JURNAL FARMASI UDAYANA | pISSN: 2301-7716; eISSN: 2622-4607 | VOL. 12, NO. 1, 2023

https://doi.org/10.24843/JFU.2023.v12.i01.p012

Manfaat Terapi Tambahan Vitamin B dan Vitamin D Pada Pasien Nyeri Neuropati Diabetika

Edenia Asisaratu1, Rizaldy Taslim Pinzon1 dan Esdras Ardi Pramudita1

  • 1    Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana, Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo 5-25, Yogyakarta, 55224

Reception date of the manuscript: 2022-02-17

Acceptance date of the manuscript: 2022-12-06

Publication date: 2023-08-31

Abstract— One of the complications of Diabetes Mellitus that can be a burden for sufferers is diabetic neuropathy pain. Symptomatic therapy alone with glycemic index control has not been able to provide optimal results. Previous studies have shown that vitamin B and vitamin D supplementation resulted in significant pain reduction. The aim of this study is to measure the comparative level of achievement of pain reduction in various treatment regimens for PDN patients. This study was conducted using a retrospective cohort method. Sampling was done using consecutive sampling method with a total sample of 107 subjects who received symptomatic therapy or symptomatic therapy plus vitamins. Subjects were given therapy for three months, then the pain scale was measured using the Neuropathic Pain Scale and compared in the three comparison groups. In the first comparison group, the greatest reduction in pain occurred in the symptomatic therapy group plus vitamins (39.50±14.222) (p=0.000). In the second comparison group, the greatest pain reduction was found in the symptomatic therapy group plus a combination of vitamin B and vitamin D 1000 IU (53.00±6.749) (p=0.000). In the third comparison group, the greatest pain reduction was found in the symptomatic therapy group plus 1000 IU vitamin D (44.00±8.944) (p=0.088). Compared with symptomatic therapy alone, additional vitamin therapy results in significantly greater pain reduction, but between the addition of 400 IU and 1000 IU vitamin D there was no significant difference in pain reduction.

Keywords—painful diabetic neuropathy; pain intensity; vitamin B; vitamin D

Abstrak— Salah satu komplikasi Diabetes Mellitus yang dapat menjadi beban bagi penderitanya merupakan nyeri neuropati diabetika. Terapi simtomatik saja disertai kontrol indeks glikemik belum dapat memberikan hasil yang optimal. Penelitian terdahulu menunjukkan pengurangan nyeri yang signfikan dapat dicapai dengan pemberian suplementasi vitamin B dan vitamin D. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perbandingan tingkat pencapaian pengurangan nyeri pada berbagai regimen terapi untuk pasien dengan nyeri neuropati diabeti-ka. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kohort retrospektif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode consecutive sampling dengan total sampel 107 subjek yang mendapatkan terapi simtomatik atau terapi simtomatik ditambah vitamin. Subjek diberikan terapi delama 3 bulan lalu dilakukan pengukuran skala nyeri dilakukan menggunakan Neuropathic Pain Scale dan dibandingkan dalam tiga kelompok perbandingan. Pada kelompok perbandingan pertama, pengurangan nyeri paling besar pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin (39,50±14,222) (p=0,000). Pada kelompok perbandingan kedua, pengurangan nyeri paling besar terdapat pada kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU (53,00±6,749) (p=0,000). Pada kelompok perbandingan ketiga, pengurangan nyeri paling besar terdapat pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU (44,00±8,944) (p=0,088). Dibandingkan dengan terapi simtomatik saja, terapi tambahan vitamin memberikan hasil pengurangan nyeri yang lebih besar secara signifikan, namun, tidak antara penambahan vitamin D 400 IU dengan vitamin D 1000 IU tidak ditemukan perbedaan penurunan nyeri yang bermakna.

Kata Kunci—intensitas nyeri; nyeri neuropati diabetika; vitamin B; vitamin D

  • 1.    PENDAHULUAN

Nyeri neuropati diabetika menurut the International Association for the Study of Pain (IASP) adalah rasa nyeri yang timbul akibat adanya abnormalitas pada sistem somatosenso-ris perifer pada orang dengan diabetes.(Tesfaye et al., 2010) Nyeri neuropati diabetika menjadi satu komplikasi Diabetes Mellitus yang paling sering terjadi dan dapat terjadi pada

Penulis koresponden: Rizaldy Taslim Pinzon, drpinzon17@gmail.com

50Pengobatan yang digunakan untuk nyeri neuropati diabe-tika pada saat ini yaitu menggunakan pengobatan simtomatik yang disertai dengan kontrol indeks glikemik.(Jameson JL; Fausi AS et al., 2018) Pengobatan yang optimal diperlukan karena nyeri neuropati diabetika yang parah dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan produktivitas pasien sehingga menjadi beban pada pasien.(Tölle et al., 2006) Pengobatan simtomatik yang umum digunakan dan telah disetujui U.S. Food and Drug Administration (FDA), Health Canada, dan the European Medicines Agency yaitu Duloxetine dan Pregabalin serta obat lain dengan bukti efektivitas lebih

rendah yaitu Tamadol, Tapentadol.(Pop-Busui et al., 2017) Terapi simtomatik seperti amitriptilin dan gabapentin hanya dapat memberikan perbaikan kurang lebih sebanyak 50Pene-litian ini dilakukan berdasarkan data tidak semua pengobatan dapat mengurangi nyeri secara efektif serta memberikan kepuasan capaian pengurangan nyeri yang optimal pada pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengukur perbandingan tingkat pencapaian pengurangan nyeri pada berbagai regimen terapi untuk pasien dengan nyeri neuropati diabetika. Diharapkan hasil yang diperoleh dapat menjadi referensi pengobatan untuk mencapai kepuasan pasien dalam terapi nyeri neuropati diabetika.

