Desain Kemasan dari Anyaman Bambu dan Pengaruh Terhadap Bobot, Tekstur, dan Warna Jaje Gambir

Packaging Design (Secondary) of woven bamboo and its Effect on Jaje Gambir characteristics.

Roqi Asrori Andrean1, Nyoman Sucipta1, Pande K Diah Kencana 1 1Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Email: [email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the shelf life of Jaje Gambir are packed with packaging made of woven bamboo-based. The study also aimed to design or designing packaging for Jaje Gambir, which serve as the base material is a woven bamboo. The experiment was conducted using a completely randomized design (CRD). In this study, the packaging has been created and woven into shape at the time of trial run given that treatment with the coating, plating treatment is performed is coated with plastic wrap. This type of treatment given in this study there are four kinds, namely, P1 (without coating), P2 (inner packaging plastic coated, outer uncoated), P3 (inner packaging is not coated with plastic, outer plastic coated) and P4 ( packaging plastic coated on the outside and inside). This study in addition to determine the shelf life of Jaje Gambir also to determine public perceptions of packaging designs that have been made, to test it conducted a survey and assessment of the public perception of the packaging design is created. The results showed a shelf life of Jaje Gambir is for 2 weeks, the product is still in a decent state only until the second week. In the next week the quality and the quality of products has decreased and is not suitable for consumption, the texture of the product has become harder and discoloration of Jaje Gambir become yellowish due to the emergence of the fungus on Jaje Gambir. The results of the public perception survey showed the average people agree with the statement contained in the questionnaire and likes to design packaging made of woven bamboo.

Keywords: Jaje Gambir, packaging, packaging design, bamboo, woven bamboo.

PENDAHULUAN

Kemasan telah dikenal sejak manusia mengetahui sistem penyimpanan bahan makanan. Penyimpanan bahan makanan secara tradisional dimulai dengan menggunakan wadah seadanya yang ditemukan. Kemasan merupakan seluruh kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus atau kemasan suatu produk. Kemasan meliputi tiga hal, yaitu merek, kemasan itu sendiri, dan label. Tujuan dari dilakukannya pengemasan selain sebagai pelindung produk agar tidak mudah rusak, jugabertujuan sebagai daya tarik bagi konsumen agar tertarik untuk menikmati produk tersebut. Pengemasan dapat dijadikan sebagai iklan dalam mempromosikan produk untuk para pembeli.(Cenadi, Christine.2000). Keberhasilan daya tarik kemasan ditentukan oleh estetika yang menjadi bahan pertimbangan sejak awal perencanaan bentuk kemasan karena pada dasarnya nilai estetika harus terkandung dalam keserasian antara bentuk dan penataan desain grafis tanpa melupakan kesan jenis, ciri, dan sifat

barang/produk yang diproduksi. (Julianti, E. dan Nurminah, M. 2006). Salah satu inovasi yang dapat dilakukan pada desain kemasan tradisional adalah dengan pemanfaatan bambu sebagai bahan dasar pembuatan kemasan. Desain kemasan yang dibuat dengan bahan dasar bambu biasanya ditampilkan dalam bentuk anyaman. Pemakaian keranjang dari anyaman bambu untuk pengemasan, biasanya digunakan untuk buah-buahan dengan permukaan yang halus, dengan bobot yang terbatas, atau untuk hasil olahan dengan dilapisi daun, kertas dan plastik yang bertujuan agar produk yang dikemas tidak keluar dari jalinan anyaman, dan tidak terkontaminasi oleh kotoran dan air dari luar.

