GAMBARAN DAN KARAKTERISTIK PSORIASIS VULGARIS

Avatar of jurnal
PSORIASIS VULGARIS

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis yang sering mengalami kekambuhan. Penyakit psoriasis tidak segera mengancam nyawa akan tetapi sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui profil dari pasien psoriasis vulgaris dan gambaran karakteristik pasien dengan psoriasis vulgaris.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengambil data sekunder pasien psoriasis vulgaris yang berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Buleleng pada tahun 2012 sampai 2013. Sampel penelitian ini adalah pasien dengan psoriasis vulgaris yang berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Buleleng.

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 54 pasien mengalami penyakit psoriasis vulgaris pada tahun 2012 dan sebanyak 50 pasien mengalami penyakit psoriasis vulgaris pada tahun 2013. Dari kedua tahun ini hampir sebagian besar merupakan kasus lama, persebaran kelompok usia hampir sama di semua kelompok usia dan jenis kelamin.

Dari karakteristik pasien, sebanyak 74,1% dengan BMI normal pada tahun 2012 dan 54% pasien dengan BMI normal pada tahun 2013. 25,9% pasien yang memiliki kebiasaan merokok pada tahun 2012 dan 28% pasien di tahun 2013. Sebanyak 16,7% pasien memiliki kebiasaan minum alkohol pada tahun 2012 dan 24% pasien di tahun 2013.

Untuk riwayat penyakit lain pada pasien psoriasis vulgaris, 24% pasien dengan diabetes mellitus di tahun 2012 dan 20% pasien di tahun 2013, 5% pasien dengan rheumatoid artritis di tahun 2012 dan 4% pasien di tahun 2013.

Kata kunci: psoriasis vulgaris, penyakit, kronis

Page Contents

PENDAHULUAN

Psoriasis vulgaris adalah penyakit kulit yang ditandai dengan timbulnya bercak-bercak kemerahan yang berukuran lebih dari 5 mm, yang seringkali berbentuk seperti lingkaran. Bercak-bercak ini biasanya muncul di bagian tubuh yang sering terkena tekanan seperti telapak tangan, ujung-ujung jari tangan, atau punggung tangan. Psoriasis vulgaris juga sering menimbulkan rasa gatal dan peradangan.

Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan pada sel-sel kulit, sehingga sel-sel kulit mati lebih cepat daripada seharusnya. Psoriasis vulgaris adalah penyakit kronis yang artinya penyakit ini akan selalu muncul kembali. Penyakit ini dapat muncul kapan saja, namun biasanya penyakit ini akan muncul pada musim dingin atau setelah stres.

Psoriasis merupakan penyakit kulit kronis yang sering mengalami kekambuhan. Penyakit ini memiliki banyak bentuk klinis,salah satu jenis psoriasis yang paling sering terjadu adalah psoriasis vulgaris. Di Amerika Serikat 2% dari populasinya menderita psoriasis.

Prevalensi psoriasis rendah pada etnik Jepang, dan tidak dijumpai penderita penyakit ini pada suku Aborigins Australia dan penduduk India.1 Untuk negara Indonesia sendiri belum ada data pasti berapa prevalensi penduduk Indonesia yang mengalami psoriasis.1,2

Pada wilayah kerja RSUD Kabupaten Buleleng belum pernah dilakukan pencatatan dan studi mengenai berapa banyak kasus psoriasis vulgaris yang datang untuk berobat di poliklinik penyakit kulit dan kelamin RSUD Buleleng.

Berdasarkan hasil tabulasi data jumlah pasien di RSUD Kabupaten Buleleng adalah sebanyak 1.695 dengan kasus penyakit kulit pada tahun 2012, 944 pasien berjenis kelamin laki-laki dan 751 pasien berjenis kelamin perempuan. Pada tahun 2013 terdapat 1.680 pasien dengan penyakit kulit, 858 pasien berjenis kelamin laki-laki dan 822 pasien berjenis kelamin perempuan.

Dari jumlah total pasien pada tahun 2012 dan 2013, sebanyak 54 pasien didiagnosis dengan psoriasis vulgaris pada tahun 2012 dan sebanyak 50 pasien terdiagnosis psoriasis vulgaris di tahun 2013.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Ann Rheum Diseses dikatakan bahwa umur rata-rata munculnya penyakit ini secara klinis paling sering antara 15-20 tahun dan antara usia 55-60 tahun. Ternyata perbedaan variasi umur tersebut sangat berkaitan dengan faktor genetik.

