KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA SIDEMEN KECAMATAN SIDEMEN KABUPATEN KARANGASEM 2013
on
KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI
TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA SIDEMEN KECAMATAN SIDEMEN KABUPATEN KARANGASEM 2013
Hendrikus Gede Surya Adhi Putra1, I Gusti Ayu Trisna Windiani2 1Mahasiswa SI Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, 2
-
2Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar / Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
ABSTRAK
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 dan 1997 melaporkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya di bawah 6 bulan baru mencapai 47% dan 52%. Angka ini jauh dari target yang harus dicapai dalam Repelita VI yaitu sebesar 80%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui dengan bayi berumur 6 bulan sampai dengan 24 bulan di Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem tahun 2013. Metode rancangan penelitian ini adalah crosssectional dekriptif, besar sampel 40, dengan teknik total sampling. Subyek penelitian berasal dari wilayah Desa Sidemen dan dipilih ibu menyusui yang memiliki bayi berumur 6 bulan sampai dengan 24 bulan. Sebagian besar responden berumur antara 2029 tahun (75%), tingkat pendidikan sebagian besar SMA (45%), lebih dari setengah responden tidak bekerja (62,5%) dengan pendapatan sebagian besar kurang dari Upah Minimum Regional (UMR). Tingkat pengetahuan responden sebagian besar baik (52.5%), sebagian besar responden bersikap negatif (65%). Perilaku non-ASI eksklusif lebih banyak ditemukan pada pengetahuan yang kurang (56,2%) dan sikap yang negatif (71,2%). Kurangnya pengetahuan mengenai pojok laktasi lebih mendominasi (75%) dan tidak ada pojok laktasi yang tersedia. Perilaku non-ASI eksklusif lebih banyak ditemukan pada pengetahuan pojok laktasi kurang. Sebagian besar responden pernah mendapatkan penyuluhan mengenai ASI eksklusif (65%), penyuluhan dilakukan lebih banyak oleh dokter (40%), dan mendapatkan penyuluhan kebanyakan > 6 bulan yang lalu (40%). Perilaku non-ASI eksklusif lebih banyak ditemukan pada ibu yang pernah mendapat penyuluhan. Secara keseluruahan perilaku non-ASI eksklusif masih mendominasi (80%).
Kata kunci: karakteristik, ibu menyusui, perilaku, ASI eksklusif
CHARACTERISTICS OF BREASTFEEDING MOTHER ON EXCLUSIVE BREASTFEEDING IN THE SIDEMEN
VILLAGE SIDEMEN SUB DISTRICT KARANGASEM
DISTRICT 2013
ABSTRACT
Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 1994 and 1997 reported the percentage of mothers who breastfed exclusively her baby under 6 months was only 47% and 52%. The data was far from the target that to be achieved in Repelita VI that is equal to 80%. The aim of this study is to know the characteristic of breastfeeding mothers with babies aged 6 months to 24 months in the Sidemen, Karangasem in 2013. This research was descriptive cross-sectional study, sample size was fourty and sample selection by total sampling technique. Research subjects came from the Sidemen village and selected breastfeeding mothers with babies aged 6 months to 24 months. The results of this research showed the majority of respondents’s age were between 20-29 years (75%), most of them were high school level education (45%), more than half of respondents did not work (62.5%) with most revenues in less than regional minimum wages. The knowledge level of the respondents were mostly good (52.5%), most respondents had