Kelebihan dari kemasan yang terbuat dari anyaman bambu, adalah mampu menjaga kelembaban udara, dan dengan sifatnya yang opak, dapat melindungi bahan yang dikemasnya terhindar dari reaksi penguraian yang diakibatkan oleh sinar atau cahaya. Akan tetapi kelemahannya bila tertarik anyamannya akan terbuka dan sulit menutup kembali. Pengeruhnya terhadap masa simpan dari

kemasan yang bahannya berbasis bambu adalah produk dapat bertahan lebih lama dan masa simpannya juga akan bertambah panjang.Produk dapat bertahan lebih lama karena sifat dari bambu yang kering sehingga dapat menjaga kelembaban udara dan produk terlindungi dari penguraian yang disebabkan oleh sinar matahari. Desain kemasan dari anyaman bambu untuk kedepannya dapat dikembangkan kembali dengan rancangan desain kemasan yang lebih inovatif. Pembuatan kemasan tidak hanya dibuat dengan teknik anyaman dapat dikembangkan dengan teknik lain.

Jajan tradisional merupakan salah satu jenis kuliner yang ada di Indonesia. Di setiap daerah memiliki jenis masing-masing jajan tradisional . Jajan tradisional Bali yang menjadi salah satu khas adalah Jaje Gambir. Jaje Gambir terbuat dari tepung ketan hitam kemudian diisi dengan unti atau olahan dari kelapa parut kasar yang telah dimasak dengan gula merah dan daun pandan. Jaje Gambir ini disajikan terlihat lebih istimewa karena dibungkus dengan daun pandan dan digantung dengan tali oleh para pedagang yang menjual jajan tersebut, sehingga juga menghasilkan aroma yang sangat harum dan Jaje Gambir tersebut tersaji dengan unik.

Jaje Gambir memiliki cita rasa yang manis, rasa manis tersebut terkadang dicampur dengan aroma seperti rasa pandan dan panili. Tekstur yang dimilki dari Jaje Gambir adalah kenyal seperti dodol dan mudah digigit pada saat memakannya.

METODELOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pascapanen, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana pada bulan April – Juni 2016.

Alat Penelitian

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan digital (merk AdventurerTM Pro Av 8101, Ohaus New York, USA), colorimeter (AccuProbe HH 06, New York, USA), texture analyzer (TA. XTplus, England) dan plastik wrap.

Bahan Penelitian

Bahan yang dibutuhkan dari penelitian ini adalah bambu Tali yang diperoleh dari pengrajin anyaman bambu yang berada di daerah Blaga, kecamatan Blah Batuh,Gianyar. Kemudian bahan lain yang dibutuhkan adalah produk yang akan dibuatkan kemasannya yaitu Jaje Gambir yang didapat dari

rumah produksi Jaje Gambir di daerah Sukawati, Gianyar.

Rancangan Percobaan

Pada penelitian ini rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), terdapat 4 perlakuan yang akan dilakukandan 2 kali ulangan dalam setiap perlakuannya.

Perlakuan yang diberikan pada penelitian ini adalah dengan melapisi kemasan dengan plastik, untuk mengetahui perbedaan karakterisitik pada Jaje Gambir terhadap kemasan yang tidak dilapisi dengan plastik dan kemasan yang dilapisi dengan plastik. Jenis plastik yang digunakan untuk melapisi kemasan anyaman bambu ini adalah plastik wrapping. Ketebalan yang digunakan pada plastik tersebut adalah 0,010 mikron, dan bahan dasar dari plastik tersebut adalah bahan LDPE, (Low Density Poly Ethylene) sehingga lebih aman untuk pemakaian sehari-hari dalam rumah tangga maupun industri makanan.

Jenis perlakuannya sebagai berikut:

P1 = Kemasan tidak dilapisi dengan plastik.

P2 = Kemasan bagian dalam dilapisi plastik, bagian luar tidak.

P3 = Kemasan bagian dalam tidak dilapisi plastik, bagian luar dilapisi plastik.

P4 = Kemasan bagian dalam dilapisi plastik, bagian luar dilapisi plastik.

