Perbaikan Kualitas Buah Anggur Bali (Vitis Vinifera L. Var. Alphonso Lavallee) melalui Aplikasi GA3 sebelum Bunga Mekar

Avatar of jurnal
Anggur Bali

ABSTRACT

Improvement of The Quality of Balinese Table grape (Vitis Vinifera L. Var. Alphonso Lavallee) using GA3 Application Before Flowering. Research concerning of “Improvement of Balinese Table grape (Vitis Vinifera L. Var. Alphonso Lavallee) using GA3 before flowering” had been done during May to August 2015 at the vineyard located at Kalianget Village, in Buleleng Regency, Bali. The objective of the research was to find out method in improving the quality of Balinese table grape using GA3 application. The experiment was designed as Randomized Block Designed, with GA3 concentration as a treatment, i.e. 0, 50, 100, 150, 200 ppm. The results showed that, application of GA3 before flowering increased bunch length, improved oBrix, induced seedless, however decreased berry weight.

Keywords: Balinese table grape, quality, GA3, before flowering

PENDAHULUAN

Anggur Bali dengan nama ilmiah Vitis vinifera L. var. Alphonso Lavallee merupakan salah satu buah unggulan pulau Bali. Anggur ini ditanam di Kabupaten Buleleng di tiga kecamatan, yakni Seririt, Gerokgak dan Banjar. Jenis anggur ini memiliki buah dengan warna hitam keunguan dan tergolong ke dalam black variety (varietas anggur hitam). Anggur Bali ini juga dikenal dengan nama ’Ribier’ dan dapat dimanfaatkan sebagai buah segar (table grape) ataupun wine (wine grape) (Cirami et al., 1992; Dwiyani, 2007).

Sebagai buah segar, baik itu di pasar tradisional maupun di pasar swalayan, anggur Bali diperdagangkan bersama dengan varietas buah anggur lainnya dari berbagai negara (anggur impor) ataupun varietas anggur lainnya dari daerah lain di Indonesia.

Di era pasar global seperti sekarang ini, maka faktor kualitas menjadi sangat penting agar buah anggur Bali dapat bersaing dan disenangi konsumen.

Salah satu faktor penentu kualitas adalah seedless (tidak adanya biji) selain faktor lainnya seperti kenampakan yang meliputi warna buah, ukuran buah dan keseragaman buah. Namun diantara faktor tersebut, untuk pemanfaatan anggur sebagai buah segar, seedless, rasa manis dan ukuran buah yang relatif besar merupakan yang paling disukai konsumen (Wei et al. 2002).

Hasil survei awal di beberapa pasar swalayan di Denpasar, terlihat bahwa anggur Bali ini kurang laku dibandingkan dengan anggur impor meskipun dijual dengan harga yang lebih murah. Faktor kurangnya rasa manis, ukuran buah yang kecil serta adanya biji merupakan sebagian kelemahan kualitas 37 buah anggur Bali dan menjadi penyebab kurang lakunya di pasaran.

Namun hasil penelitian Nile et al. (2013) mendapatkan bahwa buah anggur varietas Alphonso Lavallee (anggur Bali) memiliki kandungan flavanoids yang lebih banyak dibandingkan buah anggur dari kelompok black varieties lainnya seperti Flouxa, Black Pegaru, Concord, Campbell Early dan Spherper. Sementara Filipe et al. (2011) menyebutkan bahwa flavanoids memiliki antioxidant properties dan sangat berguna bagi diet manusia.

Kelebihan ini menjadi poin penting bahwa varietas anggur Bali ini perlu diselamatkan dengan meminimalisir kelemahannya agar varietas anggur Bali bisa menjadi buah unggulan lokal yang superior di pasaran.

Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan metode untuk memperbaiki kualitas buah anggur Bali melalui aplikasi GA3 pada stadia bunga belum mekar. Aplikasi GA3 pada tanaman anggur dapat mempengaruhi ukuran buah melalui efek berry thinning serta seedless, tergantung pada saat aplikasi serta konsentrasi GA3 yang diberikan (Cirami et al., 1992; Casanova et al, 2009) dan juga meningkatkan mutu buah lainnya seperti peach (Dagara et al, 2012), kurma (Awad and Al-Qurashi, 2012) dan stroberi (Azadi et al, 2013).

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dari bulan Mei hingga November 2015. Areal tanaman anggur yang akan digunakan milik petani anggur, yakni Bapak Made Landre.

Masa pembuahan anggur pada budidaya anggur Bali di Buleleng berlangsung dua sampai tiga kali dalam setahun. Setelah panen, tanaman diberi pupuk baik pupuk NPK maupun pupuk kandang untuk pertumbuhan vegetatif tanaman. Setelah satu sampai dua bulan dilakukan pemupukan, baru kemudian dilakukan pemangkasan untuk menghasilkan tunas-tunas produktif yang menghasilkan bunga.

Penelitian ini hanya dilakukan pada satu kali masa berbuah dan mengikuti teknik budidaya yang dilakukan petani, namun perbedaannya adalah adanya aplikasi GA3 dengan jalan penyemprotan pada bunga anggur sebelum mekar yang dihasilkan oleh tunas produktif.

Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan konsentrasi GA3, yang terdiri dari 5 konsentrasi, yakni 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm. Masing-masing perlakuan diwakili oleh 10 tandan, sehingga keseluruhan ada 50 tandan.

Penyemprotan dilakukan pada saat stadia bunga belum mekar, yakni 20 hari setelah pemangkasan. Panen dilakukan pada umur 105 hari setelah pemangkasan. Variabel yang diamati adalah panjang tandan, oBrix (diukur dengan hand refractometer), rata-rata berat per buah, dan rata-rata jumlah biji per buah.

Pengaruh aplikasi GA3 terhadap beberapa kriteria kualitas dapat dilihat pada Gambar 1. Pengaruh aplikasi GA3 pada stadia bunga belum mekar terhadap panjang tandan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh aplikasi GA3 terhadap panjang tandan dapat dilihat pada Gambar 1. Panjang tandan meningkat dengan konsentrasi GA3 yang semakin tinggi. Dengan bertambah panjangnya tandan bunga, akan memberikan ruang tumbuh terhadap perkembangan buah, sehingga memungkinkan buah akan tumbuh lebih besar.

Selain itu, tandan buah yang terlalu padat (compact) tidak diharapkan oleh petani karena dapat memicu serangan penyakit busuk buah. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Extention (2015) yang menyebutkan bahwa aplikasi GA3 memiliki efek untuk mengurangi kepadatan buah anggur dalam tandan. Cirami et al. (1992) dan Casanova et al (2009) juga menyebutkan bahwa salah satu pengaruh aplikasi GA3 pada tanaman anggur adalah memberikan efek berry thinning atau penjarangan buah.

word image 3424 1

Konsentrasi GA 3

Tabel 1. Efek seedless serta peningkatan rasa manis terjadi dengan aplikasi GA3, namun ukuran buah menurun dengan pemberian GA3. Penurunan ukuran buah tersebut meningkat dengan meningkatnya konsentrasi GA3.

Anggur merupakan buah non- klimaterik. Buah klimaterik dicirikan oleh adanya peningkatan respirasi serta produksi ethylene selama proses pemasakan buah (ripening process) (Aizat et al. 2013). Golongan buah klimaterik ini dapat meningkat kadar gulanya pasca panen. Hal ini dapat menjelaskan bahwa buah non klimaterik seperti anggur menjadi masam rasanya jika dipanen sebelum waktunya.

Dalam penelitian ini, buah anggur dipanen tepat waktu, yakni sebagaimana harusnya anggur Bali dipanen, yakni 105 hari setelah pemangkasan. Namun pemberian GA3 dapat meningkatkan rasa manis dari rata-rata 9.6 oBrix menjadi 14.22 oBrix.

