Isolasi Dan Identifikasi Rhizopus Oligosporus Pada Beberapa Inokulum Tempe

Rhizopus Oligosporus

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur yang ditumbuhkan dan mengidentifikasi R. oligosporus pada beberapa sampel inokulum tempe.

Tujuh puluh mikroba diisolasi dari inokulum tempe, yang terdiri dari 58 isolat konidia coklat keabu-abuan, dan 12 isolat konidia abu-abu. Semua isolat termasuk dalam genus Rhizopus.

Tujuh di antaranya dipilih berdasarkan asal inokulum tempe, warna konidia, pertumbuhan miselia, dan massa konidia. Pengamatan makroskopis dan mikroskopis menunjukkan bahwa isolat terpilih adalah R. oligosporus.

PENDAHULUAN

Tempe adalah produk fermentasi yang amat dikenal oleh masyarakat Indonesia dan mulai digemari pula oleh berbagai kelompok masyarakat Barat.

Tempe dapat dibuat dari berbagai bahan. Tetapi yang biasa dikenal sebagai tempe oleh masyarakat pada umumnya ialah tempe yang dibuat dari kedelai (Kasmidjo, 1990). Tempe mempunyai ciri-ciri putih, tekstur kompak.

Pada dasarnya cara pembuatan tempe meliputi tahapan sortasi dan pembersihan biji, hidrasi atau fermentasi asam, penghilangan kulit, perebusan, penirisan, pendinginan, inokulasi dengan ragi tempe, pengemasan, inkubasi dan pengundukan hasil (Rahayu, 1988). Tahapan proses yang melibatkan jamur dalam pembuatan tempe adalah saat inokulasi atau fermentasi.

Kualitas tempe amat dipengaruhi oleh kualitas starter yang digunakan untuk inokulasinya. Inokulum tempe disebut juga sebagai starter tempe, dan banyak pula yang menyebutkan dengan nama ragi tempe.

Starter tempe adalah bahan yang mengandung biakan jamur tempe, digunakan sebagai agensia pengubah kedelai rebus menjadi tempe akibat tumbuhnya jamur tempe pada kedelai dan melakukan kegiatan fermentasi yang menyebabkan kedelai berubah sifat/karakteristiknya menjadi tempe (Kasmidjo, 1990).

Inokulum tempe juga dapat diperoleh dengan berbagai cara antara lain (Kasmidjo, 1990) :

  1. 1. Berupa tempe dari batch sebelumnya, yang telah mengalami sporulasi.
  2. 2. Berupa tempe segar, yang dikeringkan dibawah sinar matahari atau yang mengalami liofilisasi.
  3. 3. Berupa ragi tempe, yaitu pulungan beras (bentuk bundar pipih atau bulatan-bulatan kecil) yang mengandung miselia dan spora jamur tempe.
  4. 4. Sebagai biakan murni R. oligosporus yang disiapkan secara aseptis oleh lembaga riset atau lembaga pendidikan (Kasmidjo, 1990).
  5. 5. Inokulasi tempe yang disiapkan dengan cara menempatkan potongan daun dalam bungkusan tempe yang sedang mengalami fermentasi. Potongan-potongan daun tersebut akan terselubungi miselia jamur tempe selama berlangsungnya fermentasi tempe, yang kemudian diambil, dikeringkan dibawah sinar matahari kemudian disimpan sampai saat digunakan. Daun yang biasanya digunakan untuk keperluan tersebut ialah daun dadap (Erythrina spp), daun waru (Hibiscus similis B1), daun jati (Tectona grandis Linn) atau daun pisang (Musa spp) (Kasmidjo, 1990).

Fermentasi pada tempe dapat menghilangkan bau langu dari kedelai yang disebabkan oleh aktivitas dari enzim lipoksigenase. Jamur yang berperanan dalam proses fermentasi tersebut adalah R. oligosporus.

