Gambaran Histologi Lebar Vili Jejunum Kelinci Jenis Rex dengan Subtitusi Bahan Penyusun Tepung Ikan dengan Tepung Teritip (Cirripedia sp.)

Avatar of jurnal
Kelinci Jenis

Maya Nurwartanti Yunita, Bodhi Agustono, Amung Logam Saputro

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tepung teritip (Cirripedia sp.) Sebagai pakan pengganti dari tepung ikan pada pakan kelinci, seperti yang diamati dari lebar jejunum villi. Kelinci sebanyak 100 ekor ditempatkan pada kandang individu dengan pakan standart yang sesuai kebutuhan mereka secara ad libitum. Persentase feed substitusi dengan tepung teritip dengan empat perlakuan dan lima replikasi dalam pakan sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5% pada masing-masing kelompok.

Perlakuan dilakukan selama 4 minggu, data dikumpulkan setelah pengorbanan akhir perlakuan. Data akhir penelitian ini dianalisis menggunakan analisis variance dengan angka tingkat signifikansi 0,05. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada signifikansi (p> 0,05) pada lebar vili jejunum. Penggunaan tepung teritip sebagai pengganti pakan untuk tepung ikan pada kelinci. Pakan lengkap berpengaruh signifikan terhadap lebar vili jejunum.

Full Text:

PDF

PENDAHULUAN

Kelinci (Oryctolagus cuniculus) merupakan salah satu ternak pseudo-ruminansia yang cukup baik dalam produktivitasnya. Umumnya ternak kelinci dalam satu tahun dapat melahirkan anak sebanyak 1-8 ekor anak dalam sekali siklus kelahiran, dan dalam satu tahun kelinci mampu melahirkan hingga 8 kali (Raharjo dan Brahmantiyo, 2014).

Keunggulan lain dari kelinci adalah dalam daging kelinci terkandung protein 18,7%, lemak lebih rendah 6,2%, jika dibandingkan dengan lemak sapi yang dapat mencapai 18,3% sedangkan lemak domba 17,5% (Rukhmana, 2005).

Populasi kelinci yang tinggi menjadikan daging kelinci sebagai alternatif penghasil protein hewani untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat akan produk asal hewani (Yanis dkk., 2016).

Pakan merupakan salah satu faktor penentu biaya yang dikeluarkan dalam suatu peternakan dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan reproduksi. Siregar (2003) menyatakan bahwa biaya pakan sekitar 60-80% dari total seluruh biaya produksi.

Salah satu penggunaan pakan alternatif yang dapat digunakan yaitu tepung teritip. Tepung teritip (Cirripedia sp) merupakan salah satu spesies yang termasuk ke dalam filum Arthropoda dan sub filum Crustacea (Tanasale dkk., 2012). Efisiensi dalam pakan tidak lepas hubungannya dengan fisiologi sistem pencernaan. Efisiensi fungsi penyerapan usus halus ditingkatkan dengan peningkatan luas permukaan dari struktur usus halus (Hestiana. 2013).

Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum (Utama,dkk., 2014). Proses penyerapan nutrisi terjadi paling besar pada bagian jejunum, pada bagian jejunum terjadi penyerapan nutrisi-nutrisi yang lebih besar dari pada bagian lainnya. Penyerapan nutrisi selain dipengaruhi oleh vili usus halus sebagai tempat penyerapan nutrisi juga dipengaruhi oleh berat relatif organ pencernaan (Moore. 2017 ).

MATERI DAN METODE

Penelitian ini bersifat eksperimental yaitu bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung teritip sebagai feed substitusi tepung ikan dalam pakan kelinci dilihat dari gambaran lebar vili jejunum. Kelinci ditempatkan pada kandang individu dengan pakan standart yang sesuai kebutuhan mereka secara ad libitum.

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Kelinci yang digunakan dalam penelitian sebanyak 100 ekor yang terbagi menjadi 4 perlakuan dengan 25 ekor pada masing-masing perlakuan. Dari masing perlakuan terbagi menjadi 5 ulangan dengan 5 ekor pada masin-masing ulangan. Pakan yang digunakan adalah sebagai berikut:

  • P0 = (tepung teritip 0% dan tepung ikan 15%),
  • P1 = (tepung teritip 2,5% dan tepung ikan 12,5%),
  • P2 = (tepung teritip 5% dan tepung ikan 10%),
  • P3 = (tepung teritip 7,5% dan tepung ikan 7,5%).

Koleksi sampel dilakukan setelah tahap pengkorbanan setelah pemeliharaan selama 28 hari. Pengumpulan data di peroleh dari lebar vili bagian jejunum dilakukan menggunakan bantuan alat microskop trinokuler. Data yang diperoleh lalu diolah menggunakan analisis of varians (ANOVA).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lebar vili jejunum

Pengukuran lebar vili jejunum dilakukan pada lapisan sub mukosa dari usus halus, Hasil pengukuran lebar vili jejunum adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Lebar vili jejunum rata-rata setiap kelompok perlakuan

Perlakuan
Rata-rata (g) ± SD
P0
56,62 ± 1,37 a
P1
60,91 ± 4,55 a,b
P2
61,65 ± 5,27 a,b
P3
65,57 ± 4,94 b

Berdasarkan hasil analisis uji ANOVA terdapat perbedaan yang nyata antara kelompok perlakuan 3 dan kontrol (P>0.05). Hal ini dapat diduga disebabkankarena penyerapan nutrisi dan metabolisme secara enzimatis yang optimal dari vili jejunum antara kelompok perlakuan dan kontrol.