negative attitude (65%). Most of the non-exclusive breast-feeding was found in low level of knowledge (56,2%) and negative attitude (71.2%). The knowledge about lactation corner was low (75%) and there was no corner of lactation available. Most of the non-exclusive breast-feeding was found in mother who had low knowledge of lactation corner. Most of the respondents have ever got counseling about exclusive breastfeeding (65%), mostly counseling was done by a doctor (40%), and they got counseling more than 6 months ago (40%). Most of the non-exclusive breast-feeding was found in mother who had a counseling before. Non-exclusive breast-feeding was still dominated (80%)
Keywords: characteristic, breastfeeding mother, behavior, exclusive breastfeeding
PENDAHULUAN
Hak bayi mendapatkan ASI diartikan mendapat ASI sesuai dengan resolusi World Health Assembly (WHA) tahun 2001, yaitu bayi mendapat ASI eksklusif sejak lahir sampai usia 6 bulan, selanjutnya diberikan Makanan Pemdamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dan pemberian ASI diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih.1
Praktek pemberian ASI di negara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi per tahun dari kesakitan dan kematian. World Health Organization (WHO)
merekomendasikan hanya memberikan ASI sampai bayi 6 bulan. Setiap tahun lebih dari 25.000 bayi di Indonesia dan 1,3 juta bayi di seluruh dunia dapat diselamatkan dari kematian dengan pemberian ASI eksklusif.2
Berdasarkan penelitian WHO (2000) di enam negara berkembang, risiko kematian bayi antara usia 9 – 12 bulan meningkat 40% jika bayi tersebut tidak disusui. Bayi di bawah usia 2 bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 48%.3,4
Tabel 1. Karakteristik Responden
KARAKTERISTIK RESPONDEN |
Jumlah (n=40) |
Persentase (%) |
Umur | ||
< 20 tahun |
1 |
2.5 |
20 – 29 tahun |
30 |
75.0 |
21 > 30 tahun |
9 |
22.5 |
Tingkat Pendidikan | ||
Tidak tamat SD |
3 |
7,5 |
SD |
7 |
17,5 |
SLTP/sederajat |
8 |
20,0 |
SMA/sederajat |
18 |
45,0 |
Diploma |
3 |
7,5 |
Sarjana |
1 |
2,5 |
Pekerjaan |
20,0 | |
Tidak bekerja |
25 |
62.5 |
Bekerja |
15 |
37.5 |
Tingkat Pendapatan | ||
< UMR |
20 |
50.0 |
Sesuai UMR |
18 |
45.0 |
> UMR |
2 |
5.0 |
Pemberian ASI eksklusif dapat mencegah kematian balita sebanyak 13%. Pemberian makanan pendamping ASI pada saat usia 6 bulan dan jumlah yang tepat dapat mencegah kematian balita sebanyak 6%. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai lebih 2 tahun bersama makanan pendamping ASI yang tepat dapat mencegah kematian balita sebanyak 19%.5
Berdasarkan Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1994 dan 1997 dilaporkan bahwa ibu yang memberikan ASI eksklusif yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya di bawah 6 bulan baru mencapai 47% dan 52%. Angka ini jauh dari target yang harus dicapai dalam Repelita VI yaitu sebesar 80%. Penyuluhan kepada masyarakat diperlukan untuk mencapai target tersebut.6
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 dan 2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya. Jumlah ibu yang menyusui dalam 1 jam pertama, cenderung menurun 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada tahun 2002. Cakupan ASI eksklusif 6 bulan juga menurun dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002.7