R. oligosporus Saito mempunyai koloni abu-abu kecoklatan dengan tinggi 1 mm atau lebih. Sporangiofor tunggal atau dalam kelompok dengan dinding halus atau agak sedikit kasar, dengan panjang lebih dari 1000 μm dan diameter 10-18 μm. Sporangia globosa yang pada saat masak berwarna hitam kecoklatan, dengan diameter 100180 μm.

Kolumela globosa sampai sub globosa dengan apofisa apofisa berbentuk corong. Ukuran sporangiospora tidak teratur dapat globosa atau elip dengan panjang 7-10 μm. Klamidospora banyak, tunggal atau rantaian pendek, tidak berwarna, dengan berisi granula, terbentuk pada hifa, sporangiofor dan sporangia. Bentuk klamidospora globosa, elip atau silindris dengan ukuran 7-30 μm atau 12-45 μm x 7-35 μm.

Suhu optimum, minimum, maksimum berturut-turut adalah 30-35o C, 12 oC dan 42 oC. Ditemukan di Jepang, China dan Indonesia yang diisolasi dari tempe (Samson, et al., 1995). Pitt dan Hocking (1985) R.oligosporus memiliki panjang sporangiosfor pada media Malt Extract Agar (MEA) 150-400 μm lebih pendek dari R.oryzae yaitu lebih dari 1500 μm.

Roligosporus biasanya memiliki rhizoid yang pendek, sporangium dengan diameter 80 -120 μm dan pada saat 7 hari akan pecah yang menyebabkan spora keluar kolumela dengan diameter 25-75 μm. Sedangkan R.oryzae memiliki diameter sporangium lebih dari 150 μm, kolumela dengan diameter lebih dari 100 μm.

Beberapa sifat penting dari R. oligosporus antara lain meliputi aktivitas enzimatiknya, kemampuan menghasilkan antibiotika, biosintesa vitamin-vitamin B, kebutuhannya akan senyawa sumber karbon dan nitrogen, perkecambahan spora, dan penetrisi miselia jamur tempe ke dalam jaringan biji kedelai (Kasmidjo, 1990).

Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan isolat R. oligosporus hasil isolasi dari beberapa inokulum tempe.

METODA PENELITIAN

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari Maret 2004 sampai dengan Juli 2005 di laboratorium Mikrobiologi UGM.

Sumber R. oligosporus

Untuk mendapatkan isolat Rhizopus oligosporus dalam penelitian ini diperoleh dari hasil isolasi beberapa merk tempe antara lain tempe merk Muklar, Pedro, Kembar, Buchori, dan tempe tanpa merk yang dibungkus dengan daun pisang.

Inokulum tempe antara lain ragi tempe yang dibeli di pasar Demangan, usar daun waru. Pemeliharaan isolat melalui regenerasi setiap 3 bulan sekali dengan menginokulasikan pada media Potato Dextrose agar (PDA) miring dan diinkubasi 300 C selama 7 hari. Selanjutnya disimpan dalam refrigerator 40 C.

Media Isolasi

Media isolasi, purifikasi, penyimpanan dan pemeliharaan isolat. Media untuk menumbuhkan jamur menggunakan media agar Potato Dextrose agar (PDA). Setiap 1000 ml media dibuat dari 200 g kentang, 20 g glukosa, 20 g agar, 0,1 g kloramphenikol serta disterilkan pada 1210 C selama 15 menit.

Isolat jamur yang diperoleh dari koloni jamur di media agar Potato Dextrose agar (PDA) dipindah dan disimpan pada media miring PDA sebelum diidentifikasi lebih lanjut. Setiap 1000 ml media dibuat dari 200 g kentang, 20 g glukosa, 20 g agar, serta disterilkan pada 1210 C selama 15 menit.

