KONSERVATISMA AKUNTANSI SEBAGAI PEMICU

GEJALA TIMBULNYA SENGKETA PAJAK PENGHASILAN BADAN

I Gusti Ayu Dian Esha Putri1

2

Naniek Noviari2

1Fakultas Ekonomi Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia e-mail: [email protected] / telp: +6282144877715 2

2Fakultas Ekonomi Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konservatisma akuntansi terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan. Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear sederhana. Penelitian ini menggunakan tiga model regresi, karena variabel Y (gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan) diproksikan dengan rasio AR/AP, rasio CR/CD, dan rasio Sales/Expense. Sementara variabel X (konservatisma akuntansi) diproksikan dengan model akrual. Berdasarkan analisis dan pengujian hipotesis, ditemukan bahwa ketiga model regresi menunjukkan bahwa konservatisma akuntansi berpengaruh positif terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konservatisma akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, maka semakin tinggi pula gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan badan pada perusahaan tersebut.

Kata kunci: Konservatisma Akuntansi, Gejala Timbulnya Sengketa Pajak, Perusahaan Jasa.

ABSTRACT

This study aimed to observe the effect of accounting conservatism on the onset of symptoms of income tax disputes. This study was conducted on services companies listed on the Indonesia Stock Exchange. Data analysis method used is a simple linear regression analysis. The study used three regression models because the variable Y (symptoms of income tax disputes) is proxied by three ratio, there are AR/AP, CR/CD and Sales/Expense. While the variable X (accounting conservatism) is proxied by accrual. Based on the analysis and hypothesis testing, all the three regression models show that accounting conservatism gave positif effect on the onset of symptoms of income tax disputes. This shows that the higher conservatism adopted by the company, the higher incidence of symptoms of income tax disputes at the company as well.

Keywords:   Accounting Conservatism, Symptoms of Income Tax Disputes, Services Company.

PENDAHULUAN

Konservatisma adalah reaksi hati-hati (prudent reaction) terhadap ketidakpastian untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko yang melekat pada situasi bisnis telah cukup dipertimbangkan (FASB, 1996 dalam

Surhali, 2008). Konservatisma mendahulukan pengungkapan bad news dan

menunda mengungkapkan good news (Basu, 1997). Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar manajemen dengan segera mengantisipasi kemungkinan kondisi terburuk yang dapat terjadi. Konservatisma dalam akuntansi adalah hal yang legal, walaupun banyak pula yang menentang digunakannya konservatisma, sehingga dapat dikatakan bahwa konservatisma adalah konsep yang kontroversial (Mayangsari dan Wilopo, 2002 dalam Dyahayu, 2012).

Konservatisma cenderung mengakibatkan laba menjadi bias ke bawah. Oleh sebab itu, FASB menentang konservatisma. Dalam FASB (Susi, 2010) terdapat pernyataan bahwa informasi keuangan harus netral, dalam artian dari bias yang dapat mempengaruhi keputusan. Untuk itu, kerangka konseptual umum tidak harus mencakup konservatisma atau kehati-hatian di antara karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi. Dengan pernyataan tersebut jelas bahwa FASB dengan tegas menentang adanya konservatisma.

Kebijakan pemerintah yang memberikan kewenangan kepada wajib pajak untuk memperhitungkan kewajiban perpajakannya sendiri dalam self assessment system diduga memberikan celah bagi perusahaan untuk menerapkan akuntansi yang sangat konservatif dalam laporan keuangannya. Akuntansi konservatif memberikan dampak berupa penurunan nilai laba/keuntungan perusahaan yang dijadikan dasar untuk menghitung kewajiban perpajakan perusahaan tersebut. Dengan semakin minimnya laba maka kewajiban perpajakan yang harus dibayarkan juga lebih rendah. Perusahaan akan cenderung berusaha menurunkan

nilai kini pajak penghasilannya untuk menaikkan nilai perusahaan (Watts, 2003 dalam Susi, 2010).

