PENGARUH ASIMETRI INFORMASI, CORPORATE GOVERNANCE DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA MANAJEMEN LABA
on
ISSN : 2302 – 8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 9.3 (2014) : 717-727
PENGARUH ASIMETRI INFORMASI, CORPORATE GOVERNANCE DAN UKURAN PERUSAHAAN
PADA MANAJEMEN LABA
Ni Wayan Nariastiti 1
Ni Made Dwi Ratnadi 2
1Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia e-mail: nari_as92@yahoo.co.id/telp: +62 819 1614 1502
2Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asimetri informasi, corporate governance, dan ukuran perusahaan pada manajemen laba perusahaan go public yang terdaftar di BEI. Sampel ditentukan dengan purposive sampling berjumlah 65 perusahaan. Data dianalisis dengan regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan asimetri informasi yang diukur dengan bid-ask spread berpengaruh positif pada manajemen laba, corporate governance diukur dengan skor CGPI berpengaruh negatif, dan ukurran perusahaan diukur dengan total aset berpengaruh negatifpada manajemen laba.
Kata Kunci: Asimetri Informasi, Corporate Governance
ABSTRACT
This research aims to determine the effect of information asymmetry, corporate governance, and firm size on earnings management of publicly traded companies listed on the Indonesian Stock Exchange. Samples was determined by purposive sampling amounting 65 companies. Data were analyzed by multiple regression. The analysis result that the information asymmetry measured by the bid-ask spread has on earnings management positive influence, corporate governance measured by the rating CGPI have negative effect, and firm size proxid by total assets have negative on earnings management.
Keywords: Information Asymmetry, Corporate Governance
PENDAHULUAN
Earnings management atau manajemen laba ialah perilaku manajer dalam mempertinggi atau menurunkan laba yang akan sampaikan kepada pemilik perusahaan, dengan tidak meningkatkan atau menurunkan profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut. Manajer wajib menginformasikan kondisi perusahaan kepada pemilik dengan bukti tertulis dengan menyampaikannya dalam
laporan keuangan. Kondisi ini memberi peluang manajer untuk melakukan pengelolaan laba untuk kepentingan pribadi. Hal ini terbukti pada kasus PT. Kimia Farma Tbk. dan PT. Lippo Tbk. yang melibatkan pelaporan keuangan (financial reportings) diketahui dengan terdeteksinya tindakan perataan laba (Gideon, 2005). Hal ini terjadi karena tata kelola perusahaan di Indonesia yang lemah.
Dampak dari persoalan keagenan antara manajer dan pemilik perusahaan dapat diminimalisir dengan menerapkan corporate governance. Corporate governance di Indonesia dikeluarkan oleh Indonesian Instiitute for Corporete Governance (IICG). IICG adalah suatu lembaga yang memiliki kebebasan melakukan pengembangan dan diseminasi tata kelola perusahaan di Indonesia. Penerapan Corporate governance bertujuan untuk meminimumkan konflik keagenan.
Konflik keagenan muncul apabila tujuan yang ingin dicapai oleh manajer perusahaan tidak sejalan dengan kepentingan pemegang saham. Pemegang saham mengharapkan pendapatan (dividen) yang maksimal atas dana yang mereka investasikan. Pihak manajemen lebih mementingkan aktivitas operasional perusahaan dengan tidak membagikan dividen dan mengalokasikannya sebagai laba ditahan. Keselarasan hubungan pemegang saham dan manajer perusahaan akan mempengaruhi kebijakan yang akan digunakan.
Sistem tata kelola yang baik di perusahaan dipastikan dapat mengurangi pengelolaan laba yang berlebihan. Hal ini dikarenakan sistem corporate governance yang baik lebih menekankan kepada keuntungan yang efficient
contracting dimana keuntungan yang diperoleh dimiliki oleh semua pihak yang terkait. Corporate governance mempunyai peranan penting dalam memajukan efisiensi ekonomis, baik hubungannya antara pengelola perusahaan, para pemilik perusahaan, dewan komisaris, dan pemangku kepentingan lainnya. Tata kelola perusahaan ini akan memberikan fasilitas dalam menunjang tujuan dari suatu perusahaan dalam menentukan teknik monitoring kinerja.
