Pengaruh Fashion Involvement, Kualitas Produk dan Kewajaran Harga Terhadap Impulse Buying
on
3695
PENGARUH FASHION INVOLVEMENT, KUALITAS PRODUK DAN KEWAJARAN HARGA TERHADAP IMPULSE BUYING
A A Ngr Indra Wiguna1
2
I Nyoman Nurcaya
1Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia e-mail: indraiguna77@gmail.com/ telp: +62 83119911421 2
2Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menguji dan menganalisis pengaruh fashion involvement, kualitas produk dan kewajaran harga terhadap impulse buying pada Nevada Fashion. Jumlah sampellyang diambil sebanyak 112 responden, dengan metodepPurposivemsampling. Pengumpulanndata dilakukan melaluiikuesioner. Teknikaanalisis yangmdigunakan adalahhregresi linearrberganda. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa, fashion involvement, kualitas produk dan kewajaran harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying pada Nevada Fashion di Matahari Department Store. Pihak Nevada fashion disarankan untuk dapat meningkatkan fashion involvement, kualitas produk dan harga yang sesuai agar mampu menarik minat konsumen melakukan pembelian tak terduga.
Kata kunci: fashion involvement, kualitas produk, kewajaran harga, impulse buying.
Abstract
The purpose of this study was to examine and analyze the influence of fashion involvement, quality of product and price reasonableness against impulse buying on fashion Nevada. The number of samples taken were 112 respondents, with a purposive sampling method. Data collected through questionnaires. The analysis techniqueuusediis multiplellinear regression. Basedoon theaanalysis it was found that, fashion involvement, quality of product and price reasonableness positive and significant impact on impulse buying in Nevada Fashion in Matahari Department Store. Nevada fashion parties are advised to be able to increase the involvement of fashion, quality products and the corresponding price in order to attract consumers to purchase unexpected.
Keywords: fashion involvement, quality of product, price reasonableness, impulse buying
PENDAHULUAN
Saat ini, usaha ritel di Indonesia telah mengalami perkembangan. Perkembangan yang terjadi mengakibatkan adanya persaingan diantara pengusaha ritel. Salah satu usaha ritel yang berkembang di Indonesia adalah Matahari department store. Matahari Department Store adalah department store ritel terbesar di Indonesia untuk produk busana fashion, produk kecantikan dan produk perlengkapan rumah tangga.
Amiri et al (2012) menyatakan, seiring dengan kebutuhan konsumen yang
semakin bervariasi, peluang bagi para pelaku bisnis terutama dalam bidang fashion telah mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan pengaruh gaya hidup dan daya beli masyarakat yang mengalami perubahan. Salah satu produk fashion yang dikenal masyarakat dan dijual oleh pihak Matahari Department Store adalah produk Nevada. Nevada salah satu produk fashion yang menerima penghargaan setiap tahunnya.
Trimzi (2009) menyatakan bahwa, berdasarkan hasil survey yang dilakukan sebelumnya, 85 persen konsumen di Indonesia cenderung melakukan pembelian impulse. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa 39 persen dari semua pembelian di department store dan 67 persen dari semua pembelian di toko umum adalah impulse buying (Ying-Ping Liang, 2008). Adanya pembelian impulse ini memberikan pengaruh positif bagi peritel fashion. Pemahaman mengenai perilaku impulse buying dapat memberikan pedoman bagi retailer dalam mengembangkan strategi yang menimbulkan peluang dalam berbelanja (Park et al. 2006).
Impulse buying menurut Rook dalam Silvera et al. (2008) merupakan pembelian mendadak yang tidak direncanakan, perilaku pembelian ini sering didasarkan pada adanya stimulus langsung dan sering disertai dengan perasaan kegembiraan, kesenangan dan / atau dorongan kuat untuk membeli. Ada dua faktor yang mempengaruhi impulse buying yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Menurut Herukalpiko dkk. (2013) yang menjadi faktor internal dari perilaku
impulse buying adalah isyarat internal konsumen dan karakteristik kepribadian
konsumen terhadap suatu produk. Rangsangan internal dalam penelitian ini adalah fashioniinvolvment. Amiri (2012) menyatakan fashion involvement merupakan ketertarikan konsumen pada kategori produk fashion (seperti pakaian) yang didorong oleh kebutuhan dan keterikatan produk tersebut. Park et al. (2006) menemukan hubungan langsung antara fashion involvement dan pembelian pakaian.
