ISSN: 2303-1395 E-JURNAL MEDIKA, VOL. 6 NO.2, FEBRUARI, 2017

HUBUNGAN SIKAP DUDUK DAN LAMA DUDUK TERHADAP KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGRAJIN PERAK DI DESA CELUK, KECAMATAN SUKAWATI, KABUPATEN GIANYAR

Ni Komang Sri Padmiswari B1, I Putu Adiartha Griadhi2 1Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 2Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

ABSTRAK

Nyeri punggung bawah merupakan suatu sindroma nyeri yang terjadi pada region punggung bagian bawah yang merupakan akibat dari berbagai sebab. Gangguan ini paling banyak ditemukan di tempat kerja, terutama pada mereka yang beraktivitas dengan sikap duduk yang salah dan duduk lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan sikap duduk dan lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Penelitian ini menggunakan metode analitik cross-sectional dengan menggunakan data primer melalui kuisioner dan wawancara. Populasi sampel penelitian ini adalah pengrajin perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Dengan menggunakan metode random sampling menghasilkan 48 sampel. Analisis data menggunakan SPSS for Windows versi 21.0 dengan tingkat kemaknaan 0,05. Pada analisis bivariat menunjukkan didapatkan hubungan sikap duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak (p=0,030) dan lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak (p=0,005). Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap duduk dan lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut masih sangat diperlukan perhatian dan perubahan dari sikap duduk dan lama duduknya bagi pengrajin perak dan pemilik usaha perak untuk menunjang kesehatan para pengrajin perak.

Kata Kunci: Nyeri punggung bawah, Sikap duduk, Lama duduk

ABSTRACT

Low back pain is a syndrome that occurs in the lower back region which is originated from various causes. This disease is commonly found in the workplace, especially in those who have activity with the wrong sitting position and prolonged sitting. The Purpose of this study is to determine the correlation between prolonged-sitting posture and low back pain among silversmith in Celuk Village, Sukawati District, Gianyar Regency. The methods of this study is analytic Cross-sectional study using primary data through questionnaires and interviews. The sample populations of this study are a silversmith in Celuk Village, Sukawati District, Gianyar Regency. Using a random sampling method resulted in 48 samples. Data analysis using SPSS for Windows version 21.0 of the significance level of 0.05. The bivariate analysis showed correlation sitting attitude towards complaints of lower back pain in the silversmith (p = 0.030) and prolonged sitting towards complaints of lower back pain (p = 0.005). There is a significant correlation between sitting attitude and prolonged sitting towards complaint of low back pain in a silversmith in Celuk Village, Sukawati District, Gianyar

Regency. Based on the results of these studies are still needed attention and a change of sitting attitude and prolonged sitting for silversmith and the owners of silver business to support health silversmith.

Keywords: Low back pain, sitting attitude, prolonged sitting

PENDAHULUAN

Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar merupakan sebuah desa objek wisata kerajinan perak atau sebagai pusatnya perak di Bali. Hampir semua penduduk Desa Celuk merupakan pengrajin perak. Sikap kerja pengrajin perak adalah sikap kerja statis yaitu sikap duduk di kursi menghadap meja dengan punggung membungkuk, kaki kanan digunakan untuk menekan pompa kompor yang dipergunakan untuk mematri produk perhiasan. Sikap kerja ini dilakukan rerata 8-9 jam/hari1. Apabila kebiasaan tersebut terjadi dalam waktu yang lama dan terjadi secara repetitive maka akan dapat menimbulkan keluhan muskuloskeletal yang bisa menurunkan kinerja seseorang2.

Salah satu dari penyakit akibat kerja yang menjadi masalah kesehatan yang sangat umum terjadi di dunia dan mempengaruhi hampir semua populasi adalah LBP (Low Back Pain) atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan NPB (nyeri punggung bawah). Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang dirasakan pada region punggung bagian bawah yang terjadi akibat dari berbagai

sebab. Keluhan ini sangat banyak ditemukan di tempat kerja, yaitu pada mereka yang beraktivitas dengan posisi tubuh yang salah3.

