Pengaruh Silase Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) dengan Penambahan Bakteri Lactobacillus plantarum Terhadap Produksi Gas dan Kecernaan Secara In Vitro

Avatar of jurnal
Pennisetum purpureum cv. Mott

Alfian Sri Astutik, Artharini Irsyammawati, Poespitasari Hasanah Ndaru

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Lactobacillus plantarum dengan berbagai perlakuan pada silase rumput odot yang diinkubasi selama 21 hari terhadap produksi gas, nilai Metabolyzable Energy (ME) dan Net Energy (NE) serta nilai Kecernaan Bahan Kering (KcBK) dan Kecernaan Bahan Organik (KcBO).

Bahan yang digunakan adalah rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott), molases dan Lactobacillus plantarum. Metode yang digunakan yaitu percobaan laboratorium dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan apabila hasil menunjukkan perbedaan maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

  • P0: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0%;
  • P1: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,3%;
  • P2: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,6%;
  • P3: Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,9%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan Lactobacillus plantarum pada silase rumput odot tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap produksi gas total, nilai potensi produksi gas (b), laju produksi gas (c), nilai Metabolizable Energy (ME), nilai Net Energy (NE), Kecernaan Bahan Kering (KcBK), dan Kecernaan Bahan Organik (KcBO). Nilai produksi gas total 48 jam, nilai c dan nilai ME yang cenderung tinggi pada perlakuan P2 yaitu 94,66, 0,018 ml/jam dan 9,73 MJ/Kg BK.

Sedangkan nilai b, Nilai NE dan KcBK serta KcBO yang cenderung tinggi pada perlakuan P3 yaitu 174,47 ml/500 mg BK, 3,89 MJ/Kg BK, 64,88% dan 64,96%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu nilai produksi gas total 48 jam, nilai c dan nilai ME yang cenderung tinggi pada perlakuan P2 yaitu penambahan Lactobacillus plantarum sebanyak 0,6% terhadap silase rumput odot. Sedangkan nilai b, Nilai NE dan Nilai KcBK serta KcBO yang cenderung tinggi pada perlakuan P3 yaitu silase dengan penambahan Lactobacillus plantarum sebanyak 0,9%.

Full Text:

PDF

PENDAHULUAN

Hijauan merupakan sumber pakan utama bagi ternak ruminansia. Ternak ruminansia memerlukan ransum 60-70% hijauan dalam bentuk segar maupun kering. Berbagai upaya peningkatan produksi ternak dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber protein hewani akan sangat sulit dicapai apabila ketersediaan hijauan tidak sebanding dengan kebutuhan dan populasi ternak yang ada (Riswandi, 2014).

Ketersedian hijauan pakan sangat dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau ketersediaan hijauan tidak mampu mencukupi kebutuhan ternak, namun sebaliknya pada musim penghujan hijauan melimpah sehingga perlu dilakukan pengawetan menjadi silase.

Silase merupakan produk fermentasi hijauan, hasil samping pertanian dan agroindustri dengan kadar air tinggi yang diawetkan dengan menggunakan asam, baik yang sengaja ditambahkan maupun secara alami dihasilkan selama penyimpanan dalam kondisi anaerob.

Salah satu upaya untuk mempertahankan kualitas silase hijauan tropis adalah dengan penggunaan aditif inokulum, dedak padi dan Bakteri Asam Laktat (BAL) pada saat ensilase yang dapat menstimulasi fermentasi (Intansari, 2016). Prinsip dasar dari pembuatan silase adalah fermentasi hijauan oleh mikroba yang banyak menghasilkan asam laktat.

Lactobacillus plantarum termasuk dalam bakteri asam laktat yang menghasilkan produk berupa asam laktat dalam pembuatan silase (Widodo, 2014). Starter Lactobacillus plantarum merupakan bakteri asam laktat yang bersifat homofermentatif.

Semakin cepat terbentuknya asam laktat maka pH silase akan cepat turun, sehingga silase menjadi lebih tahan lama karena asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan berperan sebagai zat pengawet sehingga dapat menghindarkan pertumbuhan mikroorganisme pembusuk. Penggunaan inokulum Lactobacillus plantarum dengan berbagai variasi dan konsentrasi memberikan berpengaruh baik terhadap kualitas silase sebagai pakan (Ratnakomala, dkk. 2006).

