Kualitas Silase Tebon Jagung (Zea mays L.) dengan Penambahan Berbagai Bahan Aditif Ditinjau dari Kandungan Nutrisi

Avatar of jurnal
Silase Tebon Jagung

Lisa Mufida Mustika, Hartutik Hartutik

Abstract

Penelitian ini menggunakan berbagai aditif dalam proses pembuatan silase tebon jagung (Zea mays). Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi penggunaan bahan aditif terhadap kandungan nutrisi silase tebon jagung. Bahan yang digunakan adalah tebon jagung, bekatul, pollard, molases, dan tepung gaplek.

Metode penelitian yang digunakan adalah uji laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) tersarang yang terdiri dari dua faktor yaitu jenis bahan aditif yang digunakan dan level penggunaannya dalam pembuatan silase.

Variabel penelitian terdiri dari kandungan nutrisi meliputi Bahan Kering (BK), Bahan Organik (BO), dan Protein Kasar (PK). Data dianalisis dengan analisis ragam dan apabila terdapat perbedaan yang signifikan dilanjutkan analisis Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan aditif yaitu bekatul, pollard, molases, dan tepung gaplek mampu meningkatkan kualitas silase tebon jagung, namun perlakuan yang terbaik adalah penggunaan pollard dengan level optimal 10%.

Keywords: Aditif, kandungan nutrisi, silase, tebon jagung

Full Text:

PDF

DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jnt.2021.004.01.7

Refbacks

There are currently no refbacks.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Pendahuluan

Kekurangan tanaman hijau hijauan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak kambing pada musim kemarau akan terjadi dan pada musim penghujan ketersediannya melimpah. Karakteristik pakan hijauan mudah rusak karena kadar airnya tinggi sehingga walaupun ketersediaannya melimpah namun tidak dapat disimpan tanpa ada perlakuan.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu ada metode untuk mengatasi kekurangan hijauan pada musim kemarau dan kelebihan saat musim penghujan Hartutik (2012). Hanafi (2008) menyatakan bahwa teknik pengawetan hijauan (silase) merupakan bagian dari sistem produksi ternak. Silase adalah metode pengawetan hijauan dengan cara fermentasi anaerob di dalam silo dengan kondisi kandungan air tinggi (60-70%) dan dalam suasana asam. Tanaman yang populer untuk dijadikan silase untuk pakan ternak antara lain daun odot

Selain manfaat silase untuk mengawetkan, silase juga bermanfaat untuk meningkatkan daya cerna selama proses fermentasi. Fermentasi merupakan proses perombakan dari struktur keras secara fisik, kimia, dan biologis sehingga bahan dari struktur kompleks menjadi sederhana dan daya cerna pakan akan menjadi lebih efisien.

Bahan aditif berupa water soluble carbohydrate (WSC) bisa ditambahkan pada proses pembuatan silase dengan tujuan mempercepat ensilase. Keberhasilan pada pembuatan silase dipengaruhi oleh kandungan WSC, kadar air hijauan yang digunakan, jumlah bakteri asam laktat (BAL), dan kadar oksigen.

Apabila saat ensilase berlangsung, terjadi kekurangan WSC, maka dapat menyebabkan BAL kekurangan asupan energi untuk pertumbahnnya, sehingga dapat menyebabkan kandungan asam laktat menjadi rendah dan penurunan pH yang lambat.

Maka, untuk menjamin ketersedian kandungan WSC yang baik untuk keberhasilan proses ensilase perlu dilakukan penambahan bahan aditif (Jasin, 2015). Penelitian ini menggunakan tebon jagung sebagai bahan baku pembuatan silase yang merupakan bagian dari tanaman jagung meliputi batang, daun dan buah jagung muda yang umurnya dipanen pada umur tanaman 45 – 65 hari (Soeharsono dan Sudaryanto, 2006).

Bahan aditif berupa sumber WSC akan ditambahkan untuk pembuatan silase terdiri dari bekatul, pollard, molases, dan tepung gaplek dan diharapkan  mampu meningkatkan kandungan nutrisi dari silase tebon jagung.

