STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KERAJINAN PERAK DENGAN METODE ANALISIS SWOT PADA USAHA SSS SILVER

E-Jurnal Manajemen, Vol. 9, No. 10, 2020 : 3506-3526

ISSN : 2302-8912

DOI: https://doi.org/10.24843/EJMUNUD.2020.v09.i10.p05

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KERAJINAN PERAK DENGAN
METODE ANALISIS SWOT PADA USAHA SSS SILVER

Putu Satya Ary Narendra1
I Gusti Ayu Ketut Sri Ardani2

1,2Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana(Unud), Bali, Indonesia
email: [email protected]

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan dari kekuatan,
kelemahan, peluang serta ancaman pada usaha kerajinan perak SSS Silver dalam
menjalankan usahanya dan menentukan strategi pemasaran yang dapat diterapkan pada
usaha kerajinan perak SSS Silver dalam rangka mengembangkan usahanya. Jumlah
responden yang merupakan pihak manajemen SSS Silver yang menjadi sampel penelitian
adalah sebanyak 3 orang. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa faktor internal dominan yang mempengaruhi usaha
kerajinan perak SSS Silver dalam menjalankan operasional perusahaannya adalah faktor
kekuatan, sedangkan faktor eksternal yang dominan adalah faktor peluang usaha yang
dimiliki SSS Silver. Berdasarkan hasil analisis SWOT, maka strategi yang tepat digunakan
oleh usaha kerajinan perak SSS Silver adalah model strategi SO yaitu strategi yang
menggunakan kekuatan (Strength) dan dengan memanfaatkan peluang (Opportunies).

Kata Kunci: kerajinan perak, strategi pengembangan, SSS Silver, SWOT

ABSTRACT

The purpose of this research is to find out the dominant factors of strengths, weaknesses,
opportunities and threats to SSS Silver’s silvercraft business in running its business and
determine marketing strategies that can be applied to SSS Silver silvercraft business in
order to grow its business. The number of respondents who were the management of SSS
Silver who sampled the research was 3 people. The analysis technique used is SWOT
analysis. The results of this study show that the dominant internal factor affecting SSS
Silver’s silver craft business in running its company’s operations is the strength factor,
while the dominant external factor is the business opportunity factor that SSS Silver has.
Based on the results of SWOT analysis, the right strategy used by SSS Silver silvercraft
business is so strategy model that is a strategy that uses strength and by utilizing
opportunities (Opportunies).

Keywords: silver craft, development strategy, SSS Silver, SWOT.

3506

PENDAHULUAN

Pemerintah Indonesia saat ini berusaha meningkatkan kemampuan industri
kecil dan menengah (IKM) sebagai bentuk implementasi dari pengembangan
ekonomi lokal dan daerah. Terutama keberadaan industri kecil di banyak negara
berkembang mampu memberikan kontribusi mencapai 30% – 60% dari seluruh
penduduk perkotaan (Permadi, 2015). Untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan
sebuah strategi yang dilaksanakan secara simultan. Strategi yang tepat akan
memberikan dampak positif terhadap perkembangan industri secara berkelanjutan
(Pebrianti & Muta’ali, 2017).

Secara umum IKM memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
perekonomian nasional. Menurut Hoiron et al. (2019), Industri Kecil Menengah
(IKM) memegang peranan penting dalam kemajuan perekonomian suatu Negara,
semakin berkembangnya IKM di suatu Negara maka akan meningkatkan
perekonomian di Negara tersebut. Sehingga pemerintah harus memberikan
perhatian khusus terhadap tumbuh dan kembangnya IKM yang ada di Indonesia.
Salah satu IKM yang ada di Indonesia adalah industri kerajinan perak. Sampai
saat ini perkembangan industri perak masih belum begitu optimal, sehingga perlu
dilakukan analisis daya saing di masing-masing sentra industri perak agar sentra
industri perak dapat terus tumbuh dan berkembang, dengan cara melakukan
perumusan strategi menggunakan analisi SWOT. Hasil penelitian serupa oleh
Yusandipta (2014) juga menyatakan bahwa perkembangan dunia industri yang
pesat menuntut suatu industri untuk dapat mengidentifikasikan kemampuan
perusahaan dan mempunyai strategi peningkatan dalam pengembangan bisnisnya,
sehingga perlu membentuk strategi pengembangan bisnis yang paling tepat
diterapkan saat ini oleh usaha kerajinan perak agar dapat memanfaatkan peluang
dan mengantisipasi ancaman yang ada dengan mendayagunakan kekuatan dan
mengantisipasi kekurangan perusahaan melalui analisis SWOT.

Penelitian serupa oleh Hoiron et al. (2019)menyatakan bahwa strategi
pengembangan IKM dapat dilakukan menggunakan strategi pengembangan
melalui analisis matriks SWOT. Analisis SWOT dapat membantu para pelaku
bisnis untuk menganalisa bagaimana strategi bisnisnya harus dijalankan. Pelaku
bisnis harus dapat menentukan strengths atau kekuatan mereka agar dapat di
jadikan kunci dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, weaknesses atau kelemahan
adalah hal yang perlu diwaspadai pelaku bisnis agar tidak mudah terbaca oleh
para pesaing. Setiap kegiatan bisnis pasti memiliki kelemahan dan hal inilah yang
harus diminimalisir agar tidak menjadi halangan di kemudian hari bagi para
pelaku bisnis juga akan memiliki peluang atau opportunities dalam usahanya. Jika
peluang tersebut didapat maka pelaku bisnis dapat segera memanfaatkan peluang
tersebut untuk menjaring konsumen lebih banyak lagi. Ancaman atau threats
adalah halangan utama para pelaku bisnis dalam menjalankan kegiatan bisnisnya
(Kurniansah & Rosida, 2019).

Analisis SWOT merupakan salah satu instrumen analisis yang ampuh
apabila digunakan dengan tepat. Maksudnya, keampuhan tersebut terletak pada
kemampuan para penentu strategi perusahaan dalam memaksimalkan peranan
faktor kekuatan dan pemanfaatan peluang sehingga sekaligus berperan sebagai
alat untuk meminimalisasi kelemahan yang terdapat dalam tubuh organisasi dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi. Jadi sebelum  mengambil keputusan, seorang pebisnis harus melakukan analisis SWOT agar  keputusan yang diambil tidak salah (Ghazinoory et al., 2011).

Faktor kekuatan dan kelemahan yang sifatnya kritikal berperan sangat
penting dalam membatasi usaha pencaharian dalam berbagai alternatif dan pilihan
strategi untuk digunakan. Oleh karena itu dengan menggunakan analisis SWOT
kompetensi khusus yang dimiliki dan kelemahan yang menonjol dapat dinilai dan
dikaitkan dengan berbagai faktor penentu keberhasilan suatu usaha (Zuhri, 2013).

Kekuatan merupakan kompetensi khusus yang terdapat dalam organisasi
yang berakibat pada pemilikan keunggulan komparatif oleh unit usaha di pasaran
(Nur Irawan, 2017). Hal demikian dikarenakan satuan bisnis memiliki sumber,
ketrampilan, produk andalan dan sebagainya yang membuatnya lebih kuat dari
para pesaing dalam memuaskan kebutuhan pasar yang sudah direncanakan akan
dilayani oleh satuan usaha yang bersangkutan.

Kelemahan merupakan keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber,
ketrampilan dan kemampuan yang menjadi penghalang serius bagi penampilan
kinerja organisasi yang memuaskan (Maemonah, 2015). Kelemahan itu harus
diminimalisir ataupun ditutupi dengan kekuatan yang dimiliki agar konsumen
tetap merasa nyaman, hal itu dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan yang
memuaskan ataupun dengan memberikan diskon untuk menarik pelanggan.

Peluang merupakan berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi
satu satuan bisnis (Zuhri, 2013). Peluang itu harus dimanfaatkan dengan sebaik
mungkin, jangan sampai menyianyiakan peluang yang ada karena kesempatan itu
tidak selalu ada. Dengan adanya peluang maka kita dapat mengembangkan
ataupun memperluas usaha kita.

