Pengaruh penambahan aditif tanin chestnut terhadap kualitas silase kelobot jagung (Zea mays)

Avatar of jurnal
kelobot jagung

Sadarman Sadarman, Dewi Febriana, Teguh Wahyono, Novia Qomariyah, Rizki Amalia Nurfitriani, Saadilah Mursid, Yusuf Aldito Oktafyan, Zulkarnain Zulkarnain, Agustin Bayu Prasetyo, Danung Nur Adli

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui kualitas silase kelobot jagung dengan penambahan aditif tannin. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelobot jagung, dan tannin chestnut. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan terdiri atas P1(-): Kelobot jagung tanpa penambahan aditif; P2(-): Kelobot jagung + 5% dedak padi; P3: Kelobot jagung + tannin chestnut 0.5%, P4: Kelobot jagung + tannin chestnut 1%, P5: Kelobot jagung + tannin chestnut 1.5%. Data dianalisa dengan analisis ragam apabila terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan uji Duncan. Hasil menunjukan pemberian tannin chestnut mampu memberikan pengaruh nyata (p < 0,05) terhadap kualitas fisil silase. Hasil menunjukan hasil yang berpengaruh nyata yaitu suhu, warna, aroma, tekstur, dan pertumbuhan jamur. Disimpulkan bahwa pemberian tannin chestnut mampu optimal hingga taraf 0,50% yang disimpan selama 30 hari.

Keywords

Aditif, aroma, kelobot jagung, silase, tanin

Full Text:
PDF

DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jnt.2021.005.01.4
Refbacks

There are currently no refbacks.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

PENDAHULUAN

Kelobot jagung adalah bagian terluar dari tanaman jagung. Kelobot jagung pada petani biasanya persediaanya begitu melim­pah saat musim panen, namun, penggunaanya masih belum optimal sebagai pakan ternak (Hilma dkk., 2017). Kelobot jagung ketika memasuki masa panen jumlahnya bisa mencapai hingga 1,50 dari total 8-ton panen/ Ha (Ariyanti, 2015). Ahmad dkk. (2020) menyatakan bahwa produksi jagung mampu menghasilkan 3x dati total panen jagung.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Daniarti (2015) menyatakan bahwa kandungan serat kasar (SK) berada pada kis­aran 38-50%. Lebih lanjut disampaikan bahwa kandungan nutrisi dari kelobot ja­gung adalah sebagai berikut Bahan kering 42,6%, Protein Kasar 3,40%. dan Serat kasar 23,3% (Pratiwi, 2015).

Akan tetapi, menurut Ahmad, dkk (2020) kelobot jagung dapat digunakan se­bagai pakan ternak hanya sebanyak 4% dikarenakan karena kandungan lignin yang begitu tinggi. Sehingga, upaya untuk mengantisipasinya adalah dengan melaluisilage amoniasi atau silase. Salah satu proses yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi ada­lah menggunakan fermentasi menggunakan mikroorganisme yang dilakukan dalam kon­disi kedab udara atau anaerob (Ali, dkk, 2020).

Silase adalah bagian dari teknologi pengawetan pada hijauan dengan mening­katkan kadar air terntentu yang dibantu oleh proses fermentasi mikroba asam laktat yang berada didalam silo (Borreani et al., 2018; Rukana dkk., 2014). Lebih jauh Kim et al., (2017) perlu adanya pengawasan yang ketat dalam proses terbentuknya asam laktat dan asam asetat untuk mencegah terjadinya fase fermentasi yang berlebih, sehingga control tersebut dilakukan dengan upaya penamba­han aditif (Hapsari dkk., 2014).