Selain faktor genetik ada juga faktor pencetus lain yang berpengaruh yaitu, stress psikis, infeksi fokal, trauma (fenomena Kobner), gangguan endokrin, gangguan metabolisme, obat, alcohol dan merokok. Melihat banyaknya faktor yang terlibat dalam patogenesis psoriasis vulgaris maka banyak studi telah dilakukan untuk menganalisa kaitan faktor risiko tersebut.1,3

Penyakit psoriasis tidak segera mengancam nyawa akan tetapi sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Penderita psoriasis akan malu untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan akan mengalami beban mental yang besar ketika orang-orang menjauh dari penderita psoriasis karena penampakan klinisnya yang sangat mengerikan walaupun penyakit ini bukan penyakit menular. Stress psikis yang dialami penderita psoriasis juga bisa disebabkan karena penyakit ini sangat sulit untuk disembuhkan secara sempurna.

Pada satu tahap dengan pengobatan tertentu penyakit ini mungkin bisa disembuhkan namun beberapa waktu kemudian akan muncul lagi dan obat sebelumnya kurang berpengaruh. Suatu studi tentang kualitas hidup penderita psoriasis yang sangat membahayakan, ternyata 5% penderita psoriasis pada suatu populasi mengalami depresi dan memiliki ide untuk melakukan bunuh diri.1

Melihat dampak negatif yang ditimbulkan dari penyakit dan sangat banyak faktor pencetus yang terlibat dalam patogenesis terjadinya penyakit ini, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitan ini sehingga bisa mengetahui profil penderita psoriasis vulgaris yang terjadi di poliklinik penyait kulit dan kelamin RSUD Kabupaten Buleleng.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengambil data sekunder pasien psoriasis vulgaris yang berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Buleleng pada tahun 2012 sampai 2013.Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional study, dimana akan dilakukan pengumpulan data dari catatan medis di poliklinik penyakit kulit dan kelamin RSUD Buleleng. Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah pada bulan Januari 2014.

Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien yang terdiagnosis sebagai psoriasis vulgaris. Pengambilan sampel dalam penelitian ini akan dilakukan secara total sampling, dengan kriteria subjek yang akan diikutsertakan dalam studi ini mengidap psoriasis vulgaris.

Pada penelitian ini dilakukan analisis data secara deskriptif dengan menggunakan program SPSS 16 dan Microsoft excel 2007. Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi. Dalam penelitian ini akan disajikan data berdasarkan pengelompokkan karakteristik pasien, faktor-faktor risiko psoriasis vulgaris tanpa mencari hubungan diantaranya.

HASIL

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa persebaran usia pasien cukup merata, dimana mayoritas berasal dari kelompok usia 30-39 tahun, 40-49 tahun, 50-59 tahun , > 60 tahun. Selain itu, mayoritas pasien adalah pria dan merupakan pasien kasus lama.

Tabel 1.Karakteristik Demografi

Subyek Penelitian Kasus Psoriasis 2012

Variabel
Jumlah (%)
Kelompok Usia
<20 tahun
7 (13%)
20-29 tahun
7 (13%)
30-39 tahun
10 (18,5%)
40-49 tahun
10 (18,5%)
50-59 tahun
10 (18,5%)
>60 tahun
10 (18,5%)
Jenis Kelamin
Perempuan
34 (63%)
Laki-laki
20 (37%)
Jenis Kasus
Kasus Lama
38 (70,4%)
Kasus Baru
16 (29,6%)