Ancaman merupakan faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan
suatu satuan bisnis (Maemonah, 2015). Jika tidak diatasi ancaman akan menjadi
“ganjalan” bagi satuan bisnis yang bersangkutan baik untuk masa sekarang
maupun di masa mendatang. Ancaman itu harus dihadapi, agar bisnis yang
dijalankan tetap eksis dan dapat berkembang dipasaran. Ancaman biasanya terjadi
karena pesaing dapat memberikan hal yang lebih, oleh karena itu kualitas atau
mutu produk, jasa pelayanan tetap harus dijaga agar para konsumen tetap loyal
(Putro, 2014; Siagian, 2002).

Kemajuan teknologi yang tinggi dan beragamnya kebutuhan konsumen
membuat dunia usaha semakin berkembang pesat, termasuk dunia usaha yang
berkaitan dengan bidang export perhiasan perak. Persaingan sangat penting bagi
keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan, baik persaingan dalam menentukan
harga di pasaran, persaingan dalam menentukan varian produk yang
menyesuaikan dengan kemauan konsumen seperti inovasi produk perhiasan perak
yang mendukung atau implementasi hal-hal yang baru (Rakhman & Rahayu,
2017). Ukuran keberhasilan perusahaan dalam menerapkan strategi
pengembangannya adalah mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan.
Semakin banyak pelanggan yang menerima produk maka semakin puas dan ini
berarti startegi yang di jalankan cukup berhasil (Dwi, 2011).

Kesenian di Bali merupakan salah satu yang diminati oleh wisatawan
khususnya kesenian dalam bidang kerajinan yaitu kerajinan perak. Kerajinan perak di Bali terdapat pada kabupaten antara lain : Badung, Buleleng, Klungkung,
Bangli, dan di Desa Celuk Kabupaten Gianyar. Kerajinan perak ialah seni rupa
yang sudah lama di Bali. Kerajinan perak digunakan perlengkapan upacara agama
Hindu serta peralatan istana kerajaan. Kerajinan perak pada masa lalu digunakan
sebagai kebutuhan spiritual maupun sosial (Sudana, 2013). Kerajinan perak Bali
tidak terlepas modernisasi, yang ditransformasi melalui pariwisata. Pariwisata
berpengaruh pada kerajinan perak Bali dari aspek bentuk, jenis, fungsi, ataupun
maknanya dalam masyarakat (Lestari & Wirathi, 2016)

Pulau Bali sendiri memiliki ratusan para pengusaha perhiasan perak, mereka
memasarkan produknya di art shop masing-masing serta melakukan terobosan
dengan memasarkan produknya lewat internet dan mengikuti pameran di kota-
kota besar dan ke luar negeri. Akhir-akhir ini produksi perhiasan perak dan barang
kerajinan lainya sedang mengalami penurunan dimulai dengan krisis Eropa dan
disusul Amerika, situasi yang ada saat ini membuat banyak art shop perak
mengalami penurunan kunjungan konsumen, hal ini di sebabkan oleh turunnya
kunjungan wisatawan serta mahalnya harga produk yang ditetapkan perusahaan,
harga produk yang mahal ini dikarenakan para pemilik artshop memberikan jasa
servis kepada guide yang mengantarkan tamu ke artshop. Kondisi tersebut
menunjukkan banyak artshop yang gulung tikar dan yang masih bisa bertahan
mereka menjalin kerjasamanya dengan agen travel lokal untuk mendatangkan
tamu ke artshop. Pelaku usaha juga berinovasi dengan memasarkan produknya
lewat internet. Kondisi tersebut menyebabkan para pelaku usaha menjadi geram
dimana sering terjadinya perang harga di pasaran padahal perhiasan perak hanya
di produksi di Indonesia dan di luar negeri sangat sedikit yang memproduksi,
ditambah dengan kurang harmonisnya hubungan bisnis para pelaku usaha serta
adanya saling mengklaim varian bentuk perhiasan. Situasi ini disebabkan
mengingat tipikal pengusaha di Bali tidak mau hidup bersama serta jarang
menjalin kerjasama usaha di dalam bidang memasarkan produknya.

Kerajinan perhiasan perak dan emas merupakan salah satu dari 17 jenis
usaha kerajinan skala rumah tangga yang berkembang pesat di Kabupaten
Gianyar. Desa Celuk, yang lokasinya sangat strategis pada jalur menuju Bali
Timur itu merupakan sentra kerajinan perhiasan perak dan emas. Sebuah gagasan
muncul pada tahun 2016, yaitu Celuk Jewelry Festival, sebagai momentum
bersatu dan bangkitnya Desa Celuk. Event ini membawa misi mengkampanyekan
Desa Celuk sebagai salah satu pusat industri kerajinan perak dan emas di Bali.
Selain itu, diharapkan dapat mempersatukan masyarakat Desa Celuk agar mampu
melangkah bersama dalam meningkatkan perekonomian daerah (Putra & Ardana,
2016; Warmana & Widnyana, 2018; Yuniari et al., 2018).

Adapun jumlah Ekspor Perhiasan Perak, Tenaga Kerja, Nilai Tukar, dan
Pertumbuhan di Kabupaten Gianyar Provinsi Bali Tahun 2012- 2016 dapat dilihat
pada Tabel 1.1 sebagai berikut:

3509

Tabel 1.

Jumlah Ekspor Perhiasan Perak di Kabupaten Gianyar Provinsi Bali Pada
Tahun 2015 – 2018

Jumlah Ekspor

per bulan

2015 Tahun 2018
2016 2017
Januari 150.521,54 176.551,44 306.778,87 238.907,45
Feb 331.078,08 257.101,31 130.024,86 177.462,79
Mar 209.295,72 281.759,86 229.133,37 380.827,22
Apr 280.121,91 177.518,86 170.107,48 226.459,05
Mei 196.681,70 256.631,69 330.028,86 203.178,45
Jun 168.719,94 206.980,93 246.331,08 153.671,61
Jul 112.751,70 141.272,30 109.385,48 116.800,12
Agus 186.024,02 221.540,75 116.982,22 221.844,21
Sept 320.883,88 108.764,95 220.194,99 228.303,14
Okt 138.667,64 202.931,88 153.916,95 143.667,40
Nov 236.890,38 159.694,61 150.839,04 207.535,78
Des 118.268,55 245.173,62 175.168,46 141.526,29
Jumlah Ekspor 2.449.905,06 2.435.922,20 2.338.891,66 2.440.183,51
Pertumbuhan -0,57 -3,98 4,33

Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar, 2020

Pada Tabel 1. dapat dilihat jumlah ekspor perhiasan perak yang ada di
Kabupaten Gianyar mengalami fluktuasi setiap bulannya. Data menunjukkan
terjadi penurunan sebesar -0,57% pada tahun 2015 ke 2016, kemudian mengalami
penurunan sebesar -3,98% pada tahun 2017, dan peningkatan terjadi sebesar
4,33% di tahun 2018. Peningkatan yang terjadi pada tahun 2018 diakibatkan
permintaan pasar luar negeri dari negara-negara maju yang terus bertambah.

Fenomena yang terjadi saat ini yaitu adanya tren penurunan ekspor perak.
Trend penurunan dari tahun ke tahun ini disebabkan adanya resesi global di
negara tujuan ekspor serta adanya perubahan prilaku pembeli perhiasan karena
saat ini konsumen didominasi oleh golongan generasi milenial, sehingga terjadi
perubahan perilaku yang dulunya membeli perhiasan berubah membelanjakan
uangnya untuk makan/minum di cafe/restaurant sesuai gaya hidup (life style)
generasi milenial saat ini, dan ada kecenderungan konsumen menggunakan
uangnya untuk travelling dan gadget. Alasan lain terjadinya trend penurunan daya
beli perak karena pembeli perhiasan saat ini berubah selera membeli model
perhiasan yang lebih simple, trendy dan murah. Sedangkan pengrajin perhiasan di
Bali masih terpaku pada model design yang etnik dan cenderung sudah tidak
digemari lagi.