Prevalensi     untuk     nyeri

musculoskeletal, termasuk NPB, dideskripsikan     sebagai     sebuah

epidemik. Sekitar 80% dari populasi pernah menderita nyeri punggung bawah paling tidak sekali dalam hidupnya4. Hasil dari Departemen Kesehatan RI didapatkan 40,5% dari pekerja memiliki keluhan kesehatan yang berhubungan pada pekerjaannya salah satunya adalah gangguan otot rangka yaitu 16% 5.

Insiden NPB di populasi ditemukan sebanyak 15-20%. Dan 98% di antaranya disebabkan oleh faktor mekanikal karena ketegangan otot dan ligamentum tulang belakang. Salah satu faktor karena gangguan mekanikal tersebut adalah duduk lama. Penelitian menunjukkan sekitar 39,7 - 60% orang dewasa mengalami NPB akibat duduk lama6.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2016 bertempat di 2

http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum


wilayah Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Menggunakan metode cross sectional analitik untuk mempelajari korelasi sikap duduk dan lama duduk terhadap nyeri punggung belakang dan faktor resikonya dengan cara pendekatan, observasi (pengamatan) atau pengumpulan data sekaligus pada satu waktu.

Jumlah sampelnya adalah 48 dengan kriteria sampel adalah pengrajin perak yang berusia 25-65 tahun di Celuk Sukawati. Sampel diambil dengan menggunakan cara simple random sampling. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat yaitu uji chi-square dan uji fisher.

HASIL

Pada tabel 1, dapat dilihat karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebesar 47.9% (23 orang) dan perempuan sebesar 52,1% (25 orang). Berdasarkan usia didapatkan 25-39 tahun dengan presentasenya sebesar 72,9 % (35 orang), dan 40-54 tahun sebesar 27,1% (13 orang). Dari masa kerja <5 tahun sebesar 29,2% (14 orang) dan > 5 tahun sebesar 70,8% (34 orang). Untuk kebiasaan merokok, yang merokok

sebesar 18,8% (9 orang) dan yang tidak merokok sebesar 81,3% (39 orang). Untuk IMT yang beresiko (>25,0) sebesar 22,9% (11 orang) dan IMT yang tidak beresiko (≤25,0) sebesar 77,1% (37 orang). Untuk kebiasaan olahraga dalam seminggu. yang berolahraga 1 kali dalam seminggu sebesar 64,6% (31 orang) dan > 1 kali dalam seminggu sebesar 35,4% (17 orang). Sampel yang memiliki keluhan nyeri pada punggung bawah kemudian dibagi menjadi 2 golongan, sedikit terganggu dengan skor PDI (pain disability index) 0-35 sebesar 29,2% (14 orang) dan sangat terganggu dengan skor PDI 36-70 sebesar 4,2% (2 orang).

Untuk karakteristik sampel berdasarkan sikap duduknya, yang memiliki sikap duduk yang ergonomis dengan presentasenya sebesar 33,3% (16 orang) dan sikap duduk yang tidak ergonomis sebesar 66,7% (32 orang). Dari lama duduknya yang duduk <4 jam dengan presentasenya sebesar 33,3% (16 orang) dan lama duduk yang >4 jam sebesar 66,7% (32 orang). Dan dari keluhan nyeri punggung bawah dibagi menjadi NPB dan tidak NPB. Dari hasil terlihat keluhan NPB dengan presentasenya sebesar 33,3% (16 orang) dan tidak NPB sebesar 66,7% (32 orang).

