Pengaruh Pelatihan, Dukungan Manajemen Puncak, Kejelasan Tujuan, Kemampuan Teknik Personal Pada Penggunaan Sistem Informasi Akuntansi

Sistem Informasi Akuntansi

Penggunaan sistem informasi akuntansi di instansi daerah saat ini semakin sering dilakukan guna memudahkan pengelolaan sumber-sumber potensi daerah untuk pembangunan daerah yang lebih baik.

Suatu keberhasilan implementasi sistem tidak hanya ditentukan pada penguasaan kemampuan teknik individu semata, namun faktor perilaku dan individu pengguna sistem sangat menentukan kesuksesan implementasi suatu sistem.

faktor perilaku terdiri dari pelatihan, dukungan manajemen puncak, dan kejelasan tujuan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pelatihan, dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan, dan kemampuan teknik personal pada efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi di kantor SKPD pusat pemerintahan kabupaten Badung.

Penelitian ini dilakukan pada Kantor Inspektorat, Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, BAPPEDA, Dinas, Badan, Satuan Polisi Pamong Praja, dan DPRD yang berada di SKPD pusat pemerintah Kabupaten Badung.

Metode pengumpulan data menggunakan metode survei dengan teknik kuesioner, pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling yang berdasarkan pada pertimbangan (purposive sampling).

Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil penelitian menunjukan pelatihan, dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan akuntansi, dan kemampuan teknik personal berpengaruh positif pada efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi maka pihak manajemen puncak SKPD hendaknya memberikan dukungan secara materiil maupun moral serta pelatihan secara intensif bagi jajaran stafnya agar mereka termotivasi dan semakin mahir dalam memanfaatkan sistem informasi akuntansi.

Selain pelatihan dan dukungan manajemen puncak, seluruh petugas SKPD juga perlu memanfaatkan serta mengembangkan kemampuan personal yang mereka miliki supaya mereka bisa menjalankan sistem informasi akuntansi lebih baik lagi

PENDAHULUAN

Sistem informasi akuntansi adalah suatu sistem yang mengoperasikan fungsi data pengumpulan, pengolahan, mengkategorikan dan pelaporan keuangan dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang relevan serta menjaganya, mengarahkan perhatian, dan pengambilan keputusan (Boochholdt, 1996).

Dimana sistem tersebut sudah direncanakan sebelumnya oleh perusahaan untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi para penggunanya. Sistem informasi akuntansi telah diterapkan pada berbagai bidang.

Salah satunya yaitu Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) yakni sistem akuntansi yang mancakup proses identifikasi, pengukuran serta pencatatan suatu data, hingga pelaporan transaksi keuangan dari entitas pemda (kabupaten, kota atau provinsi) sebagai informasi mengambil keputusan ekonomi oleh pihak eksternal pemda yang memerlukan (As Syifa Nurillah, 2014).

Adapun, tujuan dari sistem informasi akuntansi menurut (Mulyadi, 2008:19) antara lain:

  1. menyediakan informasi bagi kegiatan pengelolaan usaha baru,
  2. memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah ada,
  3. melakukan pengawasan dan pengendalian internal,
  4. untuk mengurangi biaya klerikal dalam penyelesaian catatan akuntansi.

Selain itu, sistem informasi akuntansi khususnya SAKD juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan, sehingga laporan keuangan yang dihasilkan mampu meningkatkan kredibilitasnya dan pada gilirannya dapat mewujudkan laporan keuangan yang lebih berkualitas.

Agar sistem informasi akuntansi dapat memberikan manfaat lebih, suatu instansi hendaknya mempertimbangkan efektivitas penggunaan atau implementasi teknologi sistem informasi berdasarkan kemudahan pemakai dalam mengidentifikasi data, mengakses data dan menginterpretasikan data tersebut.

Sebab, data dalam sistem informasi merupakan data yang terintegrasi dari seluruh unit perusahaan atau organisasi sehingga dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan instansi.

Oleh karena itu kesuksesan implementasi terhadap sistem dipengaruhi oleh beberapa faktor selain keahlian teknis, yakni tingkah laku individu serta peran dari pemakai sistem dalam menentukan keberhasilan implementasi suatu sistem.