Informasi yang menyimpang dari manajer akan menimbulkan terjadinya tindakan manipulasi laba, hal tersebut terjadi karena lemahnya tata kelola perusahaan. Liins dan Warnock dalam Yana (2007), mengemukakan mekanisme dalam tata kelola perusahaan ini mampu mengatur sifat dari manajemen (tindakan manajemen yang memiliki keleluasaan dalam memanipulasi laba) yang dikelompokan menjadi dua. Kelompok pertama, mekanisme spesifik luar negara diantaranya aturan hukum dan pasar pengendalian korporat. Kelompok kedua, mekanisme spesifik dalam perusahaan diantaranya struktur pengelolaan dan struktur kepemilikan. Kelompok pertama lebih mengacu pada penelitian ini karena dari struktur kepemilikan seorang pemilik harus lebih teliti dan lebih mengawasi tindakan manajer agar tidak terjadi manipulasi laba pada laporan keuangan. dan struktur pengelolaan ditunjukkan pada manajer agar lebih jujur dalam melaporkan hasil pelaporan keuangan.
Selain penerapan corporate governance, kegiatan manajemen laba dipengaruhi faktor lain yaitu ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan yang kecil dinilai lebih sering menjalankan praktik manajemen laba daripada perusahaan besar. Sebab, besarnya ukuran dari suatu perusahaan, maka semakin banyak pula
informasi yang didapat oleh pemegang saham dalam menentukan suatu keputusan yang akan diambil sehingga mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Perusahaan besar dalam melakukan pelaporan keuangan harus lebih hati-hati, sehingga dalam melaporkan kondisi perusahaan akan lebih akurat. Di sisi lain, perusahaan kecil cendrung lebih banyak menerapkan praktik manajemen laba, dengan tujuan menunjukkan performa kinerja perusahaan yang baik guna menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.
Hubungan kontrak antara manajer perusahaan dan pemilik perusahaan dapat dijelaskan melalui teori keagenan. Konsep teori keagenan menjelaskan bahwa manajer melakukan tugas-tugas tertentu untuk pemilik perusahaan, kemudian pemilik memberikan imbalan kepada manajer atas kinerjanya. Pemisahan fungsi antara pemilik perusahaan dan manajemen merupakan inti dari hubungan keagenan. Meningkatnya tindakan menyimpang yang dilakukan oleh manjer disebabkan karena pemilik perusahaan tidak mampu mengawasi secara terus menerus. Hal tersebutlah yang mengakibatkan ketidakseimbangan informasi baik dari pemilik dan manajer perusahaan. Kondisi ini dinamakan dengan asimetri informasi. Adanya asimetri informasi tersebut dapat memberikan keuntungan di pihak manajer dalam memaksilkan keuntungan pribadinya.
Beberapa penelitian sebelumnya membahas tentang manajemen laba. Penelitian (Nasutiion dan Setiawan, 2007) meneliti pengaruh variabel corporate governance (ukuran dewan komisaris, keberadaan komite audit, dan komposisi dewan komisaris independen) terhadap praktik manajemen laba. (Veronica dan Siddharta, 2005) menguji pengaruh corporete govermance dan ukuran perusahaan
terhadap praktik manajemen laba. (Rachmawati, dkk 2007) menguji pengaruh variabel asimatri informasi pada praktik manajemen laba. (Theresia, 2011) menguji pengaruh asimetri informasi, corporate governance, dan ukuran perusahaan terhadap praktik manajemen laba.
Dari keempat penelitian tersebut, penelitian dari Theresia yang lebih mendekati dari penelitian ini. Penelitian Theresia melakukan penelitian pada perusahaan manufaktur sedangkan penelitian ini meneliti aktivitas manajemen laba pada seluruh perusahaan di BEI, serta menggunakan skor pemeringkatan dalam corporate governance perceptiion indeks yang dibuat oleh The Institute of Indonesian Corporate Governance (IICG). Variable bebas lainnya yang digunakan dalam mendeteksi aktivitas manajemen laba yaitu asimetri informasi dan ukuran perusahaan.
Manajer yang cendrung opurtunistik dapat memanfaatkan asimetri informasi untuk menjalankan manajemen laba. Manajemen laba merupakan perilaku manajer dalam merekayasa laba dalam laporan keuangan sehingga laba terlihat seperti yang diharapkan oleh investor. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Banyak peneliti lain mengartikan manajemen laba dengan arti yang berbeda, salah satunya Setiawati dan Na’im (2000) mengungkapkan manajemen laba merupakan campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri.
Asimetri informasi merupakan informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang disampaikan oleh manajer kepada pemilik perusahaan. Manajer menyembunyikan informasi yang sebenarnya untuk
memberikan keuntungan secara pribadi dengan cara meratakan laba pada laporan keuangan perusahaan. Theresia (2011) dan Rahmawati, d.kk (2006) menemukan bahwa asimetrii informasi memiliki pengaruh positif pada manajemen laba.