Selanjutnya, faktor eksternal dari pembelian impulse buying adalah rangsanganneksternal pembelianiimpulsif mengacuupada rangsangannpemasaran yangddikontrol danndilakukan olehppemasar (Maymand & Mostafa, 2011). Dawson dan Kim (2009: 23) menyatakan, faktor eksternal memegang peran penting karena faktor eksternal inilah yang dapat dimaksimalkan dan diatur perannya oleh peritel untuk dapat memikat konsumen untuk melakukan impulse buying. Faktor eksternal dalam penelitian ini adalah kualitas produk dan kewajaran harga.
Kotler & Amstrong, (2008:156) menyatakan kualitas produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Faktor eksternal selanjutnya adalah kewajaran harga. Kotler dan Amstrong (2008:180) menyatakan harga adalah sejumlah uang yang ditukarkan untuk sebuah produk atau jasa.
Fashion Nevada yang sering mengikuti perkembangan gaya berbusana pada remaja dan dewasa membuat produk tersebut diminati oleh para pengunjung
Matahari Department Store di denpasar. Kualitas dan harga menjadi salah satu
faktor utama pembelian produk Nevada karena produk-produk fashion Nevada
terbuat dari bahan yang nyaman terdiri dari 100 persen cotton dan juga harga yang ditawarkan produk Nevada sangat terjangkau. Berdasarkan data penelitian dari berbagai sumber yang ada di atas bahwa, fashion involment, kualitas produk dan harga penting untuk diperhatikan bagi Nevada dalam menarik minat pelanggannya secara tidak terduga. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh fashion involment, kualitas produk dan harga terhadap Impulse Buying Produk Nevada di Matahari Department Store Denpasar.
METODE
Penelitian ini dilakukan pada Matahari Departement Store Denpasar yang beralamat dijalan Jl. Dewi Sartika No. 4G, Denpasar, Bali. Dengan objek penelitian tentang impulse buying pada produk Nevada yang dipengaruhi dengan fashion involvement, kualitas produk dan kewajaran harga. Populasinya adalah semua orang yang pernah berbelanja Nevada di Matahari Denpasar secara tidak terduga. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 112 orang responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Pengumpulan data ini dilakukan melalui wawancara dan kuesioner. Sumber penelitian didapat melalui cara primer dan sekunder, jenissdata yang digunakan dalammpenelitian ini adalah dataakuantitatif yangddiolah menggunakannprogram spss.15.0 forrWindows. Variabel0operasional dalammpenelitian dapattdilihat pada
Tabell1 berikut:
Tabel 1
Klasifikasi Konstruk dan Indikator Konstruk
|
Klasifikasi Konstruk |
Konstruk |
Indikator |
Sumber |
|
Eksogen |
Fashion involvement (X1) |
tertarik |
- Japarindo (2011) |
|
Kualitas Produk (X2) |
spesifikasi
|
- Tjiptono (2002:115) - Markoni (2009) | |
|
Kewajaran Harga (X3) |
|
- Kotler (2002) - Herukalpiko (2013) - Consuegra (2007) | |
|
Endogen |
Impulse buying (Y) |
|
- Ma’aruf (2005:64) - Bayle dan Nancarrow (1998) dalam Manik Yistiani (2012) |
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil dari 112 orang responden didapatkan hasil, sebagian besar responden adalah perempuan. Berdasarkan jenis pekerjaan yang mendominasi adalah pelajar/mahasiswa. Berdasarkan usia, mayoritas responden berusia di antara 17-26. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang mendominasi adalah responden dengan tingkat pendidikan SMA..
Uji Validitas Dan Reliabilitas
Hasil uji validitas menunjukan hasil bahwa nilai korelasi dari seluruh indicator masing-masing variabel antara 0,697 dan 0,857, dimana hasil tersebut berada diatas 0,3, sehingga dinyatakan valid. Hasil uji reliabilitas menunjukan nilai alpha cronbach seluruh variabel penelitian berada diantara 0,665 hingga 0,833, dimana hasil tersebut diatas 0,6, sehingga dinyatakan reliabel.
Analisis Faktor
Tabel 2
Hasil Analisis Faktor
|
Nilai Validitas |
Cut - Off - Value |
|
KMO (Kaiser Meyer Olkin) |
0,598-0,782 |
|
X2 (Chi Square) |
50,534-119,191 |
|
Significance Chi Square |
0,000 |
|
Eigen Value |
1,803-2,417 |
|
Varians kumulatif |
60,112%-60,454 |
|
Anti Image |
0,591-0,809 |
|
Factor Loading |
0,668-0,856 |
Sumber : Hasil Olahan SPSS
Hasilaanalisis faktormmenunjukan nilaiiKMO (KaiseriMayer,Oikin) seluruh variabelllebih besarrdari 0,50, nilaiichi square telah sesuai dengan ketentuan yaitu diharapkan besar, nilai eign value seluruh variabel lebih besar dari 1,00. Nilai varians kumulatif seluruh variabel lebih besar dari 60%, nilai MSA lebih besar dari 0,50 dan keseluruhan nilai Loading Factor berada di atas 0,50. Berdasarkan hal tersebut dinyatakan seluruh indakator valid membentuk variabel laten
penelitian.