Parameter yang Diamati

Susut Bobot

Parameter pertama yang diamati pada penelitian ini adalah dengan mengamati susut bobot dari produk Jaje Gambir. Penghitungan susut bobot dengan menggunakan timbangan digital. Jumlah sampel yang akan dihitung susut bobotnya sebanyak dua sampel dari setiap perlakuan dan pengulangannya. Setelah ditimbang susut dari produk akan dilakukan penghitungan rata-rata jumlah susut dari produk tersebut. Rumus untuk menghitung susut bobot adalah sebagai berikut:

Susut Bobot (%) = m°-m^ x 100%

Mo

Keterangan:

Mo= Bobot awal sampel

Mn= Bobot sampel ke –n

Pengukuran Warna

Uji pengukuran warna Jaje Gambir dilakukan dengan menggunakan alat colorimeter (AccuProbe HH 06, New York, USA). Hal yang diamati pada pengamatan warna adalah tingkat kecerahan (L), kecenderungan warna kematangan merah-hijau (a),

dan kecenderungan warna kebusukan kuning-biru (b). Nilai L ( range 0-100) yang semakin besar menunjukkan tingkat yang semakin cerah atau menuju putih, nilai a (range -128 sampai 127) dimana nilai a (-) semakin hijau, nilai a (+) semakin merah, nilai b (range -128 sampai 127) dimana nilai b (-) semakin biru, nilai b (+) semakin kuning. Pada umumnya semakin lama waktu simpan, maka semakin kecil nilai L dan b-nya sedangkan nilai a semakin besar (Any, 2013).

Perubahan Tekstur

Pengukuran perubahan tekstur dilakukan dengan menggunakan alat texture analyzer (TA. XTplus, England). Alat texture analyzer dihubungkan pada komputer, lalu alat dan komputer dinyalakan. Software “Texture Exponent 32” dibuka dan disetting sesuai perlakuan. Penekanan yang dilakukan sampai probe menembus Jaje Gambir yang telah disesuaikan dengan ketebalan Jaje Gambir dan kemudian produk ditekan dengan jarak tertentu. Kecepatan tusukan yang digunakan dalam pengukuran kekerasan Jaje Gambir 5 mm/s dengan kedalamam 10 mm. Hasil dari uji kekerasan akan muncul dalam bentuk grafik pada

layar komputer dengan nilai kekerasan dalam satuan kg/cm2. Pengukuran dilakukan pada 2 titik bagian sampel, dengan mengunakan 2 sampel setiap perlakuan dan pengulangan. Data yang diperoleh merupakan hasil rata-rata dari kedua data pengukuran tersebut. Kemudian perubahan yang diperoleh dituangkan dalam bentuk grafik.

Prosedur Penelitian

Tahap Pembuatan Desain

Tahap pertama pada penelitian ini yaitu dengan pembuatan rancangan desain kemasan berbasis bambu.Desain akan dibua tsesuai dengan estika dalam pembuatan desain kemasan, serta desain juga akan memperhatikan jenis produk yang akan dibuatkan kemasan untuk memperpanjang masa simpan dari produk.

Desain dari kemasan juga akan kemasan semenarik mungkin dan diberikan sedikit kesan modern. Tujuan dari pemberian inovasi dari desain kemasan ini adalah untuk menarik perhatian dari para konsumen agar mengkonsumsi dari produk yang dibuat. Rancangan desain pertama yang akan dibuat adalah desain dari bentuk kemasan, Gambar rancangan desain bentuk yang akan dibuat kemasan

Gambar 1. Desain bentuk


Desain kemasan dibuat menyesuaikan bentuk dari produk Jaje Gambir yaitu persegi panjang,

agar lebih mudah meletakkan produk di dalam kemasannya. Penataan letak produk di dalam

akan lebih rapi dan teratur sehingga lebih indah dilihat.

Tutup dari kemasan tidak dibuat diganti dengan inovasi yaitu dengan sistem geser pada wadah tempat produk diletakkan.Tujuan dari dibuat dengan sistem geser tersebut yaitu untuk memudahkan dari konsumen membuka dan menutup kemasan, serta untuk menghindari kerusakan atau kehilangan tutup dari kemasan.