Pemberian ASI eksklusif pada bayi umur kurang 4 bulan 49,2%. Pemberian ASI eksklusif di daerah perkotaan lebih rendah 44,3% dibandingkan pedesaan 52,9%. Ibu-ibu di Jawa Bali lebih rendah memberikan ASI eksklusif dibandingkan kawasan lainnya yaitu 44% sedangkan di Kawasan Timur Indonesia 60% dan di Sumatra 55%.8
Proporsi pemberian ASI pada bayi kelompok usia 0 bulan 73,1%; 1
Tabel 2. Karakteristik Ibu Menyusui Berdasarkan Pemberian ASI eksklusif
Karakteristik Responden |
Non-ASI Eksklusif n |
ASI Eksklusif n |
Umur < 20 tahun |
1 |
0 |
20 – 29 tahun |
25 |
5 |
21 > 30 tahun |
6 |
3 |
Tingkat Pendidikan Rendah |
16 |
2 |
Tinggi |
16 |
6 |
Pekerjaan Tidak Bekerja |
20 |
5 |
Bekerja |
12 |
3 |
Tingkat Pendapatan < UMR |
15 |
5 |
Sesuai UMR |
15 |
3 |
> UMR |
2 |
0 |
bulan 55,5 %; 2 bulan 43%; 3 bulan 36%, dan kelompok usia 4 bulan 16,7%. Penurunan pola pemberian ASI sebesar
Sampel dalam penelitian adalah ibu yang memiliki bayi berumur 6 sampai 24 bulan yang merupakan
Tabel 3. Distribusi Faktor-Faktor
Pendorong ASI eksklusif
Tabel 4. Faktor-Faktor Pendorong
Berdasarkan Perilaku ASI Eksklusif
FaktorPendorong |
Non-ASI Eksklusif n |
ASI Eksklusif n |
Tingkat | ||
Pengetahuan | ||
Kurang |
18 (56,2%) |
1 (12,5%) |
Baik |
14 (43,8%) |
7 (87,5%) |
Sikap | ||
Negatif |
23 (71,9%) |
3 (37,5%) |
Positif |
9 (28,1%) |
5 (62,5%) |
Faktor Pendorong |
Jumlah (n=40) |
Persentase (%) |
Tingkat Pengetahuan | ||
Kurang |
19 |
47.5 |
Baik |
21 |
52.5 |
Sikap | ||
Negatif |
26 |
65.0 |
Positif |
14 |
35.0 |
-
1,3 kali atau sebesar 77,2% terjadi dengan bertambahnya usia bayi.6
Berdasarkan dari laporan tahunan Puskesmas Sidemen tahun 2012, didapatkan jumlah ibu menyusui sebanyak 258 orang, dimana 157 orang menyusui secara eksklusif dan non eksklusif sebanyak 101 orang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui pada bayi berumur 6 bulan sampai dengan 24 bulan, di Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem tahun 2013.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Penelitian ini dilakukan di Desa Tangkup, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangesem, periode September – Oktober 2013.
Populasi penelitian adalah semua ibu yang memiliki bayi berumur 6 sampai 24 bulan di Desa Tangkup, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem.
seluruh populasi, dengan kriteria inklusi : semua ibu yang memiliki bayi berumur 6 sampai 24 bulan dan kriteria eksklusi : ibu yang memiliki bayi berumur 6 sampai 24 bulan yang menolak ikut dalam penelitian, mempunyai kelainan anatomi pada payudara, dan bayi yang memiliki kelainan anatomi pada organ pencernaan. Besar sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 40 sampel yang merupakan jumlah keseluruhan populasi. Sampel diambil dengan menggunakan metode total sampling.
Sampel yang terpilih, yaitu ibu yang memiliki bayi usia 6 sampai 24 bulan yang berdomisili di Desa Tangkup selanjutnya ditetapkan sebagai responden.
Variabel terikat (dependent) adalah pemberian ASI eksklusif. Variabel bebas (independent) adalah predisposing factors (umur, pendidikan, pengetahuan, sikap), enabling factors (pekerjaan, pendapatan, pojok laktasi), dan reinforcing factors (Penyuluhan ASI eksklusif, dukungan keluarga).
Pendidikan formal yang pernah diikuti oleh ibu menyusui, terdiri dari tingkat SD, SLTP/SMP, SLTA/SMA, D3, dan S1. Pendidikan kemudian dibagi
Tabel 5. Faktor Pemungkin Perilaku ASI eksklusif
Non-ASI ASI
Faktor pemungkin Eksklusif Eksklusif nn
memenuhi kebutuhan hidup Pekerjaan dibagi menjadi: tidak bekerja yakni sebagai Ibu rumah tangga dan bekerja yakni Pegawai Negeri, wiraswasta, pedagang, dll.