  • 2.    BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu Diabetic Neuropathy Symptom dan Diabetic Neuropathy Examination yang digunakan untuk menentukan diagnosis nyeri neuropati diabetika. Neuropathy Pain Scale digunakan untuk mengukur tingkat nyeri sebelum dan setelah tiga bulan pemberian terapi.

Metode

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kohort res-trospektif. Data berasal dari data sekunder yang diambil pada pasien nyeri neuropati diabetika di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Pada penelitian ini terdapat 107 subjek yang terbagi menjadi enam kelompok menurut terapi yang didapat, yaitu terapi simtomatik (gabapentin 100 mg, amitripti-lin 10 mg, atau pregabalin 75 mg), terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B (B1 100 mg, B6 100 mg, dan B12 5000 mcg), terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU, terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU. Kelompok terapi kemudian dibagi dalam tiga kelompok perbandingan. Kelompok perbandingan pertama antara kelompok terapi simtomatik dan terapi simtomatik ditambah vitamin. Kelompok perbandingan kedua yaitu antara kelompok terapi simtomatik, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, dan terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU. Kelompok perbandingan ketiga yaitu antara kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU dan terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU. Terapi diberikan selama tiga bulan. Pengukuran skala nyeri dilakukan sebelum pemberian terapi dan setelah tiga bulan pemberian terapi menggunakan Neuropathic Pain Scale untuk melihat pengurangan nyeri. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney untuk kelompok perbandingan pertama dan ketiga, serta uji Kruskal Wallis pada kelompok perbandingan kedua dengan uji normalitas menggunakan metode One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Penelitian ini telah mendapat kelayakan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta (No. 14/KEPK-RSB/II/21).

  • 3.    HASIL

Pada penelitian ini terdapat sebanyak 107 subjek yang dibagi menjadi enam kelompok terapi dan diberi terapi selama tiga bulan. Kelompok terapi tersebut kemudian dibagi menjadi tiga kelompok penelitian untuk membandingan ha-

sil intensitas nyeri. Penilaian intensitas nyeri dilakukan pada saat sebelum terapi dan setelah tiga bulan menerima terapi agar dapat melihat perbaikan nyeri setelah pemberian terapi. Kelompok perbandingan pertama yaitu antara kelompok terapi simtomatik (27 subjek) dan kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin (80 subjek). Pada data karakteristik dasar kelompok perbandingan pertama (Tabel 1) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel jenis kelamin (p=0,035) dan status DM (p=0,020). Jumlah subjek dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada subjek dengan jenis kelamin perempuan baik pada kelompok terapi simtomatik maupun kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin. Rerata usia subjek pada kelompok terapi simtomatik yaitu sebesar 61,89±9,693 dan pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin sebesar 62,45±9,561.

Kelompok perbandingan kedua yaitu antara kelompok terapi simtomatik (27 subjek), terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B (36 subjek), terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU (11 subjek), dan terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU (10 subjek). Data karakteristik dasar kelompok perbandingan kedua (Tabel 2) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel jenis kelamin (p=0,046), komorbid hipertensi (p=0,007), penyakit gastrointestinal (p=0,002), penyakit kardiovaskular (p=0,010), obat antihipertensi (p=0,12), obat antiplatelet (p=0,001), dan status DM (p=0,020). Jumlah subjek dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada subjek dengan jenis kelamin perempuan. Rerata usia subjek pada kelompok terapi simtomatik yaitu sebesar 61,89±9,693, kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B sebesar 62,08±9,204, kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU sebesar 68,36±10,595, kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU sebesar 65,50±9,571.

Kelompok perbandingan ketiga yaitu antara kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU (18 subjek) dan terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU (5 subjek). Data karakteristik dasar kelompok perbandingan ketiga (Tabel 3) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada variabel komorbid hipertensi (p=0,043), penyakit kardiovaskular (p=0,002), obat antihipertensi (p=0,027), obat antiplatelet (p=0,002), dan status DM (p=0,000). Jumlah subjek dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada subjek dengan jenis kelamin perempuan. Rerata usia subjek pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU yaitu sebesar 58,61±9,030 dan kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin 1000 IU sebesar 59,33±2,653. Diagnosis nyeri neuropati diabetika dilakukan dengan mengukur skor Diabetic Neuropathy Examination (DNE) dan Diabetic Neuropathy Score (DNS). Pada hasil pengukuran skor DNE dan DNS (Tabel 4) tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok terapi simtomatik dan terapi simtomatik ditambah vitamin. Pada perbandingan rerata skala nyeri kelompok perbandingan pertama (Tabel 5), pada kelompok terapi simtomatik memiliki rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 58,15±14,421 dan sesudah pemberian terapi menjadi 41,48±17,911.

Pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin, rera-ta skala nyeri sebelum terapi sebesar 59,63±17,170 dan sesudah pemberian terapi menjadi 20,13±15,710. Rerata inten-

sitas nyeri sebelum pemberian terapi memiliki nilai p=0,531, sedangkan untuk rerata skala nyeri sesudah terapi dan selisih sebelum dan sesudah terapi memiliki nilai p=0,000 sehingga dapat diartikan terdapat penurunan skala nyeri dan selisih skala nyeri yang signifikan sesudah pemberian terapi antara kelompok terapi simtomatik dengan terapi simtomatik ditambah vitamin. Pengurangan skala nyeri paling besar didapatkan oleh kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin dengan pengurangan skala nyeri sebesar 39,50±14,222 (p=0,000). Pada perbandingan rerata skala nyeri kelompok perbandingan kedua (Tabel 6), pada kelompok terapi simtomatik memiliki rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 58,15±14,421 dan sesudah pemberian terapi menjadi 41,48±17,911. Pada kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B, rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 58,33±18,439 dan sesudah pemberian terapi menjadi 23,89±17,611. Pada kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 56,36±16,895 dan sesudah pemberian terapi menjadi 10,00±8,944. Pada kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU, rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 75,00±5,270 dan sesudah pemberian terapi menjadi 22,00±6,325. Rerata skala nyeri sebelum terapi, sesudah terapi, serta selisih sebelum dan sesudah terapi memiliki nilai p<0,05 untuk rerata skala nyeri sebelum terapi yaitu p=0,019, rerata skala nyeri sesudah terapi p=0,000, dan untuk rerata selisih sebelum dan sesudah terapi p=0,000, sehingga dapat diartikan terdapat perbedaan rerata skala intensitas nyeri yang signifikan antara kelompok terapi simtomatik dengan kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B, kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, dan kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU. Pengurangan skala nyeri paling besar didapatkan oleh kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU dengan pengurangan skala nyeri sebesar 53,00±6,749 (p=0,000). Pada perbandingan rerata skala nyeri kelompok perbandingan ketiga (Tabel 7), pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU memiliki rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 50,56±12,113 dan sesudah pemberian terapi menjadi 13,89±14,608. Pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU, rerata skala nyeri sebelum terapi sebesar 78,00±4,472 dan sesudah pemberian terapi menjadi 34,00±11,402. Rerata skala nyeri sebelum terapi dan sesudah terapi memiliki nilai p<0,05 yaitu pada rerata skala nyeri sebelum terapi memiliki nilai p=0,002, dan pada rerata skala nyeri sesudah terapi memiliki nilai p=0,013. Pengurangan skala nyeri paling besar didapatkan oleh kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU dengan pengurangan skala nyeri sebesar 44,00±8,944 (p=0,088) yang berarti tidak terdapat perbedaan rerata selisih skala nyeri sebelum dan sesudah terapi yang signifikan antara kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU dengan terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU. Pengurangan nyeri setelah pemberian terapi juga dinilai berdasarkan kategori nyeri berkurang >30 % dan nyeri berkurang <30 %. Tabel 8 menunjukkan bahwa pada kelompok perbandingan pertama pengurangan nyeri >30 % paling banyak terdapat pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin yaitu sebanyak 85 % subjek (p=0,000) yang berarti terdapat perbedaan per-

baikan intensitas nyeri yang signifikan pada kelompok terapi simtomatik dan kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin. Tabel 9 menunjukkan bahwa pada kelompok perbandingan kedua pengurangan nyeri >30 % paling banyak terdapat pada kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU yaitu sebanyak 100 % subjek (p=0,000) sehingga dapat diartikan terdapat perbedaan perbaikan intensitas nyeri yang signifikan antara kelompok terapi simtomatik dengan terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, dan terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU. Tabel 10 menunjukkan bahwa pada kelompok perbandingan ketiga pengurangan nyeri >30 % paling banyak terdapat pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU yaitu sebanyak 100 % subjek (p=0,435) yang berarti tidak terdapat perbedaan pengurangan intensitas nyeri yang signifikan antara kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU dengan kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU.