Tentang Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv. Mott)

Rumput odot adalah sejenis rumput yang dapat tumbuh di daerah kering dan berpasir. Rumput ini memiliki akar yang kuat sehingga dapat menahan cuaca yang keras. Rumput odot sering digunakan sebagai tanaman pagar atau sebagai penutup lahan di daerah kering.

Nama ilmiah dari rumput odot ialah Pennisetum purpureum cv. Mott. Pennisetum purpureum cv. Mott (rumput gajah) mulai diperkenalkan ke Indonesia pada awal abad ke-20. rumput odot adalah tanaman yang tumbuh dengan cepat..

P. purpureum termasuk tanaman yang mempunyai banyak manfaat dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk sebagai pakan ternak, untuk jerami, dan sebagai bahan bakar nabati.

P. purpureum mempunyai karakteristik  yang kuat dan dapat tumbuh dalam berbagai kondisi, termasuk di tanah berpasir yang buruk.

Tanaman ini merupakan sejenis rumput yang tumbuh di daerah tropis. Rumput ini memiliki daun yang lebar dan rimbun, sehingga menjadikannya sebagai tanaman hias yang indah. Rumput Odot juga sangat cocok untuk digunakan sebagai tanaman pagar atau untuk memberikan suasana yang menenangkan di sekitar rumah.

Saat ini Rumput odot merupakan jenis rumput yang sangat populer di Indonesia. Tanaman ini sering digunakan sebagai hiasan di rumah dan kebun. Rumput odot juga dikenal memiliki banyak manfaat.

Manfaat Umum Dari Rumput Odot Pennisetum purpureum cv. Mott

Beberapa manfaat dari Rumput odot antara lain :

  1. Dapat membantu mencegah erosi tanah
  2. Dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah
  3. Dapat membantu menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi satwa liar
  4. Dapat membantu meningkatkan tampilan taman atau halaman
  5. Pennisetum purpureum cv. Mott dapat membantu menyediakan sumber mulsa alami
  6. Pennisetum purpureum cv. Mott dapat membantu menyediakan sumber isolasi alami
  7. sebagai sumber bahan bakar alami
  8. sebagai sumber bahan bangunan alami

Rumput gajah kerdil (Pennisetum purpureum cv. Mott) merupakan jenis rumput unggul yang mempunyai produktivitas dan kandungan zat gizi tinggi serta memiliki palatabilitas yang tinggi sehingga disukai ternak dan berpotensi untuk dijadikan silase (Thalib, 2016). Namun perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempertahankan kandungan nutrisi pada rumput gajah kerdil ini dengan cara pembuatan silase yang ditambahkan dengan Lactobacillus plantarum.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang sejak bulan September 2017 sampai bulan Oktober 2017.Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput odot, molasses, Lactobacillus plantarum, bahan untuk analisa proksimat, larutan Mc’Dougall, gas CO2, MgCl2, CaCl2, HCl, pepsin, aquades, vaselin, NaOH.

Peralatan yang digunakan untuk penelitian meliputi : timbangan analitik, ember, tali rafia, vacuum, gunting, tissue, gelas plastik, silo, piston, syringe, selang berklip, termos, gelas ukur, kain penyaring, pipet tetes, tabung erlenmeyer, thermometer, pemanas, stirrer, inkubator, labu ukur 3500 ml, penangas yang dilengkapi dengan stirrer, karet penutup, tabung fermentor, rak tabung fermentor, centrifuge 2500 rpm, kertas saring, cawan porselin, oven 105oC, eksikator dan tanur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan mempunyai 3 kelompok sebagai ulangan berdasarkan waktu pengambilan cairan rumen.

Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  • P0I21: Rumput     Odot     (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + tanpa penambahan Lactobacillus plantarum
  • P1I21: Rumput     Odot     (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,3%
  • P2I21: Rumput     Odot     (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,6%
  • P3I21: Rumput     Odot     (Pennisetum purpureum cv. Mott) + Molases 6% + Lactobacillus plantarum 0,9%

Prosedur Penelitian

Rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) yang akan dibuat silase di chopper terlebih dahulu dengan ukuran 3-5 cm, kemudian dilayukan selama 48 jam untuk menurunkan kadar airnya. Selanjutnya, dilakukan penimbangan rumput odot sebanyak 1 kg yang kemudian ditambahkan molases sebanyak 6% dan Lactobacillus plantarum sesuai dengan perlakuan.

