JURNAL ARSITEKTUR LANSEKAP

ISSN: 2442-5508

VOL. 5, NO. 1, APRIL 2019

Identifikasi lanskap vernakular di Kampung Kusamba, Klungkung, Bali

Sandi Yuantoro1, Cokorda Gede Alit Semarajaya1*, Naniek Kohdrata1

  • 1.    Program Studi Arsitektur Pertamanan, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Jl. P. B. Sudirman, Denpasar, Indonesia

Abstract

Identification of Vernacular Landscape in Kampung Kusamba, Klungkung, Bali. Kampung Kusamba is a place of multicultural society with the majority of its population is Islam that lives harmoniously with indigenous Balinese who embrace Hinduism. The interaction of people with different cultures over a long period of time led an influence on the landscape. These different cultures bring architectural characteristics and unique landscape according to their own culture. The diversity of architecture and landscape which exist in Kampung Kusamba makes the vernacular landscape become different and has its own distinctive characteristic. The different of societal cultures affect the landscape in Kampung Kusamba which becomes the purpose for the writer to do research. The aims of this research is to explore on the form of vernacular landscape as cultural representation of society due to the influence of the occurrence of different cultural interaction process in Kampung Kusamba. This research used survey method by observation, interview and literature study technique. Research on the vernacular landscape morphology of Kampung Kusamba Village was restricted to find a spatial patterns and landscape elements. As a conclusion, Kampung Kusamba is a multicultural society that is formed on various ethnicities namely Bugis, Banjar, Java, Sasak and Bali with indigenous peoples who embraced Islam. There is one house with spatial pattern which is the result of assimilation of two different cultures. Spatial pattern is divided based on profane-sacred like Hindu Balinese house but not followed by the use of wind direction orientation. Hardscape elements mentioned by Statue of Habib Ali bin Abu Bakar Umar Al-Hamid shows the interaction between Islam that lives harmoniously with indigenous Balinese who embrace Hinduism. Softscape element does not show any special pattern as special characteristic of Kampung Kusamba, but there are only coastal plants. The building's façade is shown by the result of different cultural interactions can be seen on the roofs, walls of houses and minarets of the Al-Mahdi Mosque.

Keywords: building facade, cultural acculturation, Kusamba, landscape element, spatial pattern

  • 1.    Pendahuluan

Klungkung merupakan salah satu kabupaten di Pulau Bali yang di dalamnya hidup masyarakat Muslim disamping mayoritas masyarakatnya yang memeluk agama Hindu. Kampung Muslim Kusamba yang terletak di Desa Kampung Kusamba merupakan salah satu Kampung Muslim Bali kuno di Kabupaten Klungkung yang mempunyai peran besar atas perkembangan Islam di Pulau Bali dengan pluralitas etnis di dalam masyarakatnya. Mayoritas penduduk Kampung Kusamba adalah masyarakat pemeluk agama Islam yang hidup rukun dan harmonis dengan masyarakat asli Bali yang memeluk agama Hindu. Keseimbangan dan harmonisasi hubungan yang terjadi dalam masyarakat dengan pluralitas etnis didalamnya terjalin dengan baik hingga saat ini. Interaksi masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda dalam kurun waktu yang lama di Kampung Kusamba memberi pengaruh terhadap bentukan lanskap yang ada yakni pengaruhnya terhadap pola tata ruang dan elemen lanskap termasuk pengaruh terhadap fasade bangunan sehingga menjadi sebuah bentukan lanskap vernakular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana lanskap vernakular di Kampung Kusamba sebagai representasi kebudayaan masyarakat akibat pengaruh dari proses interaksi kebudayaan yang berbeda.

  • 2.     Metodologi Penelitian

    • 2.1    Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Kampung Muslim Kusamba yang secara administratif terletak di Desa Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali (Gambar 1). Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2017 dan berakhir pada bulan Januari 2018.

Gambar 1. Lokasi Penelitian Desa Kampung Kusamba

  • 2.2    Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi pustaka. Untuk mengidentifikasi pola tata ruang bangunan dan elemen lansekap termasuk didalamnya terdapat fasade bangunan dilakukan dengan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengamati objek tanpa adanya tindakan intervensi. Sampel dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Selain itu, teknik wawancara yang digunakan yaitu wawancara bebas terpimpin. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif untuk mengungkapkan fakta, menguraikan korelasi antara data-data kesejarahan dan data elemen pembentuk lanskap.