  • 4.    PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengukur perbandingan tingkat pencapaian pengurangan nyeri pada berbagai regimen terapi untuk pasien dengan nyeri neuropati diabetika. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok dengan penambahan suplementasi vitamin pada terapi simtomatik nyeri neuropati diabetika menghasilkan pengurangan nyeri yang lebih baik dibanding kelompok yang tidak menggunakan tambahan vitamin. Sampel dalam penelitian ini merupakan pasien nyeri neuropati diabetika yang telah memenuhi kriteria diagnosis berdasarkan Diabetic Neuropathy Examination (DNE) dan Diabetic Neuropathy Symptoms (DNS). Sampel yang telah memenuhi kriteria tersebut yaitu sebanyak 107 sampel kemudian dikelompokkan secara garis besar menjadi kelompok terapi simtomatik dan terapi simtomatik ditambah vitamin. Terapi simtomatik yang digunakan yaitu gabapentin 100 mg yang dikonsumsi sekali sehari pada malam hari, amitriptilin 10 mg yang dikonsumsi sekali sehari pada malam hari, dan pregabalin 75 mg yang dikonsumsi sekali sehari malam hari. Vitamin yang digunakan pada penelitian ini yaitu kombinasi vitamin B (B1 100 mg, B6 100 mg, dan B12 5000 mcg), vitamin D 400 IU, vitamin D 1000 IU, kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, serta kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU. Setiap kelompok vitamin akan dibandingkan kembali, sehingga total kelompok perbandingan terdapat tiga kelompok, yaitu kelompok perbandingan pertama adalah kelompok terapi simtomatik dan terapi simtomatik ditambah vitamin. Kelompok perbandingan kedua adalah kelompok terapi simtomatik, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B, terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 400 IU, dan terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU. Kelompok perbandingan ketiga adalah kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU dan terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU. Pada penelitian ini, subjek diberikan terapi selama tiga bulan kemudian dilakukan evaluasi pada skala nyeri.

Rerata pengurangan nyeri pada kelompok perbandingan pertama (Tabel 5) paling besar didapatkan pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin yaitu berkurang sebe-

Tabel 1: KARAKTERISTIK DASAR KELOMPOK PERBANDINGAN PERTAMA

Karakteristik

Terapi Simtomatik (n=27)

%

Terapi Simtomatik + Vitamin (n=80)

%

p

Jenis Kelamin

Laki-laki

14

51,9

59

73,8

0,035

Perempuan

13

48,1

21

26,3

Usia, Mean ± SD

61,89±9,693

62,45 ± 9,561

0,793

Komorbid

Hipertensi

Ya

15

55,6

58

72,5

0,102

Tidak

12

44,4

22

27,5

Penyakit

Ya

0

0,0

2

2,5

0,407

Gastrointestinal

Tidak

27

100

78

97,5

Penyakit

Ya

14

51,9

51

63,8

0,274

Kardiovaskular

Tidak

13

48,1

29

36,3

Komedikasi

Obat Anti

Ya

15

55,6

56

70,0

0,170

Hipertensi

Tidak

12

44,4

24

30,0

Statin

Ya

8

29,6

30

37,5

0,460

Tidak

19

70,4

50

62,5

Obat Anti

Ya

18

23,7

58

76,3

0,563

Platelet

Tidak

9

29,0

22

71,0

Lama DM, Mean ± SD

6,75 ± 2,363

7,17 ± 2,531

0,762

Status DM

Terkendali

0

0,0

18

22,5

0,020

Tidak Terkendali

4

14,8

6

7,5

Tabel 2: KARAKTERISTIK DASAR KELOMPOK PERBANDINGAN KEDUA

Karakteristik

n(%)

p

Terapi Simtomatik (n=27)

Terapi Simtomatik + Vitamin B (n=36)

Terapi Simtomatik + Kombinasi Vit. B dan Vit. D 400 IU (n=11)

Terapi Simtomatik + Kombinasi Vit. B dan Vit. D 1000 IU (n=10)

Jenis Kelamin

Laki-laki

14(51,9)

30(83,3)

7(63,6)

8(80,0)

0,046

Perempuan

13(48,1)

6(16,7)

4(36,4)

2(20,0)

Usia, Mean ± SD

61,89±9,693

62,08±9,204

68,36±10,595

65,50±9,571

0,989

Komorbid

Hipertensi

Ya

15(55,6)

29(80,6)

5(45,5)

10(100,0)

0,007

Tidak

12(44,4)

7(19,4)

6(54,5)

0(0,0)

Penyakit

Ya

0(0,0)

0(0,0)

0(0,0)

2(20,0)

0,002

Gastrointestinal

Tidak

27(100,0)

36(100,0)

11(100,0)

8(80,0)

Penyakit

Ya

14(51,9)

22(61,1)

10(90,9)

2(20,0)

0,010

Kardiovaskular

Tidak

13(48,1)

14(38,9)

1(9,1)

8(80,0)

Komedikasi

Obat Anti

Ya

15(55,6)

28(77,8)

5(45,5)

10(100,0)

0,012

Hipertensi

Tidak

12(44,4)

8(22,2)

6(54,5)

0(0,0)

Statin

Ya

8(29,6)

15(41,7)

1(9,1)

5(50,0)

0,151

Tidak

19(70,4)

21(58,3)

10(90,9)

5(50,0)

Obat Anti

Ya

18(66,7)

30(83,3)

9(81,8)

2(20,0)

0,001

Platelet

Tidak

9(33,3)

6(16,7)

2(18,2)

8(80,0)

Lama DM, Mean ± SD

6,75±2,363

7,30±2,263

7,00±0,00

8,11±2,892

0,810

Status DM

Terkendali

Tidak

Terkendali

0(0,0)