Diawali dari pelatihan, menurut Mousa Masadeh (2013) pelatihan merupakan proses yang telah direncanakan untuk memodifikasi perilaku sikap, pengetahuan serta keahlian individu melalui pengalaman belajar yang intens demi mendapatkan kinerja yang kebih efektif dalam berbagai aktivitas atau kegiatan.

Dengan harapan agar individu tersebut dapat mengembangkan kemampuan individu guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja saat ini maupun masa depan organisasi. Adapun, tujuan melakukan pelatihan menurut Era Astuti (2007) agar dapat meningkatkan profesional yang lebih baik dalam manajemen.

Selain itu pelatihan juga mempermudah penyedia informasi akuntansi untuk membuat keputusan. Bagi pengguna, pelatihan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat proses pengembangan sistem berdampak pada efektivitas penerimaan sistem informasi.

Dukungan manajemen puncak merupakan salah satu faktor utama yang menentukan efektivitas penerimaan sistem informasi dalam organisasi (Ikhsan, 2005;7). Sebab, dampak positif dari dukungan manajemen puncak dapat diketahui dari sejauh mana eksekutif senior dapat memahami pentingnya fungsi sistem informasi dan turut serta dalam kegiatan sistem informasi (Doubt-Nathan et al., 2004).

Selain itu, ketertarikan Para eksekutif dalam mendalami fungsi sistem informasi dan juga mendorong unit operasi untuk berkolaborasi dengan sistem informasi secara profesional (Boynton et al., 1992). Serta mempertimbangkan sistem sebagai sumber daya strategis dan menjadikannya sebagai peluang yang ditawarkan oleh mereka (Sanji et al, 2013).

Adapula, tiga komponen penting yang selalu menjadi fokus manajemen puncak untuk memberikan dukungannya diantaranya:

  1. sumber penyediaan
  2. partisipasi
  3. keterlibatan (Gloria et al, 2015).

Dukungan manajemen puncak berperan penting dalam mewujudkan efektivitas suatu sistem, terutama dalam mengembangkan inovasi (Yulianty Riri, 2013).

Selain pelatihan dan dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan menjadi pendekatan yang mumpumi untuk memotivasi karyawan agar meningkatkan efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Karena, dalam organisasi kejelasan tujuan seringkali menjadi penentu berhasil atau gagalnya suatu sistem, dengan memaahami kejelasan tujuan organisasinya, seseorang dapat memaksimalkan penggunaan keterampilan dan kompetensi yang dimiliki guna mencapai tujuan yang diinginkan (Fatimah, 2013).

Kemampuan teknik personal juga memegang peranan penting dalam mengukur efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi. Sebab, kemampuan teknik personal merupakan suatu hal yang tidak terlepas dari penerapan teknologi (Septriani, 2010). Menurut Robbins (2005:45).

kemampuan pemakai dapat diamati dari perlakuan pemakai sistem menjalankan sistem informasi akuntansi yang ada. Selain itu, kemampuan teknik personal dalam mengoperasikan sistem informasi sangat dibutuhkan, hal ini bertujuan agar suatu sistem dapat beroperasi secara maksimal dan efektif.

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Theory of Reason Action (TRA). Theory of Reasoned Action merupakan sebuah model yang banyak dipelajari dari psikologi sosial yang berkaitan dengan faktor-faktor penentu kesadaran perilaku indentasi (Fishbein & Ajzen, 1975; Ajzen & Fishbein, 1980).

Menurut TRA, seseorang akan melakukan perilaku tertentu yang ditentukan oleh tingkah lakunya (Davis, Bagozzi, & Warshaw, 1989). Oleh karena itu, hal ini diyakini bahwa model tujuan perilaku ini justru dapat mengukur dan memprediksi status perilaku aktual seseorang.

Adapun hipotesis dasar dari teori TRA ini apakah seseorang dapat melakukan perilaku yang spesifik berdasarkan kehendak sendiri atau di bawah pengaruh pemikiran yang sistematis.