Tabel 2.Faktor Risiko Psoriasis pada Subyek Penelitian Tahun 2012

Variabel
Jumlah (%)
BMI
Underweight
0 (0%)
Normal
40 (74,1%)
Overweight
10 (18,5%)
Obese 1
4 (7,4%)
Obese 2
0 (0%)
Merokok
Ya
14 (25,9%)
Tidak
40 (74,1%)
Alkohol Tabel 3.Karakteristik Demografi
Ya 9 (16,7%) Subyek Penelitian Kasus Psoriasis 2013
Tidak 45 (83,3%)
Variabel Jumlah (%)
Penyakit Lain
7 (13%) Kelompok Usia
Hipertensi (HT)
<20 tahun 9 (18%)
Artritis reumatoid (RA) 3 (5,6%) 20-29 tahun
8 (16%)
HT & RA 1 (1,9%) 30-39 tahun
10 (20%)
DM 13 (24%) 40-49 tahun
7 (18,5%)
Tidak ada diagnosis 30 (55,6%) 50-59 tahun
7 (18,5%)
Antihipertensi
>60 tahun 9 (18%
Ya 10 (18,5%)
Tidak 44 (81,5%)
Jenis Kelamin
NSAID
Ya 9 (16,7%) Perempuan 22 (44%)
Tidak 45 (83,3%) Laki-laki 28 (56%)
Jenis Kasus
Asetaminofen
Ya 5 (9,3%) Kasus Lama 35 (70%)
Tidak 49 (90,7%) Kasus Baru 15 (30%)
Berdasarkan tabel 3 diketahui
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa mayoritas pasien berasal dari
bahwa mayoritas pasien memiliki BMI kelompok usia 30-39 tahun, serta
yang normal, tidak merokok, tidak merupakan pasien kasus lama yaitu
mengkonsumsi alkohol, tidak memiliki sebanyak 35 kasus. Usia pasien dengan
penyakit lain, tidak mengonsumsi psoriasis vulgarus pada tahun 2013 di
antihipertensi, tidak mengkonsumsi Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin

NSAID,   serta   tidak   mengonsumsi     RSUD Kabupaten Buleleng berkisar 9-75 asetaminofen.

Tabel 4.Faktor Risiko Psoriasis pada

Variabel
Jumlah (%)
BMI
Underweight
0 (0%)
Normal
27 (54%)
Overweight
15 (30%)
Obese 1
8 (16%)
Obese 2
0 (0%)
Merokok
Ya
14 (28%)
Tidak
36 (72%)
Alkohol
Ya
12 (24%)
Tidak
38 (76%)
Penyakit Lain
Hipertensi (HT)
7 (14%)
Artritis reumatoid (RA)
2 (4%)
HT & RA
1 (2%)
DM
10 (20%)
Tidak ada diagnosis
30 (60%)
Antihipertensi
Ya
5 (10%)
Tidak
45 (90%)
NSAID
Ya
4 (8%)
Tidak
46 (92%)
Asetaminofen
Ya
1 (2%)
Tidak
49 (98%)

Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa mayoritas pasien memiliki BMI yang normal, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, tidak memiliki penyakit lain, tidak mengonsumsi antihipertensi, tidak mengonsumsi NSAID, serta tidak mengonsumsi asetaminofen.

PEMBAHASAN

Mayoritas Jenis kelamin pasien pada tahun 2012 dan 2013 berbeda, dimana pada tahun 2012 mayoritas kasus adalah perempuan dan pada tahun 2013 adalah laki-laki. Secara keseluruhan distribusi jenis kelamin kasus pada penelitian ini dari tahun 2012-2013 adalah perempuan 52% dan laki-laki 48%.

Hasil penelitian ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan insiden psoriasis secara umum hampir sama pada perempuan maupun laki-laki. Chen et al 2008 juga menyatakan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan insidensi berdasarkan jenis kelamin.4,5

Mayoritas pasien berasal dari kelompok usia 30-39 tahun, diikuti kelompok usia> 60 tahun, 40-49 tahun dan 50-59 tahun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Heurta et al 2007 yang menyatakan adanya kurva bimodal pada insidensi psoriasis berdasarkan distribusi umur.

Shapiro et al menyatakan distribusi pasien psoriasis semakin meningkat sesuai dengan peningkatan usia karena penyakit ini bersifat kronik, namun mulai menurun setelah usia lanjut akibat komorbiditas yang meningkat. Selain itu, Gelfand et al 2004 juga menyatakan bahwa puncak insidensi psoriasis ditemukan pada usia dua puluhan dan usia lima puluhan.4,6

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan variabel kompleks yang berkorelasi dengan derajat adiposit dan dipengaruhi oleh factor lingkungan maupun genetik. IMT sendiri mempengaruhi keragaman kondisi biologis termasuk imunitas. Telah diketahui bahwa kadar Tumor necrosis factor alpha (TNF-α) , soluble TNF-α receptors, dan produksi TNF-α in vitro secara signifikan meningkat pada subjek penelitian dengan obese dibandingkan yang tidak.