Pojok Laktasi
Pengetahuan
Kurang 26 4
Baik 6 4
menjadi : pendidikan rendah yakni tidak bersekolah dan SD, pendidikan sedang : SLTP/SMP dan SLTA/SMA, pendidikan tinggi : diploma dan sarjana.
Pengetahuan ibu mengenai definisi, tata cara, waktu pemberian ASI Eksklusif, manfaat pemberian ASI eksklusif kepada anaknya serta risiko pemberian makanan tambahan pada bayi sebelum usia 6 bulan. Pengetahuan ibu dibagi menjadi : baik jika ≥80% jawaban benar, sedang: 60-80% jawaban benar, dan kurang: <60% jawaban benar.
Sikap adalah reaksi ibu terhadap stimulus yang diberikan mengenai pemberian ASI eksklusif, waktu pemberian ASI eksklusif, dan makanan tambahan selain ASI. Sikap ibu kemudian dibagi menjadi : Baik jika ≥80% jawaban setuju, sedang: 60-80% jawaban setuju, dan kurang: <60% jawaban setuju.
Pekerjaan adalah kegiatan yang ibu menyusui lakukan yang dapat menghasilkan pendapatan untuk
Tabel 6. Faktor Pemungkin
Berdasarkan Perilaku ASI Eksklusif
Faktor Pemungkin Jumlah (n=40) |
Persen tase (%) | |
Pojok Laktasi | ||
Pengetahuan | ||
Kurang |
30 |
75.0 |
Baik |
10 |
25.0 |
Ketersediaan | ||
Tidak ada |
40 |
100.0 |
Ada |
0 |
0 |
Pendapatan |
adalah |
keuangan |
keluarga yang |
dihasilkan |
anggota |
keluarga untuk |
memenuhi |
kebutuhan |
hidup sehari-hari. Pendapatan kemudian dibagi menurut UMR Kabupaten Karangasem yakni sebesar Rp 1.542.000,. Pendapatan kurang dari UMR, pendapatan sesuai UMR dan pendapatan lebih dari UMR.
Pojok laktasi adalah tempat yang disediakan khusus bagi ibu untuk menyusui bayinya.
Penyuluhan ASI eksklusif adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan yang ditujukan untuk memberikan pengetahuan tentang ASI eksklusif.
Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan yang dilakukan ibu menyusui, dengan memberikan ASI saja tanpa ada
Tabel 7. Faktor Penguat Perilaku ASI Eksklusif
Non-ASI Eksklusif |
ASI Eksklusif |
Faktor penguat n |
n (%) |
Penyuluhan Mendapat Penyuluhan Tidak Pernah 12 Pernah 20 |
2 6 |
Tabel 8. Faktor Penguat Berdasarkan Perilaku ASI eksklusif
Faktor Penguat |
Jumlah(n=40) |
Persentase(%) |
Penyuluhan Mendapat Penyuluhan Tidak pernah |
14 |
35.0 |
Pernah |
26 |
65.0 |
Pemberi Penyuluhan Pegawai puskesmas |
2 |
5.0 |
Dokter |
16 |
40.0 |
Bidan |
9 |
22.5 |
Terakhir Mendapat Penyuluhan <1 Bulan |
3 |
7.5 |
1 – 6 Bulan |
7 |
17.5 |
> 6 Bulan |
16 |
40.0 |
cairan lain atau makanan lain selain ASI sejak saat bayi berusia 0 bulan sampai usia bayi mencapai 6 bulan.
Data diperoleh dengan cara melakukan wawancara kepada responden, dalam hal ini adalah ibu menyusui. Apabila sampel tetap tidak dapat dihubungi hari itu, maka sampel
Tabel 9. Distribusi Perilaku Pemberian ASI eksklusif di Desa Sidemen
Perilaku |
Jumlah (n=40) |
Persentase (%) |
Non-ASI eksklusif |
32 |
80 |
ASI eksklusif |
8 |
20 |
akan dicari pada hari berikutnya.