Bahan silase dimasukkan kedalam kantong plastik (silo), dikeluarkan semua udara dengan vacuum pump dan dipadatkan lalu diikat agar kondisi anaerob. Kantong plastik disusun di dalam ruangan fermentasi dengan suhu ruangan 26-28oC kemudian disimpan selama 21 hari. Bahan yang telah diinkubasi selama 21 hari kemudian dikeringkan udara dalam oven dengan temperatur 60oC selama 24 jam. Setelah kering kemudian digiling, sehingga sampel siap untuk dianalisa.

Variabel Pengamatan

Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah produksi gas, nilai energi, KcBK, dan KcBO.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bersadarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa produksi gas semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu inkubasi. Dari hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai produksi gas antar perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap setiap periode inkubasi.

Produksi Gas Total yang di Inkubasi selama 48 jam pada Silase Rumput Odot

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa produksi gas total yang cenderung tinggi pada perlakuan P2. Menurut Gusasi (2014) semakin tinggi produksi gas, menunjukkan semakin tinggi pula aktivitas mikroba di dalam rumen serta dapat menggambarkan bahan organik yang tercerna sehingga mencerminkan kualitas bahan pakan tersebut.

Berdasarkan penelitian ini dapat dilihat bahwa produksi gas yang dihasilkan cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Lawani (2016) produksi gas yang diinkubasi selama 48 jam yaitu sebesar 73,08 ml/500 mg BK. Menurut Zakaria dkk., (2016) produksi gas silase kulit buah kakao pada inokulasi L. Plantarum (KLp) pada inkubasi jam ke 72 sebesar46,79 ml.

Produksi gas silase pada inokulasi L. Plantarum dipengaruhi oleh jumlah fraksi pakan optimum yang terdegradasi lebih rendah. Menurut Sofyan (2011) fraksi pakan yang potensial maksimum terdegradasi pada silase rumput raja dengan penambahan bekatul sebanyak 10% dengan inkubasi selama 48 jam menggunakan L. plantarum menghasilkan produksi gas sebesar 48,950,6 ml.

Tabel 1. Rata-rata produksi gas (ml/500 mg BK) pada perlakuan silase dengan penambahan

BAL

Perlak . uan Lama Inkubasi (jam)
2 4 8 12 16 24 36 48
3,33 7,00 ± 14,66 ± 23,66 ± 38,50 ± 64,66 ± 81,83 89,16
P0 ± 0,28 1,50 1,89 2,75 7,54 4,64 ± 8,31 ± 7,28
3,66 7,00 ± 16,33 ± 26,33 ± 41,66 ± 68,50 ± 85,16 92,50
P1 ± 0,28 4,65 3,81 3,01 8,22 3,04 ± 7,14 ± 6,55
3,83 7,33 ± 16,00 ± 27,16 ± 44,00 ± 70,83 ± 88,50 94,66
P2 ± 0,76 1,60 1,50 2,02 7,85 5,77 ± 8,52 ± 8,97
4,50 7,54 ± 14,00 ± 25,16 ± 39,83 ± 67,66 ± 85,66 91,16
P3 ± 0,50 1,32 2,78 3,54 5,92 9,07 ± 6,29 ±8,00

Nilai Potensi Produksi Gas dan Laju Produksi Gas

Hasil analisis statistika menunjukkan bahwa pada silase rumput odot dengan penambahan Lactobacillus plantarum tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap nilai b dan c.

Dari hasil penelitian nilai b cenderung tinggi pada P0, hal ini diduga karena kandungan serat kasar bahan pakan yang tinggi. Menurut Makkar et al (2007) menyatakan bahwa komponen pakan berupa serat dan protein dapat mempengaruhi produksi gas yang dihasilkan selama proses fermentasi.

Berdasarkan penelitian ini rata-rata nilai b yang dihasilkan cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Lawani (2016) nilai b yang dihasilkan pada silase rumput gajah dengan penambahan starter Lactobacillus plantarum ini yaitu sebesar 123,5833 ml/500 mg BK. Penelitian Zakaria dkk. (2016) yaitu fraksi pakan yang terdegradasi optimum pada inokulasi L. plantarum silase kulit buah kakao sebesar 50,88 ml.

Menurut Wati dkk. (2012) nilai c merupakan laju degradasi fraksi b yang berupa dinding sel. Semakin tinggi kandungan dinding sel suatu bahan pakan dapat menurunkan laju degradasinya. Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai P0 memiliki nilai c yang cenderung paling rendah (0,015 ml/jam).