Inovasi yang diberikan pada desain:

  • 1.    Bentuk menyesuaikan dari produk

  • 2.  Secara ergonomis Nampak lebih baik

  • 3.    Mudah dalam penumpukkan barang

  • 4.    Berpotensi untuk dikembangkan

  • 5.  Cukup modern dan nyaman dalam

penggunaan

  • 6.    Lebih memungkinkan jika digunakan kembali sebagai suatu wadah (reuse)

  • 7.    Lebih iconic atau khas

Tahap Uji Masa Simpan dari Produk

Tahap selanjutnya pada penelitian ini yaitu dilakukan uji masa simpan dari produk terhadap desain kemasan yang telah dibuat. Tujuan dari dilakukannya uji masa simpan untuk mengetahui seberapa ketahanan dari produk terhadap desain kemasan yang telah dibuat. Kemudian selain dari itu tujuannya adalah untuk mengetahui sesuai atau tidaknya desain yang dibuat terhadap produk yaitu Jaje Gambir. Metode yang digunakan pada uji masa simpan ini adalah metode Extend Storage Studies (ESS). Produk Jaje Gambir akan didiamkan pada kemasan bambu selama dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Lama jangka waktu yang akan digunakan dalam uji masa simpan ini adalah 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4minggu, 5 minggu,6 minggu, 7

minggu dan 8 minggu.Dalam setiap minggunya diberikan perlakuan sebanyak 4 jenis perlakuan dan pengulangan sebanyak dua kali,pengambilan data akan dilakukan setiap satu minggu sekali. Parameter yang diamati dari penelitian ini adalah perubahan kulitas dari produk, perubahan warna dari produk, dan perubahan tekstur yang terjadi pada produk selama proses pengamatan.

Tahap Survey Tingkat Persepsi Konsumen Terhadap Desain Kemasan

Tahap selanjutnya pada penelitian ini yaitu melakukan uji tingkat persepsi terhadap desain kemasan yang telah dibuat. Metode yang dilakukan terhadap uji tingkat kesukaan ini yaitu dengan melakukan survey kepada para konsumen. Survey dilakukan dengan memberikan kuisioner kepada para konsumen dan akan memeberikan penilaian terhadap kemasan.

Dengan adanya penilaian dari para konsumen untuk kedepannya akan ada gambaran yang lebih bagus lagi untuk desain dari kemasan. Pembuat desain kemasan akan lebih mudah berinovasi untuk mengembangkan desain dari kemasan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Desain kemasan

Pada penelitian ini tahap pertama yang dilakukan adalah proses pembuatan desain bentuk dari kemasan. Desain yang telah dibuat langsung diproses menjadi bentuk anyaman oleh pengrajin anyaman. Hasil dari bentuk kemasan yang telah dibuat desain kemasan sebelumnya sebagai berikut:

Gambar 3. Hasil anyaman dari kemasan


Bentuk dasar yang digunakan dalam desain kemasain ini adalah persegi panjang, bentuk persegi panjang dipilih karena selaras dengan bentuk dari produknya yaitu Jaje Gambir yang persegi panjang juga. Bentuk persegi panjang juga merupakan bentuk yang paling efisien untuk dijadikan sebagai wadah karena produk

dapat mengisi ruang yang paling maksimal, sehingga dapat memenuhi seluruh ruang penyimpanan pada kemasan.

Ukuran dari kemasan tersebut adalah panjang 15 cm, lebar 9 cm, dan tinggi 6 cm. Bentuk kemasan dibuat sesuai dengan rancangan dari desain kemasan yang telah dibuat sebelumnya. Setiap kemasan memuat isi produk yaitu Jaje Gambir sebanyak 8 jajan. Kemasan tidak diberi warna atau pun pelapisan untuk menghindari kontaminasi pada produk selama proses penelitian.

Hasil Pengujian Masa Simpan

Uji Susut Bobot

Berdasarkan dari hasil analisis sidik ragam rata-rata menjelaskan bahwa perlakuan pelaspisan dengan plastik pada kemasan tidak berpengaruh nyata karena (F hitung < F tabel 0,05), namun berdasarkan hasil data pengamatan yang diperoleh terjadi perubahan susut bobot pada produk Jaje Gambir.