Konservatisma dapat mengakibatkan perusahaan mengungkapkan pengakuan asimetrik antara laba/penghasilan dan biaya/kerugian (Susi, 2010). Pengakuan asimetrik tersebut, seperti menunda pengakuan penghasilan dan mempercepat pengakuan biaya, dapat mengakibatkan penurunan besarnya laba kena pajak sehingga perusahaan dapat menunda kewajiban pembayaran pajaknya. Adanya konservatisma akuntansi dan pengakuan asimetriknya diduga dapat menyebabkan permasalahan antara perusahaan tersebut dengan fiskus (Susi, 2010). Permasalahan tersebut dapat terjadi pada saat dilakukan pemeriksaan oleh fiskus (AR). Fiskus menganggap bahwa penetapan besarnya laba kena pajak menurut perhitungan perusahaan terlalu rendah. Setelah dilakukan perhitungan kembali oleh fiskus, ditemukan perbedaan antara perhitungan fiskus dan perusahaan, yang diduga dapat menjadi peluang timbulnya sengketa pajak (Hanlon et al, 2005; Susi, 2010).

Kecenderungan penyimpangan penggunaan akuntansi konservatif oleh perusahaan dalam kaitannya dengan pajak penghasilan tinggi. Manajer perusahaan mungkin saja dengan sengaja menurunkan labanya sesuai dengan aturan yang diperbolehkan dalam prinsip akuntansi konservatif untuk tujuan tertentu seperti, untuk menekan kewajiban pembayaran pajak penghasilan badan yang harus ditanggungnya. Hal tersebut juga menimbulkan perbedaan perhitungan pajak penghasilan menurut perusahaan dan menurut fiskus yang dapat mengakibatkan

kecenderungan terjadinya sengketa pajak.

Penelitian ini melanjutkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Susi

Dwimulyani (2010) dengan judul “Konservatisma Akuntansi dan Sengketa Pajak Penghasilan: Suatu Investigasi Empiris”, dimana penelitian tersebut dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2004-2008. Penelitian ini hanya mengadopsi proksi sengketa pajak yang digunakan oleh Susi (2010) yaitu rasio AR/AP, rasio CR/CD, dan rasio Sales/Expense. Sementara untuk konservatisma akuntansi dalam penelitian ini diukur dengan model akrual (Givoly dan Hayn, 2002; Dahlia, 2004; Ratna, 2004; Suharli, 2008; Diah, 2011; Putra, 2011).

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah tingkat konservatisma dapat menjadi pemicu gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan badan pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI pada tahun setelah berlakunya Undang Undang No. 36 tahun 2008 yang mengatur mengenai perubahan tarif kena pajak termasuk untuk pajak penghasilan badan. Hal tersebut dapat dirumuskan dengan pertanyaan: “Apakah konservatisma akuntansi berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan badan pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI tahun 2009-2011?”

Berdasarkan permasalahan dan penjelasan diatas, maka dalam penelitian ini dikembangkan hipotesis sebagai berikut:

H1: Konservatisma yang diukur dengan model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio

AR/AP

H2: Konservatisma yang diukur dengan model akrual berpengaruh terhadap

gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio CR/CD

H3: Konservatisma yang diukur dengan model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio Sales/Expense

METODE PENELITIAN

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan www.idx.co.id. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut selanjutnya diseleksi dengan kriteria tertentu (purposive sampling), yaitu perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode berturut-turut dari tahun 2009 hingga tahun 2011, non-perbankan, tidak mengalami kerugian selama periode penelitian tahun 2009 sampai 2011 dan memiliki kelengkapan data yang akan digunakan dalam penelitian.

Teknik Analisis Data

Sebelum dilakukan analisis, dilakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu untuk melihat bahwa data terdistribusi normal, tidak terdapat kolerasi, dan tidak terdapat kesamaan varian. Uji asumsi klasik terdiri dari: Uji Autokolerasi, Uji Normalitas dan Uji Heteroskedastisitas.

Selanjutnya dilakukan analisis regresi linear sederhana untuk melihat keterkaitan antara variabel dependen dan independen dalam penelitian. Analisis

regresi linear dilakukan dengan bantuan program IDM SPSS 19. Model regresi

linear sederhana menggunakan persamaan:

Y = a + βX + ε................................................(1)

Y = Sengketa Pajak Penghasilan (AR/AP, CR/CD, SALES/EXPENSE)

α =  konstanta

β =   koefisien regresi

X =  Model Akrual

ε =   error

Penelitian ini menggunakan tiga model regresi, karena terdapat tiga proksi dari sengketa pajak penghasilan (Y).