Analisis Regresi Linear Berganda
Pada Tabel 3 menunjukkan hasil analisis regresi linear berganda dari pengaruh fashion involment, kualitas produk dan kewajaran harga terhadap keputusan impulse buying. Oleh karena itu digunakannanalisis regresiilinier berganda,,t-testidannF-test.
Tabel 3
Rekapitulasi Hasil Olahan SPSS
|
Regresi Linier Berganda |
Y= |
0,276 (X1) + |
0,381 (X2) + |
0,312 (X3) |
|
Standart Error |
0,081 |
0,075 |
0,071 | |
|
t-test |
3,430 |
5,072 |
4,369 | |
|
Sig t |
0,001 |
0,000 |
0,000 |
R = 0,881
R square = 0,776
F ratio = 124,447
Sig F = 0,000
Sumber: Output SPSS
Hasil Uji Asumsi Klasik
-
1) Uji normalitas
Hasil uji normalitas melalui analisis Kolmogorov-Smirnov menunjukan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,807 > 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi dengan normal.
-
2) Uji multikolinearitas
Tabel 4 menunjukkan hasil ujiimultikolinearitas dimana didapat bahwaanilai toleranceivariabel bebasssebesar 0,320 hingga 0,408, dimana beradaadi atas 0,1 dan nilaiiVIF sebesar 2,454 hingga 3,129, dimana beradaadi bawah 10. Jadiidapat disimpulkannbahwa modelitidak terdapatigejalaamultikolinearitas.
Tabel 4
Hasil Uji Multikolinearitas
|
Variabel |
Tolerance |
VIF |
|
Fashion Involvement (X1) |
0.320 |
3,129 |
|
Kualitas Produk (X2) |
0.369 |
2,711 |
|
Kewajaran Harga (X3) |
0.408 |
2,454 |
Sumber: Output SPSS
-
3) Uji heteroskedastisitas
Tabel 5 menunjukkan hasil uji glesjer dimana didapat hasil bahwa tingkat signifikansiitiap variabelbbebas di atas 0,05. Sehinggaadapat dikatakannmodel regresiipenelitian tidak mengandung adanyaaheteroskedastisitas.
Tabel 5
Hasil Uji Heteroskedastisitas
|
Variabel |
Sig-t |
Keterangan |
|
Fashion Involvement (X1) |
0.476 |
Tidak heteros |
|
Kualitas Produk (X2) |
0.731 |
Tidak heteros |
|
Kewajaran Harga (X3) |
0.308 |
Tidak heteros |
Sumber: Output SPSS
Hasil Pengujian Hipotesis
Uji simultan (uji F)
Uji-F digunakan untukmmelihat pengaruhivariabel fashion involvement, kualitas produk dan kewajaran harga terhadap impulse buying secara simultan. Tabel 2 menunjukan F sig. 0,000 < 0,05. Hal ini berarti variabel variabel fashion involment, kualiatas produk dan kewajaran harga berpengaruh secara simultan terhadap variabel impulseebuying.
Uji parsial ( uji – t)
Uji-t digunakan untuk melihat pengaruh variabel fashion involment, kualiatas produk dan kewajaran harga berpengaruh secara parsial terhadap impulse buying.
Tabel 2 menunjukan nilai t sig. 0,001 < 0,05, hal ini berarti fashion involvement berpengaruhppositif signifikannsecara parsialmterhadap variabel impulsembuying pada produk merk Nevada. Semakin meningkatnya fashion involvement maka meningkat pula keputusan impulse buying pada produk merk Nevada. Hasil penelitian iniimendukung penelitiannsebelumnya oleh Sembiring (2013) yang memaparkan bahwa terdapat pengaruh fashion involvement terhadap impulse buying terhadap produk TOP MAN TOP MAN, TOP SHOP di Paris Van Java Bandung. Penelitian tersebut didukung oleh Japarianto (2011) menyatakan fashion involvement berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying.
Tabel 2 menunjukan nilai t sig. 0,000 < 0,05, hal ini berarti kualiatas produk berpengaruhppositif signifikan secarapparsial terhadap variabel impulseibuying pada produk merk Nevada. Semakin meningkatnya kualitas produk maka akan meningkatkan pula keputusan impulse buying pada produk merk Nevada. Hasil Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Dawson dan Kim (2009) menyatakan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap
impulse buying. Penelitian lainnya yang mendukung adalah Park dan Lennon
-
(2006) menyatakan kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying.