Hal tersebut membuat seseorang akan melakukan tindakannya setelah beliau memperoleh informasi dan merancang pemikiran yang sistematis serta beralasan (Hsinkung. etc, 2010).

Menurut Fajar dkk, (2015) pelatihan (training) merupakan proses memperbaiki keterampilan kerja karyawan guna memudahkan mereka mencapai tujuan perusahaan. Adapula, pendapat dari Payaman Simanjuntak (2005) yang menunjukkan bahwa pelatihan adalah suatu investasi berbasis SDM (human investment) guna meningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja, serta membuat kinerja pegawai semakin baik.

Hasil penelitian yang sama dilakukan oleh Fatimah (2013) yang menunjukkan pelatihan memiliki dampak positif pada penggunaan sistem informasi akuntansi yang efektif. Hasil yang sama juga diungkapkan oleh Chelsy dan Dita (2014) serta Aryani Putri (2014) yang menunjukkan pelatihan memiliki pengaruh yang positif pada penggunaan sistem informasi akuntansi.

Namun, hasil yang berbeda diperoleh Eliyasa, dkk (2014) yang menyetakan bahwa pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap penggunaan sistem informasi akuntansi.

Sistem Informasi Akuntansi2

Pelatihan berpengaruh positif pada efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Nasution, (1994) berpendapat, dukungan manajemen puncak didefinisikan sebagai suatu perilaku manajerial langsung menawarkan bantuan teknis untuk membantu memecahkan kesulitan penggunaan hardware dan software (Compeau and Higgins, 1995:197) serta terlibat dalam kegiatan atau substantif intervensi pribadi (Jarvenpaa and Ives, 1991:206).

Dukungan manajemen puncak dalam suatu inovasi sangat penting dikarenakan adanya kekuasaan manajer terkait dengan sumber daya. Atasan dapat berfokus pada sumber daya yang diperlukan,tujuan serta inisiatif strategi yang direncanakan apabila atasan mendukung sepenuhnya dalam mewujudkan efektivitas suatu system.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Trisna Dewi (2013) menunjukkan bahwa Dukungan manajemen puncak akan memotivasi individu untuk lebih memahami penggunaan sistem informasi akuntansi. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2013) menunjukkan bahwa dukungan manajemen puncak memiliki pengaruh yang positif terhadap efektivitas sistem informasi akuntansi.

Dukungan manajemen puncak berpengaruh positif pada efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Menurut Gibson dalam Fatimah (2013), tujuan keinginan yang hendak digapai oleh organisasi atau individu. Suatu kejelasan tujuan dapat diartikan sebagai pencapaian yang telah disusun secara terperinci oleh manajemen puncak guna membantu mereka memaksimalkan penggunaan sistem informasi akuntansi melalui pemberian pengarahan dan motivasi dalam menggunakan sistem informasi akuntansi serta meningkatkan kompetensi pegawai instansi demi mewujudkan visi dan misi instansi.

Selain itu, kejelasan tujuan berperan penting dalam keberhasilan penggunaan sistem. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2013) dan Carolina (2014) menyatakan bahwa kejelasan tujuan berdampak positif pada penggunaan sistem informasi akuntansi.

Namun, hasil yang berbeda diperoleh oleh Surya Ningsih (2014) yang menyatakan bahwa kejelasan tujuan dalam pengujian hipotesis ini tidak mempunyai hubungan signifikan positif dengan penggunaan sistem informasi akuntansi.

Kejelasan tujuan berpengaruh positif pada efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Keahlian teknik individu dalam sistem informasi dikategorikan menjadi dua yakni kemampuan generalis dan kemampuan spesialis. “Kemampuan pengguna sistem informasi akuntansi diukur dengan menggunakan rata-rata tingkat pendidikan personal (pengguna) sistem informasi akuntansi” (Soegiharto, 2001).

Personal yang mempunyai kemampuan teknik yang baik mengenai SIA membuatnya dapat memahami lebih mendalam tentang manfaat yang diperoleh dari penggunaan SIA serta personal dapat lebih mudah menggunakannya.