Selanjutnya, dilakukan uji hipotesis. Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dengan langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut.

  • 1)    Rumusan hipotesis:

  • H0: βi = 0, artinya variabel bebas (βi) tidak berpengaruh secara signifikan pada variabel terikat. (i = 1,2,3)

Hi: βi ≠ 0, artinya variabel bebas (βi) berpengaruh signifikan pada variabel terikat. (i = 1,2,3)

  • 2)    Kriteria pengujian

Dengan tingkat keyakinan 95% , taraf nyata α = 5%, derajat kebebasan (n-k), maka ttabel = tα /2(n-k) (uji dua sisi).

H0 ditolak apabila thitung ≥ ttabel atau signifikansi thitung ≤ α (0,025)

H0 diterima apabila thitung < ttabel atau signifikansi thitung > α (0,025)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, maka terpilih 33 sampel perusahaan amatan selama periode 2009-2011. Namun pada saat pengolahan data telah terjadi outlier data. Outlier data adalah tindakan mengeluarkan data dari model uji karena data memiliki nilai residual yang tinggi sehingga menyebabkan data tidak memenuhi asumsi normalitas data (Imam, 2011). Rincian outlier data yang dimaksud disajikan pada Tabel 3.1 di bawah ini. Tabel 3.1 Outlier Data pada Masing-Masing Model Uji

No

Persamaan

Jumlah Outlier (Perusahaan)

Jumlah Perusahaan (Unit)

Jumlah Pengamatan (Unit)

1

AR/AP = α + βAkrual

19

14

42

2

CR/CD = α + βAkrual

12

21

63

3

Sales/Expense= α + βAkrual

20

13

39

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS


Hasil Uji Asumsi Klasik

Uji Autokorelasi

Imam (2011:110) mengatakan uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Apabila terdapat korelasi, maka dinamakan terdapat problem autokorelasi. Deteksi autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin Watson.

Tabel 3.2 Hasil Uji Autokolerasi

Model Regresi

N

dl

du

4-du

DW

Keterangan

Y1   (Akrual  pada

AR/AP)

42

1,44

1,54

2,46

2,350

du < d < 4-du

Y2  (Akrual  pada

CR/CD)

63

1,55

1,62

2,34

1,666

du < d < 4-du

Y3   (Akrual  pada

Sales/Expense)

39

1,43

1,54

2,46

1,774

du < d < 4-du

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS

Berdasarkan hasil uji autokorelasi pada tabel 3.2, nilai uji Durbin-Watson (DW) pada ketiga model regresi berada pada posisi du < d < 4-du. Hal tersebut membuktikan bahwa tidak terjadi autokolerasi baik autokolerasi positif maupun negatif pada data dari setiap model regresi yang digunakan. Uji Heteroskedastisitas

Imam (2011:139) mengatakan uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Deteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas menggunakan model Glejser. Model tersebut meregresikan nilai absolute residual dengan variabel bebas. Jika nilai signifikansinya lebih besar dari 0,05 maka dikatakan model bebas dari heterokedastisitas.

Tabel 3.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Variabel Penelitian

Rasio AR/AP (AR/AP)

Rasio CR/CD (CR/CD)

Rasio Sales/Expense (SALES/EXPENSE)

t hitung

Sig.

t hitung

Sig.

t hitung

Sig.

Akrual (AKRUAL)

0,946

0,350

-1,931

0,058

-0,734

0,468

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS

Dalam tabel 3.3 terlihat nilai signifikansi variabel bebas di atas 0,05 pada setiap model regresi, hal ini berarti data bebas dari heterokedastisitas.

Uji Normalitas Residual

Imam (2011:160) mengatakan uji normalitas residual bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam

penelitian ini dilakukan dengan metode one – sample kolmogorov – smirnov test. Suatu model dikatakan normal bila signifikansi residual lebih besar dari 0,05, sedangkan bila signifikansi residual lebih kecil dari 0,05 maka model tidak berdistribusi normal.

