Representasi dan Interpretasi Kaomoji (Emotikon Bahasa Jepang) melalui pendekatan semiotika Pierce

Avatar of jurnal
semiotika Pierce 1

Semiotik merupakan salah satu kajian dalam linguistik yang bertujuan untuk menjelaskan bagaimana tanda atau simbol dapat merepresentasikan objek, ide, kondisi, situasi, perasaan, dan kondisi di luar simbol itu sendiri.

Penelitian ini bertujuan untuk membahas penggunaan simbol berupa emoticon Jepang (kaomoji) dalam menjelaskan hal-hal yang tidak terwakili karena keterbatasan nada, suara, dan ekspresi saat berkomunikasi secara nonverbal. B dengan menggunakan teori semiotika Pierce, penelitian ini juga melihat bagaimana budaya menjadi dasar pembentukan makna dalam sebuah tanda atau simbol pada kaomoji.

Dengan kata lain, kaomoji memiliki makna yang bertujuan untuk menekankan ekspresi, memperkuat emosi, dan bentuk apresiasi positif. Selain itu, kaomoji yang sangat variatif dan kreatif menggambarkan bahwa orang Jepang sangat ekspresif dan penuh semangat

Tentang Emotikon

Emotikon (emoticon) merupakan singkatan dari “emotion icon” yang berarti ‘ikon emosi’ yang terbuat dari berbagai simbol tulisan yang disatukan hingga menyerupai ekspresi wajah. Emotikon dapat dikatakan sebagai bentuk kreatif visual yang menonjol untuk mempresentasikan emosi ke dalam komunikasi berbasis teks.

Emotikon berfungsi sebagai bentuk penekanan nada atau arti dalam pembuatan atau penginterpretasian pesan. Selain itu, emotikon juga dapat menunjukkan emosi serta kondisi sang penulis.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa emotikon yang memiliki fungsi untuk mengklarifikasikan pesan tekstual, merupakan hal yang serupa dengan fungsi nonverbal dalam percakapan tatap muka (Derks, 2007).

Pierce 1

Emotikon Dan Kaomoji

Kaomoji yang secara harfiah memiliki arti “huruf wajah” adalah emotikon versi Jepang. Berbeda dengan emotikon buatan Amerika yang ditulis secara menyamping seperti 🙂 atau :-〇, kaomoji memiliki bentuk yang lebih ekspresif dan ditulis secara mendatar, seperti (ハ ハ) dan (-_-;), sehingga mempermudah pemahaman dalam membaca emotikon tersebut.

Elemen utama yang membentuk kaomoji terdiri dari tanda kurung tutup “( )” sebagai wajah, tanda caret atau tanda minus “-” sebagai mata, dan garis bawah “_” sebagai mulut.

Kaomoji tidak hanya mengekpresikan wajah dan emosi, tetapi juga memperlihatkan gerakan tubuh lainnya yang pada umumnya tidak dapat ditemukan dalam emotikon, misalnya dengan menambahkan tanda “\ /” sebagai gerakan tangan \(ハ_ハ)/.

Apabila dilihat secara sekilas, kaomoji terlihat mirip dengan tokoh-tokoh kartun gaya Jepang, muka bulat dengan ekspresi muka yang identik dengan Anime.

Penggunaan kaomoji dalam komunikasi non verbal ini dapat meminimalisirkan kesalahpahaman yang dapat terjadi akibat salah penafsiran akan tulisan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan mengangkat topik tentang representasi dan interpretasi kaomoji melalui pendekatan semiotika pierce.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif berupa semiotika Pierce. Salah satu prinsip komunikasi adalah komunikasi melibatkan tanda dan kode. Tanda adalah material atau tindakan yang menunjuk pada ‘sesuatu’, sementara kode adalah sistem tanda-tanda yang diorganisasikan dan menentukan bagaimana tanda dihubungkan dengan yang lain.

Dengan demikian, pusat perhatian semiotika pada kajian komunikasi adalah menggali apa yang tersembunyi dibalik bahasa verbal atau nonverbal. Penelitian ini menganalisis makna simbol kaomoji bahasa Jepang.

Pembahasan

Komunikasi non verbal adalah proses komunikasi melalui pengiriman dan penerimaan pesan tanpa penggunaan kata-kata (Devito, 2002). Liliweri juga (1994:89) berpendapat bahwa komunikasi nonverbal seringkali dipergunakan untuk menggambarkan perasaan dan emosi.

Jika pesan yang diterima melalui sistem verbal tidak menunjukkan kekuatan pesan, maka penerima pesan dapat menerima tanda-tanda nonverbal lainnya sebagai pendukung.

Dari sini dapat dilihat bahwa pesan nonverbal berperan dalam proses pemahaman pesan verbal yang diterima. Jandt (1998:104-116) membagi komunikasi non verbal ke dalam sembilan jenis, yaitu

  1. kinesics (gerak tubuh)
  2. paralanguage (suara)
  3. visual
  4. haptics (sentuhan)
  5. proxemics (kedekatan)
  6. chronemics (waktu)
  7. kebisuan
  8. olfactics (penciuman)
  9. oculesics (pesan yang disampaikan melalui mata).

Penelitian kaomoji ini termasuk ke dalam komunikasi visual, yaitu salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan berupa gambar, grafik, lambang dan simbol.