Penyusutan paling tinggi terdapat pada P2 yaitu perlakuan pelapisan kemasan dengan plastik hanya bagian dalam sedangkan bagian luar tidak dilapisi plastik. Penyusutan bobot paling rendah yaitu terdapat pada P1 yaitu perlakuan yang dilakukan adalah kemasan tidak dilapisi plastik bagian luar dan dalamnya. Uji bobot ini menunjukkan pelapisan kemasan dengan plastik tidak berpengaruh terhadap susut bobot dari produk Jaje Gambir pada kemasan tersebut. Berikut adalah grafik perubahan susut bobot pada Jaje Gambir:

Uji Perubahan Tekstur

Berdasarkan dari hasil analisis sidik ragam rata-rata menjelaskan bahwa perlakuan pelapisan dengan plastik tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan tekstur dari Jaje Gambir karena (F hitung < F tabel 0,05), namun berdasarkan hasil data pengamatan yang diperoleh terjadi perubahan tekstur pada Jaje Gambir.

Perubahan tekstur paling tinggi terjadi pada P1 yaitu perlakuan pada kemasan tidak dilapisi plastik pada bagian luar dan dalam. Perubahan tekstur paling rendah terjadi pada P4 yaitu

perlakuan pada kemasan bagian dalam dilapisi plastik dan bagian luar juga dilapisi oleh plastik. Uji perubahan tekstur ini menunjukkan pelapisan plastik pada kemasan dapat mempengaruhi perubahan tekstur pada jajan gambir. Semakin banyak lapisan plastik yang diberikan pada kemasan semakin sedikit perubahan tekstur yang terjadi pada Jaje Gambir seperti yang terjadi pada Jaje Gambir yang diberikan perlakuan P4 yang dilapisi kemasannya pada bagian luar dan dalam. Berikut adalah grafik perubahan tekstur pada Jaje Gambir:

12345678

Waktu Pengamatan


—P1

∙÷∙ P2

—⅛- P3

P4


Gambar 5. Grafik perubahan tekstur.

Perubahan Warna Nilai L,a,b

Berdasarkan dari hasil analisis sidik ragam rata-rata menjelaskan bahwa perlakuan pelapisan dengan plastik tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan warna nilai L dari Jaje Gambir karena (F < F hitung 0,05), namun berdasarkan hasil data pengamatan yang diperoleh terjadi perubahan warna pada Jaje Gambir.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna yang terjadi pada Jaje Gambir adalah menjadi

lebih cerah bahkan menuju putih. Hasil data menunjukkan peningkatan nilai yang semakin tinggi yang berarti warna Jaje Gambir menjadi semakin cerah dan menuju putih. Terjadinya fluktuasi perubahan warna pada minggu ke 5 sampai minggu ke 8 diakibatkan karena pada Jaje Gambir terdapat kapang atau jamur yang menyelimuti pada permukaan produk. Berikut adalah gambar grafik perunahan warna pada nilai L:


Berdasarkan dari hasil analisis sidik ragam rata-rata menjelaskan bahwa perlakuan pelapisan dengan plastik tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan warna nilai a dari Jaje Gambir karena (F hitung < F tabel 0,05), namun berdasarkan hasil data pengamatan yang diperoleh terjadi perubahan warna pada Jaje Gambir.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna yang terjadi pada Jaje Gambir adalah menjadi

lebih kehijauan bahkan menuju hijau tua atau hijau gelap. Hasil data menunjukkan peningkatan nilai yang semakin tinggi yang berarti warna Jaje Gambir menjadi semakin hijau. Warna kehijauan yang terjadi pada Jaje Gambir juga diakibatkan oleh kemasan primer dari produk yaitu daun bambu yang terkikis dan mengkontaminasi Jaje Gambir sehingga

menjadi berwarna kehijauan. Berikut adalah gambar grafik perunahan warna pada nilai a:

