Respon titer antibodi avian influenza (AI) burung puyuh terhadap penambahan Immunbooster Growth Promoter

Avatar of jurnal
avian influenza

Novi Andriani, Budi Utomo, Mila Amelia, Tania Agustina Putri Mahardika, Siti Nailil Ngazizah, Hebi Irawan, Ardina Tanjungsari

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon titer antibody AI yang terbuat dari Allium sativum, Centella asiatica dan Curcuma zedoaria pada burung puyuh. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2021. Lokasi penelitian di Omah Puyuh Farm, Dusun Kejuron, Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur. Sebanyak 100 ekor puyuh (Coturnix-coturnix japonica) berumur 15 hari dibagi menjadi 5 perlakuan dan 4 ulangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji adalah T0 (perlakuan kontrol) = diinduksi vaksin AI subtipe H5N1 dalam bentuk emulsi umur 32 hari dan AGP dengan dosis 0,3 gram/kg ransum; T1= IGP herbal 0,5 gram/kg ransum; T2 = IGP herbal 1 gram/kg ransum; T3= IGP herbal 1,5gr/kg ransum; P4 : IGP herbal 2 gram/kg ransum. Pengukuran titer IgG menggunakan uji Hemaglutination Inhibisi. Pengambilan sampel serum darah dilakukan 3 minggu pasca vaksinasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok perlakuan dengan dosis pemberian IGP antara 0,5-1,5 gram/kg ransum diketahui dapat meningkatkan titer IgG secara efektif terhadap perlakuan kontrol (T0) dengan nilai pengukuran titer IgG sebesar (≥2⁴). Data penelitian ini menunjukan bahwa IGP berpotensi dapat meningkatkan produksi IgG dalam darah serta dapat dijadikan alternatif pengganti antibiotik sintetis

Keywords

Antibiotic growth promoter, hemaglutination inhibisi test (HI), immunbooster growth promoter herbal, burung puyuh, titer

Full Text:
PDF

DOI: https://doi.org/10.21776/ub.jnt.2021.005.01.7

Refbacks

There are currently no refbacks.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

PENDAHULUAN

Penyakit avian influenza (AI) sangat mematikan usaha peternakan utamanya pada ternak unggas. Dampak yang dihasilkan yaitu tingginya angka mortalitas,serta bersufat zoonosis yang dapat menular pada manusia (Suwito, dkk 2013). Pencegahan yang dilakukan peternak selama ini menggunakan AGP untuk menjaga performa tubuh ternak. Penggunaan AGP dalam ransum ternak dinilai dapat memacu pertumbuhan, meningkatkan peforma produksi, efesiensi penggunaan pakan, serta menurunkan angka kematian pada ternak (Prasetyo, et al., 2020).

Di Indonesia penggunaan AGP saat ini terhalang oleh peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penggunaan AGP berpengaruh terhadap resistensi bakteri dalam tubuh dan berlanjut ke manusia (Magdalena, et al., 2013).

Pengunaan AGP secara terus menerus tidak hanya menimbulkan resistensi silang tetapi juga berisiko terhadap pengembangan bakteri resisten antibiotik pada manusia (Nanekarani et al., 2012; Goodarzi et al., 2014). Oleh karena itu beberapa tahun terakhir penelitian mengenai alternatif pengganti AGP telah banyak dilakukan secara ekstensif (Steiner dan Syed, 2015).

IGP herbal merupakan salah alternatif yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap efektivitasnya dalam menggantikan AGP. IGP merupakan nutrisi yang berfungsi untuk meningkatkan semua sel bagian imun sehingga mampu menghadapi ancaman mahluk biologis dari luar.

IGP herbal terbuat dari 3 bahan alami yaitu bawang putih (Allium sativum), pegagan (Centella asiatica) dan kunyit putih (Curcuma zedoaria). Penggunan senyawa fitogenik dan obat yang berasal dari tanaman pada manusia dapat meningkatkan nafsu makan, penggunaan aditif herbal dalam ransum dapat meningkatkan kesejahteraan ternak dan memacu pertumbuhan ternak (Singh dan Gaikwad., 2020).