Wawancara dilakukan di kediaman ibu menyusui dengan tidak adanya pihak ketiga agar tidak memengaruhi jawaban. Instrumen yang digunakan untuk membantu wawancara berupa kuesioner dalam bentuk wawancara terstruktur untuk memperoleh data kuantitatif. Data-data yang diperoleh dari wawancara akan dianalisis dengan komputer dan disajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan narasi.
HASIL
Karakteristik Responden
Responden penelitian ini adalah ibu-ibu menyusui yang memiliki bayi yang berumur antara enam bulan sampai dengan dua puluh empat bulan yang telah memberikan persetujuan untuk ikut serta dalam penelitian.
Seluruh responden berasal dari desa Sidemen yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Sidemen dan dipilih secara total sampling yaitu sebanyak 40 responden. Dari keempat puluh responden yang telah diwawancarai diperoleh karakteristik ibu menyusui yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan, serta gambaran faktor pendorong: pengetahuan, dan sikap mengenai ASI eksklusif; faktor pemungkin: pengetahuan dan ketersediaan pojok laktasi; faktor penguat:
penyuluhan tentang ASI eksklusif perilaku ibu menyusui.
Berdasarkan tabel 1, penyebaran responden berdasarkan umur adalah sebagai berikut: responden yang berumur <20 tahun berjumlah 1 orang (2,5%), terdapat 30 orang (75,0%) yang berumur antara 20-29 tahun, dan 9 orang (22,5%) yang berumur >30 tahun.
Berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan bahwa jumlah responden
yang berpendidikan tinggi sedikit lebih banyak daripada responden yang berpendidikan rendah yaitu sebesar 55,0%. Dari keseluruhan responden sebagian besar bersekolah sampai tingkat SMA sebanyak 18 responden (45,0%). Dari seluruh responden terdapat 3 orang (7,5%) yang sama sekali tidak pernah bersekolah.
Berdasarkan aspek pekerjaan didapatkan bahwa jumlah responden yang tidak bekerja lebih banyak daripada yang bekerja, yaitu sebesar 62,5%. Dari keseluruhan responden yang bekerja sebagian besar sebagai wiraswasta/ pedagang yaitu 8 orang (20,0%), 1 orang (2,5%) bekerja sebagai pegawai negeri dan 6 orang (15,0%) sebagai pegawai swasta.
Dari analisis data diperoleh bahwa perilaku ASI eksklusif banyak didapatkan pada rentang umur 20-29 tahun. Pada responden yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, perilaku ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tingkat pendidikan yang rendah.
Faktor-Faktor Pendorong Perilaku ASI Eksklusif
Dari 40 responden didapatkan bahwa responden dengan pengetahuan baik dan pengetahuan kurang berimbang yaitu 21 orang (52,5%) yang berpengetahuan baik, sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 19 orang (47,5%).
Berdasarkan sikap responden terhadap perilaku ASI eksklusif didapatkan sebagian besar bersikap negatif, yaitu 26 orang (65,0%).
Berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan perilaku ASI eksklusif sebagian besar terdapat pada responden dengan tingkat pendidikan tinggi. Perilaku ASI eksklusif pada tingkat pengetahuan baik lebih banyak
dibandingkan dengan responden dengan tingkat pengetahuan kurang. Sebagian besar responden yang berperilaku ASI eksklusif memiliki sikap positif terhadap ASI eksklusif.
Faktor-Faktor Pemungkin Perilaku ASI Eksklusif
Pada penelitian ini faktor pemungkin yang diteliti yaitu pengetahuan dan ketersediaan pojok laktasi. Dari data yang telah terkumpul didapatkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pojok laktasi (75,0%). Hasil penelitian mendapatkan tidak tersedianya pojok laktasi di seluruh tempat kerja responden.