MATERI DAN METODE

Materi Penelitian

Materi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

1. Bahan pembuatan silase terdiri dari :

  • a. Bahan baku: tebon jagung dengan jenis hibrida yang diperoleh dari Kecamatan Karangploso, Malang dengan umur potong 65 hari sebanyak 2 kg per perlakuan.
  • b. Bahan aditif : pollard, molases, bekatul dan tepung gaplek diperoleh dari toko bahan pakan di Kecamatan Karangploso, Malang. Kandungan nutrisi bahan penyusun silase tebon jagung disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Hasil_analisis_proksimat_bahan_penyusun_silase_tebonjagung

Perlakuan BK (%) Kandungan nutrien (%BK) *
BO (%) Abu (%) PK (%) SK (%) LK (%) BETN
a.Tebon jagung 31,2 80,3 7,43 7,8 23,55 2,34 55,66
b. Pollard 88,17 95,22 5,22 13,16 7,66 4,57 65,88
c. Molases 64,12 85,66 6,22 1,29 0,25 4,69 52,33
d.Bekatul 90,87 89,22 5,66 9,69 16,93 7,7 51,22
e.Tepung gaplek 87,56 84,33 5,44 3,61 4,18 1,57 50,23

Keterangan:*) Berdasarkan 100% BK *) Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

2. Peralatan yang digunakan pembuatan silase antara lain: mesin pencacah (chopper), sabit, sekop, toples, tali rafia, lakban, timbangan digital.

Pembuatan silase dilaksanakan di Laboratorium Lapang Sumber Sekar, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode percobaan dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Tersarang dengan melibatkan 2 faktor yaitu factor I empat jenis aditif (faktor I ; pollard, molases, bekatul, tepung gaplek) dan tiga level penggunaan aditif (dengan 3 kali ulangan, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Adapun perlakuan yang dicobakan adalah:

  • Ppo   = Tebon jagung + 0% pollard
  • Pp io   = Tebon j agung + 10% pollard
  • Pp20   = Tebon j agung + 20% pollard
  • Pmo   = Tebon jagung + 0% molases
  • Pmio  = Tebon jagung + 10% molases
  • Pm2o  = Tebon jagung + 20% molases
  • Pbo   = Tebon jagung + 0% bekatul
  • Pbio   = Tebon jagung + 10% bekatul
  • Pb2o   = Tebon jagung + 20% bekatul
  • Ptgo   = Tebon jagung + 0% tepung gaplek
  • Ptgio  = Tebon jagung + 10% tepung gaplek
  • Ptg2o  = Tebon jagung + 20% tepung gaplek

Sampel bahan baku silase dan sampel produk silase tebon jagung dianalisis menggunakan metode proksimat (AOAC, 2005).

Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisa menggunakan ANOVA dengan Rancangan Acak Lengkap pola Tersarang (Sudarwati dkk., 2019). Hasil yang berbeda akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 2 menunjukkan data hasil analisis kandungan nutrisi silase tebon jagung dengan penambahan berbagai aditif dan level penggunaannya sebelum ensilase (0 hari) dan setelah inkubasi (21 hari). Data dalam Tabel 2 menunjukkan peningkatan kadar BK silase tebon jagung dibandingkan dengan data sebelum ensilase.

Meningkatnya kandungan BK silase bisa dipengaruhi oleh penambahan bahan aditif berupa sumber WSC. Santi dkk. (2011) melaporkan bahwa, dedak padi yang diberikan ke dalam silase menambah kandungan bahan kering silase menjadi lebih tinggi antara 26,93% – 34,42%.

Hasil penelitian Riswandi (2014) juga menunjukkan bahwa adanya penambahan kandaungan BK silase yang ditambahkan dedak halus.