Produksi gas yang semakin melambat menandakan laju produksi gas semakin berkurang dengan bertambahnya waktu inkubasi karena substrat yang difermentasi juga semakin berkurang (Khairulli, 2013). Nilai c yang tinggi menunjukkan bahwa pakan dapat didegradasi dengan cepat dalam satuan waktu tertentu (Mukmin dkk., 2014).

Produksi gas  yang  tinggi  dapat berpotensi dijadikan pemasok energi yang cukup besar. Dari hasil penelitian Lawani (2016) menunjukkan bahwa laju produksi gas (nilai c yang dihasilkan pada silase rumput gajah dengan penambahan starter Lactobacillus plantarum ini yaitu sebesar 0,0470 ml/jam).

Tabel 2. Nilai rata-rata potensi produksi gas (b) dan laju produksi gas per jam (c)

Perlakuan
Nilai b (ml /500 mg BK)
Nilai c (ml/jam)
Po
175,32 ± 14,10
0,015 ± 0,0011
P1
169,59 ± 12,20
0,018 ± 0,0020
P2
170,33 ± 21,68
0,018 ± 0,0020
P3
174,47 ± 14,05
0,016 ± 0,0020

Tabel 3. Rata-rata Nilai Metabolizable Energy (ME) dan Nilai Net Energy (NE)

Perlakuan
Nilai ME (MJ/Kg BK) ± SD
Nilai NE (MJ/Kg BK) ± SD
Po
9,47 ± 0,99
3,84 ± 0,09
P1
9,62 ± 1,03
3,84 ± 0,11
P2
9,73 ± 0,83
3,86 ± 0,07
P3
9,53 ± 0,69
3,89 ± 0,06

Nilai Metabolizable Energy (ME) dan Net Energy (NE)

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata pada nilai ME dan NE (P>0,05).Menurut Lee et al (2000) menyatakan bahwa Metabolizable Energy (ME) dan Net Energy (NE) merupakan parameter yang penting untuk mengukur kualitas bahan kering sampel pakan. Nilai ME cenderung tinggi pada perlakuan P2.

Sedangkan nilai ME cenderung lebih rendah pada perlakuan P0. Menurut Janet (2005) bahwa nilai Metabolizable Energy (ME) untuk sapi potong pada fase growth yaitu 8,9 KJ/kg BK, artinya dalam penelitian ini nilai ME yang dihasilkan sudah mencukupi kebutuhan ME pada sapi potong fase growth.

Zat nutrisi yang mempunyai pengaruh terbesar terhadap daya cerna adalah serat kasar. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Nurhaliq (2017) yang menyatakan bahwa bahan pakan berserat tinggi mempunyai serat kasar tinggi yang tidak dapat dicerna.

Selain itu daya cerna suatu bahan pakan dipengaruhi oleh kandungan serat kasar, keseimbangan zat-zat makanan, dan faktor ternak yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai energi metabolisme suatu bahan pakan. Menurut Jayanegara dan Sofyan (2008) nutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak dapat lebih didegradasi dan lebih tersedia bagi mikroba rumen yang kemudian berkontribusi bagi peningkatan KBO, EM, dan Total VFA. Menurut NRC (2000) bahwa nilai kebutuhan Net Energy pada sapi potong fase finisher dan growth dengan BB 200-450 berkisar antara 3-6 MJ/Kg BK.

Dari pernyataan tersebut dapat dinyatakan bahwa nilai Net Energy penelitian ini sudah sesuai dengan kebutuhan Net Energy pada sapi potong. Hasil analisis statistik pada tabel diatas menunjukkan bahwa nilai NE yang cenderung tinggi pada perlakuan P3.

Sedangkan nilai NE yang cenderung rendah yaitu pada perlakuan P0. Hal tersebut diduga karena kandungan serat kasar pada pakan cukup tinggi yaitu berkisar antara 23 sampai 24%. Hal ini dikarenakan bahan pakan yang bahan keringnya memiliki kandungan SK lebih dari 18% maka bahan pakan tersebut memiliki kandungan energi yang rendah.

Kecernaan Bahan Kering (KcBK) dan Kecernaan Bahan Organik dan (KcBO)

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata pada Kecernaan Bahan Kering (KcBK) dan Kecernaan Bahan Organik dan (KcBO) (P>0,05). Menurut Nur (2015) perlakuan silase yang memanfaatkan bakteri asam laktat dapat memecah ikatan lignin dan selulosa sehingga dapat meningkatkan kecernaan.