6(16,7)

0(0,0)

8(80,0)

0,000

4(14,8)

4(11,1)

1(9,1)

1(10,0)

Tabel 3: KARAKTERISTIK DASAR KELOMPOK PERBANDINGAN KETIGA

Karakteristik

Terapi Simtomatik + Vitamin D 400 IU (n=18)

%

Terapi Simtomatik + Vitamin D 1000 IU (n=5)

%

p

Jenis Kelamin

Laki-laki

11

61,1

3

60,0

0,964

Perempuan

7

38,9

2

40,0

Usia, Mean ± SD

58,61±9,030

59,33±2,653

0,734

Komorbid

Hipertensi

Ya

9

50

5

100

0,043

Tidak

9

50

0

0,0

Penyakit

Ya

16

88,9

1

20,0

0,002

Kardiovaskular

Tidak

2

11,1

4

80,0

Komedikasi

Obat Anti

Ya

8

44,4

5

100,0

0,027

Hipertensi

Tidak

10

55,6

0

0,0

Statin

Ya

7

38,9

2

40,0

0,964

Tidak

11

61,1

3

60,0

Obat Anti

Ya

16

88,9

1

20,0

0,002

Platelet

Tidak

2

33,3

4

80,0

Status DM

Terkendali

0

0,0

4

80,0

0,000

Tidak Terkendali

0

0,0

0

0,0

Tabel 4: PERBANDINGAN NILAI DNE DAN DNS TERAPI SIMTOMATIK DENGAN TERAPI S IMTOMATIK DITAMBAH VITAMIN

Keterangan

Mean ± Std.Deviasi

p

Terapi Simtomatik (n=27)

Terapi Simtomatik + Vitamin (n=80)

DNE

3,19±1,861

3,33±1,385

0,257

DNS

2,63±0,839

2,66±0,967

0,970

Tabel 5: PERBANDINGAN RERATA SKALA NYERI KELOMPOK PERBANDINGAN PERTAMA

NPS

Mean±Std.Deviasi

Terapi Simtomatik +Vitamin p

Terapi Simtomatik (n=27)

(n=80)

Sebelum Terapi

Sesudah Terapi

Selisih Sebelum-Sesudah

58,15±14,421              59,63±17,170         0,531

41,48±17,911              20,13±15,710         0,000

16,67±9,608               39,50±14,222         0,000

Tabel 6: PERBANDINGAN RERATA S KALA NYERI KELOMPOK PERBANDINGAN KEDUA

NPS

Mean±Std.Deviasi

p

Terapi Simtomatik (n=27)

Terapi Simtomatik + Vitamin B (n=36)

Terapi Simtomatik + Kombinasi Vitamin B dan Vitamin D 400 IU (n=11)

Terapi Simtomatik + Kombinasi Vitamin B dan Vitamin D 1000 IU (n=10)

Sebelum Terapi

58,15±14,421

58,33±18,439

56,36±16,895

75,00±5,270

0,019

Sesudah Terapi

41,48±17,911

23,89±17,611

10,00±8,944

22,00±6,325

0,000

Selisih Sebelum-Sesudah

16,67±9,608

34,44±15,202

46,36±16,293

53,00±6,749

0,000

Tabel 7: PERBANDINGAN RERATA S KALA NYERI KELOMPOK PERBANDINGAN KETIGA

NPS

Mean±Std.Deviasi

Terapi Simtomatik + Vitamin D 400 IU Terapi Simtomatik + Vitamin D 1000 IU p (n=18)                                  (n=5)

Sebelum Terapi

Sesudah Terapi

Selisih Sebelum-Sesudah

50,56±12,113                          78,00±4,472              0,002

13,89±14,608                         34,00±11,402              0,013

36,67±7,670                          44,00±8,944              0,088

Tabel 8: PERBANDINGAN PENGURANGAN NYERI S ETELAH TERAPI KELOMPOK PERBANDINGAN PERTAMA

Terapi Simtomatik Terapi Simtomatik + Vitamin

Kategori             n=27     %    n= 80         %

p

Nyeri berkurang >30%     5       18,5      68           85,0

0000

Nyeri berkurang <30%    22      81,5      12           15,0

sar 39,50±14,222, dengan pengurangan nyeri >30 % (Tabel 8) dicapai sebanyak 68 dari 80 subjek (85 %). Rerata pengurangan nyeri pada kelompok perbandingan kedua (Tabel 6) paling besar didapatkan pada kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU yaitu berkurang sebesar 53,00±6,749, dengan pengurangan nyeri >30 % (Tabel 9) dicapai sebanyak 10 dari 10 subjek (100 %). Rerata pengurangan nyeri pada kelompok perbandingan ketiga (Tabel 7) paling besar didapatkan pada kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU yaitu berkurang sebesar 44,00±8,944, dengan pengurangan nyeri >30 % (Tabel 10) dicapai sebanyak 5 dari 5 subjek (100 %), namun tidak terdapat perbedaan pengurangan nyeri yang signifikan antara kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 400 IU dan kelompok terapi simtomatik ditambah vitamin D 1000 IU. Dari seluruh kelompok terapi, pengurangan intensitas nyeri yang paling besar dicapai oleh kelompok terapi simtomatik ditambah kombinasi vitamin B dan vitamin D 1000 IU, sedangkan pengurangan nyeri yang paling sedikit dicapai oleh kelompok terapi simtomatik.