Hasil penelitian dari Yulian (2011:6) dan Irma (2014) juga menyatakan bahwa kemampuan teknik personal berdampak positif pada kinerja penggunaan SIA. Sebab, kemampuan yang dimiliki personal juga dapat meningkatkan penggunaan SIA dengan tepat guna sehingga dapat menghasilkan informasi akuntansi yang berkualitas. Hal tersebut didukung oleh Galang (2014) dan Febrella (2013) yang menyatakan bahwa kemampuan teknik personal dapat meningkatkan efektivitas dalam penggunaan SIA.

Kemampuan teknik personal berpengaruh positif pada efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu demi memperoleh data yang represenattif (Sugiyono, 2010). Penelitian ini dilakukan pada pada 31 Kantor dinas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pusat pemerintahan Kabupaten Badung yang beralamat di jalan raya Sempidi-Mengwi Badung.

Variabel terikat penelitian ini adalah efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi. Menurut Mikha Novindran (2011:51), Efektivitas penggunaan teknologi sistem informasi adalah indikator kemudahan user ataupun pengguna sistem dalam mengoperasikan sistem tersebut untuk menyelesaikan pekerjaanya.

Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi dalam penelitian ini diadopsi dari Penelitian Litsyan (2008) dengan 8 (delapan) item pernyataan. Masing-masing pertanyaan diukur melalui skala likert.

Variabel bebas dari penelitian ini yakni: pelatihan, dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan, dan kemampuan teknik personal.

Pelatihan Pelatihan merupakan usaha secara formal dengan tujuan mentransfer pengetahuan SIA yang disyaratkan meliputi konsep – konsep SIA, kemampuan teknis, kemampuan organisasi dan pengetahuan mengenai produk-produk sistem informasi.

Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel pelatihan diadopsi dari penelitian Komara (2004) dengan dengan menggunakan 6 (enam) item. Masing-masing item pertanyaan tersebut diukur dengan menggunakan skala likert.

Variabel dukungan manajemen puncak merupakan persepsi pengguna teknologi sistem informasi tentang pemahaman manajemen dan sikap yang diberikan manajemen dalam penggunaan teknologi sistem informasi.

Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel dukungan manajemen puncak diadopsi dari penelitian Sunarti (2008) dengan 5 (lima) item pernyataan. Masing-masing item pertanyaan tersebut diukur dengan menggunakan skala likert.

Variabel kejelasan tujuan merupakan salah satu cara dari faktor sikap dalam organisasi yang dapat menentukan keberhasilan suatu kegiatan karena individu dengan tujuan dan target yang jelas dan paham bagaimana mencapai tujuan tersebut (Cyinia, 2014).

Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel kejelasan tujuan diadopsi dari penelitian Dessler (2008) dengan 5 (lima) item pertanyaan. Masing-masing item pertanyaan tersebut diukur dengan menggunakan skala likert.

Variabel kemampuan teknik personal adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan pengalaman yang dipelajari dari pendidikan yang telah diikuti.

Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur variabel kemampuan teknik personal diadopsi dari penelitian Komara (2004) dengan menggunakan 7 (tujuh) item pertanyaan. Masing-masing item pertanyaan tersebut diukur dengan menggunakan skala likert.

Adapun, populasi dari penelitian ini yakni semua karyawan sub bagian/spetugas yang melakukan kegiatan akuntansi/tata usaha keuangan di SKPD Pusat Pemerintah Kabupaten Badung yakni sebanyak 59 orang.

Metode penentuan sampel yang digunakan adalah yang digunakan dalam penlitian ini yaitu metode non probability sampling dengan teknik purposive sampling yaitu teknik menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu.