Kaomoji ( 顔文字) merupakan gaya emotikon popular Jepang yang terdiri dari karakter Jepang dan tanda baca tata bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan emosi di sms dan komunikasi dunia maya (komunikasi non verbal). Secara harfiah, dalam bahasa Jepang “kao” berarti ‘wajah’ dan “moji” berarti ‘karakter’, jadi kaomoji dapat diterjemahkan sebagai ‘karakter yang dapat mencerminkan ekspresi wajah’.

Dalam meikyo kakugo jiten menyebutkan bahwa kaomoji adalah “Ekspresi muka yang terbuat dari simbol dan digunakan dalam pesan elektronik, seperti (AoA), (-_-;), yang kurang lebih digunakan untuk mengungkapkan perasaan (Virginianty, 2012).

Sebelumnya emotikon muncul untuk pertama kalinya di Amerika Serikat pada tahun 1980 dengan simbol 🙂 atau 🙂 yang dikenal dengan istilah ‘smiley’. Emoji (絵文字) pada awalnya memiliki arti pictograph, dan secara harfiah memiliki arti ‘gambar dan karakter’.

Emoji pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan kaomoji, akan tetapi berbeda dengan kaomoji yang terbuat dari berbagai simbol penulisan, emoji memiliki standarisasi, bentuk yang pasti dan dibuat secara set. Sugimoto dan Levin (2000) mengemukakan bahwa perbedaan antara emoji dan kaomoji antara lain, 1) arah dari lambang, emoji ditulis secara vertical 🙂 dan kaomoji ditulis secara horizontal AoA ; dan 2) fokus ekspresi, emoji lebih fokus ke mulut, sementara kaomoji mengemfasiskan di mata (Katsuno & Yano, 2002).

Semiotika dapat dijelaskan sebagai ilmu mengenai tanda. Semiotika melihat tanda sebagai dua sisi uang logam yang tak terpisahkan. Di satu sisi terdapat penanda (signifier) yang dapat diasosiasikan dengan representament dalam semiotika pierce.

Pada sisi lain, terdapat pertanda (signified) yang dapat diasosiasikan sebagai interpretant dalam konsep Pierce. Konsep Pierce menjelaskan terdapat relasi antara representament (hasil representasi) dan interpretant (hasil interpretasi) yang mengakibatkan adanya simbol, indeks, dan ikon (Sobur, 2009:42).

Dalam semiotika, konotasi, dan denotasi juga memiliki makna yang penting. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sebuah tanda diinterpretasikan (signified). Makna denotasi dapat dikatakan sebagai makna pertama sedangkan makna konotasi dapat disebut sebagai makna kedua (Wibowo, 2011:17).

Berikut ini adalah representasi dan interpretasi dari kaomoji menggunakan semiotika Pierce.

Selain kaomoji yang telah dipaparkan di atas, terdapat variasi kaomoji lainnya yang bisa dibentuk dengan menggunakan simbol-simbol kaomoji yang telah dipaparkan sebelumnya. Berikut variasi-variasi kaomoji yang bisa dibentuk dari simbol-simbol sebelumnya.

Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa kaomoji dapat disebut sebagai alat komunikasi pengganti dalam bentuk non verbal di dalam dunia maya.

Kaomoji juga membantu pengirim pesan dalam meyampaikan dan mengekspresikan perasaannya sehingga penerima pesan (pembaca) dapat memahami dengan baik maksud atau makna sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh pengirim pesan.

Untuk membuat sebuah kaomoji, elemen-elemen wajah yang harus ditampilkan adalah mata dan mulut yang erdapat dalam simbol tanda kurang “( )”. Berapapun simbol yang digunakan, asalkan masih terdapat dalam tanda kurung maka disebut sebagai kaomoji.

Daftar Pustaka

[1] Baldwin, John R, Perry, S.d & Moffit, M.A. 2004. Communication Theories For Everyday Life. Boston: Pearson Education INC.

[2] Derks, Daantje. 2007. Exploring The Missing Wink: Emotikons In Cyberspace. Leiderdrop: Copyshop.

[3] Jandt, Fred E. 1998. Intercultural Communication An Introductions. Thousand Oaks: Sage Publications.

[4] Katsuno, Hirofumi dan Yano, Christine R. 2002. Face to Face.: “Online Subjectivity in Contemporary Japan.” Asian Studies Review 26:205-232.

[5] Liliweri, Alo. 1994. Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

[6] Sendjaja, Djuarsa. 1994. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

[7] Sobur, Alex. 2009. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Karya Rosdakarya.

[8] Virginianty, Gina Aghnia. 2012. Kaomoji Pada Pesan Verbal Dalam Komunikasi Media Komputer. Skripsi. FIB Universitas Indonesia.

[9] Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2011. Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.

[10] http://kaomcjiya.com/, di akses pada tanggal16 April 2017

[11] http://kaomoji.ru/en/, di akses pada tanggal16 April 2017

Last Updated on 19 Agustus 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
kata 2

Fungsi ~Tokoro, ~Teiru Tokoro, ~Ta Tokoro dan Perbandingan dengan ~Te Iru, ~Ta Bakari

Next Post
demo image 00003

Rhoncus Ante Sit Nulla Sed Tellus Blandit Eleifend Nascetur

Related Posts