Tabel 1. Distribusi Karakteristik Sampel

Karakteristik

N

%

Jenis Kelamin

Laki-laki

23

47.9

Perempuan

25

52.1

Usia

25-39 tahun

35

72.9

40-54 tahun

13

27.1

Masa Kerja

<5 tahun

14

29.2

>5 tahun

34

70.8

Kebiasaan

Merokok

Ya

9

18.8

Tidak

39

81.3

IMT

Beresiko

11

22.9

Tidak Beresiko

37

77.1

Kebiasaan

Olahraga

1 Kali

31

64.6

> 1 kali

17

35.4

PDI

Sedikit

14

29.2

Terganggu

Sangat

2

4.2

Terganggu

Sikap Duduk

Ergonomis

16

33.3

Tidak

32

66.7

Ergonomis

Lama Duduk

< 4 jam

16

33.3

> 4 jam

32

66.7

Keluhan NPB

NPB

16

33.3

Tidak NPB

32

66.7

Total

48

100.0%

Pada tabel 2 memperlihatkan hubungan dari setiap faktor risiko (Jenis kelamin, usia, masa kerja, kebiasaan merokok, IMT dan kebiasaan olahraga) terhadap keluhan NPB.

Tabel 2. Hubungan Antara Faktor

Risiko Terhadap Keluhan NPB

Jenis

Kelamin

Keluhan Nyeri

Punggung Bawah

Total

Nilai

p

Ada

Tidak

N

%

N

%

N

%

Laki-laki

8

16.6

15

31.3

23

47.9

Perempua n

8

16.6

17

35.4

25

52.1

0.838

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

Usia

25-39 tahun

10

20.8

25

52.1

35

72.9

0.310

40-54 tahun

6

12.5

7

14.6

13

27.1

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

Masa Kerja

<5 th

6

12.5

8

16.7

14

29.2

> 5 tah

10

20.8

24

50

34

70.8

0.503

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

Kebiasaan Merokok

Merokok

2

4.2

7

14.6

9

18.8

Tidak merokok

14

29.1

25

52.1

39

81.2

0.697

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

IMT

25,0

11

22.9

26

54.2

37

77.1

> 25,0

5

10.4

6

12.5

11

22.9

0.468

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

Kebiasaan Olahraga

1 kali

9

18.8

22

45.8

31

64.6

> 1 kali

7

14.6

10

20.8

17

35.4

0.393

Total

16

33.4

32

66.6

48

100

Pada tabel 2 menunjukkan, lebih banyak pengrajin perempuan dari pada laki-laki, dan untuk perempuan serta laki-laki berdasarkan keluhan NPB proporsinya sama. Dari uji chi square yang dilakukan, untuk p value = 0,838 sehingga tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap NPB.

Pada tabel 2 menunjukkan usia pengrajin perak lebih banyak direntang usia 25-39 tahun yang mengalami NPB dengan rata-rata usia 34,90 tahun. Dari uji fisher yang dilakukan, untuk p value = 0.310 berarti tidak terdapat hubungan antara usia dengan keluhan NPB.

Tabel 2 menunjukkan masa kerja yang > 5 tahun lebih banyak mengalamin NPB. Dari uji fisher yang dilakukan didapatkan p value = 0,503 sehingga tidak adanya hubungan antara masa kerja dengan keluhan NPB.

Tabel 2 menunjukkan yang paling banyak mengalami keluhan NPB adalah pengrajin yang tidak merokok. Dari uji fisher didapatkan p value = 0,679 yang berarti tidak ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan NPB.

Tabel 2 menunjukkan yang lebih banyak mengalami keluhan NPB adalah pengrajin dengan IMT ≤ 25,0.

Dari uji fisher didapatkan p value = 0,468 sehingga tidak terdapat hubungan antara IMT dengan keluhan NPB.

Tabel 2 menunjukkan yang lebih banyak mengalami keluhan NPB adalah pengrajin yang melakukan kebiasaan olahraga 1 kali dalam seminggu. Dari uji chi square yang dilakukan, untuk p value = 0,393 sehingga tidak terdapat hubungan antara kebiasaan olahraga dengan keluhan NPB.