Salah satu penambahan yang dilakukan adalah menggunakan aditif yang digunakan untuk memproteksi protein dan kualitas silase (Jayanegara et al., 2015a; 2015b, Kondo et al., 2014). Penelitian yang dilakukan oleh Sujarnoko (2015) menyatakan penggunaan tannin dapat meningkatkan kualitas silase terutama dari kandungan pH. Sujarnoko (2015) menyatakan bahwa proses silase yang dilakukan dengan penambahan tanninberdampak positif terhadap pertumbuhan produksi dan serum metabolit domba ped­aging. Sadarman et al. (2019a), penggunaan ekstrak akasia dan chestnut dapat mening­katkan kualitas silase ampas kecap secara baik, bahkan mampu menghambat per­tambahan jamur.

Oleh karena itu, penelitian ini ber­tujuan untuk mengukur dan mengetahui pengaruh kualitas fisik silase kelobot jagung dengan penambahan aditif chestnust.

MATERI DAN METODE

Materi dan metode

Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelobot jagung, dan tannin chestnut. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 5 perlakuan dan 4 ulangan. Per­lakuan yang digunakan terdiri atas P1(-): Kelobot jagung tanpa penambahan aditif; P2(-): Kelobot jagung + 5% dedak padi; P3: Kelobot jagung + tannin chestnut 0.5%, P4: Kelobot jagung + tannin chestnut 1%, P5: Kelobot jagung + tannin chestnut 1.5%.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Kajian ini terdiri atas 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan di­maksud adalah pembuatan silase kelobot ja­gung dengan penambahan tanin chestnut se­bagai aditif silase.

Rincian perlakuan sebagai berikut P1: Kelobot jagung segar (Kontrol), P2: P1 + de­dak padi halus 5% bahan kering (BK), P3: P2 + tanin chestnut 0,50% BK, P4: P2 + tanin chestnut 1% BK, dan P5: P2 + tanin chestnut 1,50% BK. Proses pembuatan silase menggunakan mengikuti metode dari Kondo et al., (2016) dan Adli et al., (2020) dimulai dari pencacahan kelobot jagung menjadi ukuran 3-5 cm. Disiapkan silo, kemudian ditambahkan dedak padi halus 5% BK dan tannin chestnut. Ditutup silo hingga menjadi kondisi anaerob selama 30 hari. Setelah 30 hari, silo dibuka secara perlahan dan bertahap kemudian diambil sebanyak 25 g, kemudian, diamati secara fisik.

Parameter yang Diukur

Parameter penelitian ini adalah kuali­tas fisik kelobot jagung meliputi suhu, pH, warna, aroma, tekstur, dan keberadaan jamur. Sedangkan, untuk tabel kriteria silase di- tunjukan pada tabel 1.

Analisis Data

Data dianalisa dengan analisis ragam apabila terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan uji Duncan menggunakan ap­likasi SPSS versi 23.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Suhu Silase Kelobot Jagung

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tanin chestnut ber­pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap suhu silase kelobot jagung, data dapat dilihat pada Tabel 2.

Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa tanin chestnut nyata (P<0,05) memengaruhi suhu silase kelobot jagung antar perlakuan. Data suhu silase mulai dari yang terendah ke tertinggi, yaitu perlakuan P1, P3, P2, P4, dan P5, dengan rata-rata suhu silase berkisar 28,8-30,6oC.

Suhu silase kelobot jagung pada P3 tidak berbeda dengan P2 dan P1 tetapi suhu P2 berbeda dengan P1, artinya penambahan tanin chestnut 0,05% BK menghasilkan suhu silase kelobot jagung yang sama dengan P1 dan P2. Suhu pada perlakuan P4 dan P5 berbeda nyata dengan P1, artinya peningkatan level tanin chestnut selaras dengan meningkatnya suhu silase kelobot jagung. Namun kondisi ini masih menunjukan bahwa silase kelobot jagung dalam kondisi baik, sesuai dengan yang

dilaporkan Ridwan dkk. (2005) yang menyatakan bahwa suhu silase yang baik adalah 26-28oC.