Permasalahan trend penurunan daya beli perak yang terjadi pada industri
kerajinan perak saat ini juga terjadi akibat adanya pandemi Covid-19. Akibat
pandemi covid-19 tidak sedikit pelaku usaha yang terdampak, terutama yang
berada dan mengandalkan sektor pariwisata. Untuk mampu bertahan, pelaku
usaha dituntut inovatif bahkan mengalihkan jenis usaha untuk sementara waktu.
Cukup banyak pengusaha kerajinan perak beralih ke usaha kuliner kemasan untuk
sementara waktu. Pelaku usaha perak di Celuk, Sukawati Gianyar mengaku
bahwa seharusnya bulan ini adalah momen ramainya pameran dan meningkatnya
penjualan kerajinan perak. Akibat adanya pandemi tentunya membuat sebagian
besar pelaku usaha kerajinan perak tidak bisa berkutik dan mau tidak mau harus

3510
banting stir mengalihkan jenis usaha yang dibutuhkan masyarakat di tengah
pandemi ini (Suranta, 2015).

Terdapat berbagai macam usaha kerajinan perak di Celuk, Sukawati, dan
berikut adalah lima besar usaha kerajinan perak yang masih bertahan yang dapat
dilihat pada Tabel 2. sebagai berikut:

Tabel 2.

Lima Besar Usaha Kerajinan Perak di Desa Celuk, Sukawati, Gianyar

No Pelaku Usaha Kerajinan Perak
1 UC Silver
2 UD. Romo
3 Cahya Silver
4 Gaja Silver
5 SSS Silver

Sumber: Pelaku Usaha Kerajinan Perak di Desa Celuk, Sukawati, 2020

Tabel 2. menunjukkan lima besar pelaku usaha yang mampu bertahan di
tengah pandemi Covid-19. Kelima pelaku usaha kerajinan perak tersebut mampu
bertahan karena masih memiliki banyak pelanggan dan mampu mempertahankan
ekspor produknya. Mengingat lemahnya ekonomi dunia akibat wabah Covid-19
ini, mengakibatkan banyak usaha kerajinan perak yang berhenti memproduksi,
namun salah satu yang mampu bertahan adalah SSS Silver, hal ini disebabkan
oleh gencarnya usaha SSS Silver memasarkan produk, menambah varian produk,
dan mencoba melakukan ekspor produknya (Amelia et al., 2017; Rangkuti, 2004).

Penelitian ini dilakukan pada SSS Silver karena salah satu IKM kerajinan
perak yang mampu mempertahankan eksistensinya adalah SSS Silver, yang
sampai saat ini selalu menjalankan upaya agar tetap bisa bertahan dan bersaing
dengan pengusaha perak lainya. SSS Silver berdiri pada tahun 1998 dan berbentuk
badan usaha pada tahun 2005. selama periode tahun 1998 sampai sekarang SSS
Silver pernah mengalami pasang surut dimana penjualan yang mengalami
peningkatan drastis dan suatu saat bisa menurun, hal ini di pengaruhi oleh situasi
ekonomi nasional dan global, di sisi lain juga karena pengaruh harga bahan pokok
perak yang mengalami fluktuatif pada masa itu serta menurunnya trend pasar akan
minat perhiasan perak nasional dan di luar negeri. SSS Silver sudah banyak
mengalami rotasi karyawan yang berada pada bidang produksi, mengingat
sebagian besar karyawan produksi perhiasan perak berasal dari luar bali seperti
dari jawa timur, dengan kondisi ini membuat pelaku usaha mengalami kesulitan
untuk memperoleh karyawan yang handal dan kreatif dalam bidang produksi
perhiasan perak ,karena keterbatasan sumber daya manusia juga ikut andil dalam
pengaruh menurunya jumlah produksi , mengingat permintaan konsumen dalam
jumlah besar tidak selalu bisa terpenuhi dalam waktu dekat.

SSS Silver mempunyai kapasitas produksi rata-rata 50 kg/bulan yang
terbagi ke beberapa varian produk perhiasan seperti anting-anting (earrings), mata
kalung (pendant), cincin (ring), gelang (bracelet), kalung (necklace), jome
decoration
. Adapun jumlah produksi perhiasan pada SSS Silver pada periode
tahun 2017 hingga 2019 dapat dilihat pada Tabel 3. berikut:

3511

Tabel 3.

Produksi Perhiasan Perak pada SSS Silver Periode 2017-2019

Varian Perhiasan Perak Jumlah Produksi (dalam kg)
Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019
anting-anting (earrings) 130 110 140
mata kalung (pendant) 150 140 160
cincin (ring) 90 80 80
gelang (bracelet) 80 100 90
kalung (necklace) 100 90 90
jome decoration 70 60 40
Total 620 580 600

Sumber : SSS Silver, 2019

Melihat kondisi perusahaan diatas selama ini SSS Silver belum pernah
melakukan analisis terhadap dampak lingkungan baik lingkungan internal maupun
lingkungan eksternal. Sehingga SSS Silver tidak dapat menentukan strategi apa
yang harus dilakukan untuk menghadapi persaingan dengan Pengusaha Exportir
dan Retail Perhiasan Perak lain. Sehingga evaluasi terhadap kekuatan, kelemahan,
peluang serta ancaman produk yang di produksi dan sistem yang dijalankan SSS
Silver dapat dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. SWOT
menempatkan situasi dan kondisi sebagai faktor masukan, yang kemudian di
kelompokan menurut kontribusi masing-masing. Kekuatan di pasar sangat
berpengaruh terhadap umur kelangsungan usaha Export Dan Retail Perhiasan
Perak. Dengan analisis SWOT ini dapat diketahui hal-hal yang dapat
dipertimbangkan untuk memperkuat posisi di pasar untuk kemajuan
berkembangnya usaha Perhiasan Perak (Ghazinoory et al., 2011; Helms & Nixon,
2010).

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada SSS Silver di jalan Mengaling, Banjar
Tangsub, Celuk, Kec. Sukawati, Kabupaten Gianyar. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh pihak manajemen SSS Silver yang mengetahui informasi tentang
aktivitas SSS Silver. Metode penentuan sampel menggunakan sampel jenuh, yaitu
semua populasi digunakan sebagai sampel penelitian. Penentuan informan dalam
penelitian ini ditujukan kepada pihak manajemen SSS Silver merupakan pihak
yang mengambil keputusan dan kebijakan serta pihak yang memiliki informasi
yang dibutuhkan untuk penelitian. Adapun informan pada penelitian ini yaitu
terdiri dari pemilik usaha yaitu Nyoman Satya Wibawa Upadhana, bagian
keuangan yaitu Made Setyawati dan bagian operasional yaitu Ni Made Pastini.

Guna memperjelas variabel yang digunakan dalam penelitian ini serta untuk
membahas ruang lingkup permasalahan yang diteliti, maka definisi operasional
variabel penelitian ini akan memaparkan indikator strategi pengembangan usaha
yang ditinjau dari strategi pemasaran produk STP (Segmenting, Targeting,
Positioning
) dan dari strategi bauran pemasaran sebagai berikut variabel
pemasaran produk yang meliputi Segmentasi pasar (segmenting) dalam penelitian

3512
ini adalah mengidentifikasi pangsa pasar yang diambil oleh SSS Silver. Pasar
sasaran (targeting) dalam penelitian ini adalah memilih segmen pasar yang akan
dimasuki oleh SSS Silver. Posisi pasar (positioning) dalam penelitian ini adalah
mengidentifikasi penempatan produk di benak konsumen SSS Silver.

Variabel bauran pemasaran produk (products) merupakan segala paket
produk SSS Silver yang dapat ditawarkan kepada pelanggan. Distribusi (place)
merupakan kegiatan pemasaran yang dilakukan SSS Silver untuk mempermudah
penyampaian informasi kepada pelanggan, berupa konten website sebagai
representasi kantor online yang bisa diakses oleh calon pembeli (pelanggan).
Harga (price) merupakan biaya paket produk yang ditawarkan SSS Silver kepada
pembeli (pelanggan). Promosi (promotion) merupakan kegiatan yang dilakukan
SSS Silver untuk mengkomunikasikan informasi kepada pelanggan dalam saluran
penjualan seperti web, iklan, majalah ataupun media social agar dapat
meningkatkan popularitas SSS Silver di benak calon pembeli (pelanggan).
Personal (people) merupakan karyawan SSS Silver yang secara langsung atau
tidak langsung mempengaruhi konsumen membuat keputusan untuk pembelian.
Bukti fisik (physical evidence) merupakan kondisi geografi objek wisata SSS
Silver maupun dekorasi ruangan, pelatakan dan layout galeri SSS Silver yang
dapat menarik perhatian pelanggan. Proses (process) merupakan seluruh kegiatan
yang dilakukan SSS Silver dalam menunjukkan bagaimana pelayanan diberikan
kepada pelanggan selama melakukan aktivitas belanja. Kemasan (Packaging)
adalah proses melampirkan atau melindungi produk untuk distribusi,
penyimpanan, penjualan, dan penggunaan juga mengacu pada proses desain,
evaluasi, dan produksi paket dan citra organisasi SSS Silver. Pembayaran
(Payment) merupakan uang tunai, cek, atau kredit dalam ketentuan pembayaran
untuk mempengaruhi kemudahan transaksi yang juga dapat mempengaruhi
perilaku pembelian konsumen terhadap paket wisata SSS Silver.