Kriteria tersebut yakni PNS di SKPD Kabupaten Badung yang menjalani masa kerja minimal dua tahun dan juga tingkat pendidikan minimal SMA atau sederajat. Lalu, kriteria untuk jabatan pegawai SKPD Puspem Badung antara lain: staf, kepala sub bagian, kepala seksi, kepala bidang, bendahara, sekretaris, dan inspektur SKPD Pusat Pemerintah Badung.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni teknik kuesioner. Lalu, teknik analisis data yang dipakai pada penelitian ini yakni analisis regresi linear berganda Regresi berganda adalah regresi yang didasarkan pada hubungan kausal maupun fungsional antara satu variabel bebas dengan satu variabel terikat, adapula persamaan regresi yang dihasilkan dalam model regresi berganda dari penelitian ini adalah:

Y=α+β1χ+β2χ2+β3χ3+β4χ4+ε

Keterangan :

Y = Efektivitas penggunaan teknologi SIA

a = Konstanta

p1 = Koefisien regresi dari pelatihan (X1)

p2 = Koefisien regresi dari dukungan manajemen puncak (X2)

p3 = Koefisien regresi dari kejelasan tujuan (X3)

p4 = Koefisien regresi dari kemampuan teknik personal (X4)

X1 = Pelatihan

X2 = Dukungan manajemen puncak

X3 = Kejelasan tujuan

X4 = Kemampuan teknik personal

s = Error item

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini telah memenuhi uji validitas dengan skor masing – masing pertanyaan dengan skor total besarnya diatas 0,281 sehingga dapat dinyatakan valid. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan uji reliabilitas dengan metode cronbach’s alpha.

Berdasarkan nilai cronbach’s alpha, masing-masing variabel memiliki nilai lebih besar dari 0,60. Hal ini menunjukkan bahwa semua pertanyaan dalam kuesioner penelitian ini reliabel dan dapat digunakan.

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Hasil penelitian menunjukkan nilai VIF tidak ada yang lebih dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10. Hal ini berarti model regresi bebas dari multikolinieritas.

Sedangkan, untuk uji terhadap heteroskedastisitas peneliti menggunakan uji glejser. Hasil dari uji glejser menunjukan nilai signifikansi masing-masing variabel berada di atas 0,05. Hasil ini berarti model regresi tidak mengandung heteroskedastisitas. Karena data telah terdistribusi normal, maka pengujian berikutnya dapat dilanjutkan.

Analisis regresi dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel pelatihan, dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan, dan kemampuan teknik personal terhadapefektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Sebagai dasar perhitungannya hasil analisis regresi linear berganda disajikan pada. Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda dapat dibuat persamaan regresi sebagai berikut:

Y=2,766+0,342X1+0,433X2+0,618X3+0,251X4+e

Nilai konstanta (a) sebesar -2,766 memiliki arti jika variabel pelatihan, dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan, dan kemampuan teknik personal dinyatakan konstan pada angka 0, maka nilai efektivitas penggunaan SIA adalah sebesar -2,766.

Koefisien regresi (P1) pada variabel pelatihan sebesar 0,342. Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti jika pelatihan (X1) meningkat sebesar satu satuan, maka efektivitas penggunaan SIA (Y) akan meningkat sebesar 0,342 satuan. Koefisien regresi (P2) pada variabel dukungan manajemen puncak sebesar 0,433.

Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti jika dukungan manajemen puncak (X2) meningkat sebesar satu satuan, maka efektivitas penggunaan SIA (Y) akan meningkat sebesar 0,433 satuan. Koefisien regresi (P3) pada variabel kejelasan tujuan sebesar 0,618.

Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti jika kejelasan tujuan (X3) meningkat sebesar satu satuan, maka efektivitas penggunaan SIA (Y) akan meningkat sebesar 0,618 satuan. Koefisien regresi (P4) pada variabel kemampuan teknik personal sebesar 0,251.

Koefisien regresi yang bernilai positif memiliki arti jika kemampuan teknik personal (X4) meningkat sebesar satu satuan, maka efektivitas penggunaan SIA (Y) akan meningkat sebesar 0,251 satuan.

Hasil uji Anova (F test) menunjukan nilai signifikansi uji F sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini layak untuk digunakan. Hasil analisis menunjukkan nilai sebesar 0,756.