Tabel 1. Nilai untuk Setiap Kriteria Silase
Kriteria Karakteristik Silase Skor
Tekstur Kasar 1-2
Sedang 2,01-3
Halus 3,01-4
Aroma Kurang segar 1-2
Segar 2,01-3
Harum (aroma khas silase) 3,01-4
Warna Kecoklatan (mendekati warna tanin) 1-2
Hijau kecoklatan (mendekati warna dedak padi halus) 2,01-3
Hijau kekuningan (mendekati warna alami) 3,01-4
Jamur Tidak ada 3,01-4
Cukup (2 – 5% dari total silase) 2,01-3
Banyak (lebih dari 5% dari total silase) 1-2

Sumber: Mcdonald et al. (2011)

Tabel 2. Suhu silase kelobot jagung pada berbagai perlakuan penambahan aditif tanin chestnut

Perlakuan
Suhu (oC)
Pi P2 P3 P4 P5 Sig.
28,8±0,45a 29,6±0,55b 29,5±0,55ab 30,5±0,58c 30,6±0,55c

NS

P1(-): Kelobot jagung tanpa penambahan aditif; P2(-): Kelobot jagung + 5% dedak padi; P3: Kelo- bot jagung + tannin chestnut 0.5%, P4: Kelobot jagung + tannin chestnut 1%, P5: Kelobot ja­gung + tannin chestnut 1.5%.Superskip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (p <0,01).

Menurut McDonald et al. (1981), si- lase yang baik saat dipanen memiliki suhu sekitar 25-30 oC. Suhu silase masih dikatakan baik karena suhu panen yang dihasilkan masih beberapa derajat berbeda di bawah suhu lingkungan. Apabila suhu silase melebihi suhu lingkungan 5-10oC dapat dikatakan bahwa silase tersebut sudah terkontaminasi oleh mikroorganisme yang lain seperti kapang dan jamur.

Semakin cepat proses ensilase maka semakin mempercepat proses kedap udara dan merangsang tumbuhnya bakteri asam laktat untuk pembentukan asam laktat, dan tidak terjadinya panas yang berkepanjangan, sehingga suhu silase bisa stabil. Menurut Hidayat dan Indrasanti (2011), suhu silase mulai konstan pada hari ke-14.

Pada awal fermentasi menyebabkan temperatur di dalam silo akan meningkat dan pH mulai turun akibat terdapatnya asam organik khususnya asetat. Sjofjan et al., (2021), melaporkan dedak padi memiliki karbohidrat terlarut 5,40%, dan penambahan dedak padi halus dapat meningkatkan karbohidrat terfermentasi silase, serta menyediakan lingkungan bagi perkembangan bakteri untuk memproduksi asam laktat, dan menurunkan pH silase (Sjofjan et al., (2021).

pH Silase Kelobot Jagung

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tanin chestnut tidak nyata (P>0,05) memengaruhi pH silase kelobot jagung. Data pH dapat dilihat pada Tabel 3.Tabel 3 menyajikan pH silase kelo- bot jagung dari yang tertinggi ke terendah, yaitu perlakuan P1, P2, P3, P4, dan P5, na­mun secara keseluruhan nilai pH silase kelo- bot jagung adalah sama. Peningkatan level penambahan tanin chestnut cenderung dapat menurunkan pH silase kelobot jagung dibandingkan dengan kontrol.

Hal ini menunjukkan bahwa penambahan tanin chestnut terhadap silase kelobot jagung dapat mempercepat proses ensilase. Selain itu untuk percepatan laju pembentukan asam laktat dipengaruhi oleh ketersediaan karbohidrat mudah larut dan enzim komplek.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pern­yataan McDonald et al. (2011) bahwa untuk meningkatkan perkembangan bakteri asam laktat maka ketersediaan karbohidrat mudah larut di dalam silo harus cukup untuk perkembangan bakteri.

Pada penilaian untuk sifat fisik silase, pH merupakan indikator paling penting. Pada penelitian ini didapatkan hasil pengukuran pH dengan kisaran antara 3,64­3,78. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian McDonald et al. (1973), yaitu pH yang optimal untuk proses pengawetan dalam proses ensilase yang baik adalah 3,80-4,40. Besaran nilai pH dipengaruhi oleh kandungan karbohidrat mudah larut, yaitu bahan pakan yang akan digunakan oleh bakteri asam laktat untuk memproduksi asam organik, dan dipengaruhi oleh kandungan protein yang memengaruhi kapasitas buffer silase.