Tabel 2. Kandungan nutrisi silase tebon jagung dengan penambahan bahan aditif
Perlakuan Kandungan Nutrisi 0 hari (%BK) Kandungan Nutrisi 21 hari (%BK)
BK BO PK BK BO PK
Pollard
Pp0 22,4 ± 0,04 83,7 ± 0,58 7,5 ± 0,17 32,0 ± 1,55 87,0 ± 0,33 8,8 ± 0,17
Pp10 21,5 ± 0,13 82,9 ± 1,06 7,6 ± 0,29 32,6 ± 2,13 86,6 ± 0,59 8,7 ± 0,16
Pp20 21,5 ± 0,15 82,4 ± 1,23 7,6 ± 0,28 31,4 ± 0,97 87,0 ± 0,53 8,6 ± 0,21
Molases
Pm0 22,3 ± 0,02 83,4 ± 1,11 7,4 ± 0,13 36,5 ± 0,32 86,7 ± 0,17 8,3 ± 0,10
Pm10 21,3 ± 0,18 82,5 ± 0,57 7,4 ± 0,21 36,1 ± 1,20 87,0 ± 0,30 8,3 ± 0,10
Pm20 21,3 ± 0,06 82,6 ± 1,17 7,8 ± 0,39 35,7 ± 1,61 87,1 ± 0,16 8,3 ± 0,09
Bekatul
Pb0 22,1 ± 1,25 82,3 ± 1,11 7,0 ± 0,08 35,1 ± 0,68 87,5 ± 0,73 8,5 ± 0,30
Pb10 21,4 ± 0,07 83,3 ± 0,88 7,2 ± 0,15 37,3 ± 1,93 86,2 ± 1,17 8,6 ± 0,32
Pb20 21,3 ± 0,01 82,2 ± 1,00 7,4 ± 0,06 36,2 ± 0,44 86,7 ± 0,46 8,5 ± 0,36
Tepung

Gaplek

Ptg0 21,3 ± 0,01 83,0 ± 1,15 7,3 ± 0,35 34,0 ± 0,27 86,5 ± 1,03 8,5 ± 0,13
Ptg10 21,3 ± 0,11 83,4 ± 0,90 7,3 ± 0,68 35,8 ± 1,39 87,2 ± 1,01 8,5 ± 0,12
Ptg20 21,3 ± 0,11 82,7 ± 0,55 7,5 ± 1,11 36,6 ± 1,61 87,0 ± 0,80 8,5 ± 0,10

Keterangan:*) Berdasarkan 100% BK; Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Pembuatan silase pada dasarnya tidak bertujuan untuk meningkatkan kandungan nutrisi namun paling tidak mampu mengurangi jumlah nutrisi yang hilang selama ensilase berlangsung, namun penambahan bahan aditif berupa WSC berdasarkan Tabel 2 terbukti mampu meningkatkan kandungan BK, BO dan PK silase tebon jagung.

Peningkatan kandungan nutrisi juga terjadi pada nilai BO dan PK dengan penambahan berbagai aditif dan level penggunaan sebelum ensilase (0 hari) dan setelah inkubasi (21 hari).

Data dalam Tabel 2. menunjukkan peningkatan kandungan BO antara 4,2%-5,2% dan peningkatan kandungan PK antara 0,9-1,0% dari silase tebon jagung sebelum dan sesudah ensilase 21 hari. Sartini (2003) menyatakan bahwa peningkatan protein kasar silase dipengaruhi oleh respirasi dan fermentasi.

Respirasi akan menyebabkan kandungan nutrisi banyak yang terurai sehingga akan meningkatkan protein. Meningkatnya nilai protein silase juga dipengaruhi oleh adanya peningkatan nilai protein yang merupakan hasil dari fermentasi gula sederhana (Surono, dkk., 2006).

Berdasarkan kandungan BO silase tebon jagung, penggunaan aditif pollard, molases dan tepung gaplek menunjukkan pengaruh yang paling baik dibansingkan dengan bekatul. Kandungan PK silase tebon jagung terbaik diantara seluruh perlakuan adalah pada penambahan 10% pollard.