Pada subjek penelitian dengan obese, terdapat korelasi positif antara kadar serum soluble TNF-α receptors dan IMT. Peningkatan kadar TNF-α dapat ditemukan pada kondisi inflamasi termasuk psoriasis. Saat ini hubungan yang telah ditemukan antara obesitas dan status proinflamasi lebih dikenal sebagai sindrom metabolik.7

Berdasarkan data IMT pasien mayoritas memiliki indeks masa tubuh normal diikuti overweight. Hal ini bertentangan dengan teori yang menyatakan bahwa penurunan berat badan dapat menurunkan kadar leptin secara signifikan dan meningkatkan sensitivitas insulin dan berpotensi sebagai terapi umum pada pasien psoriasis khususnya dengan obesitas.

Hiperleptinemia pada psoriasis berhubungan dengan perkembangan sindrom metabolik.2 Akan tetapi pada penelitian-penelitian terdahulu lebih menekankan hubungan sindrom metabolic dengan psoriasis dibandingkan komponen indeks masa tubuh dengan psoriasis, pada penelitian ini diagnose sindrom metabolic berdasarkan NCEP ATP sulit ditegakkan karena keterbatasan dalam pemeriksaan laboratorium.4,5,6

Mayoritas pasien tidak merokok (73%). Akan tetapi, penelitian sebelumnya memberikan beberapa bukti tentang hubungan psoriasis dan kebiasaan merokok, khususnya dengan tingkat keparahan klinis psoriasis.4,5 Merokok diketahui dapat menginduksi perubahan morfologis dan fungsional dari leukosit polimorfonuklear, dan mungkin menyebabkan pelepasan berlebihan factor kemotaktik.

Penelitian lain menunjukkan kebiasan merokok menginduksi produksi yang berlebihan dari interleukin-1 dan meningkatkan produksi TNF α serta TGFβ, yang berhubungan dengan derajat keparahan psoriasis.5 Hal ini disebabkan karena psoriasis merupakan penyakit yang diperantarai sel T dan nikotin dalam rokok merubah fungsi imunologis.

Nikotin dapat memodulasi kapasitas sel dendrit, dengan meginduksi sel dendrite mengekspresikan molekul kostimulator (CD86, CD40), MHC kelas II, dan molekul adhesi (LFA-1 dan CD54). Lebih lanjut nikotin menginduksi peningkatan sekresi yang signifikan dari sitokin pro inflamasi, T Helper 1, dan interleukin 12, serta mampu menginduksi proliferasi sel T.7

Konsumsi alkohol digambarkan sebagai faktor yang memicu psoriasis, beberapa penelitian sebelumnya memperkirakan adanya hubungan antara meminum alkohol berat dan kejadian psoriasis. Penelitian lain mengungkapkan alcohol berhubungan dengan peningkatan risiko dari tingkat keparahan psoriasis, tetapi secara signifikan tidak menunjukkan hasil bermakna bila semua variable perancu dapat dikendalikan.

Pada penelitian ini, mayoritas pasien tidak mengonsumsi alkohol, hal ini sesuai dengan penelitian Poikolainen et al yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara daerah tubuh yang mengalami psoriasis dan konsumsi alkohol. 8

Pada penelitian ini penyakit penyerta yang paling sering ditemui adalah diabetes mellitus kemudian hipertensi diikuti arthritis rheumatoid. Psoriasis telah dihubungkan dengan beberapa gangguan kardiovaskular seperti obesitas, hipertensi, dan hiperglikemia, walaupun tidak selalu mendapatkan hasil yang bermakna dalam uji statistik.

Gisondi et al mendapatkan pasien psoriasis vulgaris dengan tekanan darah meningkat (>135/85 mmHg atau dalam terapi) hanya sebesar40,8%. Ahmed et al mendapatkan tekanan darah meningkat sebesar 41,9%.4,5

Sejumlah obat telah dilapokan dapat memicu atau menyebabkan eksaserbasi psoriasis dalam beberapa laporan kasus dan serial kasus Obat-obatan yang dilaporkan berpotensi sebagai factor risiko untuk terjadinya psoriasis meliputi antibiotik, lithium, agen antihipertensi (Penyekat beta, ACE Inhibitor, dan CCB), dan NSAID.6 Akan tetapi pada penelitian ini hanya sebagian kecil pasien yang mengonsumsi obat antihipertensi (14,4%), NSAID (12,5%), dan Asetaminofen (6%). Mayoritas pasien tidak mengonsumsi obat-obatan tersebut.