Proses penyerapan nutrisi pada usus halus tertinggi terjadi pada bagian jejunum. Usus Halus kelinci hanya dapat mencerna protein, pati, dan lemak (Moghaddam et al, 2012; Low, 1980). Luas penampang area penyerapan pada usus halus di pengaruhi oleh lebar vili, lebar vili di pengaruhi oleh proses poliferasi dari vili tersebut.

Proses poliferasi pada vili distimulasi oleh asam lemak rantai pendek yang dicerna selama proses pencernaan (Hartono dkk., 2016). Proses pencernaan lemak pada usus halus di lakukan oleh enzim lipase yang dibantu oleh garam-garam empedu, enzim lipase dan garam empedu akan memecah lemak menjadi asam lemak sehingga lebih mudah di serap oleh vili usus (Citrawidi dkk., 2012).

tabel Diagram lebar vili rata-rata setiap kelompok perlakuan.
Gambar 1. Diagram lebar vili rata-rata setiap kelompok perlakuan.

 

 

KESIMPULAN

Pengaruh tepung teritip (Cirripedia Sp.) sebagai feed substitusi tepung ikan dalam pakan complete feed kelinci berpengaruh secara nyata terhadap lebar vili jejunum.

References

Citrawidi, T. A., Murningsih, W., & Ismadi, V. D. Y. B. (2012). Pengaruh pemeraman ransum dengan sari daun pepaya terhadap kolesterol darah dan lemak total ayam broiler. Animal Agriculture Journal, 1(1), 529-540.

Fitasari, E. (2011). Penggunaan enzim papain dalam pakan terhadap karakteristik usus dan penampilan produksi ayam pedaging. Buana Sains, 12(1), 7-16. https://doi.org/10. 33366/BS.V12I1.283

Hartono, E. F., Iriyanti, N., & Suhermiyati, S. (2016). Efek penggunaan sinbiotik terhadap kondisi miklofora dan histologi usus ayam sentul jantan. Jurnal Agripet, 16(2), 97-105. https:// doi.org/10.17969/agripet.v16i2.5179

Hestiana, E., Anwar, C., Kuncorojakti, S., & Yustinasari, L. (2013). Buku Ajar Histologi Veteriner (2nd ed.). Surabaya: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Jamilah, N. S., & Mahfudz, L. D. (2014). Pengaruh penambahan jeruk nipis sebagai acidifier pada pakan stepdown terhadap kondisi usus halus ayam pedaging. JITP2, 3(2), 90-95.

Low, A. G. (1980). Nutrient absorption in pigs. Journal of the Science of Food and Agriculture, 31(11), 1087-1130. https://doi.org/10.1002/jsfa.2740311102

Moore, L. (2017). Rabbit Nutrition and Nutritional Healing (3rd ed.). United States: Copyright Act.

Nassiri, M. H., Salari, S., Arshami, J., Golian, A., & Maleki, M. (2012). Evaluation of the nutritional value of sunflower meal and its effect on performance, digestive enzyme activity, organ weight, and histological alterations of the intestinal villi of broiler chickens. Journal of Applied Poultry Research, 21(2), 293-304. https://doi.org/10.3382/japr.2011-00396

Raharjo, Y. C., & Brahmantiyo, B. (2006). Plasma Nutfah Kelinci sebagai Sumber Pangan Hewani dan Produk lain Bermutu Tinggi. In Lokakarya Nasional  Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional (pp. 257-265).

Rukhmana, H. R. (2005). Prospek Beternak Kelinci. Siregar, G. A. W., Nuraini, H.,  &Brahmantiyo, B. (2017). Pertumbuhan dan produksi karkas kelinci rex pada umur potong yang berbeda. Jurnal Ilmu Produksi Dan Teknologi Hasil Peternakan, 2(1), 196-200. https://doi.org/10.29244/jipthp.2.1.196-200

Tambunan, M. H., Yurmiaty, H.,  & Mansyur. (2015).  Pengaruh pemberian tepung daun Indigofera sp terhadap konsumsi, pertambahan bobot badan dan efisiensi ransum kelinci peranakan New Zeland White. E-Journal, 4(1), 1-11.

Tanasale, M. F. J. D. P., Killay, A., & Laratmase, M. S. (2012). Kitosan dari limbah kulit kepiting rajungan (Portunus sanginolentus L.) sebagai adsorben zat warna biru metilena. Jurnal Natur Indonesia, 14(1), 165171. https://doi.org/10.31258/jnat.14.1.165-171

Utama, F. H., Kamila, K., & Latipudin, D. (2014). Sekret Mucus Sel Goblet Ileum dan Ukuran Usus Halus Puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang diberi Bawang Putih (Allium sativum).  Bandung: Fakultas Peternakan. Universitas Padjadjaran.

Yanis, M., Aminah, S., Handayani, Y., & Ramdhan, T. (2016). Karakteristik produk olahan berbasis daging kelinci. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta. Buletin Pertanian Perkotaan, 6(2), 11.

Last Updated on 19 September 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
Bekatul

Pengaruh Penambahan Pollard dan Bekatul dalam Pembuatan Silase Rumput Odot (Pennisetum purpureum, Cv.Mott) Terhadap Kecernaan dan Produksi Gas Secara In Vitro

Next Post
pasien penderita luka bakar

LUKA BAKAR: KONSEP UMUM DAN INVESTIGASI BERBASIS KLINIS LUKA ANTEMORTEM DAN POSTMORTEM

Related Posts