Tabel 3. Hubungan Antara Sikap Duduk

dan Lama Terhadap Keluhan NPB

Sikap

Duduk

Keluhan Nyeri

Punggung Bawah

Total

Nilai p

Ada

Tidak

N

%

N

%

N

%

Ergonomis

2

4.1

14

29.2

16

33.3

Tidak

Ergonomis

14

29.2

18

37.5

32

66.7

0.030

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

Lama Duduk

< 4 jam

1

2.0

15

31.3

16

33.3

> 4 jam

15

31.3

17

35.4

32

66.7

0.005

Total

16

33.3

32

66.7

48

100

Pada tabel 3 menunjukkan yang lebih banyak mengalami keluhan NPB adalah pengrajin dengan sikap duduk yang tidak ergonomis. Dari uji chi square yang dilakukan didapatkan p

value = 0,030 sehingga tidak adanya hubungan antara sikap duduk terhadap keluhan NPB pada pengrajin perak di Sukawati.

Pada tabel 3 menunjukkan yang lebih banyak mengalami keluhan NPB adalah pengrajin dengan lama duduk > 4 jam dalam sehari. Dari uji chi square didapatkan p value = 0,005 sehingga terdapat hubungan antara lama duduk > 4 jam terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak di Sukawati

PEMBAHASAN

Jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat resiko keluhan otot. Perbandingan otot antara pria dan wanita 3:1. Ini dapat terjadi dikarenakan secara fisiologis, kemampuan otot wanita lebih rendah dari pada kemampuan otot pria7.

Keluhan otot skeletal umumnya dapat mulai dirasakan pada usia kerja 25-65 tahun. Tingkat keluhan otot skeletal akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. dikarenakan pada umur setengah baya, ketahanan dan kekuatan otot akan mulai terjadi penurunan, menyebabkan resiko terjadi keluhan otot meningkat 7.

Resiko NPB sangat berhubungan dengan lama kerja.

Semakin seseorang tersebut memiliki masa kerja yang lama, akan semakin tinggi resiko untuk mengalami nyeri punggung7.

Kebiasaan merokok dapat menyebabkan nyeri punggung. Perokok memiliki peluang untuk mengalami gangguan pada peredaran darahnya, termasuk gangguan peredaran darahnya ke tulang belakang. Namun kebiasaan merokok para pengrajin perak akan mempengaruhi kesehatan dirinya maupun orang lain7.

Seseorang yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) ≥ 25 atau menderita kegemukan memiliki lemak tubuh yang berlebih. Lemak tubuh yang berlebih adalah faktor risiko terhadap munculnya keluhan nyeri punggung bawah8.

Keluhan NPB pada pekerja yang berolahraga lebih sedikit, dibandingkan dengan pekerja yang tidak berolahraga. Kesehatan jasmani dan kebugaran fisik akan dipengaruhi oleh kebiasaan olahraga. Olahraga dapat melatih fungsi-fungsi kerja otot sehingga keluhan otot lebih jarang akan terjadi. Pekerja yang tidak berolahraga dengan intensitas 1 kali atau lebih dalam seminggu mempunyai kemungkinan besar untuk terjadinya nyeri punggung bawah9.

Untuk membagi sikap duduk yang ergonomis dan tidak ergonomis pada pengrajin perak menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assesment). RULA merupakan metode ergonomi yang dilakukan untuk menilai dan menginvestigasikan posisi kerja pada tubuh bagian atas. Apabila skor akhir didapatkan 1 sampai 2 = postur dapat diterima (sikap yang ergonomis), apabila skor yang didapatkan diatas 2 sampai 7 = postur duduk dianggap sikap yang tidak ergonomis dan perlu investigasi lanjut dan penanganan/perubahan segera10. Pada penelitian ini RULA diobservasi langsung dengan tabel RULA kepada sampel penelitian disaat dilakukan penelitian di lapangan. Sikap duduk memiliki hubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah. Sesuai dengan kajian pustaka yang dilakukan oleh ahmad affan dkk didapatkan hubungan sikap duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada penjahit vermak levis di Pasar Penjaringan11. Sikap duduk yang tidak ergonomis yaitu membungkuk memiliki kecenderungan untuk menderita NPB 2,58 kali lebih tinggi dibandingkan dengan sikap badan yang tegak. Melakukan sikap duduk yang membungkuk lebih dari 30o akan menimbulkan keadaan kifosis dari

vertebra lumbalis, dan kifosis dari lumbal ini nantinya akan menyebabkan peregangan dari ligamentum longitudinalis posterior, dan mengakibatkan peningkatan tekanan pada diskus intervertebralis yang akan meningkatkan tegangan pada bagian annulus fibrosus regio posterior dan penekanan nukleus pulposus12.