Nyeri neuropati diabetika menurut the International Association for the Study of Pain (IASP) adalah nyeri yang timbul akibat abnormalitas pada sistem somatosensoris perifer pada orang dengan diabetes.(Tesfaye et al., 2010) Neu-ropati diabetika dapat disebabkan oleh hiperglikemia yang berkepanjangan sehingga dapat menyebabkan adanya gangguan vaskular dan iskemia saraf, penurunan konsentrasi Nerve Growth Factor (NGF), terbentuknya Advanced Glycation End Product (AGE), gangguan jalur poliol, aktivasi protein kinase C, serta gangguan pada respon imun.(Kumar et al., 2013) Nyeri neuropati diabetika dapat disebabkan oleh sen-sitisasi perifer sistem saraf akibat hiperglikemia yang menyebabkan pertumbuhan saraf baru dan menimbulkan kerusakan pada sistem saraf sekitarnya sehingga terjadi peningkatan sensitivitas.(Aslam et al., 2014) Sensitisasi perifer yang berkepanjangan kemudian dapat menjadi sensitisasi sentral akibat adanya perubahan plastisitas pada central nociceptive circuits yang menyebabkan perubahan persepsi nyeri sehingga timbul gejala berupa paraesthesia dan dyasthesia (Ingram, 2020).

Defisiensi vitamin D dan vitamin B12 dapat menjadi faktor risiko terbentuknya nyeri neuropati perifer.(Jayabalan Low, 2016; Shillo et al., 2019) Vitamin B memiliki efek neurotropik yang dapat mempercepat regenerasi saraf.(Altun

Kurutas¸, 2016) Pemberian kombinasi vitamin B yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 dapat membantu mengurangi gejala neuropati perifer secara efektif.(Hakim et al., 2018) Pada sistem saraf pusat, vitamin B terutama vitamin B6 dan B12 bermanfaat dalam metabolisme asam folat dan homosistein. Fungsi lain vitamin B pada sistem saraf perifer bermanfaat dalam membantu mengoptimalkan fungsi saraf.(Calderón-Ospina Nava-Mesa, 2020) Vitamin B1 (thiamine) bermanfaat sebagai komponen struktural membran pada sistem saraf pusat dan perifer dan memberikan efek perlindungan terhadap membran seluler. Vitamin B6 (pyridoxin) bermanfaat sebagai kofaktor dari proses-proses metabolik, fisiologis, perkembangan pada sintesis neurotransmiter (epinephrine, norepinephrine, serotonin, dan GABA), serta sebagai antioksidan. Vitamin B12 (cobalamin) bermanfaat dalam menjaga proses eritropoiesis, sintesis dan pertumbuhan sel, dan sintesis nukleoprotein dan mielin dimana vitamin B12 akan dalam memicu sintesis lesitin yang menjadi salah satu komponen lipid selubung mielin.(Geller et al., 2017) Pada penderita nyeri neuropati diabetika ditemukan kadar vitamin D yang rendah sehingga saraf menjadi rentan terhadap toksin seperti hiperglikemia yang kemudian dapat menyebabkan terbentuknya neuropati diabetika dan komplikasi lain dari diabetes mellitus.(Shillo et al., 2019; Wei et al., 2020) Pemenuhan terhadap kebutuhan vitamin D memberikan hasil penurunan nyeri yang signifikan.(Lee Chen, 2015)

Vitamin D memiliki efek neuroprotrektif yang berhubungan dengan kadar neurotropin dan homeostasis kalsium neuronal sehingga dapat digunakan sebagai salah satu terapi tambahan pada neuropati diabetika karena dapat meningkatkan sintesis Nerve Growth Factor (NGF) dimana pada kondisi neuropati diabetika terdapat penurunan ekpresi NGF.(Sari et al., 2020; Wei et al., 2020) Efek antiinflamasi pada vitamin D berpengaruh dalam mengurangi rasa nyeri karena menurunkan ekspresi dan produksi sitokin proinflamasi dan menurunkan respon sel T Penurunan sitokin termasuk penurunan prostaglandin E2 (PGE2) dapat membantu dalam mengurangi rasa nyeri.(Gendelman et al., 2015; Helde-Frankling Björkhem-Bergman, 2017) Vitamin D bekerja menghambat COX-2 dan menstimulasi 15-prostaglandin dehydrogenase yang akan menurunkan prostaglandin dan menginhibisi reseptor prostaglandin-E2 dan prostaglandin-F2 alpha sehingga menurunkan ambang batas neuron sen-

Tabel 9: PERBANDINGAN PENGURANGAN NYERI SETELAH TERAPI KELOMPOK PERBANDINGAN KEDUA

Kategori

n(%)

p

Terapi Simtomatik (n=27)

Terapi Simtomatik + Vitamin B (n=36)

Terapi Simtomatik + Kombinasi Vit. B dan Vit. D 400 IU (n=11)

Terapi Simtomatik + Kombinasi Vit. B dan Vit. D 1000 IU (n=10)

Nyeri berkurang >30 %

5(18,5)

27(75,0)

10(90,9)

10(100,0)

0,000

Nyeri berkurang <30 %

22(81,5)

9(25,0)

1(9,1)

0(0,0)

sorik.(Shipton Shipton, 2015) Pada penelitian ini menggunakan dosis vitamin D sebanyak 400 IU dan 1000 IU. Rekomendasi suplementasi vitamin D yaitu sebanyak 400 IU per hari untuk usia 51-70 tahun dan 600 IU per hari untuk usia lebih dari 70 tahun, namun suplementasi dengan dosis yang lebih besar antara 800-2000 IU per hari dapat direkomendasikan pada usia 19-75 tahun untuk mendapatkan kadar konsentrasi serum 25-OHD sebesar 30-40 ng/ml untuk hasil yang baik.(Pittas et al., 2007; Rusinska et al., 2018) Pemberian terapi tambahan berupa vitamin D maupun kombinasi vitamin B pada terapi simtomatik nyeri neuropati diabetika diharapkan tidak hanya dapat mengurangi rasa nyeri tapi juga dapat menghambat kerusakan saraf serta memperbaiki fungsi saraf.

Keterbatasan pada penelitian ini yaitu penelitian menggunakan data sekunder dan terdapat beberapa data yang kurang lengkap pada data lama menderita diabetes mellitus dan diabetes mellitus terkendali atau tidak. Pada bagian data karakteristik dasar yang diteliti sebagai variabel perancu juga terdapat data yang berhubungan secara signifikan sehingga tidak dapat dipastikan pengurangan nyeri yang diperoleh hanya akibat pemberian terapi. Terapi simtomatik yang digunakan dalam penelitian ini juga berbeda tiap subjek sehingga kemungkinan dapat mempengaruhi hasil pengurangan nyeri.

  • 5.    KESIMPULAN

Kelompok dengan terapi tambahan vitamin menunjukkan hasil pengurangan nyeri yang lebih besar secara signifikan, namun, tidak ditemukan perbedaan penurunan nyeri yang signifikan antara kelompok dengan penambahan terapi vitamin D 400 IU dengan vitamin D 1000 IU.

  • 6.    UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana dan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta atas dukungan yang diberikan dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini.

  • 7.    DAFTAR PUSTAKA

Altun, I., Kurutas¸, E. B. (2016). Vitamin B complex and vitamin B12 levels after peripheral nerve injury. Neural Regeneration Research. https://doi.org/10.4103/1673-5374.177150

Aslam, A., Singh, J., Rajbhandari, S. (2014). Pathogenesis of painful diabetic neuropathy. Pain Research and Treatment, 2014. https://doi.org/10.1155/2014/412041

Becky, M. (2018). Low Vitamin D Levels in Painful Diabetic Peripheral Neuropathy. https://www.medscape.com/viewarticle/901641

Calderón-Ospina, C. A., Nava-Mesa, M. O. (2020). B Vitamins in the nervous system: Current knowledge of the

biochemical modes of action and synergies of thiamine, pyridoxine, and cobalamin. CNS Neuroscience Therapeutics, 26(1), 5–13. https://doi.org/10.1111/cns.13207

Cepeda, M. S., Wilcox, M., Levitan, B. (2013). Pain qualities and satisfaction with therapy: A survey of subjects with neuropathic pain. Pain Medicine (United States), 14(11), 1745–1756. https://doi.org/10.1111/pme.12210

Geller, M., Oliveira, L., Nigri, R., Mezitis, S. G., Goncalves Ribeiro, M., Souza da Fonseca, A. de, Guimaraes, O. R., Kaufman, R., Wajnsztajn, F. (2017). B Vitamins for Neuropathy and Neuropathic Pain. Vitamins Minerals, 06(02). https://doi.org/10.4172/2376-1318.1000161

Gendelman, O., Itzhaki, D., Makarov, S., Bennun, M., Amital, H. (2015). A randomized double-blind placebo-controlled study adding high dose Vitamin D to analgesic regimens in patients with musculoskeletal pain. Lupus, 24(4–5), 483–489. https://doi.org/10.1177/0961203314558676

Hakim, M., Kurniani, N., Pinzon, R., Tugasworo, D., Basu-ki, M., Haddani, H., Pambudi, P., Fithrie, A. (2018). Improvement of Quality of Life in Patients with Peripheral Neuropathy Treated with a Fixed Dose Combination of High-Dose Vitamin B1 , B6 and B12: Results from a 12-week Prospective Non-interventional Study in Indonesia. Journal of Clinical Trials, 8(2). https://doi.org/10.4172/2167-0870.1000343

Helde-Frankling, M., Björkhem-Bergman, L. (2017). Vitamin D in pain management. In International Journal of Molecular Sciences (Vol. 18, Issue 10). MDPI AG. https://doi.org/10.3390/ijms18102170

Ingram, S. L. (2020). 167 Molecular Basis of Nociception. In Youmans and Winn Neurological Surgery, 4-Volume Set (Seventh Ed, Vol. 02). Elsevier Inc. https://doi.org/10.1016/B978-0-323-28782-1.00455-X

Jameson JL; Fausi AS et al. (2018). Harrison’s Principles of Internal Medicine, 20e. In McGraw-Hill.

Jayabalan, B., Low, L. L. (2016). Vitamin B supplementation for diabetic peripheral neuropathy. Singapore Medical Journal, 57(2), 55–59. https://doi.org/10.11622/smedj.2016027

Kumar, V., Abbas, A. K., Aster, J. C. (2013). ROBBINS PATHOLOGY NINTH EDITION. In Robbins basic pathology. https://doi.org/10.1002/pauz.200790112

Lee, P., Chen, R. (2015). Vitamin D as an Analgesic for Patients With Type 2 Diabetes and Neuropathic Pain. Archives of Internal Medicine, 168(7), 771–772. http://archinte.jamanetwork.com/

Pinzon, R. T., Christi, Y. R. T. D. (2020). Effectiveness of Vitamin D and Vitamin B Addition Therapy in Diabetic Neuropathic Pain Standard Therapy. 9(October).

https://doi.org/10.15416/ijcp.2020.9.4.310

Pittas, A. G., Lau, J., Hu, F. B., Dawson-Hughes, B. (2007). Review: The role of vitamin D and calcium in type 2 diabetes. A systematic review and meta-analysis. In Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism (Vol. 92, Issue 6, pp. 2017–2029). Endocrine Society. https://doi.org/10.1210/jc.2007-0298

Pop-Busui, R., Boulton, A. J. M., Feldman, E. L., Bril, V., Freeman, R., Malik, R. A., Sosenko, J. M., Ziegler, D. (2017). Diabetic neuropathy: A position statement by the American diabetes association. Diabetes Care, 40(1), 136–154. https://doi.org/10.2337/dc16-2042

Rusinska, A., Płudowski, P., Walczak, M., Borszewska-Kornacka, M. K., Bossowski, A., Chlebna-Sokół, D., Czech-Kowalska, J., Dobrzan´ ska, A., Franek, E., Hel-wich, E., Jackowska, T., Kalina, M. A., Konstantyno-wicz, J., Ksiazyk, J., Lewin´ ski, A., Łukaszkiewicz, J., Marcinowska-Suchowierska, E., Mazur, A., Michałus, I., . . . Zygmunt, A. (2018). Vitamin D supplementation guidelines for general population and groups at risk of vitamin D deficiency in Poland-Recommendations of the Polish society of pediatric endocrinology and diabetes and the expert panel with participation of national specialist consultants and representatives of scientific societies-2018 update. In Frontiers in Endocrinology (Vol. 9, Issue MAY, p. 1). Frontiers Media S.A. https://doi.org/10.3389/fendo.2018.00246

Sari, A., Akdog˘ an Altun, Z., Arifoglu Karaman, C., Bi-lir Kaya, B., Durmus, B. (2020). <p>Does Vitamin D Affect Diabetic Neuropathic Pain and Ba-lance?</p>. Journal of Pain Research, Volume 13, 171–179. https://doi.org/10.2147/JPR.S203176

Shillo, P., Selvarajah, D., Greig, M., Gandhi, R., Rao, G., Wilkinson, I. D., Anand, P., Tesfaye, S. (2019). Reduced vitamin D levels in painful diabetic peripheral neuropathy. Diabetic Medicine, 36(1), 44–51. https://doi.org/10.1111/dme.13798

Shipton, E. A., Shipton, E. E. (2015). Vitamin D and pain: Vitamin D and its role in the aetiology and maintenance of chronic pain states and associated comorbidities. Pain Research and Treatment, 2015(May 2016). https://doi.org/10.1155/2015/904967

Tesfaye, S., Boulton, A. J. M., Dyck, P. J., Freeman, R., Horowitz, M., Kempler, P., Lauria, G., Malik, R. A., Spa-llone, V., Vinik, A., Bernardi, L., Valensi, P., Albers, J. W., Amarenco, G., Anderson, H., Arezzo, J., Backonja, M. M., Biessels, G. J., Bril, V., . . . Jones, T. (2010). Diabetic neuropathies: Update on definitions, diagnostic criteria, estimation of severity, and treatments. Diabetes Care, 33(10), 2285–2293. https://doi.org/10.2337/dc10-1303

Tölle, T., Xu, X., Sadosky, A. B. (2006). Painful diabetic neuropathy: A cross-sectional survey of health state impairment and treatment patterns. Journal of Diabetes and Its Complications, 20(1), 26–33. https://doi.org/10.1016/j.jdiacomp.2005.09.007

Wei, W., Zhang, Y., Chen, R., Qiu, X., Gao, Y., Chen, Q. (2020). The efficacy of vitamin D supplementation on painful diabetic neuropathy: Protocol for a systematic review and meta-analysis. Medicine, 99(31), e20871. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000020871

ASISARATU DKK.

80