Lactobacillus plantarum yang merupakan bakteri selulolitik yang menghasilkan enzim selulase dapat mengakibatkan populasi dan aktivitas mikroba di rumen meningkat sehingga kecernaan pakan akan meningkat pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan yaitu komposisi bahan pakan, perbandingan komposisi antara bahan pakan satu dengan bahan pakan lainnya, perlakuan pakan, suplementasi enzim dalam pakan, ternak, dan taraf pemberian pakan (McDonald et al., 2002). Rata-rata Nilai KcBK dan KcBO pada Silase Rumput Odot dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rata-rata KcBK dan KcBO (%) pada Silase Rumput Odot_____________

Perlakuan___________Nilai KcBK ± SD________________Nilai KcBO ± SD

Po                   61,90 ± 1,83                       62,65 ±

P1                   62,40 ± 5,22                       62,61 ±

P2                   63,37 ± 2,31                        63,73 ±

P3 64,88 ± 1,49 64,96 ±

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai kecernaan pada silase rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) hasilnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Wibisono (2017) kecernaan silase rumput odot umur 50 hari yaitu 58,46% lebih tinggi jika dibandingkan kecernaan rumput signal segar umur 50 hari. Rata-rata Kecernaan Bahan Kering (KcBK) pada silase rumput odot ini berdasarkan penambahan molases yang tertinggi yaitu dengan penambahan sebanyak 6% dengan rata-rata KcBK sebesar 61,53%.

Nilai KcBK yang relatif sama pada masing-masing perlakuan pada silase rumput odot dengan penambahan Lactobacillus .plantarum, diduga disebabkan oleh kandungan SK pakan perlakuan yang relatif sama. Kandungan SK yang tinggi umumnya diikuti dengan meningkatnya jumlah lignin yang mengikat selulosa dan hemiselulosa sehingga menyebabkan semakin turunnya nilai kecernaan. Hal ini diduga karena mikrobia tidak mampu untuk mencerna komponen SK yang terkandung dalam pakan secara optimal.

Kecernaan bahan kering yang relatif sama juga diduga dipengaruhi oleh kandungan PK pakan perlakuan yang relatif sama. Menurut Widodo dkk. (2012) protein kasar dalam rumen mempunyai peranan penting karena di dalam rumen. PK akan dihidrolisis menjadi peptida oleh enzim proteolisis yang dihasilkan mikrobia. Peptida tersebut mengalami degradasi lebih lanjut menjadi asam-asam amino, kemudian akan dideaminasi menjadi amonia untuk menyusun protein mikrobia.

Ternak ruminansia protein akan diubah menjadi peptida-peptida, asam-asam amino, dan amonia (NH3). Hasil analisis statistik pada Tabel 4. menunjukkan bahwa kecernaan bahan organik lebih tinggi dibandingkan dengan kecernaan bahan kering. Nilai KcBO yang cenderung tinggi yaitu pada perlakuan P3. Sedangkan Nilai KcBO yang cenderung rendah yaitu pada perlakuan P1. Kecernaan bahan organik pakan perlakuan yang relatif sama diduga disebabkan oleh kandungan BO pakan perlakuan yang juga relatif sama.

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KcBO yang dihasilkan dari silase rumput odot dengan penambahan Lactobacillus plantarum cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Wibisono (2017) KcBO pada silase rumput odot dengan umur pemotongan 50 hari yaitu sebesar 52,22%.

Rata-rata KcBO pada silase rumput odot ini berdasarkan penambahan molases yang tertinggi yaitu dengan penambahan sebanyak 6% dengan rata-rata KcBK sebesar 54,10%. Peningkatan KcBK dan KcBO ini dikarenakan molases mengandung karbohidrat (sukrosa) yang merupakan golongan disakarida yang mampu mempercepat proses ensilase sehingga nutrisi silase tidak banyak yang terlarut.

Pemberian molases yang semakin tinggi akan memberikan efek kecernaan yang tinggi pula, karena molases mampu meningkatkan konsumsi ransum dalam pakan.