  • 2.3    Batasan Penelitian

Penelitian ini melihat pengaruh dari interaksi kebudayaan yang berbeda terhadap lanskap vernakular di Kampung Kusamba. Lanskap vernakular dalam penelitian ini adalah bentukan lanskap yang didalamnya terkandung beberapa unsur yakni pola tata ruang bangunan, dan elemen lanskap termasuk didalamnya terdapat fasade bangunan di Kampung Kusamba.

  • 3.    Hasil dan Pembahasan

    • 3.1   Gambaran Umum Lokasi Penelitian
      • 3.1.1    Wilayah Desa Kampung Kusamba

Desa Kampung Kusamba secara administratif terletak di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali dan secara geografis terletak pada 8°33'50" LS dan 115°27'7" BT. Desa Kampung Kusamba berbatasan dengan Selat Badung di sebelah selatan dan berbatasan dengan Desa Kusamba di sebalah utara, timur dan barat.

  • 3.1.2    Iklim

Suhu rata-rata Kabupaten Klungkung pada tahun 2015 sebesar 26,4o C dengan kelembaban udara mencapai 83%, sedangkan curah hujan tertinggi di Kecamatan Dawan terjadi pada bulan Januari yaitu 304 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 17 hari dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Oktober yaitu 0 mm dengan tanpa hari hujan (BPS Kab. Klungkung, 2015).

  • 3.1.3    Topografi

Kampung Kusamba merupakan daerah pesisir yang memiliki luas wilayah 10 Ha yang terletak pada ketinggian 0-15 m diatas permukaan laut. Topografi Kampung Kusamba yaitu datar, miring hingga bergelombang. Jenis tanah di Kampung Kusamba berupa tanah liat dan pasir (Monografi Desa Kampung Kusamba, 2016).

  • 3.1.4    Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kampung Kusamba dengan luas 10 Ha berdasarkan manfaat dan kegunaannya dibagi menjadi tiga, yakni tanah pekarangan atau perumahan (3,241 Ha), tanah tegalan (3,099 Ha), serta fasilitas umum, perkantoran dan lain-lain (3,660 Ha) (Monografi Desa Kampung Kusamba, 2016).

  • 3.1.5    Demografi

Jumlah Penduduk Desa Kampung Kusamba tahun 2016 sebanyak 690 jiwa yang terhimpun dalam 190 KK dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 333 jiwa dan perempuan sebesar 357 jiwa. Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam sebesar 98,6%, sisanya memeluk agama Kristen sebanyak 1,4%. Mata pencaharian mayoritas masyarakat Desa Kampung Kusamba adalah pedagang, pegawai swasta, wiraswasta dan buruh tani atau buruh harian lepas (Monografi Desa Kampung Kusamba, 2016).

  • 3.1.6    Kehidupan Budaya

Kampung Kusamba terbentuk dari berbagai etnisitas, yakni etnis Bugis, Banjar, Jawa, Sasak dan Bali. Pluralitas etnis yang terdapat di Kampung Kusamba tidak menjadi problem sosial. Terdapat satu faktor integrasi yang menyatukan berbagai etnis yang berbeda tersebut, yakni masyarakat menganut agama yang sama, yaitu agama Islam.

Lebih lanjut lagi, di samping integrasi yang terjadi dari berbagi etnis di Kampung Kusamba, relasi dengan masyarakat luar yakni dengan desa-desa Hindu terbangun melalui ikatan sosial-kekerabatan dan berbagai interaksi sosial. Interaksi tersebut antara lain dapat dijumpai dalam pasar, perkawinan, kuliner dan ruang publik.

  • 3.1.7    Kesenian yang Berkembang dalam Masyarakat

Masyarakat Kampung Kusamba memiliki kesenian yang sudah diwariskan secara turun-temurun dari para leluhurnya, yakni kesenian Rodat. Kesenian Rodat memiliki kesamaan dengan shalawatan bila diperhatikan dari maknanya yakni berupa doa dan pujian kepada Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW, berserta keluarga dan kerabatnya. Kesenian Rodat dibacakan oleh sekumpulan orang secara bersamaan dan bersahut-sahutan diiringi dengan gerakan-gerakan tarian yang mirip dengan gerakan silat. Kesenian Rodat diiringi oleh seperangkat alat musik pukul berupa jidur. Kesenian Rodat biasanya dipertunjukkan pada saat memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Adha dan acara-acara hajatan seperti pernikahan (Parimartha et al, 2012).