Ini berarti keberhasilan dalam efektivitas penggunaan SIA dapat dijelaskan oleh pelatihan, dukungan manajemen puncak, kejelasan tujuan, dan kemampuan teknik personal sebesar 75.6 persen, sedangkan 24,4 persen sisanya dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diuji dalam penelitian ini.

Variabel pelatihan memiliki nilai signifikan (0,027) dari thitung < 0,05 , maka H1 diterima. Artinya terdapat pengaruh positif antara pelatihan pada efektivitas penggunaan SIA. Lalu, untuk variabel dukungan manajemen puncak dengan nilai signifikan (0,048) dari thitung < 0,05 maka H2 diterima.

Artinya terdapat pengaruh positif antara dukungan manajemen puncak pada efektivitas penggunaan SIA. Kemudian, variabel kejelasan tujuan memiliki Nilai signifikan (0,003) dari thitung < 0,05, maka H3 diterima. Artinya terdapat pengaruh positif antara kejelasan tujuan pada efektivitas penggunaan SIA.

Dan, variabel kemampuan teknik personal memiliki nilai signifikansi (0,041) dari thitung < 0,05, maka H4 diterima. Artinya terdapat pengaruh positif antara kemampuan teknik personal pada efektivitas penggunaan SIA.

tabel 5

Tabel 1
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 1 diketahui bahwa nilai diketahui bahwa nilai p1 adalah 0,342 dan nilai signifikan t adalah 0,026 yang berarti angka tersebut lebih kecil dari nilai a yaitu 0,05. Artinya hipotesis pertama yang menyatakan bahwa pelatihan berpengaruh positif terhadap efektivitas penggunaan SIA diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin sering petugas SKPD menjalani pelatihan sistem informasi akuntansi, maka efektivitas penggunaan SIA akan meningkat. Menurut penelitian Bodnar & Hopwood (2003;29), pelatihan sangat membantu dalam mengembangkan keahlian kepemimpinan, memotivasi, kesetiaan, sikap yang lebih baik, dan aspek-aspek lainnya yang dapat menunjukkan keberhasilan karyawan dan manajer dalam menggunakan SIA.

Selain itu, jika tidak melakukan pelatihan maka karyawan suatu instansi bisa melakukan kesalahan dalam menjalankan SIA, sehingga sistem menjadi terganggu dan instansi kesulitan untuk mencapai tujuannya. Hasil penelitian tersebut didukung oleh Fatimah (2013), dan Aryani Putri (2014) yang menyatakan bahwa pelatihan berpengaruh secara positif terhadap efektivitas penggunaan SIA.

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 1 diketahui bahwa nilai diketahui bahwa nilai p2 adalah 0,433 dan nilai signifikan t adalah 0,048 yang berarti angka tersebut lebih kecil dari nilai a yaitu 0,05. Artinya hipotesis pertama yang menyatakan bahwa dukungan manajemen puncak berpengaruh positif terhadap efektivitas penggunaan SIA diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin kuat dukungan terhadap penggunaan SIA di SKPD dari manajemen puncak, maka efektivitas penggunaan SIA semakin meningkat. Ihsan dan Ishak (2005:7) berpendapat, dukungan manajemen puncak merupakan faktor penting dalam menentukan efektifitas penggunaan sistem informasi dalam organisasi.

Sebab, tujuan dan inisiatif strategi yang direncanakan bisa tercapai apabila manajer (atasan) mendukung sepenuhnya implementasi sistem baru tersebut. Hasil tersebut juga didukung oleh Trisna Dewi (2013) yang menyatakan bahwa dukungan manajemen puncak akan memotivasi individu untuk lebih memahami penggunaan sistem informasi akuntansi.

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 1 diketahui bahwa nilai diketahui bahwa nilai p3 adalah 0,618 dan nilai signifikan t adalah 0,003 yang berarti angka tersebut lebih kecil dari nilai a yaitu 0,05. Artinya hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kejelasan tujuan berpengaruh positif terhadap efektivitas penggunaan SIA diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin terperinci tujuan yang dibuat, maka efektivitas penggunaan SIA semakin meningkat. Menurut penelitian Fatimah (2013) kejelasan tujuan dalam suatu organisasi sangat menentukan suatu keberhasilan sistem.