Perilaku ASI eksklusif pada responden yang tidak bekerja lebih banyak dibandingkan responden yang bekerja. Sebagian besar responden yang berperilaku ASI eksklusif memiliki pendapatan kurang dari UMR Karangasem.
Faktor-Faktor Penguat Perilaku ASI Eksklusif
Faktor penguat yang diteliti pada penelitian ini yaitu penyuluhan mengenai ASI eksklusif. Dari hasil wawancara didapatkan sebagian besar responden pernah mendapatkan penyuluhan (65%) dan pemberi penyuluhan yang terbanyak adalah dokter. Sebagian besar responden mendapatkan penyuluhan terakhir lebih dari enam bulan yang lalu. Sebagian besar responden yang berperilaku ASI eksklusif pernah mendapatkan penyuluhan tentang ASI eksklusif.
Gambaran perilaku ASI eksklusif
Dalam penelitian ini, gambaran perilaku pemberian ASI eksklusif di desa Sidemen, kecamatan Sidemen ditampilkan dalam tabel 9, dimana frekuensi ibu menyusui yang
memberikan ASI eksklusif jauh lebih rendah dibandingkan yang tidak memberikan ASI secara eksklusif.
PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Jumlah responden pada penelitian ini adalah sebanyak 40 orang yang seluruhnya adalah ibu-ibu yang memiliki bayi berumur antara enam bulan sampai dua puluh empat bulan. Sebagian besar responden penelitian ini berusia antara 20-29 tahun yaitu sebesar 75,0%. Usia termuda ibu bayi adalah 19 tahun dan usia yang paling tua adalah 39 tahun.
Responden sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SMA, tingkat pendidikan yang cukup tinggi ini dapat membentuk nilai-nilai progresif pada diri seseorang, terutama dalam menerima hal-hal baru, termasuk pentingnya pemberian ASI secara eksklusif pada bayi. Penelitian yang dilakukan oleh Suyatno9 menyatakan bahwa sebagian besar ibu menyusui dengan tingkat pendidikan yang tinggi bekerja di luar rumah, bayi akan ditinggalkan di rumah dengan asuhan nenek, orang tua, mertua atau orang lain yang kemungkinan masih mewarisi nilai-nilai lama dalam pemberian makan pada bayi. Tingkat pendidikan yang cukup tinggi pada wanita di pedesaan tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan meninggalkan tradisi atau kebiasaan yang salah dalam memberi makan pada bayi, selama lingkungan sosial di tempat tinggal tidak mendukung ke arah tersebut.
Sebagian besar responden tidak bekerja (62.5%), dari keseluruhan responden. Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan bila ibu tidak menyusui adalah kerena mereka harus bekerja. Pada penelitian didapatkan jumlah ibu bekerja yang berperilaku ASI eksklusif lebih sedikit dibandingkan
dengan ibu yang tidak bekerja. Hal ini juga karena dari hasil penelitian didapatkan tidak tersedianya pojok laktasi di tempat ibu menyusui bekerja, sehingga ibu menyusui tidak mungkin membawa bayinya ke tempat kerja.
Rata-rata tingkat pendapatan dalam keluarga responden sebagian besar di bawah UMR Karangasem. Sebagian besar status sosial ekonomi responden rendah. Dari hasil penelitian didapatkan perilaku ASI eksklusif lebih tinggi pada responden dengan status sosial ekonomi yang rendah. Ibu-ibu dari keluarga yang berpendapatan rendah kebanyakan adalah berpendidikan lebih rendah sehingga kebanyakan tidak bekerja. Ibu tersebut memiliki lebih banyak waktu bersama bayinya dan pemberian ASI secara eksklusif lebih tinggi. Berbeda dengan penelitian Suyatno9 yang menyatakan Ibu-ibu dari keluarga berpendapatan rendah kebanyakan adalah berpendidikan lebih rendah dan memiliki akses terhadap informasi kesehatan lebih terbatas dibanding ibu-ibu dari keluarga berpendapatan tinggi, sehingga pemahaman mereka untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi menjadi rendah.