  • 3.1.8    Kegiatan Keagamaan

Terdapat ritual-ritual keagamaan yang menonjol di Kampung Kusamba. Ritual yang biasa dilakukan olah masyarakat Kampung Kusamba antara lain tradisi Saparan, kegiatan Maulid Nabi SAW dan kegiatan tahlilan.

  • 3.2   Sejarah Terbentuknya Desa dan Artefak Peninggalan
    • 3.2.1    Asal Usul Nama Desa Kampung Kusamba

Hasil wawancara dengan Kepala Desa Kampung Kusamba, Abdul Gafar (2017), nama Kampung Kusamba bersumber dari sebuah dialog antara seseorang bersuku Bugis dengan seseorang bersuku Banjar. Ketika seorang bersuku Bugis melaksanakan sholat menjadi perhatian orang bersuku Banjar. Setelah melaksanakan sholat orang bersuku Bugis didekati dan ditanyai oleh orang bersuku Banjar, “Agamamu apa?”, maka jawab orang bersuku Bugis “Saya Islam”. Orang bersuku Bugis kemudian berbalik tanya, “Agamamu apa?”, dijawab oleh orang bersuku Banjar “Aku sama”. Dari kata “Ku sama”, lama-lama mengalami perubahan sehingga menjadi “Kusamba”. Kata “kampung” pada masyarakat Bali merupakan ungkapan untuk menyatakan bahwa daerah tersebut merupakan kantong-kantong masyarakat Muslim (Monografi Desa Kampung Kusamba, 2016).

  • 3.2.2    Sejarah Desa Kampung Kusamba

Wilayah permukiman yang selanjutnya menjadi Kampung Islam Kusamba tersebut berasal dari tanah catu pemberian Raja bagi para perantau (wawancara dengan Hambali, 2017). Penguasa kerajaan dengan

sengaja menempatkan mereka dalam wilayah permukiman yang terpisah dengan warga Bali yang beragama Hindu. Wilayah itu umumnya wilayah baru, yang sebelumnya hutan atau wilayah-wilayah pesisir dekat dengan pelabuhan. Warga Muslim diberi kebebasan dan otonomi untuk beribadat dan memiliki pemerintahan sendiri dalam wilayah tersebut.

  • 3.2.3    Makam Habib Ali bin Abubakar Umar Al-Hamid

Hasil wawancara dengan Hambali (2017), Habib Ali adalah seseorang yang ditunjuk sebagai penerjemah atau ahli bahasa yang bertugas mengajarkan bahasa Melayu kepada Raja Dewa Agung Jambe. Menduduki jabatan penting Habib Ali mendapat perlakuan istimewa dan diberi seokor kuda putih. Perlakuan istimewa tersebut menimbulkan suasana permusuhan di internal kerajaan hingga menimbulkan pertempuran hingga Habib Ali terbunuh. Raja Dewa Agung Jambe memerintahkan prajurit kerajaan untuk memakamkan jasad Habib Ali di tepi Pantai Kusamba. Berawal dari kisah tersebut kemudian diyakini bahwa makam tersebut adalah makam seorang Habib. Untuk mempertegas versi sejarah itu, dibangun patung yang berada tepat di depan makam tersebut.

  • 3.2.4    Al-Qur’an Kuno

Al-Qur’an ini diakui telah berusia hampir 400 tahun. Al-Qur’an tertua di Bali tersebut diperkirakan ditulis tangan oleh ulama besar asal Bugis. Al-Qur’an tersebut merupakan salah satu Al-Qur’an kembar tiga yang ditulis dan dibuat sebanyak tiga buah dalam kurun waktu yang berbeda oleh ulama yang sama (Parimartha et al, 2012).

  • 4.2.5    Musholla dan Masjid

Terdapat dua ciri khas penanda dari perkampungan Islam di Bali, yaitu adanya masjid dan makam keramat. Berdasarkan wawancara dengan Hambali (2017), rumah ibadah warga Muslim di Kampung Kusamba dahulu masih terpencar-pencar berbentuk langgar sesuai dengan etnis yang ada. Hingga kemudian pada tahun 1945, langgar-langgar tersebut disatukan dan dibangun satu masjid yang diberi nama Masjid Al-Mahdi. Saat ini pelaksanaan aktivitas keagamaan, masyarakat menggunakan Masjid Al-Mahdi dan Mushalla Al-Syarea sebagai pusat kegiatan keagamaan.