Adapun indikator yang digunakan dalam penelitian ini akan dipaparkan
dalam Tabel 4. yang selanjutnya seluruh indikator akan dikelompokan dalam
analisis SWOT. Oleh sebab itu, Tabel 4. berikut merupakan rangkuman variable
dan Indikator Persepsi Pelanggan dan manajemen pada SSS Silver.

Tabel 4.

Variabel dan Indikator Persepsi Pelanggan

Faktor Variabel Indikator
Bauran 1. Produk 1) Variasi produk yang ditawarkan
Pemasaran (Product) menarik
(Marketing 2) produk memenuhi kebutuhan
mix) 2. Harga pelanggan

3) Banyaknya pilihan varian perhiasan

1) Harga pokok penjualan yang ditetapkan

(Price) terjangkau konsumen

2) Kesesuaian harga produk dengan
produk yang didapatkan konsumen

3) Persaingan harga yang mempengaruhi
daya beli

Bersambung…

3513

Lanjutan Tabel 4.

Faktor Variabel Indikator
3. Distribusi
(Place)
1) Penyampaian informasi paket produk
jelas

2) Alamat kantor yang dapat dihubungi
lengkap

3) Pemasaran produk dengan mengikuti
pameran

4. Promosi 1) Promosi yang dilakukan bermanfaat
(Promotion) 2) Intesitas promosi
5. Personal 1) Kualitas pelayanan yang diberikan baik
(People) 2) Staff SSS Silver ramah

3) Staff mampu menangani keluhan

4) Kurangnya tenaga kerja

5) Karyawan mengalami kesulitan ketika
orderan meningkat

6) Ketrampilan karyawan

6. Bukti Fisik
(Physical
1) Fasilitas gerai toko SSS Silver dalam
kondisi baik
Evidance) 2) Gerai toko SSS siver memberikan
kenyamanan saat pelanggan berbelanja
7. Proses 1) Proses pemesanan lama
(Process) 2) Proses produksi membutuhkan waktu
lama

  1. Kesesuaian model yang ditawarkan
    dengan produk yang tersedia
  2. Tidak adanya hubungan bisnis dengan
    pengusaha perak lain
8. Kemasan
(Packaging)
1) Pengemasan paket produk SSS Silver
menarik

2) Mempunyai cirri khas Design produk
dengan saingan

9.Pembayaran 1) Pembayaran produk SSS Silver mudah
(Payment) 2) Pembayaran menggunakan Kemajuan
teknologi digital

Sumber : (Helms & Nixon, 2010; Putong, 2003; Sudana, 2013; Suranta, 2015; Widiastuti, 2013)

Tujuan wawancara dan pemberian kuesioner dilakukan adalah untuk
memperoleh informasi tambahan dan memperkuat pembahasan dalam penelitian
ini terkait pemasaran produk yang sudah dilakukan oleh SSS Silver. Teknik
analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif kualitatif
yaitu analisis yang menguraikan, menggambarkan, dan menjelaskan secara
sistematis data yang diperoleh dilapangan melalui wawancara dengan tujuan
untuk memperoleh gambaran yang jelas dan objektif. Untuk mengetahui strategi
pemasaran yang bisa diterapkan oleh SSS Silver akan digunakan analisis SWOT
yaitu pendekatan deskriptif kualitatif terhadap suatu perusahaan yang menyangkut
berbagai kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunities),
dan ancaman (threats) terhadap suatu perusahaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3514

Kabupaten Gianyar yang memiliki industri kerajinan perak di empat
kecamatan yaitu: Kecamatan Gianyar, Ubud, Sukawati dan Tampaksiring.
Diantara empat Kecamatan tersebut Kecamatan Sukawati menjadi kecamatan
yang terbesar dalam hal produksi kerajinan perak. Kecamatan Sukawati memiliki
jumlah unit usaha paling banyak yaitu 117 usaha, kemudian kecamatan Ubud
sebanyak 4 usaha, kecamatan Gianyar 2 usaha, dan kecamatan Tampak Siring
hanya 1 usaha (Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gianyar, 2018). Sehingga
Kecamtan Suawati dikatakan sebagai sentra kerajina perak yang ada di kabupaten
Gianyar. Dari 117 pengusaha kerajinan perak yang ada di kecamatan Sukawati
tersebar di tujuh desa, yaitu: di desa Celuk sebanyak 33 pengusaha, desa
Batubulan sebanyak 29 usaha, di desa Singapadu sebanyak 27 usaha, desa
Sukawati sebanyak 10 usaha, desa singapadu Tengah sebanyak 7 usaha, desa
Batuan 6 usaha, dan desa Kemenuh hanya 5 usaha. Dari tujuh desa yang ada
kecamatan Sukawati, desa Celuk merupakan sentra maupun pelopor dari adanya
kerajinan perak. Namun dengan adanya perkembangan pariwisata dan permintaan
kerajinan perak yang semakin membaik, maka kerajinan dan bisnis perak
menyebar ke desa lain. Dari tujuh desa yang ada di kecamatan Sukawati, desa
Celuk tetap menjadi leader dari desa lainnya, namun ada desa lain yang
perkembangan dapat menyaingi desa Celuk, yaitu desa Singapadu dan desa
Batubulan. Sehingga Jalur yang melalui ketiga desa tersebut banyak beroprasi
atau berdiri Gallery Gold & Silver. Dengan adanya perkembangan teknologi
informasi dan meningkatnya persaingan bisnis mas dan perakantar daerah dan
antar negara, penjualan yang dicapai oleh pengusaha perak terutama penjualan
yang sifatnya konvensional menurun dratis terutama yang dijual melalui gallery
yang ada di sepanjang jalur Batubulan, Celuk dan Singapadu. Sehingga secara
keseluruhan perkembangan bisnis perak yang ada di kabupaten Gianyar
mengalami kelesuan yang sangat signifikan.

SSS Silver terinspirasi oleh almarhum Bapak kembar Kerepun, yang telah
berada di Bali perak manik dan bisnis perhiasan sejak 1994. Pendiri dan pemilik
Usaha SSS Silver adalah Bapak Nyoman Satyawibawa Upadhana. Nama Usaha
SSS Silver diperoleh dari singkatan ketiga nama anak-anak Bapak Satyawibawa.
Usaha SSS Silver tidak berhubungan dengan singkatan nama perusahaan lain.
Usaha SSS Silver terletak di Celuk, pusat industri perhiasan emas dan perak di
Bali. Usaha SSS Silver bukan produsen perhiasan perak Bali dengan ukuran
perusahaan yang besar, tetapi Usaha SSS Silver menyediakan grosir, pengecer dan
pembeli di seluruh dunia dengan tangan berkualitas perhiasan perak kerajinan.