Penelitian ini memiliki kelemahan yaitu peneliti tidak mengkaji mengenai tingkat atau derajat keparahan dari psoriasis vulgaris yang diakibatkan karena penelitian ini hanya menggunakan desain penelitian yang mengambil data sekunder dari rekam medik pasien. Selain itu keterbatasan data sekunder dari rekam medik juga mengakibatkan keterbatasan pengolahan data.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 54 pasien mengalami penyakit psoriasis vulgaris pada tahun 2012 dan sebanyak 50 pasien mengalami penyakit psoriasis vulgaris pada tahun 2013. Dari kedua tahun ini hampir sebagian besar merupakan kasus lama, persebaran kelompok usia hampir sama di semua kelompok usia dan jenis kelamin.

Dari karakteristik pasien, sebanyak 74,1% dengan BMI normal pada tahun 2012 dan 54% pasien dengan BMI normal pada tahun 2013. 25,9% pasien yang memiliki kebiasaan merokok pada tahun 2012 dan 28% pasien di tahun 2013. Sebanyak 16,7% pasien memiliki kebiasaan minum alkohol pada tahun 2012 dan 24% pasien di tahun 2013.

Untuk riwayat penyakit lain pada pasien psoriasis vulgaris, 24% pasien dengan diabetes mellitus di tahun 2012 dan 20% pasien di tahun 2013, 5% pasien dengan rheumatoid artritis di tahun 2012 dan 4% pasien di tahun 2013.

Peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian yang serupa mengenai prevalensi psoriasis mengingat belum adanya penelitian atau studi yang khusus mengkaji tentang penyakit kronis ini. Selain itu, penelitian ini juga dapat digunakan sebagai pedoman untuk dilakukannya penelitian yang lebih dalam mengenai kasus psoriasis vulgaris.

Referensi :

  • 1. RGB Langley, et al. Psoriasis: Epidemiology, Clinical Features, and Quality of Life. Annals of the Rheumatic Diseases. 2005; 64: ii18-ii23. [accessed: January 6, 2014]
  • 2. Adhi Djuanda, dkk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2005.
  • 3. William D. James, et al. Andrew’s Diseases of the Skin Clinical Dermatology 10th Edition. Philadelpia: Elsevier Saunders; 2005.
  • 4. Setyorini M, Triestianawati W, Wiryadi BE, JacoebTN.Proporsi Sindrom Metabolik Pada Pasien Psoriasis Vulgaris Berdasarkan Kriteria National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III Di RS dr. Cipto Mangunkusumo dan Sebuah Klinik Swasta di Jakarta. MDVI Vol.39. No.1 Tahun 2012:2-9
  • 5. Chen Y, Wu C, Shen J, et al. Psoriasis Independently  AssociatedWith Hyperleptinemia Contributing to Metabolic Syndrome. Arch Dermatol.2008;144(12):1571-1575
  • 6. Huerta C, RiVero E, Rodn’guez L, et al. Incidence and Risk Factors for Psoriasis in the General PopulationArch    Dermatol.2007;143(12):1559-1565
  • 7. Naldi L, Chatenoud L, Linder D, et al. Cigarette Smoking, Body Mass Index, and Stressful Life EVentsas Risk Factors for Psoriasis: Results from an ItalianCase-Control Study. J Invest Dermatol 2005;125:61-67
  • 8. Fortes C, Mastroeni S, LefTondre K, et al. Relationship Between Smoking and the Clinical Severity of Psoriasis. Arch Dermatol.2005;141:1580-1584
  • 9. Jenny E. Murasse, et al. Hormonal Effect on Psoriasis Vulgaris in Pregnancy and Post-partum. Arch Dermatol.2005;141:601-606.
  • 10. Cristina Fortes, et al. Relationship between Smoking and The Clinical Severity of Psoriasis Vulgaris. Arch Dermatol. 2005; 141:1580-1584.

Last Updated on 7 November 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
suasana pantai batu bolong

BENTUK PENGELOLAAN PANTAI BATU BOLONG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA SURFING DI DESA CANGGU, KECAMATAN KUTA UTARA, KABUPATEN BADUNG

Next Post

Pengaturan Penetapan Batas Wilayah Papua New Guinea Dengan Indonesia Ditinjau Dari Hukum Internasional

Related Posts