  • 3.2.6    Pelabuhan Kusanegara

Strategisnya posisi Kusamba, pada abad ke-18 dimasa kekuasaan Raja Klungkung, I Dewa Agung Putra Kusamba membangun keraton di Kusamba yang diberi nama Kusanegara (Parimartha et al, 2012). Dijadikannya Kusamba sebagai ibukota kedua turut mendorong perkembangan Bandar Kusamba. Pada perkembangannya Bandar Kusamba tidak lagi dikembangkan menjadi pelabuhan besar dan modern. Pelabuhan regional berpindah ke Padang Bai (Karangasem), Benoa (Denpasar), dan Gilimanuk (Jembrana). 3.3 Lanskap Vernakular di Desa Kampung Kusamba 3.3.1 Lanksap Privat 3.3.1.1 Pola tata ruang

Pola tata ruang rumah tinggal milik Muhammad Syaifullah yang diidentifikasi melalui observasi, menunjukkan bahwa pola tata ruang tersebut mengadaptasi pola tri mandala dimana biasanya diterapkan pada rumah-rumah tradisional masyarakat Hindu Bali. Pola tata ruang pada rumah tersebut dibagi menjadi tiga, yakni nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Nista mandala merupakan bagian paling profan yang terdiri dari gerbang masuk, parkir kendaraan sepeda motor, dapur, kamar mandi dan sebuah kamar. Madya mandala merupakan peralihan dari bagian profan (nista) ke bagian yang lebih prifat atau sakral (utama) yang terdiri dari 5 ruang kamar tidur untuk tamu serta terdapat sebuah bale untuk bersantai. Utama mandala merupakan bagian paling prifat atau sakral pada rumah tersebut. Terdiri dari 4 ruang kamar tidur yang digunakan oleh pemilik rumah dan terdapat musholla sebagai tempat ibadah.

Pengadaptasian pola tata ruang dengan konsep tri mandala pada rumah tersebut tidak diikuti dengan penggunaan orientasi arah mata angin dalam penentuan penempatan bangunan, hal ini dilakukan mengingat ibadah umat Islam tidak didasarkan atas orientasi terhadap arah mata angin. Pengadaptasian konsep tri mandala tidak serta merta diterapkan begitu saja, namun direpresentasikan sesuai dengan kepercayaan dan kebutuhan pemilik rumah. Gambar pola tata ruang dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Pola Tata Ruang Rumah M. Syaifullah di Kampung Kusamba

  • 3.3.1.2    Fasade Bangunan

  • 1.    Atap Bangunan

Akulturasi atap bangunan di Kampung Kusamba dapat ditemui pada rumah tinggal milik Dahyati. Atap bangunan merupakan bentuk akulturasi dari atap rumah tradisional Bali dengan atap rumah tradisional Jawa, Joglo (Gambar 3). Atap bangunan rumah Dahyati memiliki bentuk atap seperti bangunan rumah tinggal masyarakat Hindu di Bali, kampiah (serambi). Perbedaan yang terlihat adalah ragam hias yang digunakan. Ornamen ikut teledu (ornament hias berupa ekor binatang sejenis serangga) yang digunanakan tidak hanya terletak pada sudut-sudut bubungan saja, namun ornament ikut teledu memenuhi antara puncak bubungan hingga keempat ujung bubungan seperti atap rumah Joglo. Puncak bubungan juga tidak terdapat ornamen hias murdha (ragam hias yang terletak pada puncak atap).

Gambar 3. Akulturasi Atap Rumah Tinggal Joglo dan Bali

  • 2.    Dinding, Pintu Dan Jendela

Dinding bangunan, pintu dan jendela baik rumah maupun fasilitas umum yang terdapat di Kampung Kusamba tidak begitu memperlihatkan adanya pengaruh dari proses akulturasi budaya. Sebagian besar dinding bangunan, pintu dan jendela terlihat memiliki kesan modern dan minimalis baik dari segi model maupun pemilihan material (Gambar 4). Model yang digunakan menggunakan bentuk-bentuk geometris seperti kotak dan persegi panjang. Ragam hias yang digunakan juga tidak terlalu banyak, hanya berupa ornamen dengan motif geometris dan motif tumbuh-tumbuhan.