Derajat rasa manis ini sudah mencapai derajat rasa manis buah anggur hitam impor yang yang dijual di pasar Swalayan di kota Denpasar yakni 14 oBrix (penelitian pendahuluan, data belum dipublikasi). oBrix atau persen (%) Brix menggambarkan jumlah gula (sukrosa) yang ada dalam buah sehingga menjadi indikator rasa manis buah. Satu oBrix atau satu persen (%) Brix setara dengan 1 gram sukrosa dalam 100 gram larutan (The Engineering ToolBox, 2015). Satuan oBrix diukur dengan mudah menggunakan hand-held refractometer.

Tabel 1. Pengaruh aplikasi GA3 pada stadia bunga belum mekar terhadap jumlah biji perbuah, rasa manis (oBrix), dan ukuran buah

Konsentrasi

GA3 (ppm)

Jumlah biji per buah (buah)
oBrix
Berat

per buah (gram)

0
3.01 a
9.96 c
5.25 a
50
1.87 b
11.46 b
4.28 ab
100
1.78 b
12.60 b
3.63 b
150
1.43 b
13.01 ab
3.80 b
200
0.66 c
14.22 a
2.68 c

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada uji BNT taraf 5%

Peningkatan rasa manis serta efek seedless dengan pemberian GA3 menjadi dilema karena kedua efek positif ini diikuti oleh menurunnya ukuran buah. Dengan demikian, maka aplikasi GA3 meningkatkan kualitas buah anggur yang meliputi rasa manis dan seedless, namun menyebabkan ukuran buah (yang juga kriteria kualitas) menurun drastis bersamaan dengan peningkatan oBrix yang juga signifikan.

Efek aplikasi GA3 terhadap ukuran buah berbeda antara varietas anggur berbiji (seeded variety) dengan anggur tanpa biji (seedless variety). Cassanova et al. (2009) melaporkan peningkatan ukuran buah antara 50-90% pada aplikasi 80 ppm GA3 pada saat fruit set untuk anggur varietas tanpa biji

“Emperatriz”. Efek GA 3 ini berbeda terhadap ukuran buah varietas anggur berbiji seperti “Alphonso Lavallee” dalam penelitian ini, yang mana ukuran buah menurun secara signifikan dengan meningkatnya konsentrasi GA3 yang digunakan.

Cheng et al. (2013) melaporkan bahwa aplikasi GA3 menginduksi seedlesness melalui kegagalan pembentukan biji (aborsi). Juga disebutkan bahwa induksi seedlessnes ini terkait dengan ekspresi gen yang bertanggung jawab terhadap perkembangan biji pada buah anggur.

SIMPULAN

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa aplikasi GA3 sebelum bunga mekar meningkatkan panjang tandan buah, meningkatkan rasa manis, mengurangi jumlah biji namun menurunkan berat per buah.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih disampaikan penulis kepada Dekan Fakultas pertanian Universitas Udayana beserta jajarannya, serta Ketua LPPM Universitas Udayana untuk pembiayaan serta fasilitasi penelitian ini melalui Hibah Unggulan Program Studi (HUPS) 2015.

DAFTAR PUSTAKA

Aizat WM, JA Able, JCR Stangoulis and AJ Able. 2013. Characterisation of Ethylene pathway components in non- climateric capsicum. BMC Plant Biology 13: 191-205

Awad MA and AD Al-Qurashi. 2012. Gibberellic acid spray and bunch bagging increasebunch weight and improve fruit quality of ‘Barhee’ date palm under hot arid conditions. Scientia Horticulturae 138: 96-100

Azadi Z, M Jafarpour, AR Golparvar, and A Mohammadkhani. 2013. Effect of GA3 Application on Fruit Yield, Flowering and Vegetative CHARACTERISTICS ON Early Yield of Strawberry cv. Gaviola. Int. J. Agric. and Crop Sci. 5 (15): 1716-1718