Tabel 3.4 Hasil Uji Normalitas

Kolmogorov-Smirnov Z

Asymp. Sig

Model Regresi Y1 (AR/AP)

0,932

0,351

Model Regresi Y2 (CR/CD)

1,314

0,063

Model Regresi Y3 (SALES/EXPENSE)

0,799

0,545

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS

Dari tabel 3.4 dapat dilihat bahwa hasil uji normalitas menunjukkan nilai Asymp.Sig ketiga model regresi tersebut adalah 0,351; 0,063; dan 0,545. Nilai Asymp.Sig pada ketiga model regresi lebih besar dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa semua data pada ketiga model regresi tersebut berdistribusi normal.

Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana

Model Regresi 1

Dalam model regresi 1 dilakukan uji analisis regresi linear sederhana terhadap variabel X yaitu konservatisma akuntansi yang diproksikan dengan AKRUAL, dan variabel Y yaitu gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan

yang diproksikan dengan rasio AR/AP.

Tabel 3.5 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Sederhana untuk Y1

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Β

Std. Error

Beta

(Constant)

1,638

0,183

8,937

0,000

AKRUAL

0,304

0,109

0,403

2,784

0,008

hitung

7,752

Sig. Fhitung

0,008

R2

0,162

Adjusted R2

0,141

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS

Berdasarkan tabel 3.5 dapat dibentuk persamaan regresi linear sederhana sebagai berikut.

Y=1,638+0,304X .....................................................(2)

Keterangan:

Y        = Gejala timbulnya sengketa pajak Penghasilan (AR/AP)

X        = Model Akrual

Dari hasil analisis regresi akan diamati Goodness of Fit-nya melalui aspek-aspek sebagai berikut.

  • (1)    Koefisien Determinasi (R2)

Dari tabel 3.5 dapat dilihat nilai R2 sebesar 0,162. Hal ini berarti 16,2 persen dari variansi gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan (yang diukur dengan AR/AP) di perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011 dipengaruhi oleh variansi konservatisma akuntansi (yang diukur dengan akrual), sedangkan sisanya sebesar 83,8 persen dipengaruhi oleh variansi faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian.

  • (2)    Uji F

Berdasarkan tabel 3.5 diketahui nilai sig. Fhitung = 0,008 < α = 0,05. Ini berarti variabel independen yaitu konservatisma akuntansi (yang diukur dengan akrual) merupakan penjelas yang signifikan secara statistik pada gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan (yang diukur dengan AR/AP) di perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

Model Regresi 2

Dalam model regresi 2 dilakukan uji analisis regresi linear sederhana terhadap variabel X yaitu konservatisma yang diproksikan dengan AKRUAL, dan variabel Y yaitu gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diproksikan dengan rasio CR/CD.

Tabel 3.6 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Sederhana untuk Y2

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Β

Std. Error

Beta

(Constant)

1,041

0,011

92,247

0,000

AKRUAL

0,022

0,006

0,434

3,762

0,000

hitung

14,153

Sig. Fhitung

0,000

R2

0,188

Adjusted R2

0,175

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS

Berdasarkan tabel 3.6 dapat dibentuk persamaan regresi linear sederhana sebagai berikut.

Y = 1,041 + 0,022X........................................................(3)

Keterangan:

Y        = Gejala timbulnya sengketa pajak Penghasilan (CR/CD)

X        = Model Akrual

Dari hasil analisis regresi akan diamati Goodness of Fit-nya melalui aspek-aspek sebagai berikut.

(1)Koefisien Determinasi (R2)

Dari tabel 3.6 dapat dilihat nilai R2 sebesar 0,188. Hal ini berarti 18,8 persen dari variansi gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan (yang diukur dengan CR/CD) di perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011 dipengaruhi oleh variansi konservatisma akuntansi (yang

diukur dengan akrual), sedangkan sisanya sebesar 81,2 persen dipengaruhi oleh variansi faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian.

(2)Uji F

Berdasarkan tabel 3.6 diketahui nilai sig. Fhitung = 0,000 < α = 0,05. Ini berarti variabel independen yaitu konservatisma akuntansi (yang diukur dengan akrual) merupakan penjelas yang signifikan secara statistik pada kecenderungan sengketa pajak penghasilan (yang diukur dengan CR/CD) di perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

Model Regresi 3

Dalam model regresi 3 dilakukan uji analisis regresi linear sederhana terhadap variabel X yaitu konservatisma yang diproksikan dengan AKRUAL, dan variabel Y yaitu gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diproksikan

dengan rasio Sales/Expense.

