5213

70,5%

T

Sumber : Data diolah dari lampiran, 2019.

Berdasarkan Tabel 8 yang diolah dari lampiran kuesioner partisipasi dalam tahap pelaksanaan dan tahap menikmati hasil dengan total pertanyaan sebanyak 38 yang diisi oleh 44 responden memperoleh nilai total sebesar 5213 dan persentase sebesar 70,5% sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada program urban farming Gang Hijau di Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat berada pada kategori tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa partisipasi akan berjalan dengan baik apabila masyarakat merasa partisipasi yang mereka berikan dapat membawa dampak positif, sehingga kontribusi yang telah diberikan dari partisipasi tersebut dapat berpengaruh langsung pada kehidupan yang mereka jalani.

  • 4.    Kesimpulan dan Saran

    • 4.1    Kesimpulan

Berdasarkan pada analisis data yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dalam penelitian ini sebagai berikut :

  • 1.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam program urban farming Gang Hijau lebih banyak perempuan berumur antara 41 – 60 tahun yang berpartisipasi dengan tingkat pendidikan mencapai sarjana dengan tingkat pendapatan mayoritas per bulan antara Rp. 5.500.000 sampai dengan Rp. 7.500.000 dan bekerja sebagai karyawan swasta serta telah lama menetap di RT 10/03 dengan rentang waktu antara 20 sampai dengan 40 tahun.

  • 2.    Partisipasi masyakarat pada tahap pelaksanaan yang terbagi menjadi dua yaitu, partisipasi fisik dan partisipasi non fisik memperoleh persentase 61,8% sehingga tingkat partisipasi dikatakan dalam kategori cukup tinggi.

  • 3.    Partisipasi masyarakat pada tahap menikmati hasil yang terbagi menjadi tiga yaitu aspek sosial, aspek ekonomi dan aspek lingkungan memperoleh persentase 73,9% sehingga tingkat partisipasi dikatakan dalam kategori tinggi

  • 4.2    Saran

Berdasarkan dari kesimpulan diatas, maka dikemukakan saran berikut ini :

  • 1.    Sebaiknya dalam urban farming Gang Hijau di RW 03 ditambahi dengan komoditas yang nilai jualnya tinggi serta pemerintah melalui penugasan PPL memberikan pelatihan mengenai cara untuk menambah nilai jual dari hasil panen yang dirubah menjadi bentuk olahan.

  • 2.    Perlu ada kajian lanjutan mengenai faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh dalam terhadap partisipasi masyarakat dalam program urban farming dan analisis hubungan karakteristik masyarakat dengan partisipasi masyarakat.

  • 5.    Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya telah melancarkan penelitian ini. Penelitian ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Kelurahan Cempaka Putih Timur serta masyarakat RT 10 RW 03 atas izin yang diberikan, dan seluruh responden penelitian yang telah bekerja sama dengan baik dalam pengumpulan data penelitian.

Daftar Pustaka

Edwards, Fay. 2016. Pertanian Perkotaan Sebagai Solusi untuk Masalah Urbanisasi di Kota Bandung. Universitas Katolik Parahyangan Bandung

ILO. 2015. Tren ketenagakerjaan dan sosial di Indonesia 2014–2015: Memperkuat daya saing dan produktivitas melalui pekerjaan layak/Kantor Perburuhan Internasional. Jakarta: ILO

Kirmanto, D., I. Ernawi and R. Djakapermana. 2012. Indonesia Green City Development Program: an Urban Reform. Jakarta: 48th ISOCORP Congress

Muarif, Nurul. 2017. “Perencanaan Komik Pengenalan Urban Farming Bagi Remaja Kota Yogyakarta”. [Jurnal]. Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Sampeiling, Sostenis et al. 2012.  Kebijakan Pengembangan Pertanian Kota

Berkelanjutan: Studi Kasus di DKI Jakarta”. [Jurnal] Institut Pertanian Bogor Sekaran, Uma. 2011. Research methods for Business Edisi 1 dan 2. Jakarta : Salemba Empat

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta Sutopo. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS

Widodo. 2017. Metodologi Penelitian Populer & Praktis. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

https://ojs.unud.ac.id/index.php/JAA

353