Tabel 3. pH silase kelobot jagung pada berbagai perlakuan penambahan aditif tanin chestnut

Perlakuan
pH
P1

P2

P3

3,78 ± 0,11

3,70 ± 0,10

3,70 ± 0,09

P4 3,68 ± 0,10

P5 3,64 ± 0,05

Sig. NS

Keterangan: P1(-): Kelobot jagung tanpa penambahan aditif; P2(-): Kelobot jagung + 5% dedak padi; P3: Kelobot jagung + tannin chestnut 0.5%, P4: Kelobot jagung + tannin chestnut 1%, P5: Kelobot jagung + tannin chestnut 1.5%.

Kualitas Fisik Silase Kelobot Jagung

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tanin chestnut ber­pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kualitas fisik silase kelobot jagung. Data pengaruh penambahan tanin chestnut terhadap kuali- tas fisik silase berbahan dasar kelobot ja­gung dapat dilihat pada Tabel 4. Tekstur si- lase kelobot jagung pada penelitian ini ada­lah kasar hingga halus.

Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa penggunaan tanin chestnut sebagai aditif silase nyata (P<0,05)memengaruhi tekstur silase kelobot jagung. Nilai tekstur silase kelobot jagung dari yang terendah ke tertinggi adalah P1, P2, P3, P4, dan P5 dengan rentang skor sekitar 2,98­3,97 yang berarti sedang hingga halus.

Perlakuan tanpa menggunakan tanin chestnut menghasilkan silase kelobot jagung yang sama dengan P2 yang ditambah dengan dedak padi halus. Peningkatan penambahan tanin chestnut pada P3, P4, dan P5 mem­berikan silase dengan tekstur yang halus.

Perbedaan tekstur ini diduga karena adanya peran tanin chestnut dalam menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan, sehingga aktivitas mikroba baik seperti bak­teri asam laktat dapat dimaksimalkan. Sjofjan et al., (2021), melaporkan bahwa penambahan karbohidrat mudah larut menyebabkan penurunan pH dan menghambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan tekstur menjadi padat dan tidak berlendir.

Tabel 4. Ciri fisik silase kelobot jagung yang dipadukan dengan dedak padi halus dan tanin

chestnut

No.
Parameter
P1
P2
P3
P4
P4
Ket
1.
Tekstur
2,98±0,01a
2,99±0,01a
3,75±0,06b
3,84±0,04c
3,97±0,02d
**
2.
Aroma
2,97±0,01a
3,57±0,05b
3,72±0,05c
3,82±0,06d
3,96±0,02e
**
3.
Warna
3,97±0,02e
2,99±0,01d
2,47±0,25c
1,99±0,01b
1,54±0,02a
**
4.
Jamur
3,74±0,02a
3,75±0,02a
3,81±0,05b
3,86±0,02c
3,97±0,02d
**

Keterangan: Superskrip yang berbeda dalam satu lajur yang sama menunjukkan perbedaan sangat nyata (p <0,01/**); P1(-): Kelobot jagung tanpa penambahan aditif; P2(-): Kelo- bot jagung + 5% dedak padi; P3: Kelobot jagung + tannin chestnut 0.5%, P4: Kelobot jagung + tannin chestnut 1%, P5: Kelobot jagung + tannin chestnut 1.5%.

Aroma silase mulai dari asam khas fermentasi hingga busuk. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa penggunaan tanin chestnut sebagai aditif silase berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap aroma silase kelo- bot jagung. Tabel 4 menyajikan skor aroma dari yang tertinggi ke terendah, yaitu perla­kuan P5, P4, P3, P2, dan P1, dengan skor warna berkisar 3,96-2,97 yang beraroma harum khas silase hingga aroma segar.