Karena, adanya kejelasan tujuan dalam efektivitas penggunaan suatu sistem maka keberhasilan sistem akan tercapai dengan baik. Hasil tersebut juga didukung oleh Carolina (2014) juga menunjukkan bahwa kejelasan tujuan berpengaruh positif pada penggunaan sistem informasi akuntansi.

Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 1 diketahui bahwa nilai diketahui bahwa nilai p4 adalah 0,251 dan nilai signifikan t adalah 0,041 yang berarti angka tersebut lebih kecil dari nilai a yaitu 0,05. Artinya hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kemampuan teknik personal berpengaruh positif terhadap efektivitas penggunaan SIA diterima.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin lihai kemampuan seseorang dalam menjalankan SIA, maka maka efektivitas penggunaan SIA semakin meningkat. Galang (2014) berpendapat bahwa Personal yang mempunyai kemampuan teknik yang baik mengenai SIA membuatnya dapat memahami lebih mendalam tentang manfaat yang diperoleh dari penggunaan SIA serta personal dapat lebih mudah menggunakannya.

Hasil penelitian Febrella (2013), Irma (2014), dan Yullian (2011:6), yang menunjukan bahwa variabel independen yakni kemampuan teknik personal berpengaruh positif dan signifikan pada efektivitas penggunaan SIA.

Sistem Informasi Akuntansi1

SIMPULAN

Hasil analisis data menunjukan bahwa Pelatihan memiliki dampak positif bagi efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi. Sebab, petugas SKPD yang menjalankan pelatihan secara berkelanjutan dapat meningkatkan pengetahuan mereka dalam menggunakan sistem informasi akuntansi.

Lalu, Dukungan manajemen puncak dari petinggi instansi berperan penting dalam peningkatan efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi. Karena, dukungan tersebut bertujuan untuk mengembangkan serta mendorong inovasi pada program SIA di lingkungan SKPD.

Kemudian, Kejelasan tujuan memiliki pengaruh positif dalam peningkatan efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi (SIA). Sebab, tujuan yang disusun secara terperinci dapat mendorong petugas SKPD untuk menjalankan program sistem informasi akuntansi agar sesuai dari yang direncanakan.

Serta, Kemampuan teknik personal yang dimiliki oleh petugas SKPD memiliki peranan penting bagi efektivitas penggunaan sistem informasi akuntansi.

Saran yang dapat diberikan adalah Kepada kepala instansi SKPD Kabupaten Badung, diharapkan agar memberikan dukungan secara materiil maupun moral bagi jajaran stafnya, supaya dukungan dari pihak manajemen puncak dapat memotivasi semangat mereka dalam memanfaatkan sistem informasi akuntansi serta Kepada sekuruh petugas dan staf di lingkungan SKPD Kabupaten Badung,diharapkan agar lebih sering mengikuti pelatihan tentang penggunaan sistem informasi akuntansi yang baik dan benar, baik dari pihak SKPD sendiri maupun dari pihak yang bekerja sama dengan SKPD Kabupaten Badung.

REFERENSI

[1] A.Khan,Sanji.Albert, L., and Dinesh. 2013. Top Management Support, Collective Mindfulness, and Information Systems Performance. Journal of International Technology and Information Management, Volume.22.

[2] As Syifa Nurillah. 2014. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD), Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Sistem Pengendalian Intern terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada SKPD Kota Depok). Skripsi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang.

[3] Asep Komara. 2004. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi. Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.

[4] Astuti, Era. 2007. Pengaruh Karakteristik Internal Perusahaan Terhadap Penyiapan Dan Penggunaan Informasi Akuntansi Perusahaan Kecil Dan Menengah Di Kabupaten Kudus. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

[5] Bodnar, G.H dan William S, Hopwood. 2003. Sistem Informasi Akuntansi. Edisi kedelapan. Jakarta: Indeks.

[6] Carolina, Cyintia. 2013. Pengaruh Kejelasan Tujuan dan Dukungan Atasan Terhadap Kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (Pada Dinas di Pemerintah Kota Padang). Jurnal. Universitas Negeri Padang 2013.