Usaha SSS Silver mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor buatan
perhiasan perak Bali termasuk: Rings, Earrings, Pendants, gelang, kalung,
Hairclips, Bali Silver manik, ballpoints, set Jewelry dan produk baru SSS Silver
adalah Beaded Jewelry. Usaha SSS Silver memproduksi dan menjual grosir biji
perak Bali, kerucut, spacer, toggles, topi, gesper, temuan dan manik Indonesia
lainnya. Semua produk Usaha SSS Silver terbuat dari 925 Sterling Silver dan
dibuat secara individual oleh pengrajin perak yang sangat terampil di Bali,
Indonesia. Usaha SSS Silver menawarkan perak Bali yang unik. Desain pada
masing-masing bagian perak yang dijual oleh SSS Silver mewakili sebuah karya

3515

seni dengan kualitas yang luar biasa dan dikerjakan dengan detail. SSS Silver saat
ini melakukan semua transaksi melalui email. Usaha SSS Silver akan
mengirimkan pesanan konsumen dalam 1 hari pembayaran (untuk pembelian stok
barang) dan akan tiba di alamat pengiriman konsumen sekitar 4 hari setelah
tanggal pengiriman (jika tidak ada keterlambatan pabean)

Deskripsi data persepsi responden terhadap indikator indikator bauran
pemasaran pada SSS Silver di Bali, yang terdiri dari: produk (product), Harga
(Price), Distribusi (Place), Promosi (Promotion), Personal (People), Bukti Fisik
(Physical Evidance), Proses (Process), Kemasan (Packaging) dan Pembayaran
(Payment) diperoleh melalui penyebaran kuisioner. Variabel bauran pemasaran
dalam penelitian ini merupakan variabel yang diukur dengan menggunakan 16
pertanyaan yang berhubungan dengan bauran pemasaran pada SSS Silver di Bali.
Secara rinci hasil penelitian mengenai persepsi responden disajikan pada Tabel 5.

3516

Tabel 5.

Deskripsi Pada Faktor Internal

No Pertanyaan Proporsi Persepsi Responden (%) Rata-

Rata

Kriteria
1 2 3 4 5
Harga pokok penjualan yang
1 ditetapkan terjangkau

konsumen

0 0 2 1 0 3,33 Cukup
2 Produk memenuhi kebutuhan
pelanggan

Kesesuaian harga produk

0 0 1 2 0 3,67 Baik
3 dengan produk yang
didapatkan konsumen
0 0 0 3 0 4,00 Baik
4 Variasi produk yang
ditawarkan menarik
0 0 0 2 1 4,33 Baik
5

6

7

8

9

10

Kualitas pelayanan yang
diberikan baik
Banyaknya pilihan varian
perhiasan

Kualitas pelayanan yang
diberikan baik

Staff SSS Silver ramah
Staff mampu menangani
keluhan

Promosi yang dilakukan
selalu menarik perhatian
Fasilitas gerai toko SSS
Silver dalam kondisi baik

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1

2

0

0

2

1

2

1

3

3

1

2

0

0

0

0

0

0

3,67

3,33

4,00

4,00

3,33

3,67

Baik

Cukup

Baik

Baik

Cukup

Baik

11 0 0 1 2 0 3,67 Baik
12 Intesitas promosi
Gerai toko SSS Silver
0 0 1 2 0 3,67 Baik
13

14

memberikan kenyamanan
saat pelanggan berbelanja
Pembayaran produk SSS
Silver mudah
0

0

0

0

0

0

3

3

0

0

4,00

4,00

Baik

Baik

Rata-Rata Skor Faktor Internal kekuatan 3,76 Baik

Lanjutan Tabel 5.

No Pertanyaan Proporsi Persepsi Responden (%) Rata-

Rata

Kriteria
1 2 3 4 5
1 Kurangnya tenaga kerja 0 0 2 1 0 3,33 Cukup
Karyawan mengalami
2 kesulitan ketika orderan 0 0 2 1 0 3,33 Cukup
meningkat
3 Ketrampilan karyawan 0 0 0 3 0 4,00 Baik
4 Proses produksinya 0 0 1 2 0 3,67 Baik
membutuhkan waktu lama
Kesesuaian model yang
5 ditawarkan dengan produk 0 0 0 3 0 4,00 Baik
yang tersedia
6 Proses pemesanan lama 0 0 2 1 0 3,33 Cukup
Rata-Rata Skor Faktor Internal kelemahan 3,61 Baik
Rata-rata keseluruhan persepsi responden pada Faktor Internal 3,67 Baik

Sumber : Data primer diolah, 2020

Tabel 5. menunjukkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan yang berkaitan
dengan bauran pemasaran oleh SSS Silver di Bali khususnya pada faktor internal.
Apabila ditinjau berdasarkan rata-rata skor faktor internal, data menunjukkan nilai
rata-rata faktor internal kekuatan sebesar 3,74, sedangkan rata-rata faktor internal
kelemahan sebesar 3,61. Hal ini memberikan makna bahwa SSS Silver memiliki
faktor internal kekuatan yang lebih besar dibandingkan faktor internal kelemahan.

Perolehan nilai tertinggi terdapat pada pertanyaan “Variasi produk yang
ditawarkan menarik dengan rata-rata 3,76, memiliki arti bahwa secara
keseluruhan variasi produk yang ditawarkan oleh SSS Silver dibuat agar dapat
menarik perhatian pelanggannya. Persepsi responden dengan nilai rata-rata
terendah terdapat pada pernyataan, “Harga pokok penjualan yang ditetapkan
terjangkau konsumen”, “Banyaknya pilihan varian perhiasan”, dan “Staff mampu
menangani keluhan”, dengan nilai sebesar 3,33. Hal ini berarti bahwa menurut
responden yaitu pihak manajemen SSS Silver yaitu masih kurang banyak piihan
varian perhiasan yang ditawarkan SSS Silver, kemudian harga pokok penjualan
cenderung mahal, sehingga tidak semua konsumen dapat menjangkau harga jual
tersebut. Selain itu, staff SSS Silver masih kurang mampu menangani keluhan
pelanggan secara cepat tanggap. Faktor internal yang memperoleh nilai rata-rata
terendah adalah indikator “kurangnya tenanga kerja”, dan karyawan mengalami
kesulitan ketika orderan meningkat” yakni dengan nilai rata-rata sebesar 3,33. Hal
ini berarti bahwa menurut responden yaitu pihak manajemen SSS Silver yaitu
usaha SSS Silver masih kurang memiliki tenaga kerja dan masih ada karyawan
yang mengalami kesulitan ketika pesanan meningkat.

Struktur organisasi SSS Silver terdiri dari 1) Director, bertugas menjalankan
Usaha SSS Silver untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan sehari-hari berdasarkan
kebijaksanaan yang telah ditetapkan serta bertanggung jawab atas pelaksanaan
operasi perusahaan secara penuh baik keluar maupun ke dalam perusahaan. 2)
Sales & Marketing Manager, bertanggung jawab untuk menangani tugas-
tugas manajemen yang telah dirumuskan dan diarahkan oleh Director,

3517

dilaksanakan dan dikomunikasikan kepada bagian operasional bagian keuangan
dan diteruskan kepada masing-masing staf produks dan pengrajin. 3) Bagian
Operasional, bertanggung jawab dalam hal perencanaan, pengendalian,
pelaksanaan dan pengawasan operasional Usaha SSS Silver. Termasuk
pengembangan kualitasnya dengan berpedoman pada kebijakan dan prosedur
yang berlaku di perusahaan, serta bertanggung jawab terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kegiatan pembinaan pemerintah dan industrial serta mempunyai
kewajiban memelihara dan menjaga citra perusahaan. 4) Finance, bertugas untuk
mengkalkulasikan seluruh keuangan (sumber dan penggunaannya) dan
bertanggung jawab melaporkan kepada Director. 5) Staf Produksi dan pengrajin,
memiliki tugas untuk melakukan produksi kerajinan perak pada Usaha SSS Silver
secara teliti dan hati-hati, serta bertanggungjawab untuk menghasilkan produk
kerajinan perak yang berkualitas dan sesuai pesanan pelanggan.

Rata-rata keseluruhan persepsi responden memperoleh hasil yang tinggi
yakni sebesar 3,67. Hal ini menunjukan indikator dalam penyataan tersebut
menjawab bahwa konsumen sudah merasakan kualitas produk (product), Harga
(Price), Distribusi (Place), Promosi (Promotion), Personal (People), Bukti Fisik
(Physical Evidance), Proses (Process), Kemasan (Packaging) dan Pembayaran
(Payment) oleh SSS Silver di Bali yang baik.

Tabel 6.