Penambahan tanin chestnut mem­berikan aroma khas silase. Hal ini berarti bahwa tanin chestnut mampu menurunkan aktivitas mikroba tidak baik dalam mempro- teolisiskan protein kelobot jagung. Skor aroma yang rendah pada P1 mengindikasi­kan ketidakmampuan zat aktif dalam kelo- bot jagung meminimalkan kerusakan pro­tein selama ensilase, sehingga skor aromanya lebih rendah dari perlakuan lainnya.

Aroma silase dihasilkan dari aktivitas fermentasi meliputi keadaan anaerob dan perkembangan lainnya. Menurut Sjofjan et al., (2021), aroma silase berasal dari asam yang dihasilkan selama proses ensilase. Penambahan level tanin chestnut dalam silase kelobot jagung sampai dengan 1,50% menimbulkan aroma yang paling wangi dibandingkan pada perlakuan lainya. Selain aroma, warna silase juga dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan da­lam pembuatan silase.

Hasil uji Duncan menyatakan bahwa peningkatan level tanin chestnut nyata (P<0,05) menurunkan skor warna dibandingkan dengan P1 dan P2. Perlakuan P3 memiliki skor warna sekitar 2,47 dengan warna hijau kecoklatan atau mendekati warna dedak padi halus, sedangkan pada P4dan P5 skor warnanya masing-masing seki­tar 1,99 dan 1,54 yang menunjukkan warna kecoklatan atau mendekati warna tanin chestnut. Sementara itu, untuk P1 dan P2, skor warnanya masing-masing sekitar 3,97 dan 2,99 yang menghasilkan silase dengan warna hijau kekuningan atau mendekati warna kelobot jagung.

Saturasi warna silase pada dasarnya dapat dipengaruhi oleh aditif silase yang digunakan. Namun demikian, warna silase pada umumnya dapat dipengaruhi oleh fase aerob, yaitu fase pertama sebelum me­masuki fase aktivasi mikroba. Menurut McDonald et al. (1981), respirasi terjadi pada awal pembuatan silase yang akan mengahasilkan CO2, air, dan panas, jika proses ini terjadi terlalu lama maka temperatur menjadi tinggi sehingga dapat merusak warna.

Perlakuan kontrol (P1) memberikan warna terbaik, semakin tinggi skor warna silase maka semakin baik kualitas warna silase. Menurut Sadarman et al. (2019a), warna silase yang baik adalah coklat terang (kuning terang) dengan bau asam.

Pertumbuhan jamur pada silase dapat dipicu dari beragam hal, mulai dari kadar air yang terlalu tinggi, kondisi silo yang tidak anaerob, hingga kejadian proteolisis yang bersifat massif selama ensilase. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa penggunaan tanin chestnut pada silase kelobot jagung dapat menekan pertumbuhan jamur. Skor pertumbuhan jamur dari terendah ke tertinggi adalah perlakuan P1, P2, P3, P4, dan P5, dengan rentang skor sekitar 3,74­3,97 yang mengindikasikan silase kelobot jagung tidak ditumbuhi jamur.

Pertumbuhan jamur pada silase biasanya disebabkan oleh tingginya kadar air. Kelobot jagung yang di­jadikan bahan dalam pembuatan silase pada penelitian ini mengandung air rata-rata seki- tar 65%. Hal ini berarti bahwa kadar air ba­han sesuai dengan standar. Menurut McDonald et al. (2011), silase yang baik dan tidak ditumbuhi jamur harus mengandung kadar air sekitar 65-70%. Menurut Jaya- negara et al. (2017), bahan yang diensi- lasekan yang mengandung kadar air lebih tinggi dapat menyebabkan tumbuhnya jamur. Namun demikian, kadar air yang terlalu ren­dah juga tidak disarankan karena dapat memperlambat proses ensilase dalam silo.

KESIMPULAN

Penambahan aditif tannin chestnut pada secara optimal dapat meningkatkan kualitas fisik silase kelobot jagung.