Faktor-Faktor Pendorong Perilaku ASI Eksklusif
Pengetahuan
Pada penelitian ini didapatkan bahwa ibu menyusui yang memiliki tingkat pengetahuan baik, berperilaku ASI eksklusif lebih tinggi dari pada ibu menyusui dengan tingkat pengetahuan kurang. Begitu pula sebaliknya pada ibu menyusui yang memiliki tingkat pengetahuan kurang, tidak berperilaku ASI eksklusif lebih banyak dari ibu menyusui yang memiliki tingkat pengetahuan baik. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ada kecenderungan semakin baik tingkat
pengetahuan ibu menyusui, maka semakin tinggi perilaku ASI eksklusif. Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan, pendidikan, status kerja ibu, dan jumlah anak dalam keluarga berpengaruh positif pada frekuensi dan pola pemberian ASI. Penelitian yang dilakukan oleh Ambarwati10 di Kecamatan Banyumanik juga memiliki hasil yang serupa yaitu persentase kegagalan pemberian ASI eksklusif lebih tinggi terjadi pada para ibu dengan pengetahuan tentang ASI yang kurang dari pada para ibu yang memiliki pengetahuan tentang ASI yang lebih baik.
Sikap
Secara umum sebagian besar responden bersikap negatif terhadap perilaku ASI eksklusif. Dari penelitian didapatkan sebagian besar responden yang bersikap negatif, tidak berperilaku ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan yang bersikap positif. Hal ini sesuai dengan konsep dimana sikap manusia akan memengaruhi perilakunya. Tetapi sikap yang positif tidak selalu diikuti perilaku yang positif. Penelitian oleh Permana11 menunjukkan bahwa sikap positif ibu terhadap praktik pemberian ASI Eksklusif tidak diikuti dengan pemberian ASI Eksklusif pada bayinya. Sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Terwujudnya sikap agar menjadi tindakan nyata diperlukan faktor dukungan dari pihak-pihak tertentu, seperti tenaga kesehatan dan orangorang terdekat ibu.
Faktor-Faktor Pemungkin Perilaku ASI Eksklusif
Pojok laktasi merupakan tempat khusus untuk ibu menyusui. Dari hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan responden mengenai pojok laktasi kurang, namun tidak didapatkan
kecenderungan tingkat pengetahuan yang baik mengenai pojok laktasi, akan berperilaku ASI eksklusif. Salah satu kebijakan dan strategi Departemen Kesehatan RI tentang Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) pekerja wanita adalah mengupayakan fasilitas yang mendukung PP-ASI bagi ibu yang menyusui di tempat kerja dengan menyediakan sarana ruang memerah ASI, menyediakan perlengkapan untuk memerah dan menyimpan ASI, menyediakan materi penyuluhan ASI, dan memberikan penyuluhan. Hal ini belum terwujud, dilihat dari data yang ada di puskesmas tidak ada tempat bekerja di wilayah puskesmas Sidemen yang menyediakan pojok laktasi. Hal ini disebabkan sebagian besar responden tidak bekerja, sedangkan responden yang bekerja sebagian besar sebagai pedagang yang bekerja di rumahnya sendiri.
Faktor-Faktor Penguat Perilaku ASI Eksklusif
Sebagian besar responden pernah mendapatkan penyuluhan tentang ASI eksklusif. Responden yang pernah mendapatkan penyuluhan berperilaku ASI eksklusif lebih banyak dibandingkan yang tidak pernah mendapat penyuluhan. Penyuluhan merupakan salah satu alat yang dapat meningkatkan pengetahuan ibu menyusui mengenai mengenai ASI eksklusif. Pengetahuan yang baik akan dapat membentuk sikap yang positif sehingga perilaku pemberian ASI eksklusif dapat meningkat. Hasil penelitian mendapatkan masih banyak responden yang memiliki pengetahuan kurang tentang ASI eksklusif. Sebagian besar responden menganggap bayi tidak cukup mendapatkan asupan makanan hanya dari ASI saja sampai umur 6 bulan. Dari data yang didapatkan di puskesmas kegiatan penyuluhan masih sangat jarang dilakukan. Kegiatan
penyuluhan lebih banyak dilakukan dokter dan bidan desa secara perorangan.