Penggunaan suplemen herbal dinilai dapat mendukung pertumbuhan, produksi, imunokompetensi, serta menyeimbangkan tingkat senyawa biokimia dalam sistem peredaran darah (Alagawany dkk., 2015a; 2015b). Beberapa penelitian menjelaskanbahwa efek biologis dan perlindungan dari tanaman aromatik serta senyawa fitogenik diantaranya sebagai aktivitas antioksidan, antisepti antiinflamasi, imunoregulasi, dan peningkatan kesehatan (Hidayat dan Rahman 2019). Tujuan dari penelitian ini untuk untuk mengetahui respon titer antibody AI yang terbuat dari Allium sativum, Centella asiatica dan Curcuma zedoaria pada burung puyuh.

MATERI DAN METODE

Materi

Kondisi Burung Puyuh dan Pemeliharaan

Penelitian ini dilakukan di Omah Puyuh Farm, Dusun Kejuron, Desa Plosorejo, Kecamatan Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kediri, Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2021. Dengan menggunkan 100 ekor burung puyuh betina (Conturnix- conturnix japonica) yang berumur 15 hari yang diperoleh dari penetasan industri di daerah Blitar Jawa Timur. Burung puyuh dipelihara selama delapan minggu (satu minggu untuk adaptasi dan tujuh minggu untuk percobaan makan). Strain, keadaan lingkungan dikondisikan dalam keadaan yang sama. Pemberian air dilakukan secaraa ad libitum

Metode

Desain Eksperimental, Parameter dan Analisis Statistik

Penelitian dirancang dengan acak lengkal (RAL) terdiri dari 5 perlakuan yang di ulang 4 kali. Jumlah ternak yang digunakan 20 ekor/ perlakuan dengan jenis burung puyuh (Conturnix-conturnix japonica). Percobaan dipelihara dalam 5 kandang berbeda berukuran 96 x 51 x 30 cm. Parameter yang diamati berupa hasil uji titer IgG antigen AI, dan profil produksi meliputi konsumsi, Feed Convertion Ratio (FCR ) dan prosentase produksi.

Data yang diperoleh dari parameter profil produksi dianalisis dengan menggunakan analisis varians satu arah (ANOVA) dengan bantuan perangkat SPSS 25. Sedangkan data yang diperoleh dari hasil uji titer dianalisa secara deskriptif kualitatif untuk menentukan pengaruh penambahan IGP herbal pada ransum. Perlakuan yang diberikan pada burung puyuh dalam percobaan dapat dilihat pada (tabel 1).

Tabel 1. Several different treatments to respond AI antibody titers in quail

Parameters
Treatment
T0 T1 T2 T3 P4
Vaksin AI H5N1

AGP

0,2 ml – – – –

0,3 gr/Kg – – – –

ransum

IGP herbal
– 0,5 gr/ kg 1 gr/ kg 1,5 gr/ kg 0,5 gr/ kg

ransum ransum ransum ransum

Keterangan: T0 = AGP 0,3 gr/kg ransum dan vaksin H5N1 0,2 ml ; T1 = IGP herbal 0,5gram/kg ransum ; T2 = IGP herbal 1 gram/kg ransum ; T3 = IGP herbal 1,5 gram/kg ransum ; P4 = IGP 2 gram/kg ransum

Uji Titer Antibodi

Untuk mengukur titer antibody menggunakan uji Hemaglutination Inhibisi (HI test) yang dianalisis dari reaksi ikatan antara antibodi dalam serum yang diperiksa dan jumlah antigen hemaglutinin virus AI yang digunakan (Lisnanti dan Fitriyah, 2017).

