STUDI PENGEMBANGAN DESA PINGE SEBAGAI DAYA TARIK EKOWISATA DI KECAMATAN MARGA KABUPATEN TABANAN

Avatar of jurnal

Abstract

Tourism sector as one of the largest foreign exchange earner and the country as well as creators of jobs, required for excavation efforts and the development of tourism potentials more deeply. Bali has many places that still keeps the beauty of the environment and culture, one of them is Tabanan regency.

Natural resources could be a potential to develop as tourist object, but society can not fully develop these resources to the fullest. In relation to rural development Pinge as ecotourism attraction in the Tabanan regency local potentials should be managed optimally in order to be realized.

This study used descriptive qualitative method which has qualitative and quantitative data. Data collected by observation, in-depth interviews with purposive sampling approaches, literatures, and documentation. The results showed that there are two potential at pinge : cultural and natural potential. Cultural potential include: archaeological sites, rural settlement patterns, dance Leko, and subak system.

Natural potential include: walkways, and hydrology. From the above potentials Pinge village can be developed into eco-tourism attraction in a way that makes ecotourism strategy in the SWOT analysis. After finding the strategies that will be used for rural development Pinge as ecotourism attraction will require programs that can support the passage of the strategies that have been made.

Keywords: development, ecotourism, potential

PENDAHULUAN

Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan merupakan sebuah keharusan dalam meminimalkan dampak negatif dari pariwisata massal yang terjadi di Bali. Ekowisata adalah alah satu bentuk dari pariwisata alternatif, menurut Silver (1997:105) ekowisata memiliki karakteristik yaitu (1) wisatawan ingin mendapatkan pengalaman yang asli dan mendalam; (2) pengalaman yang didapat layak dijalani baik secara pribadi maupun sosial; (3) kurang menyukai rombongan yang besar dengan rencana atau jadwal perjalanan yang ketat; (4) mencari tantangan fisik dan mental; (5) berinteraksi langsung dengan budaya dan penduduk setempat; (6) mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat lokal; (7) lebih menyukai tempat penginapan yang asli di desa; (8) wisatawan ingin ikut terlibat dan tidak bersifat pasif, (9) memiliki toleransi terhadap ketidaknyamanan; (10) lebih senang membayar untuk petualangan dari pada kenyamanan. Langkah-langkah pengelolaan kawasan menjadi ekowisata merupakan salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan untuk menjaga kelestarian alam dan budaya setempat.

Desa Pinge merupakan salah satu desa wisata yang ada di kabupaten Tabanan. Desa pinge terletak pada dataran tinggi sehingga sumber daya alam yang tersedia beranekaragam seperti flora, fauna, hidrologi, iklim, serta bentang alam yang indah.

Sumber daya alam tersebut bisa menjadi potensi wisata, namun masyarakat belum sepenuhnya dapat mengembangkan sumber daya alam tersebut secara maksimal. Dalam kaitannya dengan pengembangan desa Pinge sebagai daya tarik ekowisata di Kabupaten Tabanan maka potensi lokal yang ada harus dikelola secara maksimal agar dapat terealisasi.

Untuk merealisasikan pengembangan Desa Pinge sebagai daya tarik ekowisata yang harus diperhatikan adalah strategi dan program pengembangan yang akan dilakukan. Hal ini dapat meminimalisir dampak negatif dari pengembangan pariwisata tersebut serta dapat mengontrol perkembangan pariwisata yang akan dikembangkan.

Melihat fenomena diatas maka sangatlah penting dilakukan penelitian tentang studi pengembangan desa Pinge sebagai daya tarik ekowisata di Kabupaten Tabanan.

Download

Full Article

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arida, N.S. 2009. Meretas Jalan Ekowisata Bali. Denpasar. Udayana Univesity Press.
  2. Damanik, J. & Helmet F.W. 2006. Perencanaan Ekowisata : Dari teori ke Aplikasi.
  3. Mardalis,1999. Metode Penelitian: Suatu pendekatan Proposal. Jakarta. Bumi Aksara. Yogyakarta : Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) UGM & CV Andi Offset.
  4. Pendit, N.S. 2002. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta : PT Pradnya Paramita.
    Silver C. 1997. Urban Based Eco-tourism in Indonesia.
  5. Planning Sustainable Tourism. ITB. Bandung
  6. Yoeti. 1985. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Penerbit Angkasa.. 1996. Pemberdayaan dan Atraksi Pariwisata.Bandung : PT Pradnya Paramita.

Last Updated on 14 Januari 2023

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post

CUSTOMER EXPERIENCE, KEPUASAN WISATAWAN DAN LOYALITAS WISATAWAN DI FLOATING MARKET LEMBANG BANDUNG

Next Post

GROWTH AND YIELD OF BENGGALA GRASS (Panicum maximum cv. Trichoglume) PLANTED WITH THE LEGUM OF Alysicarpus vaginalis IN DIFFERENT N, P AND K FERTILIZERS DOSAGE

Related Posts