Deskripsi Persepsi Responden Pada Faktor Eksternal

No Pertanyaan Proporsi Persepsi Responden (%) Rata-
Rata
Kriteria
1 2 3 4 5
1 Penyampaian informasi paket
produk jelas
0 0 0 3 0 4,00 Baik
2 Alamat kantor yang dapat
dihubungi lengkap
0 0 0 2 1 4,33 Baik
3 Pemasaran produk dengan
mengikuti pameran
Mempunyai cirri khas Design
produk dengan saingan
0 0 1 2 0 3,67 Baik
4 0 0 1 1 1 4,00 Baik
5 Pengemasan paket produk

SSS Silver menarik

0 0 2 1 0 3,33 Cukup
6 Gaya hidup atau selera
konsumen
0 0 1 2 0 3,67 Baik
7 Pembayaran mengikuti
kemajuan teknologi digital
0 0 0 3 0 4,00 Baik
Rata-Rata Skor Faktor Eksternal Peluang 3,86 Baik
1 Persaingan harga
mempengaruhi daya beli
0 0 0 2 1 4,33 Baik
2 Krisis ekonomi global
mempengaruhi daya beli
0 0 2 1 0 3,33 Cukup

3518

Lanjutan Tabel 6.

No Pertanyaan Proporsi Persepsi Responden (%) Rata-

Rata

Kriteria
12 3 4 5
3 Tidak adanya hubungan
bisnis dengan pengusaha
perak lain
0 0 1 2 0 3,67 Baik
Rata-Rata Skor Faktor Eksternal Ancaman 3,78 Baik
Rata-rata keseluruhan persepsi responden pada Faktor Eksternal 3,75 Baik
Sumber : Data primer diolah, 2020

Tabel 6. menunjukkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan yang berkaitan
dengan bauran pemasaran oleh SSS Silver di Bali khususnya pada faktor
eksternal. Apabila ditinjau berdasarkan rata-rata skor faktor eksternal, data
menunjukkan nilai rata-rata faktor eksternal peluang sebesar 3,71, sedangkan rata-
rata faktor eksternal ancaman sebesar 3,78. Hal ini memberikan makna bahwa
SSS Silver memiliki faktor eksternal peluang yang lebih besar dibandingkan
faktor eksternal ancaman.

Perolehan nilai tertinggi terdapat pada pertanyaan “Alamat kantor yang
dapat dihubungi lengkap dengan rata-rata 4,33, memiliki arti bahwa secara
keseluruhan pelanggan mudah menghubungi SSS Silver karena memiliki alamat
kantor yang jelas dan dapat dihubungi karena memberikan nomor telepon serta
alamat email yang lengkap pada website SSS Silver. Persepsi responden dengan
nilai rata-rata terendah terdapat pada pernyataan, “Krisis ekonomi global
mempengaruhi daya beli”, dengan nilai sebesar 3,33. Hal ini berarti bahwa
menurut pelanggan faktor krisis ekonomi global sangat berdampak pada tingkat
pembelian konsumen pada produk kerajinan perak khususnya di SSS Silver.
Kondisi ini sesuai dengan keadaan di lapangan yang menunjukkan sebagian besar
masyarakat saat ini sedang mengalami krisis ekonomi global akibat adanya
pandemi covid-19, sehingga membuat daya beli masyarakat pada produk
kerajinan perak semakin menurun.

Pengembangan potensi Usaha SSS Silver dapat dilakukan dengan
mengetahui dan memahami apa saja faktor internal dan eksternal yang
digambarkan melalui matrik SWOT. Adapun matrik IFAS dapat dilihat pada
Tabel 7. berikut.

Tabel 7.

Matrik IFAS (Internal Factory Analysis Summary)

No Faktor Strategi Internal Bobot Rating Bobot x

Rating

1 Harga pokok penjualan yang ditetapkan terjangkau konsumen 0,05 3,33 0,167
2 Produk memenuhi kebutuhan pelanggan 0,05 3,67 0,183
3 Kesesuaian harga produk dengan produk yang didapatkan
konsumen
0,05 4,00 0,200
4 Variasi produk yang ditawarkan menarik 0,05 4,33 0,217
5 Kualitas pelayanan yang diberikan baik 0,05 3,67 0,183
6 Banyaknya pilihan varian perhiasan 0,05 3,33 0,167
7 Kualitas pelayanan yang diberikan baik 0,05 4,00 0,200

Bersambung…

3519

Lanjutan Tabel 7.

No Faktor Strategi Internal Bobot Ratin

g

Bobot x

Rating

8 Staff SSS Silver ramah 0,05 4,00 0,200
9 Staff mampu menangani keluhan 0,05 3,33 0,167
10 Promosi yang dilakukan selalu menarik perhatian 0,05 3,67 0,183
11 Fasilitas gerai toko SSS Silver dalam kondisi baik 0,05 3,67 0,183
12 Intesitas promosi 0,05 3,67 0,183
13 Gerai toko SSS Silver memberikan kenyamanan saat
pelanggan berbelanja
0,05 4,00 0,200
14 Pembayaran produk SSS Silver mudah 0,05 4,00 0,200
Sub Total Faktor Kekuatan 0,7 2,633
1 Kurangnya tenaga kerja 0,05 3,33 0,167
2 Karyawan mengalami kesulitan ketika orderan meningkat 0,05 3,33 0,167
3 Ketrampilan karyawan 0,05 4,00 0,200
4 Proses produksinya membutuhkan waktu lama 0,05 3,67 0,183
5 Kesesuaian model yang ditawarkan dengan produk tersedia 0,05 4,00 0,200
6 Proses pemesanan lama 0,05 3,33 0,167
Sub Total Faktor kelemahan 0,3 1,083
Total Faktor Internal 1,000 3,69 3,717

Sumber: Data primer diolah, 2020

Strategi pengembangan SSS Silver harus didukung dengan adanya program-
program pengembangan yang efektif sehingga mampu memberikan dampak yang
positif kepada pelanggan secara berkelanjutan. Analisis SWOT pada penelitian ini
dilakukan dengan melakukan analisis internal dan eksternal yakni dengan
membuat matrik IFAS (Internal Factory Analysis Summary) dan matrik EFAS
(Eksternal Factory Analysis Summary).

Setelah mengetahui hasil nilai dari matrik IFAS dan matrik EFAS, maka
dapat diposisikan pada perusahaan terkait hasil nilai dari matrik IFAS dan nilai
dari matrik EFAS pada analisis SWOT. Berdasarkan hasil perhitungan matrik
IFAS (Internal Factory Analysis Summary) pada Tabel 5. diketahui bahwa nilai
kekuatan lebih tinggi dari nilai kelemahan yaitu sebesar (+) 1,550. Selanjutnya
matrik EFAS (Eksternal Factory Analysis Summary) dapat dilihat pada Tabel 6
berikut:

Tabel 8.

Matrik EFAS (Eksternal Factory Analysis Summary)

No Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Bobot x
Rating
1 Penyampaian informasi paket produk jelas 0,10 4,00 0,400
2 Alamat kantor yang dapat dihubungi lengkap 0,10 4,33 0,433
3 Pemasaran produk dengan mengikuti pameran 0,10 3,67 0,367
4 Mempunyai cirri khas Design produk dengan saingan 0,10 4,00 0,400
5 Pengemasan paket produk SSS Silver menarik 0,10 3,33 0,333
6 Gaya hidup atau selera konsumen 0,10 3,67 0,367
7 Pembayaran mengikuti kemajuan teknologi digital 0,10 4,00 0,400
Sub Total Faktor Eksternal Peluang 0,70 2,700
1 Persaingan harga mempengaruhi daya beli 0,10 4,33 0,433

3520

Lanjutan Tabel 8.