Gambar 4. Rumah dengan Model Modern di Kampung Kusamba

Terdapat rumah yang masih mempertahankan dinding dengan memakai ciri khas Bali, seperti pada rumah milik Dedi. Penggunaan material alam seperti bata merah dan kayu dipilih untuk menonjolkan ciri khas Bali. Keunikan rumah tersebut dapat dilihat pada ragam hias yang digunakan pada dinding bangunan. Ragam hias yang digunakan berupa ornamen berbentuk bulan - bintang yang terletak diatas pintu masuk (Gambar 5).

Gambar 5. Ragam Hias pada Dinding Bangunan Rumah Tinggal

  • 3.3.1.3    Gerbang Masuk

Gerbang masuk rumah tinggal, makam, masjid dan fasilitas-fasilitas umum yang ada di Kampung Kusamba mayoritas mengambil bentuk angkul-angkul (gerbang rumah adat Bali). Gerbang masuk pada rumah Dedi dan Dahyati merupakan contoh gerbang masuk yang memiliki bentuk angkul-angkul (Gambar 6). Ragam hias atap (hulu) pada sudut bubungan atapnya memakai ornamen ikut teledu dan pada puncak bubungan atapnya memakai murdha yang semakin menunjukkan sentuhan ciri khas Bali. Penggunaan material alam seperti batu alam, kayu, batu bata, dan genting tanah liat semakin menonjolkan ke khasan dari arsitektur vernakular Bali.

Gambar 6. Gerbang Masuk Rumah Tinggal di Kampung Kusamba

  • 3.3.1.4    Sumur

Kampung Kusamba dahulu merupakan sebuah masyarakat tradisional yang belum mengenal mesin pompa air, hal ini kemudian mendorong masyarakatnya untuk membuat sumur di rumah mereka. Selain berguna sebagai keperluan rumah tangga seperti memasak, menyiram dan kegiatan MCK, juga menunjukkan bahwa sumur memiliki fungsi sosial dalam masyarakat. Para tetangga yang tidak mempunyai sumur dapat ikut mengambil air dengan cuma-cuma. Secara langsung maupun tidak, aktivitas ini mempererat hubungan sosial dalam masyarakat (Parimartha et al, 2012). Saat ini sumur-sumur tersebut sebagian sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat, mereka kemudian menutupnya secara permanen maupun tidak (Gambar 11).

Gambar 7. Sumur yang Masih Dijumpai di Rumah Masyarakat Kampung Kusamba

  • 3.3.1.5    Tempat Wudhu

Sebagai sebuah Desa yang tumbuh dengan masyarakat penganut agama Islam, saat ini masih dapat ditemui peninggalan yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan yakni tempat wudhu. Tempat wudhu yang masih bisa dijumpai berbentuk gentong yang terbuat dari tanah liat dengan dudukan yang terbuat dari beton. Saat ini tempat wudhu tersebut sudah tidak difungsikan lagi untuk berwudhu (Gambar 12).



Gambar 8. Tempat Wudhu yang Masih Dijumpai di Rumah Masyarakat Kampung Kusamba

  • 3.3.1.6    Tanaman

Berdasarkan hasil observasi, tidak terdapat tanaman khusus yang tumbuh di Kampung Kusamba. Sebagai sebuah desa pesisir, jenis tanaman yang hidup di Desa Kampung Kusamba tidak berbeda dengan daerah pesisir pada umumnya. Tanaman yang banyak tumbuh adalah jenis tanaman yang dapat bertahan hidup dengan baik di daerah pesisir seperti diantaranya Ketapang (Terminalia catappa), Waru (Hibiscus tiliceus), Kelapa (Cocos nucifera L.), Cemara (Araucaria sp.), Pandan (Cordyline australis), Jepun Bali (Plumeria rubra), Kenanga (Cananga odorata), dan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi).