Kecernaan bahan organik erat kaitannya dengan kecernaan bahan kering, karena sebagian bahan kering adalah bahan organik yang terdiri atas protein kasar, lemak kasar, serat kasar, dan BETN. Kecernaan bahan organik merupakan banyaknya nutrien yang terkandung pada bahan pakan meliputi protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin yang dapat dicerna oleh tubuh. Menurut Riswandi dkk. (2015) nilai kecernaan bahan organik lebih tinggi dibanding dengan nilai kecernaan bahan kering.

Hal ini disebabkan karena pada bahan kering masih terdapat kandungan abu, sedangkan pada bahan organik tidak mengandung abu, sehingga bahan tanpa kandungan abu relatif lebih mudah dicerna. Kandungan abu memperlambat atau menghambat tercernanya bahan kering ransum. Peningkatan kecernaan bahan organik dikarenakan kecernaan bahan kering juga meningkat.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penambahan bakteri Lactobacillus plantarum pada silase rumput odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) ini tidak memberikan pengaruh secara signifikan yang artinya tanpa dilakukan penambahan bakteri Lactobacillus plantarum silase yang dihasilkan sudah baik.

Namun nilai produksi gas total 48 jam, nilai c, dan nilai ME yang cenderung tinggi pada perlakuan P2 yaitu silase rumput odot dengan penambahan Lactobacillus plantarum sebanyak 0,6%. Sedangkan nilai b, Nilai NE, dan nilai Kecernaan Bahan Kering (KcBK) serta Kecernaan Bahan Organik (KcBO) yang cenderung tinggi pada perlakuan P3 yaitu silase dengan penambahan Lactobacillus plantarum sebanyak 0,9%.

SARAN

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka perlu dilakukan percobaan secara langsung terhadap ternak agar informasi yang didapatkan lebih akurat. Selain itu juga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk produksi gas secara in vitro pada silase dengan penambahan Bakteri Asam Laktat lain.

References

Gusasi, A. (2014). Nilai pH, Produksi Gas, Konsentrasi Amonia dan VFA Sistem Rumen In Vitro Ransum Lengkap Berbahan Jerami Padi, Daun Gamal dan Urea Mineral Molases Liquid. Makasar: Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

Intansari, W. D. (2016). Penambahan Enzim Kasar Selulase Pada Pembuatan Silase Rumput Gajah (Pennisteum purpureum), Rumput Odot (Pennisetum purpureum Shcum cv. Mott), Jerami Sorgum dan Jerami Padi. Institut Pertanian Bogor: Departemen Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan. Fakultas Peternakan.

Janet, A. (2005). Improving The Grazing Management Of Livestock Community Led Herds in Muminabad. Switzerland: Local Development Muminabad.

Jayanegara, A., & Sofyan, A. (2010). Penentuan aktivitas biologis tanin beberapa hijauan secara in vitro menggunakan ’hohenheim gas test’ dengan polietilen glikol sebagai determinan. Media Peternakan, 31(1), 44–52.

Khairulli, G. (2013). Kinetika Produksi Gas dan Kecernaan In Vitro Pakan Dengan Penambahan Mineral Organik Hasil Inokulasi dengan Saccharomyces Cerevisiae dan Suplementasi Hijauan Bertanin. Institut Pertanian Bogor: Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi Dan Teknologi Pakan Fakutas Peternakan.

Lawani, N. (2016). Pengaruh Tingkat Penggunaan Starter Lactobacillus plantarum Terhadap Kandungan Nutrien dan Produksi Gas Secara In Vitro Pada Silase Rumput Gajah (Pennisetum purpureum). Malang: Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya.

Lee, M., Hwang, S., & Chiou, P. (2000). Metabolizable energy of roughage in Taiwan. Small Ruminant Research : The Journal of the International Goat Association, 36(3), 251–259.

Makkar, H. P. S., Francis, G., & Becker, K. (2007). Bioactivity of phytochemicals in some lesser-known plants and their effects and potential applications in livestock and aquaculture production systems. Animal, 1(9), 1371–1391. https://doi.org/10.1017/S1751731107000298

Mc Donald, P., Edwards, R., & Greenhalgh, J. (2002). Animal Nutrition (6th ed.). New York.

Mukmin, A., Soetanto, H., Kusmartono, & Mashudi. (2014). Produksi gas in vitro asam amino metionin terproteksi dengan serbuk mimosa sebagai sumber condensed tannin (Ct). TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production, 15(2), 36–43.

National Research Council. (2000). Nutrient Requirement Of Beef Cattle (7th ed.). Washington, DC: National Academics Press.