Media identifikasi (Pitt dan Hocking, 1985). Isolat pada media miring Potato Dextrose agar (PDA) kemudian dipindahkan ke media Czapek Yeast Extract Agar (CYA), 25% Glycerol Nitrate Agar (G25N), Malt Extract Agar (MEA) untuk identifikasi.

Komposisi media Czapek Yeast Extract Agar (CYA) per 1000 ml adalah 1,0 g K2HPO4 , 10 ml czapek concentrate , 5,0 g yeast extract powder, 30 g sukrosa, 15 g agar. Sedangkan komposisi Czapek Concentrate dalam 100 ml adalah 30 g NaNO3, 5,0 g KCl, 5,0 g MgSO47H2O, 0,1 g FeSO4.7H2O.

Komposisi media 25% Glycerol Nitrate Agar (G25N) per 1000 ml adalah 0,75 g K2HPO4, 7,5 ml czapek concentrate, 3,7 g yeast extract powder, 250 g glycerol, 12 g agar. Komposisi media Malt Extract Agar (MEA) per 1000 ml adalah 20 g malt extract powder, 1,0 g pepton, 20 g glukosa, 20 g agar. Ketiga media diatas disterilkan 121o C selama 15 menit.

Pelaksanaan Penelitian

Isolasi dan purifikasi Rhizopus spp. Tahapan isolasi dan purifikasi Rhizopus spp dilakukan dengan mengambil secara aseptik isolat dominan dari tempe, usar daun waru dan ragi tempe yang diinokulasikan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasi pada 300 C selama 24 jam sampai terbentuk koloni.

Pemindahan isolat (pemurnian) diulang sebanyak 4 kali sampai isolat benar-benar murni. Diagram alir tahapan isolasi dan purifikasi dapat dilihat pada Gambar 1 (Pitt dan Hocking, 1985 yang dimodifikasi).

tempe

Gambar 1. Diagram alir tahapan isolasi dan purifikasi Rhizopus spp

Identifikasi R. Oligosporus. Isolat jamur pada media Potato Dextrose Agar (PDA) miring dikelompok kembali sesuai tempat asal inokulum. Identifikasi dibatasi pada isolat dengan warna konidia keabu-abuan kecoklatan menggunakan media Czapek Yeast Extract Agar (CYA), 25% Glycerol Nitrate Agar (G25N), Malt Extract Agar (MEA) yang diinkubasi selama 7 hari pada suhu 5 oC, 25 oC dan 37o C (Pitt dan Hocking, 1985 yang dimodifikasi ).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Isolasi dan Identifikasi Jamur pada Inokulum Tempe

Dalam tahap isolasi jamur pada beberapa inokulum tempe diperoleh 70 isolat jamur terdiri dari 58 isolat berkonidia abu-abu kecoklatan dan 12 isolat berkonidia abu-abu. Hasil isolasi ke- 70 isolat ditampilkan pada Tabel 1. Hasil isolasi dikelompokkan sesuai asal inokulum, warna konidia, pertumbuhan miselia dan konidia pada media agar Potato Dextrose Agar (PDA).

tempe1

Tabel 1. Hasil isolasi makroskopik karakter jamur

tempe2 scaled

Keterangan : +++ : sangat lebat (menutupi seluruh media PDA miring), ++ : lebat (menutupi ¾ media PDA miring)

Sesuai hasil isolasi dalam penelitian ini ternyata jamur dengan warna konidia abu-abu kecoklatan merupakan jamur yang selalu dijumpai dari setiap merk tempe dan inokulum tempe yang digunakan. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan erat antara jamur berkonidia abu-abu kecoklatan dengan tempe.

Dalam Samson et al (1995) dijelaskan bahwa jamur Rhizopus oligosporus dan R. oryzae memiliki konidia dengan warna abu-abu kecoklatan.