0,00

Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu , 12345678

-2,00

5 -3,00

i -4,00

£ -5,00

ro

Z -6,00

-7,00

-8,00

Waktu Pengamatan


→- P1

— P2

—⅛- P3

P4


-9,00

Gambar 7. Grafik perubahan nilai a

Berdasarkan dari hasil analisis sidik ragam rata-rata menjelaskan bahwa perlakuan pelapisan dengan plastik tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan warna nilai B dari Jaje Gambir karena (F tabel < 0,05), namun berdasarkan hasil data pengamatan yang diperoleh terjadi perubahan warna pada Jaje Gambir.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna yang terjadi pada Jaje Gambir adalah menjadi

lebih kuning. Hasil data menunjukkan peningkatan nilai yang semakin tinggi yang berarti warna Jaje Gambir menjadi semakin kuning. Warna kuning yang terjadi pada Jaje Gambir diakibatkan oleh tumbuhnya jamur yang berwarna kuning pada permukaan dari produk yaitu Jaje Gambir sehingga menjadi berwarna kekuningan. Berikut adalah gambar grafik perunahan warna pada nilai b:

40,00 35,00

” 30,00 ≡ 25,00 5 20,00 3 15,00 q! 10,00 5,00 0,00

— P1

-- P2

—⅛- P3

P4

Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6 Minggu 7 Minggu 8

Waktu Pengamatan


Gambar 8. Grafik perubahan nilai b

Hasil Pengujian Tingkat Persepsi Konsumen Berdasarkan data hasil survey menunjukkan rata-rata para konsumen setuju dengan pernyataan yang telah dibuat, namun masih ada beberapa konsumen yang ragu-ragu tehadap pernyaan yang telah dibuat. Pernyataan yang sangat disetuji oleh para konsumen adalah mengenai kemudahan

kemasan untuk dibuka dan ditutup, sedangkan pernyataan yang masih diragukan oleh para konsumen paling banyak yaitu pada pernyataan kemudahan kemasan untuk dipegang hanya dengan satu tangan. Berikut adalah diagram dari hasil survey:


  •    Kemasan praktis untuk dibawa

  •    Kemasan mudah dibuka dan ditutup

  •    Kemasan ringan untuk dibawa.

  •    Kemasan mudah dipegang dengan hanya

Gambar 9. Diagram survey portabilitas (mudah dibawa)

Berdasarkan data hasil survey diatas menunjukkan rata-rata para konsumen setuju dengan pernyataan yang telah dibuat, beberapa kunsomen masih ragu dan ada yang tidak setuju terhadap pernyataan. Pernyataan yang yang masih diragukan oleh para kunsumen adalah

mengenai warna kemasan yang dapat menggambarkan produk dan pernyataan masyarakat yang tidak setuju adalah mengenai desain kemasan menggambarkan identitas /karakter dari produk. Berikut adalah diagram dari hasil survey


  •    Desain dari kemasan menarik.

  •    Desain kemasan mudah untuk diingat

  •    Warna kemasan menggambarkan produk

STS

Gambar 10. Diagram survey memorable (kemudahan untuk diingat)

Berdasarkan data hasil survey menunjukkan rata-rata para konsumen setuju dengan pernyataan yang telah dibuat, namun masih ada beberapa konsumen yang ragu-ragu tehadap pernyaan yang telah dibuat. Pernyataan yang sangat disetujui oleh para konsumen adalah pernyataan mengenai

kemasan dapat menjaga isinya agar tetap segar, sedangkan pernyataan yang masih diragukan oleh para konsumen yaitu pernyataan mengenai kemasan melindungi produk dari pencemaran bau yang menyengat. Berikut adalah diagram dari hasil survey:


Gambar 11. Diagram survey visual protection (perlindungan).