Nur, K., Atabany, A., Muladno, M., & Jayanegara, A. (2018). Produksi gas metan ruminansia sapi perah dengan pakan berbeda serta pengaruhnya terhadap produksi dan kualitas susu. Jurnal Ilmu Produksi Dan Teknologi Hasil Peternakan, 3(2), 65–71.

Nurhaliq, M. (2017). Energi Metabolisme Pakan Komplit Berbasis Tongkol Jagung Dengan Kandungan Tepung Rese Berbeda Pada Ternak Kambing Jantan. Makasar: Skripsi: Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin.

R, R., Ratnakomala, S., Kartina, G., & Widyastuti, Y. (2005). Pengaruh penambahan dedak padi dan lactobacillus planlarum lBL-2 dalam pembuatan silase rumput gajah. Media Peternakan, 28(3), 117–123.

Ratnakomala, S., Ridwan, R., Kartina, G., & Widyastuti, Y. (2006). Pengaruh inokulum lactobacillus plantarum 1A-2 dan 1BL-2 terhadap kualitas silase rumput gajah (pennisetum purpureum). Biodiversitas, 7(2), 131–134.

Riswandi. (2014). Evaluasi kecernaan silase rumput kumpai (hymenachne acutigluma) dengan penambahan legum turi mini (sesbania rostrata). Jurnal Peternakan Sriwijaya, 3(2), 43–52.

Riswandi, Muhakka, & Lehan, M. (2015). Evaluasi nilai kecernaan secara in vitro ransum ternak sapi bali yang disuplementasi dengan probiotik bioplus. Jurnal Peternakan Sriwijaya, 4(1), 35–46. https://doi.org/10.33230/JPS.4.1.2015.2298

Sofyan, A. (2011). Efektivitas Inokulum Bakteri Asam Laktat dan Khamir dari Isolat Alami dengan Penambahan Dedak Padi Terhadap Kualitas Silase Rumput Raja. Yogyakarta: Tesis. Universitas Gadjah Mada.

Thalib, I. (2016). Pertumbuhan Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum Cv. Mott) Pada Berbagai Konsentrasi Media Murashige dan Skoog Dengan Teknik Kultur Jaringan. Makasar: Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.

Wati, N. E., Achmadi, J., & Pangestu, E. (2012). In sacco ruminal degradation of nutrients of agricultural by products in the goat. Animal Agriculture Journal, 1(1), 485–498.

Wibisono, G. (2017). Pengaruh Umur Pemotongan dan Penambahan Molases Terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Silase Rumput Odot (Pennisetum purpureum cv Mott) Secara In Vitro. Malang: Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya.

Widodo, D. S. (2014). Pengaruh lama fermentasi dan penambahan inokulum lactobacillus plantarum dan lactobacillus fermentum terhadap kualitas silase tebon jagung. Zea Mays, 1(1), 1–10.

Widodo, W., Wahyono, F., & Sutrisno, S. (2012). Kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan NH3 pakan komplit dengan level jerami padi berbeda secara in vitro. Animal Agriculture Journal, 1(1), 215–230.

Zakariah, M. A., Utomo, R., & Bachruddin, Z. (2016). Pengaruh inokulasi lactobacillus plantarum dan saccharomyces cerevisiae terhadap fermentasi dan kecernaan in vitro silase kulit buah kakao. Buletin Peternakan, 40(2), 124–132. https://doi.org/10.21059/buletinpeternak.v40i2.9294

Araujo, Celeste De, et al. “Pertumbuhan Dan Produksi Rumput Odot (Pennisetum Purpureum Cv. Mott) Pada Tanah Entisol Di Lahan Kering Akibat Pemberian Pupuk Organik Cair Berbahan Feses Babi Dengan Volume Air Berbeda.” Jurnal Ilmu Peternakan Terapan, vol. 3, no. 1, Oct. 2019, pp. 6–13. DOI.org (Crossref), https://doi.org/10.25047/jipt.v3i1.1902.

 

Last Updated on 12 September 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
ubi kayu

Level Penggunaan Aspergillus Oryzae pada Fermentasi Kulit Ubi Kayu (Manihot Utilissima) Terhadap Kandungan HCN, TDN dan pH

Next Post
Seleksi Pakan Ternak

Seleksi Pakan Ternak Melalui Keragaman Genetik dan Heritabilitas Karakter Kuantitatif Produksi Hijauan Komak (lablab purpureus)

Related Posts