Tabel 2 menunjukan nilai t sig. 0,000 < 0,05, haliiniiberarti kewajaranharga berpengaruh positifssignifikan secara parsiallterhadap variabelpimpulse buying pada produk merk Nevada. Semakin meningkatnya kewajaran harga maka akan meningkatkan pula keputusan impulse buying pada produk merk Nevada. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Herukalpiko (2013) yang menyatakan bahwa kewajaran harga berpengaruh positif terhadap impulse buying. Penelitian selanjutnya oleh Hulten dan Vanyushyn (2011) menyatakan hal serupa bahwa kewajaran harga berpengaruh positif signifikan terhadap impulse buying.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka simpulan yang diperoleh sebagai berikut: Variabel fashion involvement, kualitas produk, dan kewajaran harga mempengaruhi impulse buying pada produk merk Nevada di Matahari department store.Variabel fashion involvement berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying produk merk Nevada. Variabel kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying produk merk Nevada Variabel kewajaran harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap impulse buying produk merk Nevada
Berdasarkan simpulan dan kuesioner sebelumnya, maka dapat diajukan saran seperti berikut: Saran yang dapat diberikan kepada pihak Matahari untuk
mempertahankan kebijakan yang menyangkut variabel fashion involvement, kualitas produk, dan kewajaran harga agar konsumen ingin membeli produk Nevada. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya menambahkan variabel lainya seperti promosi penjualan sebagai variabel yang meningkatkan penjualan produk dan faktor situasional yang dapat mempengaruhi impulse buying, selain itu penelitian selanjutnya diperlukan penambahan jumlah sampel dan memperluas ruang lingkup penelitian yang tidak hanya terbatas di Kota Denpasar saja.
Daftar Rujukan
Amiri, Farhad, Jasour, Jalal, Shir Pour, Mohsen, Alized. 2012. Evaluation of Effective Fashionism Involvment Factors Effects on Impulse Buying of Customer and Condition of Interrelation Between These Factors. Journal of Basic and Applied Scientific Research, 2(9),pp: 9413-9419.
Dawson, Sandy dan Minjeong Kim.(2009). External and Internal Trigger Cues of ImpulseBbuying Online. An International Journal. Emerald Article, 3(1), pp: 20-34.
Herukalpiko, Diah Kenanga D.Prihatini, Apriatni Endang & Widayanto. 2013. Pengaruh Kewajaran Harga, Atmosfer toko dan pelayanan toko terhadap perilaku impulse buying konsumen robinson department store semarang.
Hultén, Peter dan Vladimir Vanyushyn. 2011. Impulse Purchase of Groceriec in France and Sweden. Journal of Consumer Marketing, 28(5), pp: 376-384.
Japarianto, Edwin dan Sugiharto, Sugiono. 2011. Pengaruh Shopping Life Style Dan Fashion Involvement Terhadap Impulse Buying Behavior Masyarakat High Income Surabaya. Jurnal Manajemen Pemasaran, 6(1), pp: 32-41.
Kotler, P., dan Gary, Amstrong.. 2008. Prinsip – Prinsip Pemasaran. Edisi 13 jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Liang, Y. P., Liang, J. L., dan Duan, Y. S. 2008. “Relationship Between Consumer Information Exposure, Product Knowledge, and Impulse Purchasing Behavior: An Empirical Analysis”. International Journal of Management, 25(3), pp: 418-430.
Maymand, Mohammad Mahmoudi., & Mostafa Ahmadinejad. 2011. Impulse Buying: The Role of Store Environmental Stimulation and Situational Factors (An empirical investigation). African Journal of Business Management, 5(34), pp: 13057-13065.
Park, Jihye dan Sharon J. Lennon.(2006). Psychological and Environmental Antencendents of Impulse Buying Tendency in The Multichannel Shopping Context. Journal of Consumer Marketing, 23(2), pp: 58-68.
Park, Jihye, Kim, E. Y., dan Forney, J. C. 2006. “A Structural Model of Fashionoriented Impulse Buying Behavior”. Journal of Fashion Marketing and Management, 10(4), pp: 433-446.
Sembiring, Suranta. 2013. Pengaruh Shoping lifestyle, fashion involvement terhadap impulse buying, h: 1-13.
Silvera, David, Lavack, Anne dan Kropp, Fredric. 2008. Impulse buying: the role of affect, social influence, and subjective wellbeing. Journal of Consumer Marketing, 25(1), pp: 23–33.
Tirmizi, Muhammad Ali, Kashif-Ur-Rehman, dan M. Iqbal Saif. 2009, “An Empirical Study of Consumer Impulse Buying Behavior in Local Markets”. European Journal of Scientific Research, 28(4), pp: 522-532.
Discussion and feedback