  • 3.3.2 Lanskap Publik

  • 3.3.2.1    Tempat ibadah

Bentuk minaret pada Masjid Al-Mahdi di Kampung Kusamba mendapat sentuhan arsitektur Bali, dengan memodifikasi bentuk arsitektur atap meru yaitu atap tumpang. Modifikasi bentuk atap tumpang pada minaret masjid diadopsi karena aspek keindahannya dan meru juga melambangkan bangunan suci yang ada di Bali. Tidak ada filosofi atau arti khusus dari jumlah tingkatan atapnya. Ragam hias pada minaret berupa kubah yang terletak pada puncak minaret dengan berhiaskan lafadz Allah SWT pada ujung atas kubah. Ragam hias bada bagian tengah tiap tingkatannya berupa ventilasi dengan motif-motif geometris. Warna cat yang digunakan didominasi warna putih, hijau dan merah bata. Pengadopsian bentuk atap tumpang pada minaret masjid Al-Mahdi di Kampung Kusamba terbilang unik karena pada umumnya minaret berbentuk persegi, lingkaran atau kebanyakan berbentuk octagonal. Gambar minaret Masjid Al-Mahdi dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Minaret Masjid Al-Mahdi Kampung Kusamba


  • 3.3.2.2 . Makam

Keberadaan patung seseorang sedang menunggang kuda pada makam Habib Ali bin Abubakar Umar Al Hamid di Kampung Kusamba merupakan hal yang jarang dijumpai pada perkampungan masyarakat Islam karena penggunaan elemen patung yang menyerupai hewan dan manusia tidak diperbolehkan karena di khawatirkan dapat menimbulkan aktivitas mempersekutukan Allah SWT (QS 7:191) (Gambar 10). Keberadaan patung yang masih ada hingga saat ini dan terawat dengan baik menunjukkan bahwa proses interaksi yang terjadi antara kebudayaan yang berbeda berjalan dengan harmonis. Perbedaan pandangan yang ada di dalam masyarakat dianggap sebagai mozaik yang memperindah kehidupan masyarakat di Desa Kampung Kusamba. Perjumpaan kebudayaan yang berbeda semacam ini dalam waktu yang lama diperkirakan menyebabkan terjadi ubahan konsep dalam kehidupan mereka. Apabila ini disepakati, maka hal tersebut bukanlah satu paduan yang harus dituding sebagai sinkretisasi Islam dalam konteks budaya lokal pada umumnya (Ambary, 1998).



Gambar 10. Patung Habib Ali bin Abubakar Umar Al-Hamid

  • 4.    Simpulan

Lanskap vernakular di Kampung Kusamba merupakan representasi dari kehidupan budaya masyarakatnya berupa pola tata ruang, fasade bangunan dan elemen lanskap. Pola tata ruang pada salah satu rumah warga memperlihatkan adanya peleburan dua kebudayaan, yakni pengadaptasian konsep Tri Mandala namun mengalami perubahan disesuaikan dengan keyakinan pemilik rumah yang menganut agama Islam. Pada Fasade bangunan sebagian besar terlihat memiliki kesan modern dan minimalis, namun masih dapat dijumpai fasade bangunan yang menunjukkan adanya pengaruh akulturasi budaya ataupun pengadopsian dari kebudayaan lain.

Elemen lanskap yang ada di Kampung Kusamba dibedakan atas hardscape dan softscape. Elemen hardscape yang merepresentasikan kebudayaan masyarakat Kampung Kusamba antara lain patung Habib Ali bin Abubakar Umar Al-Hamid, sumur dan tempat wudhu. Elemen softscape yang ada di Kampung Kusamba adalah tanaman-tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di daerah pesisir. Elemen softscape tidak menunjukkan adanya pola khusus yang dapat dijadikan ciri khusus dari Kampung Kusamba. Morfologi lanskap vernakular di Kampung Kusamba tidak hanya dipengaruhi oleh masyarakatnya yang bersifat multikultur, namun juga dipengaruhi faktor lain yakni faktor ekonomi, perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk.

  • 5.    Daftar Pustaka

Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu

Badan Pusat Statistik Kabupaten Klungkung. 2015. Kecamatan Dawan dalam Angka 2015. Badan Pusat Statistik Kabupaten Klungkung. Klungkung.

Desa Kampung Kusamba. 2016. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Tahun 2016. Desa Kampung Kusamba. Klungkung.

Parimartha, I. G., I. B. G. Putra, L. P. K. Ririen. 2012. Bulan Sabit di Pulau Dewata Jejak Kampung Islam Kusamba-Bali. Huma Printing & Design Graphic. Yogyakarta.

JAL | 56

http://ojs.unud.ac.id/index.php/lanskap