Peningkatan kandungan nutrisi dapat terjadi akibat adanya aktifitas bakteri saat proses ensiling berlangsung. Pemberian pollard akan meningkatkan BK, BO, PK, LK, dan TDN. Namun menurunkan kadar abu dan SK (Trisnadewi dkk., 2017). Pollard memiliki kandungan WSC 12,5% sehingga penggunaan sebagai bahan tambahan cukup memenuhi kebutuhan karbohidrat terlarut pada pembuatan silase (Despal dkk., 2011).

KESIMPULAN

Penambahan bahan aditif baik dalam bekatul, pollard, molases, dan tepung gaplek mampu meningkatkan kualitas silase tebon jagung dan perlakuan yang terbaik adalah penggunaan pollard dengan level optimal 10%.

DAFTAR PUSTAKA

AOAC. (2005). Official Methods of Analysis.

Despal, D., Permana, I. G., Safarina, S. N., & Tatra, A. J. (2011). Penggunaan berbagai sumber karbohidrat terlarut air untuk meningkatkan kualitas silase daun rami. Media Peternakan, 34(1), 69-76. https://doi.org/10.5398/med pet.2011.34.1.69

Hartutik. (2012). Metode Analisis Mutu Pakan. UB Press.

Hartutik, H., Fajri, A. I., & Irsyammawati, A. (2018). Pengaruh penambahan pollard dan bekatul dalam pembuatan silase rumput odot (Pennisetum purpureum, Cv.Mott) terhadap kecernaan dan produksi gas secara in vitro. Jurnal Nutrisi Ternak Tropis, 1(1), 9-17. https://doi.org/10.21776/ ub.jnt.2018.001.01.2

Jasin, I. (2017). Pengaruh penambahan dedak padi dan inokulum bakteri asam laktat dari cairan rumen sapi peranakan ongole terhadap kandungan nutrisi silase rumput gajah. Jurnal Peternakan, 11(2), 59-63.

Riswandi. (2014). Kualitas silase eceng gondok (Eichhornia crassipes) dengan penambahan dedak halus dan ubi kayu. Jurnal Peternakan Sriwijaya, 3(1),  1-6.  https://doi.org/10.33230/JPS.3.1.2014.1726

Santi, R. K. D., Widyawati, W. P. S., & Suprayogi. (2011). Kualitas dan nilai kecernaan in vitro silase batang pisang (Musa paradisiaca) dengan penambahan beberapa akselerator. Jurnal Tropical Animal Husbandry, 1(1), 15-23.

Soeharsono, & Sudaryanto, B. (2006). Tebon jagung sebagai sumber hijauan pakan ternak strategis di lahan kering Kabupatn Gunung Kidul. In Loka Karya Nasional Jejaring Pengembangan Sistem Integrasi Jagung. Puslitbang Peternakan.

Sudarwati, H., Natsir, M.,   &Nurgiartiningsih, V. (2019). Statistika dan Rancangan Percobaan Penerapan dalam Bidang Peternakan. UB Press.

Surono, M. S., & Budhi, S. P. S. (2003). Kecernaan bahan kering dan bahan organik in vitro silase rumput gajah pada umur potong dan level aditif yang berbeda. J. Indon. Trop Anim. Agric, 1(1), 1-9.

Surono, Soejono, M., & Budhi, S. P. (2006). Kehilangan bahan kering dan bahan organik silase rumput gajah pada umur potong dan level aditif yang berbeda. Jurnal. Indonesian Tropical Animal Agriculture, 31(1), 62-68.

Trisnadewi, A. A. A. S., Cakra, I. G. L. O., & Suarna, I. W. (2017). Kandungan nutrisi silase jerami jagung melalui fermentasi pollard dan molases. Majalah Ilmiah Peternakan, 20(2), 55-59. https://doi.org/10.24843/MIP.2017.v2 0.i02.p03

Last Updated on 18 September 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
Harga Jagung

Prediksi Harga Jagung Menggunakan Metode Fuzzy Time Series Dengan Atau Tanpa Menggunakan Markov Chain

Next Post
Kulit Kopi

Nilai Kecernaan In Vitro Pakan Lengkap Berbasis Kulit Kopi (coffea sp.) Menggunakan Penambahan Daun Tanaman Leguminosa

Related Posts