Sebelumnya burung puyuh pada perlakuan kontrol (T0) telah diberikan vaksin H5N1 dalam bentuk emulsi melalui otot paha dengan dosis 0,2 ml. Pengambilan sampel darah dilakukan 3 minggu pasca vaksinasi pada T0. Sampel serum diambil dari 20 ekor burung puyuh dari masing- masing kelompok perlakuan, sampel darah

(0,5 ml) diambil dari urat sayap dengan disposable plastic syringes ukuran 1 ml. Sampel darah kemudian didiamkan selama ± 5 jam untuk mendapatkan serum darah. Serum darah yang sudah terlihat kemudian diambil dan dimasukan kedalam microtube berukuran 1,5 ml, kemudian disimpan kedalam termos es. Serum darah yang diperoleh kemudian diujikan di laboratorium PT AKURAT DIAGNOSTIK INDONESIA Pare, Kediri, Jawa Timur. Konsumsi, Produksi Telur, dan FCR

Parameter konsumsi pakan diamati dengan cara pemberian di kurangi sisa pakan perhari. Produksi telur (Quail Day) dihitung pembagian jumlah telur dengan jumlah ternak puyuh dikali 100 %. FCR dihitung berdasarkan perbandingan konsumsi dengan berat telur (per minggu).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan hasil penelitian penambahan Immunbooster Growth Promoter (IGP) herbal dalam ransum terhadap respon titer antibodi virus AI pada burung puyuh adalah sebagai berikut: Uji Titer Antibodi

Penambahan IGP herbal dalam ransum dapat meningkatkan respon titer IgG (Immunoglobilin Gamma) terhadap virus AI pada burung puyuh terbukti pemberian IGP herbal dalam ransum dengan dosis antara 0,5-1,5 gr/kg ransum pada perlakuan T1-T3 menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata (P>0.01) terhadap hasil uji titer terhadap TO dengan hasil hasil ( ≥24) atau (104). Hasil uji titer antibodi IgG antigen AI dapat dilihat pada tabel 2. Kemudian dari hasil data kematian pada perlakuan T1, T2, T3, P4 tidak ditemukan kematian selama pereode penelitian, kematian terjadi pada T0 selaku perlakuan kontrol. Data kematian dapat dilihat pada tabel 2.

Penampilan Produksi

Tabel 4 menampilkan performa dari produksi telur burung puyuh dari hasil penelitian. Konsumsi pakan menunjukan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) pada perlakuan kontrol (T0). Burung puyuh dengan penambahan IGP herbal pada dosis 1 gr/kg ransum (T2) memiliki rataan konsumsi tertinggi yaitu 28,57 gr/ekor/hr dibandingkan perlakuan kontrol (T0). Sementara itu pemberian IGP herbal menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap parameter FCR dan prosentase produksi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (T0), sehingga menunjukan hasil yang serupa dengan perlakuan kontrol (T0) yang menggunakan AGP pada ransum.

Pembahasan

Titer Antibodi

Titer antibodi dikatakan protetif terhadap penyakit AI jika bernilai ( ≥24) (Anggraini dkk., 2014 ; Isnawati dkk.,

2019). Dalam hal ini pada burung puyuh yang diberi perlakuan IGP herbal dengan dosis antara 0,5-1,5 gr/kg ransum (T1, T2,T3) mendapatkan hasil tidak berbeda nyata (P>O.O5) terhadap hasil uji titer pada TO dengan hasil hasil ( ≥24) atau (104). Terdapatnya hasil titer antibodi IgG Anti AI yang protektif ( ≥24) pada perlakuan T1-T3 menandakan bahwa sudah adanya pembentukan antibodi IgG oleh sel T.

Antibodi IgG yang terbentuk akan menyesuaikan diri dengan jenis virus yang menginfeksi tubuh puyuh dalam hal ini antibodi IgG yang terbentuk adalah IgG untuk virus AI karena infeksi disebabkan oleh virus AI sehingga infeksi virus AI pada perlakuan uji T1- P4 tidak sampai menyebabkan pada puyuh karena ancaman virus sudah dapat diatasi sebelum terjadinya infeksi secara lebih luas (tabel 3).

