Persepsi Petani terhadap Pilihan Menjual Padi Kepada Penebas atau Perpadi (Kasus Subak Benel, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana)
on
E-Jurnal Agribisnis dan Agrowisata
ISSN: 2301-6523
Vol. 6, No. 4, Oktober 2017
Persepsi Petani terhadap Pilihan Menjual Padi Kepada Penebas atau Perpadi
(Kasus Subak Benel, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana)
I MADE PRASADA ARY WIRAWAN, I DEWA PUTU OKA SUARDI,
I MADE SARJANA
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman Denpasar 80323
Email: [email protected] [email protected]
Abstract
Farmers Perception Of Options To Sell Rice Penebas Or Perpadi (especially in Subak Benel, Kaliakah Village, Negara districts, Jembrana Regency)
Various efforts have been implemented by the Provincial Food Crops Agency of Bali to stabilize the price of grain, this is done by giving Funds of Rural Economic Empowerment Capital to the government for the purchase of rice. Although it has been done from 2003, farmers are still selling it to Penebas with a bondage system. The purpose of this study to determine the perception of farmers to the choice of selling rice to Perpadi or Penebas seen and differences in farmers' perceptions of the choice of selling rice to Penebas or Perpadi. The research location is located in Subak Benel, Kaliakah Village, State District, Jembrana District. The analytical method used is qualitative descriptive that aided with score, to answer the purpose of research by using questionnaire. The results of this study indicate that the perception of farmers to the choice of selling rice to Perpadi better than to Penebas. This is seen in the achievement of the farmers' choice of selling paddy to Perpadi is very good and to Penebas is good. The difference of Perpadi with Penebas is measured through Different Test with SPSS Independent Sample T test program which the result of Sig value. Or p value of 0.004 where <0.05 then there is a statistically significant difference in probability 0.05, the mean difference or mean of both groups is shown in Mean Difference ie .29559.
Keywords: choice, middleman, Perpadi, rice, subak
Peningkatan produksi padi di Indonesia adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatanpetani beserta keluarganya selain untuk menjamin adanya ketersediaan pangan (beras) secara nasional (Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan, 2007). Peningkatan produksi padi di Provinsi Bali dan di Kabupaten Jembrana pada khususnya Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian
Tanaman Pangan, telah melaksanakan beberapa perbaikan kegiatan dari tingkat hulu sampai kehilir.Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah, berbagai upaya telah dilaksanakan Pemerintah Daerah dalam rangka menstabilkan harga gabah, diantaranya adalah memanfaatkan dana APBD Provinsi untuk pembelian gabah ditingkat petani. Sejak tahun 2003 dan berlanjut sampai sekarang Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali dengan dana APBD provinsi melaksanakan kegiatan pemberian Dana Penguatan Modal Usaha Ekonomi Pedesaan kepada Perpadi di seluruh Baliteruma Perpadi yang ada di Kabupaten Jembrana, untuk pembelian gabah ditingkat petani.Perpadi telah menerima Dana Penguatan Modal (DPM) dari tahun 2003 sampai sekarang, petani masih saja menjual padinya kepada Penebas yang sudah jelas harga yang diterima oleh petani jauh dibawah harga yang telah ditetapkan oleh Pemerintah bila dibandingkan dengan petani menjual padinya secara langsung ke Perpadi (Dinas Pertanian, 2007).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi petani terhadap pilihan menjual padi kepada Perpadi atau penebas dilihat dari aspek manajemen, aspek ekonomi, dan aspek sosial dan mengetahui perbedaan persepsi petani terhadap pilihan menjual padi kepada Perpadi atau Penebas.
Penelitian dilaksanakan di Subak Benel, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Waktu pengumpulan data sekunder dan data primer berlangsung dari bulanDesember 2016 sampai dengan Februari 2017.Adapun pertimbangan pemilihan lokasi penelitian karena Subak Benel telah bekerja sama dengan Perpadi UD.Putra Sentana dalam penjualan padi. Masih terdapatpetani menjual padi dengan sistem ijon/tebasan kepada para penebas.