DAFTAR PUSTAKA

Adli, D. N., Sjofjan, O., Natsir, M. H., Nuningtyas, Y. F., Sholikah, N., & Marbun, A. C. (2020). The effect of replacing maize with fermented palm kernel meal (fpkm) on broiler performance. Livestock Research for Rural Development, 32(7), 1-7.

Borreani, G., Tabacco, E., Schmidt, R. J., Holmes, B. J., & Muck, R. E. (2018). Silage review: Factors affecting dry matter and quality losses in silages. In Journal of Dairy Science, Vol. 101, Issue 5. https://doi.org/10.3168/jds. 2017-13837

Jayanegara, A., Makkar, H. P. S., & Becker, K. (2015). Addition of purified tannin sources and polyethylene glycol treatment on methane emission and rumen fermentation in vitro. Media Peternakan, 38(1), 57-63. https://doi. org/10.5398/medpet.2015.38.1.57

Jayanegara, A., Ridla, M., Astuti, D. A., Wiryawan, K. G., Laconi, E. B., & Nahrowi, N. (2017). Determination of

energy and protein requirements of sheep in indonesia using a meta- analytical approach. Media Peternakan, 40(2), 118-127. https://doi.org/10.5398/medpet.2017.40.2.118

Kim, J. G., Ham, J. S., Li, Y. W., Park, H. S., Huh, C.-S., & Park, B.-C. (2017). Development of a new lactic acid bacterial inoculant for fresh rice straw silage. Asian-Australasian Journal of Animal Sciences, 30(7), 950-956.https://doi.org/10.5713/ajas.17.0287

Kondo, M., Hirano, Y., Ikai, N., Kita, K., Jayanegara, A., & Yokota, H. (2014). Assessment of anti-nutritive activity of tannins in tea by-products based on in vitro rumen fermentation. Asian- Australasian Journal of Animal Sciences, 27(11), 1571-1576. https:// doi.org/10.5713/ajas.2014.14204

Kondo, M., Shimizu, K., Jayanegara, A., Mishima, T., Matsui, H., Karita, S., Goto, M., & Fujihara, T. (2016).

Changes in nutrient composition and in vitro ruminal fermentation of total mixed ration silage stored at different temperatures and periods. Journal of the Science of Food and Agriculture, 96(4), 1175-1180. https://doi.org/10. 1002/jsfa.7200

McDonald, P. A. (1973). The Biochemistry of Silage (J. Willey & Sons (eds.)). Ltd.Chichester.

McDonald, P. A. (1981). The Biochemistry of Silage (J. Willey & Sons (eds.)). Ltd. Chichester.

McDonald, P. A. (2011). The Biochemistry of Silage (2nd ed.). Chalcombe Publ.

Sadarman, Ridla, M., Nahrowi, Sujarnoko, T. U. P., Ridwan, R., & Jayanegara, A. (2019). Evaluation of ration based on soy sauce byproduct on addition of acacia tanin: an in vitro study. Proceeding 9th Annual Basic Science International Conference. Material Science and Engineering.

Sjofjan, O., Adli, D. N., Natsir, M. H., Nuningtyas, Y. F., Bastomi, I., &Amalia, F. R. (2021). The effect of increasing levels of palm kernel meal containing α-β-mannanase replacing maize to growing-finishing hybrid duck on growth performance, nutrient digestibility, carcass trait, and VFA. Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture, 46(1), 29-39. https://doi.org/10.14710/jitaa.46.1.29-39

Sujarnoko, T. U. P. (2015). Penambahan Ekstrak Tanin Asal Chestnut pada Ransum terhadap Per-forma Domba, Pola Fermentasi, dan Metabolit Darah. Institut Per-tanian Bogor.

 

Last Updated on 6 September 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
pakan hijauan1

Potensi daya dukung dan daya tampung pakan hijauan untuk mendukung peternakan kambing peranakan etawah Di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Next Post
black soldier fly

Pemanfaatan tepung larva black soldier fly (hermetia illucens) sebagai subtitusi tepung ikan terhadap performa ayam joper periode stater

Related Posts