H1 : Asimetri informasi berpengaruh positif pada manajemen laba
Dampak buruk asimetri informasi mendorong perbaikan pada corporate governance yang telah diterapkan. Corporate governance menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) adalah sekumpulan peraturan yang menetapkan hubungan antara pengurus, pemegang saham, pemerintah, pihak kreditur, karyawan serta semua pemegang kepentingan baik di dalam maupun di luar yang masih memiliki hubungan, hak dan kewajiban yang sama. Dalam menghindari perilaku meyimpang dari manajer, prinsip transparansi dan kewajaran perlu diterapkan. Kedua prinsip ini dapat menunjang tata kelola perusahaan yang lebih baik
H2 : Corporate governance berpengaruh negatif pada manajemen laba
Ukuran perusahaan merupakan suatu skala untuk mengklasifikasikan besar atau kecil perusahaan menurut beberapa cara diantaranya total aktiva, log size, total penjualan, nilai pasar saham, dan lain-lain. Investor dalam menanamkan modalnya akan memilih perusahaan yang mampu meliatkan kinerja yang baik agar modal yang ditanamkan nantinya memperoleh hasil yang menguntungkan. Hal tersebut bisa dibedakan dari ukuran perusahan tersebut. Perusahaan dengan ukuran besar biasanya akan lebih berhati-hati dalam menyusun dan melaporkan hasil kinerjanya berupa laporan keuangan. Karena banyak pihak yang memperhatikan serta mengamati pelaporan keuangan yang akan diterbitkan.
H3 : Ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba
METODE PENELITIAN
Asimetri informasi, corporate governance, dan ukuran perusahaan pada praktik manajemen laba yang terdaftar di BEI periode 2010-2012 menjadi objek dalam penelitian ini. Pengaplikasian kriteria purposive sampling untuk penentuan sampel. Adapun kriteria penentuan sampel seperti berikut.
-
1) Perusahaan yang telah terdaftar di BEI dan masuk dalam peringkat CGPI yang diberikan oleh IICG tahun 2010-2012.
-
2) Menyajikan pelaporan keuangan dengan rupiah.
Berdasarkan kriteria tersebut jumlah sampel 65 dari 460 perusahaan. Menghitung manajemen laba menggunakan akrual diskresioner (DA) dengan Modified Jones Model (Dechow et al., 1995).
Asimetri informasi diproksikan menggunakan relative Bid-Ask Spread seperti dilakukan oleh (Rahmawati, dkk. 2006). Corporate governance diproksikan menggunakan skor dalam CGPI yang dikeluarkan oleh IICG. Penilai CGPI meliputi empat tahap dengan bobot nilai, diantaranya Self-assessment (15 persen), Pengumpulan dokumen perusahaan (20 persen), Penyusunan makalah dan presentasi (15 persen), dan Observasi ke perusahaan (40 persen).
Ukuran perusahaan diproksikan dengan total aset yang ditransformasikan dalam logaritma, bertujuan menyamakan dengan variabel lainnya dalam penelitian, karena total aset dari. perusahaan bernilai relatif besar (Novita dan Djakman, 2008). Teknik analisis menggunakan regresi linear berganda. Sebelum
melakukan uji hipotesis, model regresi harus memenuhi syarat BLUE (Best,
Linier, Unbiased, Estimator). Untuk itu dilakukan uji asumsi klasik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis regresi linear berganda menguji pengaruh asimetri informasi, corporate governance, dan ukuran perusahaan merupakan variabel bebas yang mempengaruhi manajemen laba dalam pelaporan keuangan perusahaan yang telah resmi masuk di Bursa Efek Indonesia dan masuk dalam peringkat CGPI tahun 2010-2012.
Tabel 1.
Rekapitulasi Hasil Analisis Regeresi Linear Berganda
|
Variabel |
Koefisien Regresi |
Sig. |
|
Konstanta (Y) |
0,464 |
0,000 |
|
Asimetri informasi (X1) |
0,042 |
0,010 |
|
Corporete governace (X2) |
-0,003 |
0,017 |
|
Ukurran perusahaan (X3) |
-0,007 |
0,028 |
|
R square = 0,259 Adj. R square = 0,223 |
F = 7,109 sig. = 0,000 |
Sumber : Data Diolah (2014)
Tabel 2.