SIMPULAN
Pengetahuan responden tentang ASI eksklusif sebagian besar adalah baik. Sebagian besar responden memiliki sikap yang negatif terhadap perilaku ASI eksklusif. Sikap respoden cenderung tidak setuju bila bayi diberikan ASI saja tanpa makanan tambahan termasuk air putih sampai bayi berumur 6 bulan. Sebagian besar responden tidak bekerja, dengan pendapatan rata-rata keluarga di bawah UMR Karangasem. Pengetahuan responden kurang mengenai pojok laktasi dan di wilayah Desa Sidemen. Pojok laktasi tidak tersedia di wilayah tersebut. Sebagian besar responden pernah mendapatkan penyuluhan mengenai ASI eksklusif, dan sebagian besar responden tidak berperilaku ASI eksklusif.
SARAN
Penyuluhan mengenai ASI eksklusif diperlukan dengan tujuan meyakinkan ibu menyusui bahwa makanan bayi cukup ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Memberikan dan menggunakan fasilitas pojok latasi di wilayah desa Sidemen dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
-
1. UNICEF, WHO, IDAI.
Rekomendasi tentang Pemberian Makan Bayi pada Situasi Darurat: Pernyataan Bersama UNICEF WHO IDAI 7 Januari 2005. 2005. Jakarta.
-
2. Departemen Kesehatan RI. Manajemen Laktasi: Buku Panduan bagi Bidan dan Petugas Kesehatan di Puskesmas, Dit. GiziMasyarakat-Depkes RI. 2005. Jakarta.
-
3. Roesli, U. Bayi Sehat berkat ASI Eksklusif, PT. Elex Media Komputindo. 2001. Jakarta. 1-34.
-
4. Roesli, U. Mengenal ASI Eksklusif, Trubus Agriwidya. 2005. Jakarta. 247.
-
5. Suradi R dan Kristina H. Manajemen Laktasi, cetakan kedua. Perkumpulan Perinatologi Indonesia. 2004. Jakarta.
-
6. Purnamawati S. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pola Pemberian ASI pada Bayi Usia Empat Bulan (Analisis Data Susenas 2011). Badan Litbang Kesehatan. 2003. Diunduh dari : http://www.litbang.depkes.go.id/med ia/index.php?option=content&task=v iew&id=109.
-
7. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Saatnya kembali ke Air Susu Ibu (ASI). 2007. Diunduh dari : http://aimi-asi.org/2007/09/saatnya-kembali-ke-air-susu-ibu-asi/.
-
8. Tim Surkesnas. Laporan Data Susenas 2001 : Status Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. Badan Litbang Kesehatan. 2001. Diunduh dari : http://www.litbang.depkes.go.id/med ia/index.php?option=content&task=v iew&id=109.
-
9. Suyatno. 2000. Pengaruh Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Tradisional terhadap kejadian ISPA, Diare, dan Status Gizi Bayi pada 4 (empat) bulan Pertama Kehidupannya, Program
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. 35-68.
-
10. Ambarwati, R. Faktor yang Berhubungan dengan Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Padangsari Kabupaten Ungaran, Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, 2004. Semarang. 50-65.
-
11. Permana, F.D. Faktor-faktor Penyebab Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu tidak Bekerja
(Studi Kualitatif di Desa Batursari Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak Tahun 2006), Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip. 2006. Semarang. 38-90.
11
Discussion and feedback