Berdasarkan data hasil survey menunjukkan rata-rata para konsumen setuju dengan pernyataan yang telah dibuat, namun masih ada beberapa konsumen yang ragu-ragu tehadap pernyaan yang telah dibuat.Pernyataan yang sangat disetujui oleh para konsumen adalah pernyataan mengenai

kemasan dapat dipergunakan kembali setelah produk habis (reuse), sedangkan pernyataan yang masih diragukan oleh para konsumen adalah pernyataan mengenai kemasan terlihat lebih modern. Berikut adalah diagram dari hasil survey:

Kemasan meiliki desain yang unik

Kemasan terlihat lebih modern

Kemasan dapat dipergunakan kembali setelah produk habis (reuse)

Desain kemasan berpotensi untuk dikembangkan


Gambar 12. Diagram survey keunggulan kemasan

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  • 1.    Rancangan dari desain kemasan memiliki bentuk dasar persegi panjang dan dalam membuka dan menutup dengan sistem geser. Setiap kemasan berisi 8 Jaje Gambir, ukuran dari kemasan adalah panjang 15 cm, lebar 9 cm dan tinggi 6 cm.

  • 2.    Perlakuan dengan pelapisan plastik pada kemasan berpengaruh terhadap perubahan

dari tekstur dan susut bobot dari Jaje Gambir.

  • 3.    Masa simpan dari Jaje Gambir paling bertahan hanya sampai pada minggu kedua, untuk minggu berikutnya produk sudah tidak layak untuk dikonsumsi karena ditumbuhi oleh kapang atau jamur.

  • 4.    Persepsi masyarakat terhadap desain kemasan yang telah dibuat rata-rata menyetujui atas

pernyataan yang terdapat survey yang dilakukan, sehingga sebagian besar dari konsumen menyukai desain kemasan yang dibuat.

Saran

  • 1.    Berdasarkan hasil penelitian disarankan dalam penelitian desain kemasan berikutnya dengan konsep anyaman harap diperhatikan tingkat kerapatan dari anyaman yang dibuat, karena sangat mempengaruhi terhadap ketahanan dari produk di dalamnya.

  • 2.    Disarankan dapat dikembangkan kembali penelitian ini dengan desain kemasan yang lebih baik dan sempurna. Desain bentuk lebih menarik dan iconic dan ditambahkan dengan desain grafis yang dalam pemberian warna tidak mempengaruhi atau mengkontaminasi produk.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, Penuntun Praktikum Teknologi Pengemasan                Dan

Penyimpanan.Jurusan    Teknologi

Hasil     Pertanian     Universitas

Mulawarman.2014

Cenadi, Christine S. 2000. Peranan Desain Kemasan dalam Dunia Pemasaran. Jurnal Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 92 – 103.

Elinda, Oktavia. 2013. Pengembangan Desain Kemasan Kuliner Jajanan Khas Daerah Sukabumi. Skripsi S1. Tidak dipublikasikan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ITB

Herudiyanto, Marleen S. 2008. Teknologi Pengemasan Pangan. Bandung: WidyaPadjadjaran.

Julianti, E. danNurminah, M. 2006. Teknologi Pengemasan. Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas pertanian, Universitas Sumatera

Morris, R. 2009. The Fundamentals of Product Design. Singapore : AVA Book Production Pte.Ltd.

Nirmana. 2000 Vol. 2, No. 1, Januari 2000: 92 – 103 Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain –

Universitas      Kristen      Petra

http://puslit.petra.ac.id/journals/desig n/

Rai Remawa, A.A Gde. 2014. Puslitdes ISI Denpasar/Ddo Bali, Makalah berjudul “ Desain Kemasan Produk Makanan”. yang disampaikan pada Pelatihan Desain Kemasan Makanan di Desa Dangin Puri Kaja, Denpasar, 1 Juni 2014.

Rampengan, V.J.1985.      Dasar-dasar

Pengawasan Mutu Pangan.Badan Kerja sama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Bagian Timur, Ujung Pandang.

Rosner, Klimchuk Marianne dan Sandra A. Krasovec. 2002. DesainKemasan. Jakarta: Erlangga

Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi            Pengemasan

Pangan.Laboratorium     Rekayasa

Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.

172