Hal tersebut sesuai dengan Tizard, (2OO4) yang menyatakan bahwa antibody pertama (IgG) terlibat dalam respon imun lanjutan. Umumnya keberadan antibodi IgG tertentu dapat diartikan sebagai puncak respon terhadap antigen

Selain itu pada penelitian ini vaksinansi hanya dilakuakan pada TO dengan demikian diasumsikan bahwa meningkatnya respon imun IgG pada burung puyuh pada perlakuan T1- P4 puyuh terhadap virus AI dipengaruhi oleh senyawayang terkandung dalam bahan pembuatan IGP herbal. Kunyit putih (Curcuma zedoaria) yang merupakan salah satu bahan pembuatan IGP herbal memiliki senyawa aktif kurkumin yang mampu memperbanyak jumlah limfosit, sintetis antibodi spesifik, serta merangsang aktivitas makrofag (Citrawati, et al., 2018). Kemudian

asiaticoside yang terkandung dalam pegagan (Centella asiatica) merupakan salah satu antibiotik alami yang berpotensi sebagai imunomodulator (Noor, et al., 2018). Selanjutnya sistem imun spesifik dihubungkan dengan respon terhadap antigen tertentu melalui reaksi antigen antibodi (Wibawan dan Sudjono, 2013).

Tabel 2. Hasil titer antibodi IgG Antigen AI
Treatment Ai Virus Antibody Titer With HI Test (Log 2) Average CV%
Sample 0 1 2 3 4 5
T0 4 1 1 1 1 1.75 20
T1 4 2 1 1 1.25 17
T2 4 3 1 2.25 10
T3 4 3 1 1.25 17
P4 4 2 1 1 1.25 10

Keterangan : T0 = AGP 0,3 gr/kg ransum dan vaksin H5N1 0,2 ml ; T1 = IGP herbal 0,5 gram/kg ransum ; T2 = IGP herbal 1 gram/kg ransum ; T3 = IGP herbal 1,5 gram/kg ransum ; P4 = IGP 2 gram/kg ransum.

Tabel 3. Data presentasi mortalitas burung puyuh
Minggu ke- Mortalitas (%)
T0 T1 T2 T3 P4
1 10
2

3

4

5 10
6
7
Rataan 20 0 0 0 0
Keterangan: pengambilan data kematian dilakukan setiap hari dan diakumulasi pada tiap
minggunya

Tabel 4. Pengaruh penambahan IGP herbal terhadap produksi telur, bobot telur, FCR.

Parameter Perlakuan

T0 T1 T2 T3 P4

Konsumsi
25,99 ± 0.05a
26,73 ± 1.73b
28,57 ± 2.03c
25,00 ± 1.04a
24,76 ± 2.80a
(gr/ekor/hr)

Produksi Telur (%)

50,48 ± 0.06
50,83 ± 20.81
58,76 ± 19.05
56,88 ± 14.93
54,71 ±23.15
FCR
6,48 ± 3.09
6,46 ± 3.36
4,46 ± 0.37
4,41 ±1.06
4,97 ± 2.32

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan pengaruh yang berbedasignifikan (P<0,05). Dengan perlakuan T0 : T0 = AGP 0,3 gr/ kg ransum dan vaksin H5N1 0,2 ml; T1 = IGP herbal 0,5gram/kg ransum ; T2 = IGP herbal 1 gram/kg ransum ; T3 = IGP herbal 1,5 gram/kg ransum ; P4 = IGP 2 gram/kg ransum.

Penampilan Produksi

Berdasarkan hasil penelitian, pemberian IGP herbal dalam pada ransum burung puyuh memeberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) pada parameter konsumsi. Konsumsi ransum burung puyuh dengan penambahan 1 gram IGP herbal (T2) memiliki nilai rataan konsumsi tertinggi yaitu 28,57 gr/ekor/hr dibandingkan perlakuan kontrol (T0).

Selanjutnya konsumsi pakan tampak sejalan dengan prosentase produksi telur burung puyuh. Konsumsi pakan tertinggi pada T2 juga menunjukan nilai rataan prosentase produksi telur yang tinggi yaitu 58,76% hasil ini lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol yang menghasilkan nilai rataan prosentase produksi telur sebesar 50,48%. (Tabel 3).