Rekapitulasi Hasil Uji Asumsi Klasik
|
Variabel |
Multikoliniearitas |
Heteroskeda stisitas |
Autokorelasi |
Normalitas | |
|
Tolerance |
VIF | ||||
|
Asimetri Informasi Corporate |
0,968 |
1,033 |
0,159 |
2,015 |
0,061 |
|
Governance Ukuran Perusahaan |
0,843 0,859 |
1,187 1,164 |
0,714 0,738 | ||
Sumber : Data Diolah (2014)
Pada Tabel 2 menunjukkan hasil terbebas dari masalah normalitas data
(0,061> 0,05), multikolliniearitas (nilai tolerance > 0,1 serta VIF < 10),
heteroskedatisitas ( > 0,05), serta pengujian autokorelasi dengan nilai dL= 0,50 dan dU = 1,70 sehingga 4-dL = 4-0,50 = 3,50 dan 4-dU = 4-1,70 = 2,30 (1,70<2,015<2,30).
Pada Tabel 1 menunjukan bahwa variabel asimetri informasi memiliki pengaruh positif (0,042) dan nilai signifikansi (sig.0,010). Ini berarti semakin tinggi asimetri informasi menyebabkan semakin tinggi laba. Pengaruh tersebut sama dengan Theresia (2011), Rahhmawati, dkk. (2006), dan Ismawati (2008) menunjukkan asimetri informasi juga memiliki pengaruh positif terhadap manajemen laba.
Pada Tabel 1 menunjukan bahwa variabel corporate governance yang diukur menggunakan skor pemeringkatan menunjukkan pengaruh negatif (-0,003) dan nilai signifikansi (sig.0,017). Ini berarti peningkatan corporate governane akan menurunkan manajemen laba. Hasil tidak sama dengan penelitian Theresia (2011) dan Ismawati (2008) yang membuktikan corporate governance memiliki pengaruh positif pada manajemen laba. Mengukur dengan menggunakan skor pemeringkatan (corporate governance perception indeks), menunjukkan arah yang berbeda dari penelitian Theresia (2011) dan Ismawati (2008). Ini artinya praktik manajemen laba bisa diminimalisir dengan adanya corporate governance dalam suatu perusahaan.
Pada Tabel 1 menunjukan bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki pengaruh negatif (-0,007) dan nilai signifikansi (sig.0,028). Ini berarti semakin besar ukuran perusahaan akan menyebabkan terjadinya penurunan manajemen laba. Hasil yang konsisten dengan hasil penelitian Chtourou (2001), Veronica dan
Utama (2005), dan Nuryaman (2008) menunjukkan ukuran perusahaan memiliki pengaruh negatif pada manajemen laba. Jadi, semakin besar ukuran perusahaan dapat mengurangi manajemen laba.
SIMPULAN DAN SARAN
Beberapa simpulan yang dapat diperoleh berdasarkan pembahasan sebelumnya, yaitu: Asimetri informasi berpengaruh positif pada manajemen laba. Corporate Governance dan ukuran perusahaan berpengaruh negatif pada manajemen laba. Penelitian ini menggunakan variabel asimetri informasi, corporete governance, dan ukuran perusahaan. Perusahaan yang telah terdaftar di BEI dan masuk peringkat CGPI yang diberikan oleh IICG dengan periode tiga (3) tahun sebagai sampel penelitian. Peneliti selanjutnya disarankan memperpanjang waktu penelitian agar memperoleh hasil yang berbeda menambah atau mengganti variabel yang telah digunakan dalam penelitian ini atau variabel lain yang mempengaruhi terjadinya kegiatan manipulasi laba pada perusahaan.
REFERENSI
Achmad, dkk. 2007. Investigasi Motivasi dan Strategi Manajemen Laba pada Perusahaan Publik di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X.
Badan Pengawas Pasar Modal. 2004. Kep-29/PM/2004. Pembentukan dan
Pedoman Kerja Komite Audit.
Bursa Efek Jakarta. 2001. SE-008/BEJ/12-2001. Keanggotaan Komite Audit.
Chen, Key, Y., Kuen Lin Lin, dan Jian Zhou, 2005b, Audit Quality and Earnings Management for Taiwan IPO Firms, Managerial Auditing Journal, Vol 20.1. pp. 86-104.
Chtourou, Sonda Marrakchi, Jean Bedard and Lucie Courteau. 2001. Corporate Governance and Earnings Management. www.ssrn.com
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). 2003. Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance ( Tata Kelola Perusahaan). Indonesian Company Law. Available on-line at www.fcgi.or.id
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS., Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2009). Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Ismawati, Nila.W. (2008). Pengaruh Asimetri Informasi, Ukuran Perusahaan, dan Praktik Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEJ. Skripsi S-1, Program Studi Akuntansi UPN Veteran Yogyakarta.
Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama, BPFE-UGM, Yogyakarta.
Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. (1976). Theory of The Firm: Managerial Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics3. hal. 305-360. www.ssrn.com
727
Discussion and feedback