No Faktor Strategi Eksternal Bobo
t
Ratin

g

Bobot x

Rating

2 Krisis ekonomi global mempengaruhi daya beli 0,10 3,33 0,333
3 Tidak adanya hubungan bisnis dengan pengusaha perak lain 0,10 3,67 0,367
Sub Total Faktor Eksternal Ancaman 0,30 1,133
Total Faktor Eksternal 1,00 3,67 3,833

Sumber: Data primer diolah, 2020

Berdasarkan hasil perhitungan matrik EFAS (Eksternal Factory Analysis
Summary
) pada Tabel 8. diketahui bahwa nilai faktor eksternal peluang lebih
tinggi dari nilai faktor ancaman yaitu sebesar (+) 1,567. Berdasarkan pada matriks
IFAS dan EFAS, maka dapat ditentukan diagram SWOT berikut ini:

Peluang

Ancaman

Gambar 1. Diagram Matriks SWOT

Sumber: Data diolah, 2020

Gambar 1. menunjukkan bahwasannya Usaha SSS Silver berada dalam jalur
yang melakukan stategi pengembangan (growth) hal ini dapat dilihat pada Usaha
SSS Silver tersebut meningkatkan keunggulan produk serta mempertahankan
penjualan produk dengan pelanggannya, maka dapat ditentukan strategi yang tepat
untuk mengembangkan pemasaran SSS Silver di Bali dengan menggunakan
analisis SWOT pada Tabel 7.

Berdasarkan hasil matriks SWOT pada Tabel 9., maka dapat diketahui
bahwa kekuatan yang dimiliki Usaha SSS Silver untuk mengembangkan usaha ini
tergolong cukup kuat dan memiliki peluang yang sangat baik untuk tetap
mengembangkan usaha ini. Namun terdapat beberapa ancaman dan kelemahan
yang perlu mendapat perhatian khusus dari pihak manajemen untuk dapat
mengembangkan Usaha SSS Silver dengan beberapa strategi.

Hasil menunjukkan bahwa Usaha SSS Silver memiliki banyak kekuatan
begitu pun dengan peluang yang ada untuk terus mengembangkan usaha ini.
Dengan demikian perusahaan ini hanya perlu meningkatkan kekuatan yang
diperoleh untuk menanggapi setiap peluang yang tercipta.

3521

Opportunities (Peluang)

  1. Penyampaian informasi
    paket produk jelas
  2. Alamat kantor yang dapat
    dihubungi lengkap
  3. Pemasaran produk dengan
    mengikuti pameran
  4. Mempunyai cirri khas
    Design produk dengan
    saingan
  5. Pengemasan paket produk
    SSS Silver menarik
  6. Gaya hidup atau selera
    konsumen
  7. Pembayaran mengikuti
    kemajuan teknologi digital

Threats (Ancaman)

  1. Persaingan harga
    mempengaruhi daya beli
  2. Krisis ekonomi global
    mempengaruhi daya beli
  3. Tidak adanya hubungan
    bisnis dengan pengusaha
    perak lain

STRATEGI (SO)

1) Meningkatkan keunggulan produk seperti
meningkatkan kualitas bahan baku perak yang
digunakan dan melakukan inovasi lebih
bervariasi.

2) Mengikuti event-event yang ada untuk
memperkenalkan hasil kerajinan perak SSS
Silver.

3) Meningkatkan kerjasama dengan konsumen
atau pengrajin untuk mengembangkan usaha
kerajinan perak SSS Silver.

4) Memanfaatkan teknologi yang modern sebagai
media promosi produk kerajinan perak pada
usaha SSS Silver

STRATEGI (WO)

1) Membuat website dan
jejaring yang lain sebagai
media promosi.

2) Mencari kerja sama atau
mitra bisnis agar dapat
mengembangkan usaha.

3) Menggunakan alat yang
lebih modern.

4) Lebih memperluas jaringan
promosi iklan ke seluruh
indonesia sebagai usaha
mencapai tujuan.

5) Mencari dukungan dari
pemerintah agar lebih
memerhatikan indutri

kerajinan, dan mengaktifkan
kembali paguyuban yang
sudah ada.

STRATEGI (ST)

1) Meningkatkan kualitas produk.

2) Mempertahankan harga yang relatif murah
dibanding dengan pesaing lainnya.

3) Meningkatkan kerjasama terhadap
paguyuban dan pemerintah serta pengepul.

4) Membuat produk dalam skala besar agar
dapat hemat biaya produksi yang
dibutuhkan.

1) Melakukan pelatihan
ketrampilan untuk
meningkatkan
kerja.
tenaga
2) Melakukan penyetokan
bahan baku agar
mengurangi
transportasi.
biaya
3) Mencari relasi dengan
pihak-pihak terkait seperti
pemerintahan agar
mengenalkan produk
dengan negara lain.
4) Mencari pinjaman dana
atau menjalin kerjasama
dengan investor

STRATEGI (WT)

Sumber : Data diolah, 2020

3522

Meningkatkan keunggulan produk seperti meningkatkan kualitas bahan
baku perak yang digunakan dan melakukan inovasi lebih bervariasi. Mengikuti
event-event yang ada untuk memperkenalkan hasil kerajinan perak SSS Silver.
Meningkatkan kerjasama dengan konsumen atau pengrajin untuk
mengembangkan usaha kerajinan perak SSS Silver. Memanfaatkan teknologi yang
modern sebagai media promosi produk kerajinan perak pada usaha SSS Silver.
Selain memiliki banyak kekuatan, terdapat juga beberapa kelemahan yang perlu
diperhatikan dengan cara meminimalisir kelemahan tersebut atau lebih
meningkatkan kekuatan yang yang telah dimiliki. Membuat website dan jejaring
yang lain sebagai media promosi. Mencari kerja sama atau mitra bisnis agar dapat
mengembangkan usaha. Menggunakan alat yang lebih modern. Lebih memperluas
jaringan promosi iklan ke seluruh indonesia sebagai usaha mencapai tujuan.
Mencari dukungan dari pemerintah agar lebih memerhatikan indutri kerajinan,
dan mengaktifkan kembali paguyuban yang sudah ada.

Posisi saat ini dapat dipertahankan dengan meninjau ancaman yang ada
maka pihak pemerintah serta stakeholder harus bekerjasama dan meningkatkan
kekuatan masing-masing terhadap ancaman-ancaman tersebut. Meningkatkan
kualitas produk. Mempertahankan harga yang relatif murah dibanding dengan
pesaing lainnya. Meningkatkan kerjasama terhadap paguyuban dan pemerintah
serta pengepul. Membuat produk dalam skala besar agar dapat hemat biaya
produksi yang dibutuhkan.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelemahan dan ancaman
yang ada, maka diperlukan beberapa strategi dalam mengatasi kelemahan yang
dimiliki dan merubahnya menjadi suatu kekuatan baru untuk tetap berkembang
dari suatu ancaman. Melakukan pelatihan ketrampilan untuk meningkatkan tenaga
kerja. Melakukan penyetokan bahan baku agar mengurangi biaya transportasi.
Mencari relasi dengan pihak-pihak terkait seperti pemerintahan agar mengenalkan
produk dengan negara lain. Mencari pinjaman dana atau menjalin kerjasama
dengan investor.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa Faktor internal
dominan yang mempengaruhi usaha kerajinan perak SSS Silver dalam
menjalankan operasional perusahaannya adalah faktor kekuatan, sedangkan faktor
eksternal yang dominan adalah faktor peluang usaha yang dimiliki SSS Silver.
Hasil dari penelitian pada tabel IFAS (Internal Strategic Factor Analysis
Summary
) skor pembobotannya adalah 3,717 dan untuk tabel EFAS (Enternal
Strategic Factor Analysis Summary
) skor pembobotannya adalah 3,833.
Berdasarkan dari hasil analisis faktor internal dan faktor eksternal industri beserta
diagram SWOT didapat bahwa yang menjadi strategi utama dalam industri
kerajinan perak pada usaha SSS Silver adalah strategi growth (perkembangan),
dimana pada industri kerajinan perak pada usaha SSS Silver dapat meningkatkan
keunggulan produk, kualitas yang dimiliki dan pemanfaatan promosi denga media
teknologi yang berkembang yang lebih baik.

3523

Berdasarkan hasil analisis SWOT, maka strategi yang tepat digunakan oleh
usaha kerajinan perak SSS Silver adalah model strategi SO yaitu strategi yang
menggunakan kekuatan (Strength) dan dengan memanfaatkan peluang
(Opportunies) yang dimiliki pada industri yaitu dalam meningkatkan keunggulan
produk seperti meningkatkan kualitas bahan baku perak yang digunakan dan
melakukan inovasi lebih bervariasi, kemudian mengikuti event-event yang ada
untuk memperkenalkan hasil produk kerajinan perak pada usaha SSS Silver, lalu
meningkatkan kerjasama dengan konsumen atau pengarajin untuk
mengembangkan usaha, serta memanfaatkan teknologi yang modern sebagai
media promosi produk kerajinan perak pada usaha SSS Silver.