[7]
Dessler, G. Human Resource Management. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education, 2005.

[8] Fajar Riansyah, Muhammad. 2015. Pengaruh Rekrutmen terhadap Seleksi dan Pelatihan serta dampaknya pada Kinerja Karyawan di PT. Dipa Menka Engineering. Skripsi Sarjana Ekonomi. Universitas Bina Nusantara.

[9] Fatimah. 2013. Pengaruh Pelatihan, Dukungan Manajemen Puncak dan Kejelasan Tujuan Terhadap Efektivitas Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah (Studi Empiris pada DPKAD Kota di Sumatera Barat). Jurnal. Universitas Negeri Padang.

[10] Febrella, Emass Sosialistya. 2013. Pengaruh Kemampuan Teknik Personal terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi dengan Dukungan Manajemen Puncak sebagai Variabel Moderator (Survey pada Unit Pelaksana Teknis Pusat SAI di Jayapura). Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

[11] Galang Rahadian Prabowo; Amir Mahmud; dan Henny Murtini, 2014. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi (Studi Kasus pada Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Temanggung). Accounting Analysis Journal.

[12] Gloria H. W. Liu. etc. 2015. Leveraging Social Capital to Obtain Top Managemen Support in Complex, Cross-Function IT Projects. Journal of the Association for Information System, Volume 16, Issue 8, pp. 707-737.

[13] Ikhsan, Arfan dan Ishak Muhammad. 2005. Akuntansi Keprilakuan. Jakarta: Salemba Empat.

[14] Janiwarti. 2005. Pengaruh Pelatihan Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan. Skripsi Universitas Bung Hatta.

[15] Listyan, Doni. 2008. Kepercayaan Terhadap Teknologi Sistem Informasi Baru dalam Evaluasi kinerja Individual. Skripsi Akuntansi. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.

[16] Mousa Masadeh. 2013. Training, Education, Development and Learning: What Is The Difference. European Scientific Journal, May edition vol. 8, No.10.

[17] Ningsih, Surya. 2014. Pengaruh Kejelasan Tujuan, Dukungan Atasan, Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kualitas Informasi Laporan Keuangan Pemerintah (Studi Empiris pada SKPD Kota Pariaman). Universitas Negeri Padang 2014.

[18] Septianingrum, Putri Aryani. 2014. Pengaruh Dukungan Top Management, Kemampuan Pengguna, Serta Adanya Pelatihan dan Pendidikan Pengguna Terhadap Kinerja Sistem Informasi Akuntansi (Studi Kasus Pada BPJS Ketenagakerjaan Semarang dan D.I Yogyakarta). Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

[19] Sri Maharsi, Yuliani Mulyadi. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Nasabah. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, ISSN: 1411-0288, e-ISSN: 2338-8137.

[20] Sunarti Setianingsih dan Nur Indriantoro. 1998. “Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak dan Komunikasi Pemakai-Pengembang terhadap Hubungan Partisipasi dan Kepuasan Pemakai dalam Pengembangan SI”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Volume I No. 2.

[21] Tarigan, Mikha Novindra and Aprila, Nila. 2014. Pengaruh Dukungan Manajemen, Efektivitas Pengguna Dan Kepercayaan Penggunaan Teknologi Sistem Informasi Terhadap Kinerja Individual Pada Toserba Di Kota Bengkulu. Universitas Bengkulu.

[22] Trisna Dewi, Sang Ayu Nyoman dan AANB Dwirandra. 2013. Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak, Kualitas Sistem, Kualitas Informasi, Pengguna Aktual Dan Kepuasan Pengguna Terhadap Implementasi Sistem Informasi Keuangan Daerah Di Kota Denpasar. E-Jurnal Akuntansi. Universitas Udayana.

[23] Yulianty, Riri Raflis. 2013. Pengaruh Pelatihan dan Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Penerapan Sistem Informasi Akuntansi (Studi Empiris pada Perusahaan BUMN di Kota Padang). Universitas Negeri Padang.

Halaman Terakhir diperbaharui pada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.