Konsumsi terendah diperoleh pada perlakuan P4 dengan penambhan IGP herbal sebesar 2 gram/kg ransum yaitu sebesar 24,76 gr/ekor/hr. Rendahnya konsumsi pakan dipengaruhi oleh asupan nutrisi yang rendah (Harlystiarini 2020). Menurut Widjastuti et al (2014) penurunan produksi telur dan massa terlut dipengaruhi oleh konsumsi energy pakan selama masa bertelur, Namun dalam hal ini prosentase produksi telur P4 lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol.

Pada penelitian ini, konversi pakan (FCR) burung puyuh yang diberi penambahan IGP herbal sebesar 1,5 gram (T3) dikatakan lebih efisien dengan rataan konversi pakan sebesar 4,41. Pernyataan tersebut sesuai dengan Hazim et al., (2010) yang menyatakan (FCR) puyuh idealnya berada pada kisaran 3,67-4,71.

Burung puyuh mengkonsumsi lebih sedikit pakan tapi dapat menghasilkan lebih banyak telur. FCR sangat berkaitan dengan konsumsi pakan dan kemampuan hewan untuk mengubah pakan menjadi daging atau telur. Konversi pakan yang lebih rendah dapat menunjukkan bahwa hewan dapat lebih efisien mengubah pakan menjadi output yang diinginkan (Harlystiarini 2020).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, penambahan IGP herbal dalam ransum puyuh dapat menggantikan antibiotik sintesis (AGP) dilihat dari hasil uji titer yang menyatakan bahwa penambahan IGP herbal dalam ransum pakan burung puyuh dapat meningkatkan respon imun IgG antigen AI pada perlakuan T1,T2,T3 dengan dosis penambahan IGP herbal antara 0,5- 1,5 gram/kg ransum. Penambahan IGP herbal sebesar 1 gram/kg ransum pada T2 berhasil meningkatkan konsumsi ransum dan juga prosentase produksi telur burung puyuh. Penambahan IGP herbal pada dosis 1,5 gram pada perlakuan T3 dinilai dapat menekan angka konsumsi sehingga menghasilkan konversi pakan (FCR) yang kecil.

DAFTAR PUSTAKA

Alagawany, M. M., Farag, M. R., Dhama, K., El-Hack, M. E. A., Tiwari, R., & Alam, G. M. (2015). Mechanisms and beneficial applications of resveratrol as feed additive in animal and poultry nutrition: a review. International Journal of Pharmacology, 11 (3), 213­221. https://doi.org/10.3923/ijp.2015. 213.221

Alagawany, M. M., Farag, M. R., & Dhama, K. (2015). Nutritional and biological effects of turmeric (curcuma longa) supplementation on performance, serum biochemical parameters and oxidative status of broiler chicks exposed to endosulfan in the diets. Asian Journal ofAnimal and Veterinary Advances, 10(2), 86-96. https://doi.org/10.3923/ajava.2015.86.96

Anggraini, G., Santosa, P. E., & Suharyati, S. (2014). Profil titer antibodi Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND) pada itik pejantan dikecamatan Candirejo Kabupaten Pringsewu.Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu, 2, 101-106.

Citrawati, S. F., Haryanto, E., & Astuti, S. S. E. (2018). Pengaruh perasan kunyit putih (curcuma zedoaria) terhadap jumlah limfosit pada mencit (Mus musculus) yang diinduksi vaksin hepatitis B. Analis Kesehatan Sains, 7(2), 600-608.

Damayanti, R., Dharmayanti, N. L. P. I., Wiyono, A., Indriani, R., & Darminto. (2004). Gambaran klinis dan patologis pada ayam yang terserang flu burung sangat patogenik (HPAI) di beberapa peternakan di Jawa Timur dan Jawa Barat. Jitv, 9, 128-135.Damayanti, Y., Winaya, I. B. O., &

Rudyanto., M. D. (2012). Evaluasi penyakit virus pada kadaver broiler berdasarkan pengamatan patologi anatomi di rumah pemotongan unggas. Indonesia Medicus Veterinus, 1(3), 417-427.

Garjito, T. A. (2013). Virus avian influenza H5n1: biologi molekuler dan potensi penularanya ke unggas dan manusia. Jurnal Vektora, 5(2), 85-97.