Dari ke-70 isolat yang memiliki warna konidia abu-abu kecoklatan dipilih 7 isolat untuk dilakukan identifikasi sampai tingkat spesies untuk memperoleh isolat R.. oligosporus Pemilihan ke-7 isolat tersebut berdasarkan kode asal inokulum, warna konidia, kelebatan miselia dan konidia pada media agar Potato Dextrose Agar (PDA) seperti ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil isolasi makroskopik karakter jamur terpilih

Keterangan : +++ : sangat lebat (menutupi seluruh media PDA miring )

Isolat MK 1, PD1, RD 4, TM 4, BUC 4, USR 3, KMB 6, dipilih karena berdasarkan asal inokulum, warna konidia, pertumbuhan miselia dan konidia relatif lebat dalam media Potato Dextrose Agar (PDA) miring. Ke-7 isolat jamur tersebut memiliki warna konidia abu-abu kecoklatan, pertumbuhan miselia lebat, adanya rhizoid pada pengamatan mikroskopik menunjukkan genera Rhizopus kemudian dilakukan pengamatan dalam media identifikasi yaitu media Czapek Yeast Extract Agar (CYA), 25% Glycerol Nitrate Agar (G25N), Malt Extract Agar (MEA) untuk menentukan spesiesnya.

Ke-7 isolat tersebut dikelompokkan sesuai warna konidia, warna miselia, bentuk konidia yaitu oval, globosa, bentuk klamidospora yaitu globosa, elip atau silindris, bentuk sporangiofor yaitu tunggal atau dalam bentuk kelompok, panjang dan diameter sporangiosfor, diameter sporangium.

Berdasarkan hasil pengamatan secara makroskopik dan mikroskopik ternyata ke- 7 isolat jamur hasil isolasi beberapa inokulum tempe yang dipilih termasuk dalam R. oligosporus. Perbandingan ke-7 isolat tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa p anj ang sporangiosfor dan sporangium ke-7 isolat hasil isolasi dari tempe dan inokulum tempe termasuk dalam R. oligosporus. Pitt dan Hocking (1985) mengemukakan bahwa panjang sporangiosfor R. oligosporus 150-400 μm lebih pendek dari Roryzae yaitu lebih dari 1500 μm sedangkan sporangium R. oligosporus 80-120 μm lebih pendek dari R.oryzae.

Bentuk kolumela globose dengan ukuran panjang dan lebar yaitu 50 μm dan 40μm juga menunjukkan bahwa semua isolat hasil isolasi beberapa inokulum tempe termasuk R. oligosporus. R.oryzae dan R. stolonifer memiliki diameter kolumela berturut-turut sebesar lebih dari 100 μm dan lebih dari 200 μm.

tempe 2

Keterangan :
* Sumber : Pitt dan Hocking (1997), ** Sumber Samson et al., (1995).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Diperoleh sebanyak 7 isolat dari 70 isolat jamur berkonidia abu-abu kecoklatan telah diidentifikasi termasuk dalam R.oligosporus yang berhasil diisolasi dari 7 sampel inokulum tempe.

Saran

Dari hasil penelitian ini dapat disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian pengembangan manfaat R.oligosporus
Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terimakasin kepada Proyek Hibah Penelitian Tim Pascasarjana (HPTP) Angkatan I Tahun Ke-2 (Tahun 2004).

DAFTAR PUSTAKA

[1] Kasmidjo, R.B. 1990. Tempe : Mikrobiologi dan Biokimia Pengolahan serta Pemanfaatannya. PAU Pangan dan Gizi. UGM, Yogyakarta.

[2] Pitt, J.I. and A.D Hocking,. 1985. Fungi and Food Spoilage. Academic Press, Australia.

[3] Rahayu, K. 1988. Bahan Pengajaran Mikrobiologi Pangan PAU Pangan dan Gizi. UGM, Yogyakarta.

[4] Samson, R.A., E.S. Hoekstra, J.C. Frisvad and O. Filtenborg. 1995. Introduction to Food-Borne Fungi. Baarn and Lyngby, Netherlands.

Halaman Terakhir diperbaharui pada

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.