Pihak Usaha SSS Silver diharapkan mampu untuk meningkatkan
kekuatannya, serta mampu untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki. Usaha SSS
Silver juga harus mampu melihat dengan baik peluang-peluang yang ada dan
mampu memaksimalkan peluang tersebut demi mencapai visi, misi, dan
tujuannya. Usaha SSS Silver harus mampu mengatasi setiap ancaman dan
permasalahan yang muncul, sehingga dengan antisipasi dan penanganan yang
tepat dapat meminimalisir dampak dari ancaman tersebut.

Adapun usulan pengembangan strategi yang dapat diberikan pada usaha
kerajinan perak SSS Silver yaitu Usaha SSS Silver sebaiknya meningkatkan
keunggulan produk kerajinan perak yang dimiliki dan mempertahankan dari segi
seninya serta kekuatan industri kerajinan perak tersebut dan memperdalam lagi
dari segi seninya agar para penggemar kerajinan perak lebih mencari kerajinan
perak yang unik dengan jiwa seni yang tinggi. Kemudian, menjaga pelayanan
yang sebaik mungkin dengan pelanggan atau pun dengan pengrajin perak yang
ada di Gianyar maupun Bali. Selain itu, SSS Silver sebaiknya memanfaatkan
media teknologi sebagai promosi serta untuk memperluas jaringan pemasaran
diseluruh Indonesia maupun dinegara-negara lain. Lalu mengikuti pameran-
pameran yang sudah disiapkan dari pemerintah yaitu yang menaungi dari dinas
perindustrian sebagai peningkatan pemasaran dan memperkenalkan hasil karya
kerajinan perak pada usaha SSS Silver.

Pengrajin pada SSS Silver harus dapat mengaktifkan paguyuban kerajinan
perak agar tidak terjadi pesaingan dengan pengrajin yang lain, dan dengan
dibentuknya paguyuban ini dapat menampung keluhan-keluhan yang pengrajin
alami serta dapat menjadi media sebagai pemasaran produk kerajinan perak.

REFERENSI

Amelia, M. N., Prasetyo, Y. E., & Maharani, I. (2017). E-Umkm: Aplikasi
Pemasaran Produk Umkm Berbasis Android Sebagai Strategi Meningkatkan
Perekonomian Indonesia. Prosiding SNATIF Ke-4.

Dwi, A. H. (2011). Analisis Pengaruh Kualitas Produk , Persepsi Harga, Dan
Kualitas Layanan Terhadap Minat Beli Ulang Produk Perlengkapan Kunci Di
Pt Kenari Djaja Prima Semarang. Jurnal Sains Pemasaran Indonesia, 10(1),
47-87. https://doi.org/10.14710/jspi.v10i1.47

3524

Ghazinoory, S., Abdi, M., & Azadegan-Mehr, M. (2011). Swot methodology: A
state-of-the-art review for the past, a framework for the future. Journal of
Business Economics and Management
.

https://doi.org/10.3846/16111699.2011.555358

Helms, M. M., & Nixon, J. (2010). Exploring SWOT analysis – where are we
now?: A review of academic research from the last decade. Journal of
Strategy and Management
. https://doi.org/10.1108/17554251011064837

Hoiron, M., Wahyudi, E., & Puspitaningtyas, Z. (2019). Pengaruh Kapabilitas
Pemasaran, Keunggulan Bersaing Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja
Ukm (Usaha Kecil Dan Menengah) Di Kabupaten Lumajang. Majalah
Ilmiah DIAN ILMU
, 18(1), 37-53. https://doi.org/10.37849/midi.v18i1.108

Kurniansah, R., & Rosida, L. (2019). Strategi Pengembangan Pariwisata
Perkotaan (Urban Tourism) Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Media Bina Ilmiah. https://doi.org/10.33758/mbi.v14i2.304

Lestari, K. J., & Wirathi, I. G. A. P. (2016). Pengaruh Jumlah Produksi, Tenaga
Kerja Dan Kurs Valuta Asing Terhadap Ekspor Perhiasan Perak Di
Kabupaten Gianyar. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Unud, 5(1), 47-68.

Maemonah, S. (2015). Strategi Pengembangan Industri Kecil Gula Aren Di

Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Economics Development Analysis

Journal, 4(4), 414-426. https://doi.org/10.15294/edaj.v4i4.8704

Nur Irawan, M. R. (2017). Analisis Swot Untuk Menentukan Strategi Kompetitif
Pada Pd. Bpr. Bank Daerah Lamongan. Ekonika: Jurnal Ekonomi
Universitas Kadiri
. https://doi.org/10.30737/ekonika.v2i1.17

Pebrianti, D., & Muta’ali, L. (2017). Strategi Pengembangan Industri Kerajinan
Mutiara Sebagai Daya Tarik Wisata Belanja Di Kota Mataram. Jurnal Bumi
Indonesia
, 6(3), 1-10.

Permadi, A. (2015). Strategi Pengembangan Industri Kecil Carica. Jejak.
https://doi.org/10.15294/jejak.v8i1.3853

Putong, I. (2003). Teknik Pemanfaatan Analisis SWOT Tanpa Skala Industri (A-
SWOT-TSI). Jurnal Ekonomi & Bisnis.

Putra, I., & Ardana, I. (2016). Pengaruh Motivasi Serta Lingkungan Kerja
Terhadap Kepuasan Kerja Serta Dampaknya Terhadap Produktivitas Perajin
Perak. E-Jurnal Manajemen Universitas Udayana.

Putro, S. W. (2014). Pengaruh Kualitas Layanan dan Kualitas Produk Terhadap
Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Kosnumen Restoran Happy Garden

3525

Surabaya. Jurnal Manajemen Pemasaran, 2(1), 1-9.

Rakhman, A., & Rahayu, T. S. M. (2017). Pengaruh Kualitas Produk, Promosi
Dan Harga Terhadap Keputusan Pembelian Variasi Audio Mobil Di Subur
Audio Workshop Purwokerto. Jurnal Manajemen Dan Bisnis MEDIA
EKONOMI
, 18(1), 33-41.

Rangkuti, F. (2004). Teknik Membedah kasus Bisnis. Analisis SWOT.

Siagian, S. (2002). Kepemimpinan Organisasi & Perilaku Administrasi. Penerbit
Gunung Agung.

Sudana, I. P. (2013). Analisis Pariwisata. Strategi Pengembangan Desa Wisata
Ekologis Di Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan
.

Suranta, G. F. (2015). Analisis Strategi Pemasaran Jasa Menghadapi Pesaing.
Analisis Strategi Pemasaran Jasa Menghadapi Pesaing.

Warmana, G. O., & Widnyana, I. W. (2018). Pengaruh Modal Sosial Terhadap
KInerja Usaha pada UD. Udiana Desa Celuk, Gianyar, Bali. Jurnal Ekonomi
Dan Pariwisata
.

Widiastuti. (2013). Analisis SWOT keragaman budaya Indonesia. Jurnal Ilmiah
Widya
.

Yuniari, W., Yasa, N. N. K., & Giantari, I. G. A. K. (2018). The Role of
Competitive Advantage in Mediating the Influence of Market Orientation on
Internationalization and Marketing Performance: A Study on Silver Craft
SMEs in Celuk Village, Bali Province. Singaporean Journal of Business
Economics and Management Studies
. https://doi.org/10.12816/0046860

Yusandipta, N. (2014). Perumusan Strategi Pengembangan Bisnis Usaha
Kerajinan Perak Dengan Pendekatan Strength Weakness Opportunity Threat
(Swot), Balanced Scorecard Dan Analytical Hierarchy Process (Ahp) (Studi
Kasus Di Cv. Moeljodihardjo (Md) Silver, Kotagede, Yogyakarta)
. UPN
Veteran Jakarta.

Zuhri, S. (2013). Analisis Pengembangan Usaha Kecil home Industri Sangkar
Ayam Dalam Rangka Pengentasan Kemiskinan. Manajemen Dan Akuntansi.

3526

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.