Harlystiarini, H., Mutia, R., Wibawan, I. W. T., & Astuti, D. A. (2020). Immune responses and egg productions of quails fed rations supplemented with larvae meal of black soldier fly (Hermetia illucens). Tropical Animal Science Journal, 43(1), 43-49. https://doi.org/10.5398/tasj.2020.43.1.43

Hidayat, C., & Rahman, R. (2019). Review: peluang pengembangan imbuhan pakan fitogenik sebagai pengganti antibiotika dalam ransum ayam pedaging di Indonesia. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Peternakan Tropis, 6(2), 188-213. https://doi.org/10.33772/jitro.v6i2.7139

Isnawati, R., Wuryastuti, H., & Wasito, R. (2019). Peneguhan diagnosis Avian Influenza pada Ayam Petelur yang Mengalami Gejala Penurunan Produksi. Jurnal Sain Veteriner,37(1), 1-9. https://doi.org/10.22146/jsv.40602

Lisnanti, E., & Fitriyah, N. (2017).Efektivitas pemberian ekstrak sarang semut (myrmecodia .sp) terhadap respon antibody avian influenza subtipe H5n1. TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production, 18(2), 52-58. https://doi. org/10.21776/ub.jtapro.2017.018.02.8

Magdalena, S., GH, N., Nailufar F, & Purwadaria T. (2013). Pemanfaatan produk alami sebagai pakan fungsional. Wartazoa, 23(1), 31-40.

Nanekarani, S., Goodarzi, M., Heidari, M., & Landy, N. (2012). Efficiency of ethanolic extract of peppermint (Mentha piperita) as an antibiotic growth promoter substitution on performance, and carcass characteristics in broiler chickens. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 2(3), S1611-S1614. https://doi.org/10.1016/S2221-1691(12)60462-6

Noor, P. S., Amir, Y. S., Dewi, M., & Malvin, T. (2018). Pengaruh pemberian pegagan (Centela asiatica) terhadap titer antibodi dan berat badan ayam broiler. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Payakumbuh, 123-128. https://doi.org/10.31227/osf .io/8ck97

Prasetyo, A. F., Miftahul Ulum, M. Y., Prasetyo, B., & Sanyoto, J. I. (2020). Performance of broiler chickens after termination of feed with additional antibiotic grow promoters (AGP) in Jember district. Jurnal Peternakan, 17(1), 25-30. https://doi.org/10.24014 /jupet.v17i1.7536

Pudjiatmoko. (2014). Manual Penyakit Unggas. Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan hewan Direktorat jenderal Peternakan dan Kesehatan hewan Kementerian Pertanian.

Singh, J., & Yadav, A. (2020). Natural bioactive products in sustainable agriculture. in natural bioactive products in sustainable agriculture. Springer. https://doi.org/10.1007/978- 981-15-3024-1

Steiner, T., & Syed, B. (2015). Phytogenic feed additives in animal nutrition. inmedicinal and aromatic plants of the world (pp. 403-423). https://doi.org/ 10.1007/978-94-017-9810-5_20

Suwito, W., Supriadi, S., Winarti, E., & Primatika, R. A. (2017). Kajian vaksin avian influesa (AI) pada ayam buras dengan sistem kandang kurung di Gunung Kidul Yogyakarta. Sains Peternakan, 11(2), 79-83. https://doi.org/10.20961/sainspet.v11i2.4836Tizard, I. . (2004). Veterinary Immunology: an Introduction. Pennsylvania: WB

Saunders.Wibawan, I. W. T., & Soejoedono, R. D. (2013). Intisari Imunologi Medis. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Widjastuti, T., Wiradimadja, R., &Rusmana, D. (2014). The effect of substitution of fish meal by Black soldier fly (H. illucens) maggot meal in the diet on production performance of quail. Animal Science, 57, 125-129.

 

Last Updated on 7 September 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
Sapi Perah

Upaya Peningkatan Produksi Susu Sapi Perah Dengan Pemberian Vitamin Ade dan Obat Cacing

Next Post
broiler1

The Interactive influence between sex and probiotic on whole period’s broiler using non-linear pattern and in vivo experiment

Related Posts