Caanova L, R Casanova, A Moret, and M Agusti. 2009. The Application of Gibberellic Acid Increased Berry Size of ‘Emperatriz’ Seedless Grape. Span.J.Agric. Res. 7 (4): 919-927

Cassanova, L., R. Cassanova, A. Moret, and M.Agusti. 2009. The Application of Gibberelic Acid Increased Berry Size of “Emperatriz” Seedless Grape. Spanish J. Agric. Res. 7(4): 919-927

Cheng, C, X. Xu, D.S. Stacy, , J. Li, H. Zhang, M. Gao, L. Wang , J.Song, X. Wang. 2013. Effect of GA3 Treatment on Seed Development and SeedRelated Gene Expression in Grape. PLOS ONE November 2013 | Volume 8 | Issue 11 | e80044. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articl es/PMC3818301/ (diunduh tanggal 15 Januari 2016)

Cirami RM, EJ Cameron, and PR Hedberg. 1992. Special Culture Methods for Tablegrapes on Coombe BG and PR Dry. (Eds) Viticulture vol.2 Practices. Pp 279-327

Dagara A, A Wekstera, H Fiedmana, S Luriea. 2012. Gibberellic Acid (GA3) Application at The End of Pit Ripening: Effect on Ripening and Storage of Two Harvest of ‘September

Snow’ Peach. Scientia Hort. 140: 125­130

Dwiyani, R. 2007. The Soil of Bali Island and Potentials for Farming. In Atmadilaga and Brahmantyo (Eds). Indonesian Geographical Expedition Bali 2007. Center for Land Resource Survey PSSAD- Bakosurtanal, Bogor, Indonesia. pp:29-33

Extention. 2015. Using Gibberelic Acid to reduce cluster compactness in grapes. www.extention.org/pages/3168 (download 31 Agustus 2015).

Filipe P, V Lanca, JN Silva, P Moliere, R Santus, and A Fernandes. 2011. A Flavanoids and urate antioxidant interplay in plasma oxidative stress. Mol. Cell Biochem. 221 : 79-87

Marcheix JJ, A Fleuriet, and J Billot. 1990. Fruit Phenolics. CRC Boca Rator, Fla USA

Meyer AS, JI Donavan, DA Pearson, AI Waterhouse, and EN Frankel. 1998. Fruit Hidroxycinnamic Acids Inhibit Human Low Density Lipoprotein Oxidation In Vitro. J.Agric. and Food Chem. 46 (5): 1783-1787

Nile SH, SH Kim, E Y Ko, and SW Park. 2013. Polyphenolic Contents and Antioxidant Properties of Different Grape (V. vinifera, V. labrusca, and V. hybrid) Cultivars. Biomed Research International volume 2013, 5 pages. Hindawi Publishing Corporation.

Revilla E and JM Ryan. 2000. Anaysis of Several Phenolic Compounds with Potential Antioxidant Properties in Grape Extracts and Wines by High Performance Liquid Chromatography­Photodiode Array Detection Without Sample Preparation. J. of Chromatography A 881 (1-2): 461-469

The Engineering Tool Box. 2015. Brix Scale.

www.engineeringtoolbox.com/degrees- brix-d_1828.html (Diunduh 9 Agustus 2015).

Wei X, SR Stykes, and PR Clingeleffer. 2002. An Investigation To Estimate Genetic Parameters In CSIRO’S Table Grape Breeding Program. 2. Quality Characteristic. Euphytica 128: 343­351.

 

Last Updated on 30 Agustus 2022

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Previous Post
Metabolism nukleotida dan nukleosida

Analisis Variasi Nukleotida Daerah D-loop Dna Mitokondria Pada Satu Individu Suku Bali Normal

Next Post
Kambing Peranakan Ettawa

Fermentasi Rumen Dan Sintesis Protein Mikroba Kambing Peranakan Ettawa Yang Diberi Pakan Dengan Komposisi Hijauan Beragam Dan Level Konsentrat Berbeda