Lama duduk > 4 jam mempunyai hubungan dengan keluhan NPB. Sesuai kajian pustaka dari Samara dkk dengan metode case control, menyatakan bahwa duduk selama 1,5 sampai 5 jam mempunyai risiko 2,35 kali lebih besar untuk terjadinya nyeri punggung bawah. Pekerja yang memiliki posisi duduk selama durasi setengah hari waktu kerja atau lebih memiliki risiko 1,6 kali untuk menderita nyeri punggung bawah6. Pada penelitian Sari dkk menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara lama duduk dan keluhan LBP pada operator komputer perusahaan travel13. Demikian pula pada penelitian Sumekar dan Natalia menyatakan bahwa lama duduk >4 jam menyebabkan terjadinya NPB pada hampir seluruh sampel penelitian14. Semakin lama durasi dari seseorang untuk duduk maka otot-otot sekitar punggung akan mengalami ketegangan dan ligamentum-

ligamentum punggung akan meregang , khususnya pada ligamentum longitudinalis posterior akan makin bertambah. Lapisan ligamentum posterior adalah lapisan yang paling tipis di antara ligamentum lain setinggi L2-L5 yang merupakan daerah NPB. Kondisi tersebut menyebabkan lebih sering terjadi gangguan sehingga akan menyebabkan iskemia jaringan. Dan terdapat juga jaringan peka nyeri yang banyak di sekitar vertebra lumbalis sehingga mempunyai kesempatan lebih besar untuk menjadi nyeri oleh karena kondisi hiperalgesia12. Lama duduk juga dapat menimbulkan terjadinya spasme otot atau ketegangan pada daerah pantat khusunya otot piriformis15. Pekerja perlu diberikan istirahat aktif untuk dapat menghindari pekerjaan yang monoton dalam jangka waktu lama, dan relaksasi untuk mengendorkan ketegangan saraf dan otot akibat kerja. Sehingga kejenuhan kerja dapat dikurangi, memulihkan kesegaran mental, dan akhirnya dapat meningkatkan produktivitas kerja16. Selain itu dapat juga dilakukan perbaikan terhadap stasiun kerja para pengrajin perak. Penelitian yang dilakukan oleh Putri menunjukan perbaikan stasiun kerja dapat

menurunkan keluhan muskuloskeletal pada perajin ukir kayu17.

SIMPULAN

Derajat keluhan nyeri punggung bawah yang menggunakan skor PDI (Pain disability index) pada pengrajin perak di Celuk sebagian besar mengalami tingkat nyeri yang tidak terlalu menggangu dalam tujuh area aktivitas kehidupannya.

Terdapat hubungan antara sikap duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak Sukawati. Dan terdapat juga hubungan antara lama duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah pada pengrajin perak Sukawati.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1.    Susetyo, Titin O., &Suyasning H. Prevalensi Keluhan Subjektif Atau Kelelahan Karena Sikap Kerja Yang Tidak Ergonomis Pada Pengrajin Perak. Jurnal Teknologi. 2008;1(2), 144.

  • 2.    Puspa, DK., Nopi NL., & Dinata, IMK.     Intervensi Intergrated

Neuromuscular          Inhibition

Technique (INIT) dan Infrared Lebih Baik Dalam Menurunkan Nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius Dibanding Intervensi Myofascial Release

Technique (MRT) dan Infrared Pada Mahasiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Majalah     Ilmiah     Fisioterapi

Indonesia. 2016; Vol.2, No.1.