Tabel 3.7 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Sederhana untuk Y3

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

Β

Std.

Error

Beta

(Constant)

1,950

0,184

10,615

0,000

Akrual

0,416

0,123

0,487

3,388

0,002

hitung

11,479

Sig. Fhitung

0,002

R2

0,237

Adjusted R2

0,216

Sumber: Hasil olahan data dari www.idx.co.id tahun 2009 – 2011 dalam SPSS

Berdasarkan tabel 3.7 dapat dibentuk persamaan regresi linear sederhana sebagai berikut.

Y=1,950+0,416X .............................................................(4)

Keterangan:

Y         = Gejala    timbulnya     sengketa    pajak     Penghasilan

(SALES/EXPENSE)

X        = Model Akrual

Dari hasil analisis regresi akan diamati Goodness of Fit-nya melalui aspek-aspek sebagai berikut.

  • (1)    Koefisien Determinasi (R2)

Dari tabel 3.7 dapat dilihat nilai R2 sebesar 0,237. Hal ini berarti 23,7 persen dari variansi gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan (yang diukur dengan Sales/Expense) di perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011 dipengaruhi oleh variansi konservatisma akuntansi (yang diukur dengan akrual), sedangkan sisanya sebesar 76,3 persen dipengaruhi oleh variansi faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian.

  • (2)    Uji F

Berdasarkan tabel 3.7 diketahui nilai sig. Fhitung = 0,002 < α = 0,05. Ini berarti variabel independen yaitu konservatisma akuntansi (yang diukur dengan akrual) merupakan penjelas yang signifikan secara statistik pada gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan (yang diukur dengan Sales/Expense) di perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dapat dilihat dari signifikan hasil uji t pada tabel 3.5, tabel 3.6, dan tabel 3.7 dengan membandingkan thitung dengan ttabel.

  • 1)    Pengujian H1: model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa

pajak penghasilan yang diukur dengan rasio AR/AP.

Berdasarkan tabel 3.5 hasil uji t pada variabel akrual menunjukkan thitung (2,784) > ttabel (2,021) dan nilai signifikansi thitung (0,008) < α (0,025), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti konservatisma akuntansi yang diukur dengan model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio AR/AP pada perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

  • 2)    Pengujian H2: model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio CR/CD.

Berdasarkan tabel 3.6 hasil uji t pada variabel akrual menunjukkan thitung (3,762) > ttabel (2,000) dan nilai signifikan thitung (0,000) < α (0,025), sehingga H0 ditolak dan H2 diterima. Ini berarti Ini berarti konservatisma akuntansi yang diukur dengan model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio CR/CD pada perusahaan jasa yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

  • 3)    Pengujian H3: model akrual berpengaruh terhadap timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio Sales/Expense.

Berdasarkan tabel 3.7 hasil uji t pada variabel akrual menunjukkan thitung 3,388) > ttabel (2,021) dan nilai signifikan thitung (0,002) < α (0,025), sehingga H0 ditolak dan H3 diterima. Ini berarti konservatisma akuntansi yang diukur dengan model akrual berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio Sales/Expense pada perusahaan jasa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa

konservatisma akuntansi berpengaruh terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan badan pada perusahaan jasa yang terdaftar di BEI tahun 2009-2011. Simpulan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut.

  • 1)    Konservatisma akuntansi yang diukur dengan model akrual berpengaruh positif terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio AR/AP dengan tingkat keyakinan 95%.

  • 2)    Konservatisma akuntansi yang diukur dengan model akrual berpengaruh positif terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio CR/CD dengan tingkat keyakinan 95%.

  • 3)    Konservatisma akuntansi yang diukur dengan model akrual berpengaruh positif terhadap gejala timbulnya sengketa pajak penghasilan yang diukur dengan rasio Sales/Expense dengan tingkat keyakinan 95%.

Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, diharapkan penelitian berikutnya mencermati dan menyempurnakannya. Keterbatasa tersebut antara lain:

  • (1)    Dari ketiga model regresi yang digunakan, nilai R2 tertinggi adalah 0,237 yang berarti hanya menjelaskan 23,7 persen dari variansi model. Dengan adanya hasil penelitian tersebut diharapkan mampu mendorong peneliti-peneliti selanjutnya untuk mengamati faktor-faktor lainnya yang belum digunakan dalam model, ataupun menggunakan model lain yang dapat

menjelaskan pengaruh konservatisma terhadap sengketa pajak penghasilan.

  • (2)    Dalam pengolahan data, terjadi outlier data sehingga hasil penelitian kurang

menunjukkan kesimpulan dari semua perusahaan jasa yang ada di Bursa Efek

Indonesia. Disarankan untuk penelitiannya selanjutnya mencermati hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Alam S. 2007. Ekonomi 2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Basu, Sudipta. 1997. The Conservatism Principle and The Asymmetrics Timeliness of Earnings. Journal of Accounting and Economics, 24 h:3-37

Diah Asrida, Putu. 2011. Pengaruh Keberadaan Komite Audit pada Hubungan Positif Risiko Perusahaan dengan Konservatisma Akuntansi. Tesis. Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Dyahayu Artika Deviyanti. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Konservatisma dalam Akuntansi. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Semarang.

Eko Widodo Lo. 2005. Pengaruh Tingkat Kesulitan Keuangan Perusahaan Terhadap Konservatisma Akuntansi. Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo.

Faizal. 2004. Analisis Agency Costs, Struktur Kepemilikan, dan Mekanisme Corporate Governance. Simposium Nasional Akuntansi VIII Bali.

Hanlon, M., E. Maydew, dan T. Sevlin. 2005. Book-Tax Conformity and the Information Content of Earnings. Working Paper. University of Michigan, University of North Carolina dan University of Washington.

Imam Ghozali. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Keempat. Semarang: Universitas Diponegoro.

________. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi Kelima. Semarang : Universitas Diponegoro.

Mardiasmo. 2011, Perpajakan. Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi.

Penman, Stephen H. dan Xiao-Jun Zhang. 2001. Accounting Conservatism, The Quality of Earnings, and Stock Returns. Working paper. School of Business Columbia University dan Haas School of Business University of California.

Putra, Wayan. 2011. Tingkat Konservatisma Akuntansi: Kajian Berdasarkan Karakteristik Dewan Komisaris, Kepemilikan Modal Manajerial dan Keberadaan Komite Audit sebagai Pendukung Mekanisme Good Corporate Governance. Tesis. Pada Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Bali.

Ratna Dewi, A.A.A. 2004. Pengaruh Konservatisma Laporan Keuangan Terhadap Earnings Response Coefficient. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 7(2) h:207-223.

Rendra Jastika Jamaluddin. 2011. Pengaruh Konservatisma Akuntansi terhadap Sengketa Pajak Penghasilan pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Hassanudin. Makassar.

Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan. Jakarta.

Shroff, P.K., R. Venkataraman, dan S. Zhang, 2007. The conservatism principle and the asymmetric timeliness of earnings: an event-based approach. Working paper. University of Minnesota, Southern Methodist University, dan George Mason University.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis. Bandung :CV. Alfabeta.

________. 2011. Metode Penelitian Bisnis. Bandung :CV. Alfabeta.

Suharli, M. 2008. Pengaruh Rasio Keuangan dan Konservatisma Akuntansi Terhadap Pemeringkat Obligasi. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 13(2) h:408-423.

Susi Dwimulyani. 2010. Konservatisma Akuntansi dan Sengketa Pajak Penghasilan: Suatu Inverstigasi Empiris. Simposium Nasional Akuntansi XIII Purwokerto.

Suyana Utama, Made. 2009. Buku Ajar Aplikasi Analisis Kuantitatif. Denpasar: Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Watts, Ross. 2003. Conservatism in Accounting Part I: Explanations and Implications. Working paper. Simon School of Bisnis, University of Rochester.

Windra Septian Wicaksono. 2012. Uji Empiris Pengaruh Faktor-Faktor Konservatisme Akuntansi dalam Perpajakan. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro. Semarang.

Wirawan B. Ilyas dan Richard Burton. 2008. Hukum Pajak. Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Empat.

www.idx.co.id. Laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Diakses tanggal 16 Agustus 2012.