Data penelitian berupa kuantitatif meliputi data scoring, rekapitulasi mengenai tingkat persepsi dan rekapitulasi karakteristik responden petani serta data kualitatif yang terdiri dari gambaran umum lokasi penelitian, hasil dari wawancara dan identitas responden. Data kuantitatif diperoleh dari responden dan data kualitatif didapatkan dari dokumen Podes(Sugiyono, 2012).
Populasi dalam penelitian ini adalah petani aktif Subak Benel yang berjumlah 330 orang yang meliputi tujuh arahan. Penetapan responden sebanyak 10% pada masing-masing arahan menggunakan metode Proportional Random Sampling(Arikunto, 2002), Total responden menjadi 34 orang petani.
Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui survei, observasi, wawancara,dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada Ketua Perpadi dan Kelian Subak. Wawancara langsung dengan kuesioner kepada anggota Subak Benelsebanyak 34 orang, sedangkan observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan langsung di Subak Benel.Dokumentasi dapat berupa foto-foto keadaan wilayah penelitian dan pada saat kegiatan wawancara dengan Ketua Perpadi, Kelian Subak,dan petani anggota Subak Benel (Nazir, 1983).
Variabel dalam penelitian ini meliputi tiga aspek yaitu aspek manajemen, aspek ekonomi,dan aspek sosial. Indikator dari aspek manajemen ada tiga yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, untuk indikator aspek ekonomi ada tiga yaitu kepastian harga, harga yang lebih baik, dan pendapatan, sedangkan indikator aspek sosial yaitu inovasi, hubungan yang baik, dan harapan (Wibowo, 2011).
Dikemukakan oleh Sugiyono (2010),analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, diperoleh dari hasil penelitian berupa data kualitatif dan kuantitatif disajikan dalam bentuk narasi dan tabel yang disusun secara sistematis dan efisien.Distribusi interval kelas kategori persepsi dalam hasil persentase skor di golongkan menjadi lima yaitu (1)lebih dari 1,00-1,80sangat tidak baik, (2) lebih dari 1,80-2,60 tidak baik, (3) lebih dari 2,60-3,40 cukup, (4) lebih dari 3,40-4,20 baik, dan (5) lebih dari 4,20-5,00 sangat baik.
Dikemukakan oleh Walgito (1990), persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindraan. Persepsi petani, menjual padi kepada Perpadi lebih baik dibandingkan dengan menjual padi kepada penebas. Hal ini terlihat dari pencapaian rata-rata skor yang memiliki selisih skor 0,44. Pilihan menjual padi kepada Perpadi tergolong dalam katagori sangat baik dengan pencapaian rata-rata skor 4,23 sedangkan menjual padi kepada penebas tergolong dalam katagori baik dengan pencapaian rata-rata skor sebesar 3,80.
Terry (2005), mengemukakan bahwa manajemen yaitu suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata.Berdasarkan aspek
manajemen, pilihan petani menjual padi kepada Perpadi berada dalam kategori baik dengan rata-rata skor 4,12. Pencapaian skor selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Pilihan Menjual Padi Kepada Perpadi Berdasarkan Aspek Manajemen
No |
Indikator |
Parameter |
Rata-rata |
Kategori |
Kesepakatan Cara Penen |
4,24 |
Sangat Baik | ||
1 |
Perencanaan |
Kesepakatan Waktu Panen |
3,91 |
Baik |
Perjanjian Harga |
4,26 |
Sangat Baik | ||
Rata-rata |
4.14 |
Baik | ||
Penentuan Tenaga Kerja |
4,24 |
Sangat Baik | ||
2 |
Pengorganisasian |
Pengelompokan Tugas |
4,26 |
Sangat Baik |
Jumlah tenaga Kerja |
4,15 |
Baik | ||
Jam Kerja |
3,79 |
Baik | ||
Rata-rata |
4,11 |
Baik | ||
Ketepatan waktu panen |
4,06 |
Baik | ||
3 |
Pelaksanaan |
Penggunaaan alat |
3,91 |
Baik Sangat Baik |
Sistem penimbangan padi |
4,38 | |||
Rata-rata |
4,12 |
Baik | ||
Kehadiran perpadi saat panen |
4.15 |
Baik | ||
4 |
Pengawasan |
Kehadiran Perpadi saat penimbangan |
4.09 |
Baik |
Rata-rata |
4.12 |
Baik | ||
Aspek Manejemen |
4,12 |
Baik |
Berdasarkan Tabel1 pencapaian skor pada indikator perencanaan masuk dalam kategori baik dengan pencapaian skor 4,14.Indikator perencanaan memiliki tiga parameter yaitu parameter kesepakatan cara panen dengan katagori sangat baik (4,24), kesepakatan waktu panen katagori baik (3,91), dan perjanjian harga berkatagori sangat baik (4,26). Perpadi dan Kelian Subak telah melakukan perjanjian kerja sama dalam pembelian padi petani di Subak Benel setiap musim panen datang dengan harga yang telah disepakati sesuai dengan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) pada waktu dan dilakukan penanda tanganan perjanjian setiap tahunnya.
Pencapaian skor pada indikator pengorganisasian masuk dalam katagori baik dengan rata-rata skor 4,11. Indikator pengorganisasian dibagi menjadi empat parameter yaitu penentuan tenaga panen dengan katagori sangat baik (4,24), pengelompokkan tugas katagori sangat baik (4,26), jumlah tenaga kerja (4,15), dan jam kerja katagori baik (3,79). Perpadi dalam melakukan penentuan tenaga panen yang akan digunakan untuk memanen padi, biasanya Perpadi menentukan tenaga panen dari luas areal padi dan alat yang akan di gunakan, setelah itu baru
mengelompokkan tugasnya baik untuk memanen, mengepak, mengumpulkan, maupun menimbang sekaligus pengangkutan.Perpadi menggunakan tanaga panen tidak lebih dari 10 orang dengan alasan ingin lebih mengefektifkan tenaga yang ada, dalam sekali panen Perpadi menggunakan tenaga dua orang untuk memanen sekaligus mengepak, satu orang untuk mengumpulkan gabah, dan empat orang untuk menimbang sekaligus pengakutan (memanen dengan combine), apabila memanen dengan secara tebas Perpadi menggunakan tenaga panen empat orang untuk memanen, satu orang mengumpulkan, dua merontokkan, dan tiga orang untuk menimbang sekaligus pengangkutan.Indikator pelaksanaan berada dalam katagori baik dengan rata-rata skor 4,12. Indikator ini memiliki tiga parameter yaitu ketepatan waktu panen katagori baik (4,06), pengunaan alat katagori baik (3,91), dan sistem penimbangan padi katagori sangat baik (4,38).Indikator pelaksanaan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kesuksesan pelaksanaan yang sudah di lakukan oleh Perpadi dalam pembelian padi petani, agar bisa dilakukan evaluasi kearah yang lebih baik, petani menganggap walaupun Perpadi sudah hampir baik di semua aspek namun masih ada beberapa kekurangan yang ada dan perlu di evaluasi agar saling menguntungkan.
Berdasarkan hasil penelitian aspek ekonomi memperoleh kategori sangat baik dengan rata-rata skor 4,27. Data selengkapnya dapat di lihat pada Tabel 2.
Tabel 2.
Pilihan Menjual Padi Kepada Perpadi Berdasarkan Aspek Ekonomi
No |
Indikator |
Parameter |
Rata-rata |
Kategori |
1 |
Kepastian Harga Harga yang lebih |
Harga yang diterima |
4.38 4.41 |
Sangat Baik Sangat Baik |
2 |
baik |
Tingkat Harga Besar Pendapatan yang | ||
4.03 |
Baik | |||
3 |
Pendapatan |
diperoleh | ||
Rata-rata |
4.27 |
Sangat Baik | ||
Aspek Ekonomi |
4.27 |
Sangat Baik |
Dilihat dari Tabel 2, aspek ekonomi sendiri di tekankan pada indikator kepastian harga di ukur melalui harga yang di terima oleh petani dengan katagori sangat baik (4,38). Situasi ini menunjukkan bahwa harga yang di berikan oleh Perpadi sudah sesuai dengan apa yang sudah di sepakati di awal, selain itu juga harga yang diterima oleh petani tidak ada potongan.Indikator harga yang lebih baik dengan parameter tingkat harga berada dalam katagori sangat baik (4,41). Tingkat harga yang diberikan oleh Perpadi sudah sesuai dengan HPP. Terlihat pada pembelian padi Perpadi tidak pernah memberikan harga di bawah Harga Pembelian Pemerintah sekalipun padi yang di hasilkan tidak sesuai harapan karena berbagai faktor seperti
kualitas padi yang buruk karena lama terbenam air dan terserang oleh hama.Indikator pendapatan dengan parameter besar pendapatan yang di peroleh berada dalam katagori baik (4,03).Pencapaian skor tersebut menunjukkan bahwa hasil penjualan padi belum sebanding dengan biaya pemeliharaan yang di keluarkan oleh petani dan juga jumlah pupuk yang diajukan ke pemerintah turunnya tidak sesuai, jadi petani harus membeli pupuk kembali di kios-kios pertanian yang pasti harganya jauh di atas pupuk subsidi.
Pencapaian skor pada aspek sosial sebesar 4,33 termasuk dalam kategori sangat baik. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Pilihan Menjual Padi Kepada Perpadi Berdasarkan Aspek Sosial
No |
Indikator |
Parameter |
Rata-rata |
Kategori |
1 |
Inovasi |
Teknologi baru yang digunakan |
4.29 |
Sangat Baik |
Rata-rata |
4.29 |
Sangat Baik | ||
Hubungan yang baik |
Kerja sama yang dilakukan |
4.26 |
Sangat Baik | |
2 |
Komunikasi yang di lakukan |
4.21 |
Sangat Baik | |
Motivasi yang diberikan |
4.50 |
Sangat Baik | ||
Rata-rata |
4.32 |
Sangat Baik | ||
Penggunaan teknologi |
4.47 |
Sangat Baik | ||
3 |
Harapan |
Kecepatan merespon keluhan petani |
4.32 |
Sangat Baik |
Harga yang di terima |
4.24 |
Sangat Baik | ||
Rata-rata |
4.34 |
Sangat Baik | ||
Aspek Sosial |
4.33 |
Sangat Baik |
Tabel 3 menunjukkan bahwa pengukuran masing-masing indikator meliputi inovasi dengan parameter teknologi baru yang di gunakan memperoleh skor rata-rata 4,29 (sangat baik). Hal ini bahwa teknologi baru yang digunakan Perpadi dapat menghemat tenaga, menghemat waktu, dan kehilangan hasil dapat ditekan. Indikator hubungan yang baik berkatagorikan sangat baik (4,32).Hal ini karena kerja sama yang di lakukan oleh perpadi dan petani sudah berjalan lama dan dapat saling menguntungkan. Hal ini terlihat pada kerja sama yang di lakukan memiliki katagori sangat baik (4,26), komunikasi yang dilakukan antara kedua belah pihak memperoleh katagori sangat baik (4,21),karena ada suatu kesepakatan mengenai harga pembelian gabah.Parameter motivasi yang diberikan berada dalam katagori sangat baik (4,50), dikarenakan perpadi selalu memberikan berbagai macam motifasi kepada petani untuk meningkatkan kualitas padi.Indikator harapan berada dalam katagori sangat baik (4,34), pencapaian tersebut di peroleh dari parameter penggunaan teknologi yang memperoleh katagori sangat baik (4,47), parameter kecepatan merespon keluhan petani berkatagori sangat baik (4,32), dan parameter harga yang di berikan memperoleh rata-rata skor 4,24 (sangat baik), pencapaian tersebut karena petani memiliki harapan yang besar terhadap perpadi baik dalam bidang pemberian harga,
penggunaan teknologi maupun kecepatan perpadi merespon keluhan petani apa lagi perpadi menerima DPM-LUEP dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahterahan petani dan menstabilkan harga gabah.
Pilihan petani menjual padi kepada Penebas dilihat dari tiga aspek yaitu aspek manajemen dengan empat indikator, aspek ekonomi dengan tiga indikator, dan aspek sosial dengan tiga indikator. Persentase skor ketiga aspek tersebut dapat di lihat selengkapnya Tabel 4.
Tabel 4.
Pilihan Menjual Padi Kepada Perpadi Berdasarkan Aspek Manajemen
No |
Indikator |
Parameter |
Rata-rata |
Kategori |
1 |
Perencanaan |
Kesepakatan Cara Penen Kesepakatan Waktu Panen Perjanjian Harga |
3,32 4,24 3,91 |
Cukup Sangat Baik Baik |
Rata-rata |
3,82 |
Baik | ||
2 |
Pengorganisasian |
Penentuan Tenaga Kerja |
4,03 |
Baik |
Pengelompokan Tugas |
3,35 |
Cukup | ||
Jumlah tenaga Kerja |
4,32 |
Sangat Baik | ||
Jam Kerja |
3,85 |
Baik | ||
Rata-rata |
3,89 |
Baik | ||
3 |
Pelaksanaan |
Ketepatan waktu panen |
4,12 |
Baik |
Penggunaaan alat |
3,38 |
Cukup | ||
Sistem penimbangan padi |
3,97 |
Baik | ||
Rata-rata |
3,82 |
Baik | ||
4 |
Pengawasan |
Kehadiran penebas saat panen |
4,41 |
Sangat Baik |
Kehadiran penebas saat penimbangan |
4,26 |
Sangat Baik | ||
Rata-rata |
4,34 |
Sangat Baik | ||
Aspek Manejemen |
3,91 |
Baik |
Berdasarkan Tabel 4, indikator perencanaan masuk dalam katagori baik dengan pencapaian skor 3,82. Parameter kesepakatan cara panen rata-rata skornya 3,32 (cukup), dikarenakan cara panen yang di lakukan oleh penebas belum sesuai dengan apa yang diinginkan oleh petani. Pada parameter waktu panen rata-rata skor 4,24 (sangat baik). Hal ini dikarenakan waktu panen yang di lakukan oleh penebas tepat waktu dan penebas tidak mengenal kondisi lapangan entah itu padi rebah, ujan, maupun sawah becek. Parameter perjanjian harga berada dalam katagori baik (3,91), dikarenakan pada awal perjanjian kepada petani penebas menawarkan dengan harga yang bagus, sesuai dengan luas dan kualitas padi di sawah, namun pada saat pemanenan selesai harga yang diterima oleh petani tidak sesuai dengan kesepakatan diawal, penebas beralasan hal itu terjadi karena adanya pemotongan baik untuk ongkos pengangkutan dan membayar tenaga panen.
Indikator pengorganisasian memperoleh katagori baik (3,89). Empat parameter yang ada hanya parameter tenaga kerja yang memperoleh katagori sangat baik (4,32), hal ini karena jumlah tenaga kerja yang digunakan oleh penebas sangat banyak
dalam sekali panen yaitu 10-15 orang. Parameter penentuan tenaga kerja berkatagori baik (4,03), dalam penentuan tenaga kerja penebas sudah di tentukan dari awal berapa tenaga yang akan di pakai untuk memanen padi petani. Pencapaian katagori parameter pengelompokkan tenaga kerja adalah cukup (3,25), tidak ada pengelompokkan tugas tenaga panen dari penebas, sistem tenaga kerja yang di gunakanoleh penebas sistem berjenjang. Parameter jam kerja memperoleh rata-rata skor 3,85 (baik), terlihat pada waktu panen penebas lebih baik ketimbang jam kerja yang di gunakan oleh Perpadi.
Indikator pelaksanaan dalam aspek manajemen memperoleh rata-rata skor 3,82 (baik) yang di bagi menjadi tiga parameter yaitu ketepatan waktu panen katagori baik (4,12), penggunaan alat katagori cukup (3,38), dan sistem penimbangan katagori baik (3,97). Indikator pengawasan merupakan indikator terakhir pada aspek manajemen yang memperoleh skor 4,34 (sangat baik) yang memiliki dua parameter yaitu kehadiran penebas pada saat panen dengan katagori sangat baik (4,41) sedangkan kehadiran penebas pada saat penimbangan memperoleh rata-rata skor 4,26 (sangat baik). Pencapaian tersebut membuktikan bahwa penebas langsunglah yang hadir dalam pemanenan sampai penimbangan.
Berdasarkan hasil penelitian aspek ekonomi berada dalam katagori cukup dengan rata-rata skor 3,35. Data selengkapnya dapat di lihat pada Tabel 5.
Tabel 5.
Pilihan Menjual Padi Kepada Penebas Berdasarkan Aspek Ekonomi
No |
Indikator |
Parameter |
Rata-rata |
Kategori |
1 |
Kepastian Harga |
Harga yang diterima |
3,35 |
Cukup |
2 |
Harga yang lebih baik |
Tingkat Harga |
3,32 |
Cukup |
3 |
Pendapatan |
Besar Pendapatan yang diperoleh |
3,38 |
Cukup |
Rata-rata |
3,35 |
Cukup | ||
Aspek Ekonomi |
3,35 |
Cukup |
Dilihat dari Tabel 5, aspek ekonomi sendiri ditekankan pada indikator kepastian harga dengan parameter harga yang diterima(3,35), harga yang lebih baik dengan parameter tingkat harga (3,32), dan pendapatan dengan parameter besar pendapatan yang diperoleh (3,38), semua pencapaian katagori cukup indikator maupun parameter aspek ekonomi lembaga penebas adalah cukup.Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian aspek ekonomi penebas jauh di bawah pencapaian oleh Perpadi yang memperoleh katagori sangan baik di semua indikator. Pencapaian pada penebas didukung oleh harga yang diterima petani pada saat pemanenan tidak sesuai dengan kesepakatan karena penebas sering mengurangi pembayaranya kepada petani dengan alasan membayar kompensasi susut terhadap padi petani.Secara keseluruhan penerapan aspek ekonomi berada dalam katagori cukup. Situasi tersebut dikarenakan oleh faktor biaya pengolahan tanah, biaya tanam, dan harga sarana
pertanian yang harus dikeluarkan oleh petani cukup tinggi, tidak sesuai dengan pendapatan yang diterima petani dari hasil penjualan padi/gabah yang dimilikinya bila petani menjual dengan penebas. Mengingat petani lebih cenderung menjual padinya dengan sisten tebasan yang sudah barang tentu harga yang diterima petani akan lebih rendah, jika dibandingkan dengan petani menjual gabahnya sendiri ke penggilingan milik Perpadi, tentu akan menerima harga yang lebih tinggi.
Aspek sosial memperoleh rata-rata skor 4,12 dengan katagori baik. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6.
Pilihan Menjual Padi Kepada Penebas Berdasarkan Aspek Sosial
No |
Indikator |
Parameter |
Rata-rata |
Kategori |
1 |
Inovasi |
Teknologi baru yang di gunakan |
3,29 |
Cukup |
Rata-rata |
3,29 |
Cukup | ||
Hubungan yang baik |
Kerja sama yang dilakukan |
4.29 |
Sangat Baik | |
2 |
Komunikasi yang di lakukan |
4.24 |
Sangat Baik | |
Motivasi yang diberikan |
4.12 |
Baik | ||
Rata-rata |
4.22 |
Sangat Baik | ||
Penggunaan teknologi |
4.35 |
Sangat Baik | ||
3 |
Harapan |
Kecepatan merespon keluhan petani |
4.24 |
Sangat Baik |
Harga yang di terima |
4.29 |
Sangat Baik | ||
Rata-rata |
4.29 |
Sangat Baik | ||
Aspek Sosial |
4.12 |
Baik |
Berdasarkan Tabel 6, aspek sosial memiliki tiga indikator dan tujuh parameter.Indikator inovasi dengan parameter teknologi yang di gunakan pada saat pemanenan memperoleh skor 3,29 (cukup). Indikator hubungan yang baik memperoleh skor 4,22 (sangat baik)yang di bagi menjadi tiga parameter yaitu kerja sama yang di lakukan memperoleh katagori sangat baik (4,29), parameter komunikasi yang di lakukan memperoleh skor 4,24 (sangat baik) namun pada motovasi kepada petani hanya memperoleh skor 4,12 (baik), karena penebas tidak pernah memberikan motivasi kepada petani berbeda dengan Perpadi yang selalu memberikan motivasi kepada petani.Pencapaianskor harapan pada lembaga penebas adalah 4,29 (sangat baik) yang dukung dari parameter penggunaan teknologi yang memperoleh skor 4,35, kecepatan merespon keluhan petani skor 4,24, dan harga yang di terima skor 4,29. Semua parameter tersebut mendapatkan katagori sangat baik.
Persepsi petani terhadap Perpadi memperoleh skor 4,23 (sangat baik) dan penebas 3,80 (baik). Selisih pencapaian skor persepsi petani terhadap pilihan menjual padi kepada Perpadi atau penebas hanya 0,44. Hal tersebut didukung dari hasil
analisis uji beda persepsi petani terhadap Perpadi dengan penebas dengan bantuan program SPSS Independent Sample T test. Pada uji Independent Sample T test nilai Sig. atau p value sebesar 0,004 dimana lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak. Nilai sig (2 tailed) lebih kecil dari 0,05 berarti ada perbedaan bermakna secara statistik pada probabilitas 0,05. Besarnya perbedaan rata-rata atau mean kedua kelompok ditunjukkan pada Mean Difference, yaitu 29559. Persepsi petani terhadap pilihan menjual padi kepada Perpadi atau penebas memiliki perbedaan yang nyata secara statistik.Dasar pengambilan keputusan dengan membaca nilai Sig. (2-tailed) yang terdapat pada output olah data SPSS versi 22, dengan aturan yang dikemukakan oleh (Priyatno, 2012).
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulan hal-hal sebagai berikut:
-
1. Persepsi petani terhadap pilihan menjual padi kepada Perpadi lebih besar/baik jika dibandingkan dengan menjual padi kepada penebas dilihat dari aspek manajemen, aspek ekonomi, dan aspek sosial.
-
2. Perbedaan persepsi petani terhadap pilihan menjual padi kepada Perpadi atau penebas terbukti secara statistik yang terlihat dari pencapaian Sig.2-tailed 0,004 lebih kecil dari 0,05 yang artinya ada perbedaan yang nyata antara Perpadi dan penebas.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut : Diharapkan Perpadi agar secara langsung membeli padi kepetani tanpa melalui perantara penebas agar bisa membeli padi dengan HPP, dan juga diharapkan kepada para petani agar menjual padinya kepada Perpadi sehingga mendapatkan harga yang sesuai dengan HPP (Harga Pembelian Pemerintah).
-
5. Ucapan Terimakasih
Terimakasih kepada Ketua Perpadi Kabupaten Jembrana, Kelian Subak dan petani Subak Benel yang telah memberikan data dalam penyelesaian penelitiandan bisa dimuat di e-jurnal.Semoga penelitian ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan. 2007. Petunjuk Pelaksanaan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha ekonomi Pedesaan Untuk Pengendalian Harga Gabah, jagung, dan kedelai Tingkat Petani. Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan. Propinsi Jawa Tengah.
Dinas Pertanian. 2007. Evaluasi Pelaksanaan DPM-LUEP Di Kabupaten Jembrana. Dinas Pertanian. Jembrana.
Nazir, M. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Balai Aksara.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Priyatno, Duwi. 2012. Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20. Edisi
Kesatu.Yogyakarta: ANDI
Terry, G. 2005. Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: PT. Bumi Aksara
Wibowo. 2011. Manajemen Kinerja. Jakarta: Rajawali Pers
Walgito, B. 1990. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
573
Discussion and feedback