  • 3.    Pratiwi M., Yuliani S., & Bina K. Beberapa Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Penjual Jamu Gendong. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. 2009; 4(1), 61-62.

  • 4.    Delitto A, George S., Dillen L., Whitman M, Sowa G, Shekelle P., dkk. Low back painclinical practice guidelines linked to the international classification of functioning, disability, and health from the orthopaedic section of the american physical therapy association. J Orthop Sports Phys Ther. 2012; 42(4): A11.

  • 5.    Departemen     kesehatan     RI.

Direktorat Bina Kesehatan Kerja, Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Strategi Nasional Kesehatan  Kerja di  Indonesia.

Jakarta. 2007;10-11

  • 6.    Samara D. Lama dan sikap duduk sebagai factor resiko terjadinya nyeri pinggang bawah. J Kedokter Trisakti. 2004; 23(2).

  • 7.    Ramadhani A., Sri W. Gambaran Gangguan Fungsional Dan Kualitas

Hidup Pada Pasien Low Back Pain Mekanik. ejournal-s1.undip. 2015; 4(4), 265.

  • 8.    Septiawan.      Faktor      Yang

Berhubungan  Dengan  Keluhan

Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Bangunan Di PT Mikroland Property Development Semarang. Semarang : Universitas Negeri Semarang; 2013.

  • 9.    Munir, S. Analisis Nyeri Punggung Bawah Pada Pekerja Bagian Final Packing dan Part Supply di PT.X. Jakarta : Universitas  Indonesia

Fakultas Kesehatan Masyarakat; 2012

  • 10.    Sutrio, Oktri M. Analisis Pengukuran RULA dan REBA Petugas pada Pengangkatan Barang di Gudang dengan Menggunakan Software Ergolntelligence (Studi kasus: Petugas Pembawa Barang di Toko Dewi Bandung). Prosiding Seminar Nasionat Ritektra 2011; 2011, 204-206

  • 11.    Ahmad, Farid B. 2014. Hubungan Posisi Duduk Dengan Nyeri Punggung Bawah Pada Penjahit Vermak Levis Di Pasar Tanah Pasir Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara. Ejurnal esaunggul.2014; 11(3).

  • 12.    Yusuf, Dyan R., & Iit F. Hubungan Antara Lama Dan Sikap Duduk Terhadap Kejadian Nyeri Punggung Bawah Di Poliklinik Saraf RSUD Dokter Soedarso Pontianak. IPI Jurnal. 2014.

  • 13.    Sari, Theresia, I., &Engeline, A. Hubungan Lama Duduk Dengan Kejadian Low Back Pain Pada Operator Komputer Perusahaan Travel Di Manado. Jurnal e-Clinic (eCl). 2015; 3(1), 687.

  • 14.    Sumekar, Natalia D. Nyeri Punggung pada Operator Komputer Akibat Posisi dan Lama Duduk. Bandung     Medical     Journal

Universitas    Padjajaran.    2010;

42(3):123-7

  • 15.    Mediastama,  IG., Dedi,  S.,  &

Adiartha, G. Hubungan Antara Lama Duduk Dengan Sindroma Piriformis Pada Pemain Game Online Di Game Center GO-KOOL Denpasar.     Majalah     Ilmiah

Fisioterapi. 2015; Vol. 2, No.1.

  • 16.    Dinata, IMK., Adiputra, N & Adiatmika, IPG. Sikap Kerja Duduk - Berdiri Bergantian Menurunkan Kelelahan,Keluhan Muskuloskeletal Serta Meningkatkan Produktivitas Kerja Penyetrika Wanita di Rumah Tangga. Jurnal Ergonomi Indonesia. 2015; Vol.1, No.1

  • 17.    Putri, PDW., Adiartha, G. Perbaikan Stasiun Kerja Menurunkan Aktivitas Listrik Otot Dan Keluhan Muskuloskeletal Pada Perajin Ukir Kayu Di Desa Batuan Gianyar Bali. E-Jurnal Medika Udayana. 2016 ; Vol.5, No.1

10

http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum